‘Ziarah’ di Lapangan Bola

Demam Piala Dunia 2018 masih akan berlangsung sampai final di perteng ahan bulan Juli ini. Selain strategi tim dan talenta masing-masing pemain di lapangan, hal yang kerap menjadi perhatian penonton dan khususnya penggemar fanatik sepak bola (karena tersorot kamera televisi) adalah religiusitas dan spiritualitas mereka.

Umumnya hal ini tampak saat kesebelasan dari negara tertentu masuk atau keluar lapangan dan ketika terjadi gol, para pencetak gol (yang beragama Katolik) sering kali membuat tanda salib pada saat selebrasi usai mencetak gol. Pada saat sepak bola menjadi olah raga terfavorit dan dianut miliaran manusia bak agama, beberapa pemainnya justru bagai menjalankan “ziarah” saat merumput di lapangan bola, yaitu saat para olahragawan ini, dengan sadar atau tidak, menunjukkan siapa sumber inspirasi dalam spiritualitas mereka.

Tanda salib adalah salah satu ciri pe- nganut agama Katolik Roma. Dibuat tidak hanya terbatas saat memulai dan mengakhiri suatu doa, tanda salib juga dilakukan dalam berbagai kesempatan dan kegiatan lain seperti menjelang tidur, belajar, bekerja, makan, di masa kesulitan atau ketika senang serta masih banyak lagi.

Ada makna yang dalam di balik tanda salib, yaitu saat umat Katolik dengan jari tangan kanan menyentuh dahi sambil mengucapkan “Atas nama Bapa”, kemudian menyentuh dada sambil mengucapkan “Putra”, lalu menyentuh bahu kiri dan kanan sambil mengucapkan “dan Roh Kudus, Amin”. Dengan membuat tanda salib kita meyakini dogma tentang Tritunggal atau Trinitas.

Membuat tanda salib juga untuk mengingat kasih Allah yang terbesar, bahwa Sang Putra menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Dengan tanda salib kita mengungapkan pula kepercayaan akan tanda kese- lamatan dan kemenangan orang Kristen, yang diawali oleh kemenangan Kristus atas maut dan dosa manusia.

Sejarah menunjukkan bahwa tanda salib merupakan tradisi kaum Kristen, khususnya Katolik, yang diawali sekitar abad kedua. Meski tidak ada ayat di Alki- tab yang menyebut tentang tanda salib, namun simbol ini sama sekali tidak bertentangan dengan Kitab Suci.

Dari beberapa ayat di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (antara lain 1Kor 1:23), sejumlah tokoh besar Gereja Katolik menyatakan pentingnya tanda salib. Di antara para figur tersebut adalah Santo Yohanes Damaskus (675-749) yang menyatakan: ”Simbol ini diberikan kepada kita sebagai tanda di dahi kita… oleh karenanya, kita yang percaya dipisahkan dan dibedakan dari orang yang tidak percaya.”

Ketika menyaksikan pemain bola membuat tanda salib, kita yang Katolik dapat memahami bahwa hal itu merupakan salah satu cara untuk menghormati Kristus atas bantuan dan pertolongan-Nya; atau untuk memohon pendampingan Yesus di suatu masa yang begitu penting. Sementara itu, miliaran pasang mata lain juga turut menyaksikan “ziarah” ini, entah langsung di stadion melalui layar televisi, di mana para pemain menunjukkan sisi spiritualitas mereka.

Jadi, tiap kali Piala Dunia berlangsung, yaitu setiap empat tahun sekali, para penganut sepak bola sedunia yang non-Katolik dapat menyaksikan “ziarah” orang Katolik di lapangan hijau; bahwa yang membuat tanda salib adalah orang Katolik dan siap berlaga dengan spiritualitas mereka.

Giliran kita, baik sebagai pecinta fanatik sepak bola atau penonton biasa, untuk lebih menghayati makna tanda salib, dan selalu menjadikannya sebagai bagian dari hidup kita, di segala lini, dalam suka, duka, penderitaan, kebahagiaan, kehilangan, kelimpahan. Tiap kali membuat tanda salib, kita mengenang dan menghormati Yesus yang memilih untuk menyerahkan diri-Nya dengan rela demi menebus dosa manusia dengan penderitaan dan sengsara-Nya di kayu salib.

(Chris)

Leave a Reply