Waktu menurut Santo Agustinus

Aurelius Agustinus nama baptisnya. Dia lahir pada 354 SM di Soukhras (saat ini Aljazair). Ayahnya seorang penganut paganisme Romawi Kuno. Ibundanya, Monika, membesarkan dan membimbing Agustinus menurut ajaran cinta kasih iman Kristen. Namun, keimanan sang ibu yang saleh tidak langsung diikuti Agustinus. Sempat menjadi penganut Manikeisme, Agustinus justru menemukan kekosongan dan merasa tidak puas. Karena kepintarannya dan kepiawiannya dalam berfilsafat, Agustinus merasa Manikeisme tidak mampu memberikan jaminan kebahagiaan dan keselamatan jiwanya.

Pada 386 M, dia duduk di taman rumahnya. Nelangsa karena kenyataan bahwa pikirannya yang kelewat analitis membuatnya sulit percaya pada apapun. Pada saat itulah, sekonyong-konyong ia mendengar suara seorang anak kecil yang mengucapkan kata secara berulang-ulang, “Ambil dan bacalah…Ambil dan bacalah…” Merasa seperti terbangun dari tidur, Agustinus merasa yakin bahwa itu adalah inspirasi Allah bahwa ia harus mengambil Alkitab dan membacanya. Dia membaca Alkitab sepanjang waktu hingga tiba di penghujung nas, “Jangan (hidup) dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan jangalah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginan- nya” (Roma 13:13-14). Seketika Agustinus merasa diterangi cahaya keyakinan yang menyinari segenap relung hatinya dan mengenyahkan gelapnya keraguan dan kekosongan hati.

Peristiwa itulah yang menandai pertobatan Agustinus untuk kembali kepada pangkuan iman Kristen. Pada hari Paskah 387 M, dia dibaptis oleh Uskup Ambrosius dari Milan. Di kemudian hari, Agustinus menjadi Uskup Hippo (Afrika Utara). Dalam masa kepemimpinannya tersebut, ia banyak menulis dan mengajarkan teologi. Salah satunya mengenai penciptaan oleh Allah di dalam waktu.

Agustinus memahami waktu sebagai suatu gejala batin yang bergerak dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. Arti nya, waktu terjadi karena ada yang sudah berlangsung, sedang berlangsung, dan akan berlangsung. Waktu lampau adalah ingatan jiwa yang tetap mempertahankan dan mengingat apa yang sudah lalu. Waktu sekarang adalah perhatian akan apa yang sedang terjadi. Waktu yang akan datang adalah harapan akan apa yang akan terjadi. Kemudian, Agustinus menghubungkan adanya waktu dalam kaitannya dengan penciptaan.

Pada masa itu, refleksi mengenai waktu yang diajarkan Agustinus sangat kental dipengaruhi oleh platonisme. Kaum Platonis berpendapat bahwa pengada (ciptaan) yang merupakan akibat berada bersama dengan penyebabnya (Pencipta) dalam waktu. Agustinus mengkritiknya dengan menyatakan pencipta itu abadi. Pencipta mengatasi keadaan-keadaan sementara dan mutlak mendahului akibat-akibatnya. Maka, pencipta tidak tunduk pada waktu. Dalam bahasa iman Kristen, Sang Pencipta disebut Allah. Lebih lanjut, Agustinus mendukung ajaran iman Kristen tentang penciptaan Allah yang bebas dalam waktu. Tindakan Allah yang terdorong oleh cinta kasih untuk menciptakan mengakibatkan ciptaan menjadi ada.

Mengenai kisah penciptaan dan waktu, Agustinus meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Dengan kekuasaan yang mutlak, Allah menciptakan alam semesta. Materi yang diciptakan hampir merupakan ketiadaan. Maksudnya adalah materi yang tidak berbentuk tidak berada selain dengan bentuk. Kendatipun lebih dahulu dari bentuk, materi selalu ada bersama dengan bentuk itu di dalam waktu. Singkatnya, materi dan bentuk diciptakan bersamaan karena materi selalu ada bersama dengan bentuk. Waktu menyusul segera sesudah materi dan bentuknya diciptakan. Maka, waktu mulai ketika jagad raya diciptakan. Agustinus pun berkesimpulan bahwa dunia di- ciptakan dengan waktu dari pada dalam waktu. Demikianlah jangka waktu (hidup) manusia dapat diukur sebagai masa lalu, sekarang, dan akan datang karena hakekat sifat ciptaan yang terbatas dan tidak kekal.

Lantas, apa yang dapat dipetik dari pandangan St. Agustinus? Pertama, Allah adalah Sang Pencipta dan kita adalah ciptaan. Tindakan Allah yang menciptakan adalah tindakan bebas. Kebebasan Allah dalam mencipta terletak di dalam kelimpahan Cinta Kasih-Nya sehingga membuat ciptaan menjadi ada. Kita semua ada semata-mata karena belas kasih Allah. Kedua, Allah adalah Keabadian yang berada di luar waktu yang melingkupi ciptaan. Waktu mulai bersamaan dengan diciptakan- nya jagad raya. Maka, Allah tetap menjadi penguasa waktu. Sebaliknya, manusia terikat dan dibatasi oleh waktu. Ketiga, waktu kita terbatas. Masa lampau sudah berlalu. Kita tidak dapat mengembalikan masa lalu. Masa depan belum terbuka. Di hadapan kita terdapat masa kini. Pada masa kini, kita masih dapat berpikir dan berkehendak yang baik. Dengan memanfaatkan waktu sekarang, kita dapat merencanakan masa depan dengan yang lebih baik. Mengutip ungkapan tersohor St. Agustinus, “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Sebagai makhluk ciptaan, sudah sepantasnya kita menyadari hidup di dunia ini sebagai peziarahan untuk mencapai persatuan kembali dengan Sang Pencipta, Allah yang kita imani. Jang an menunda-nunda perbuatan yang baik. Marilah menggunakan waktu kita sebaik mungkin karena waktu kita terbatas.

(Daku Morin).

Leave a Reply