Tentang Doa Bapa Kami

Allah itu ‘Omnipotent’. Omnipotent artinya adalah keagunganNya melampaui atau melebihi segala sesuatu yang ada di alam semesta. Allah berkuasa atas segala mahkluk, baik mahkluk hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan maupun benda-benda mati. Allah juga berkuasa atas mahkluk-mahkluk yang tak kelihatan seperti para malaikat dan setan. Karena itu dalam Doa Bapa Kami dikatakan bahwa Allah adalah Bapa yang di surga. Surga adalah tempat Allah berdiam dan bertakhta. Meskipun demikian, keberadaan Allah sajalah yang membuat surga menjadi tempat yang damai dan membahagiakan. Karena kebaikan dan kasihNya yang tidak terbatas, maka Allah pun akan memberikan surga kepada setiap orang yang menjalankan kehendakNya. Harus diingat bahwa Allah adalah kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan itu sendiri. Maka kehendak Allah hendaklah dipahami sebagai ‘perintah’ untuk membuat diri kita sendiri sebagai orang yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan kepada setiap orang. Ini adalah perutusan kita sebagai anak-anakNya. Kalau kita bisa menjalankan perutusan ini di dalam kehidupan sehari-hari, maka kita telah membawa suasana surga yang penuh dengan kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan itu ke dalam dunia; membawa suasana surga ke atas bumi. Tentang ini, kita sering kali berucap, ‘Rasanya seperti di surga’ dan itu semata-mata karena kebaikan Allah saja.

Allah yang memiliki keagungan dan kuasa seperti itu berkenan untuk kita panggil dengan sebutan ‘BAPA’. Kalau Allah berkenan dipanggil dengan sebutan ‘BAPA’ itu juga dapat diartikan bahwa Allah
mau diperlakukan dan dipandang sebagai seorang ayah, bapak, atau papa. Dengan demikian, hendaknya kita juga meyakini bahwa Allah juga memperlakukan kita sebagai anak-anak yang dikasihiNya. Karenanya kita pun boleh saja meminta apa yang kita butuhkan kepada Allah, yang adalah Bapa kita sendiri. Kalau pernah mendengar istilah ‘Penyelenggaraan Ilahi’ maka itu tak lain adalah kebaikan Allah sendiri dalam bentuk karunia-karunia tertentu yang kita terima dalam hidup sehari-hari seperti makanan, dan berbagai keperluan dalam hidup sehari-hari seperti
uang untuk membeli barang yang kita butuhkan. Itulah yang dinamakan rejeki dari Allah melalui kebaikan hati orang-orang yang dipakai sebagai alatNya. Kalau tadi kita menyebutkan bahwa Allah itu tidak terbatas, maka pada bagian ini kita diajak untuk menyadari akan kelemahan dan keterbatasan diri kita sebagai manusia. Adanya kelemahan dan
keterbatasan ini sering kali membuat kita melakukan kesalahan pada sesuatu yang sedang dikerjakan dan juga melakukan perbuatan-perbuatan yang salah, dalam arti bertentangan dengan kehendak Allah. Kita telah mengetahui bahwa kehendak Allah tak lain adalah agar kita kita membawa kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan. Tetapi kalau perbuatan kita tidak mengarah pada kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan maka dapat dipastikan bahwa kita telah melanggar kehendak Allah dan bersalah. Atas kesalahan ini pula, baiknya memang kita memohon pengampunan kepada Allah sendiri, akan tetapi hendaknya kita juga meminta maaf dan ampun kepada pihak-pihak yang dirugikan. Selain itu kita juga dituntut untuk berani mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita, karena dengan pengampunan kita akan membawa kebaikan, kebahagiaan

dan ketenangan tidak hanya kepada diri sendiri tetapi itu juga membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi orang-orang yang ada di sekitar kita, khususnya orang yang telah bersalah. Penting bagi kita untuk belajar rendah hati, dan tidak menanamkan rasa bersalah yang berlebihan kepada orang lain karena rasa bersalah tidak akan pernah membahagiakan. Menyadari kita sebagai orang yang lemah, maka di dalam kerendahan hati hendaknya kita memohon agar Allah menjauhkan diri kita dari segala bentuk pencobaan, dan sebagai konsekuensinya maka kita pun harus berani melawan setiap godaan yang ada sejak godaan itu pertama kali muncul. Akan terasa lebih mudah untuk melawan godaan saat godaan tersebut muncu dalam pikiran. Tetapi rasanya akan semakin sulit untuk diatasi
kalau kita tidak segera ‘memotong’ godaan dalam pikiran. Godaan selalu berasal dari ‘si jahat’ yaitu setan. Kalau kita mengikuti godaan maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya kita sedang menyetujui usulan dari si jahat untuk
melawan Allah Bapa. Hanya dengan berserah diri kepada Allah Bapa, maka kita akan terus dikuatkan meskipun berulang kali jatuh dalam berbagai pencobaan karena kelemahan dan keterbatasan manusiawi kita. Kalau kita menang maka surga akan menjadi bagian yang pantas untuknya.

(Benediktus)

Comments are closed