Sang Raja Telah Datang, Songsonglah Dia!

Natal merupakan suatu peristiwa iman. Artinya, Natal dimaknai sebagai momen yang tepat bagi kita untuk menyongsong kedatangan Yesus Sang Raja ke dalam dunia. Ia datang atas kehendak Nya sendiri, terutama untuk mengangkat kita dari lumpur dosa. Itulah sebabnya, pada hari Natal, Ia pertama-tama hadir di dalam hati kita masing-masing. Sudahkah kita mempersiapkan diri guna menyambut kedatangan Sang Juru Selamat?

Persiapan diri tidak hanya merujuk pada persiapan lahiriah, seperti menyediakan pernak-pernik Natal, membuat kartu ucapan, membeli baju baru, membuat kue Natal, dan lain sebagainya. Persiapan yang utama adalah persiapan batin. Kita menyucikan hati agar menjadi “palungan” bagi Tuhan. Hati yang bersih adalah tempat yang pantas dan layak bagi-Nya. Pertanyaan reektifnya adalah bagaimana kita dapat mempersiapkan batin kita secara lebih baik?

Bacaan-bacaan Injil selama empat pekan masa Adven menjadi jawaban yang tepat. Makna yang terkandung di dalam Injil itu merupakan pedoman dalam bertingkah laku sekaligus petunjuk praktis untuk persiapan yang lebih baik. Itulah sebabnya, teramat penting bagi kita untuk merefleksikan dan menghayatinya.

Pada Minggu Adven pekan pertama, kita semua diajak untuk senantiasa berjaga-jaga (Mrk. 13:33-37). Berjaga-jaga berarti menarik diri dari segala kesibukan. Tujuannya jelas, yakni supaya kita meluangkan banyak waktu untuk membangun relasi yang mesra dengan Tuhan. Dengan demikian, ketika Ia datang, kita berada dalam disposisi iman yang tepat. Pada Minggu Adven pekan kedua, Yohanes Pembaptis mendorong kita untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Juru Selamat (Markus 1:1-8). “Ada suara yang berseru-seru di padang gurun, persiapkan jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan baginya” (Mrk. 1:3). Jalan yang dimaksudkan Yohanes tak lain ialah hati kita masing-masing, sebab ketika Yesus datang, Ia akan tinggal dan bersemayam di dalam hati kita. Lalu, bagaimana kita dapat meluruskan jalan bagi Tuhan? Salah satu caranya adalah dengan menerima sakramen tobat. Melalui sakramen ini, kita secara eksplisit mengungkapkan dan menyesali segala dosa, serta berniat teguh untuk memperbaikinya.

Pada Minggu Adven pekan ketiga, Yohanes penginjil mengajak kita pula untuk menjadi saksi Kristus (Yoh. 1:6-8; 9-28). Menjadi saksi berarti mewartakan Kristus dengan perkataan dan perbuatan, tanpa hasrat untuk menonjolkan diri. Dalam hal ini, Yohanes Pembaptis patut diteladani. Ia mewartakan sukacita Injil dengan penuh kerendahan hati dan kesederhanaan. Ia tidak mencari muka ataupun memegahkan diri. Ia melihat dan menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan yang hina dina. Namun, justru dalam kehinaan itulah, Yohanes Pembaptis menunjukkan kekayaan rohani yang berlimpah ruah. St. Paulus bahkan meneladani kerendahan hati Yohanes Pembaptis. Itulah sebabnya, Tuhan sendiri berkata kepadanya demikian: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna (2Kor. 12:9)”. Sabda ini dengan tegas memperlihatkan bahwa di hadapan-Nya, kita adalah makhluk yang lemah. Maka, jangan pernah menyombongkan diri! Segala yang kita miliki saat ini, baik harta benda yang berlimpah maupun potensi diri yang berkembang pesat, adalah anugerah Tuhan. Manfaatkanlah itu sebagaimana mestinya, sesuai dengan tugas perutusan kita masing-masing.

Pada Minggu Adven pekan keempat, Lukas pengarang Injil juga mengundang kita untuk melakukan dua hal penting ini (bdk. Luk. 1:26-28). Pertama, kita mesti meneladani Maria dalam mengungkapkan ketaatan total pada kehendak Allah. “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Karena penyerahan diri yang total kepada Allah, Maria mendapat karunia terbesar. Ia menjadi Bunda Allah sekaligus Bunda Gereja. Dalam kehidupan nyata, ketaatan total kita pada Allah terlihat jelas dalam pekerjaan atau kegiatan sederhana yang kita lakukan dengan tulus. Kedua, kita semua dipanggil untuk menjadi “ibu yang me ngandung, melahirkan, dan membesarkan” bayi Yesus dalam hati kita. Artinya, segala bentuk pelayanan atau pun tingkah laku dan tutur kata kita mesti dilandasi oleh iman pada Kristus. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadikan Kristus semata-mata milik kita, tetapi juga mewartakan-Nya kepada sesama. Inilah hakikat Gereja sebagai paguyuban umat beriman yang berciri misioner.

Menjalankan tugas perutusan kita masing-masing berdasarkan tugas yang diserahkan Allah

kepada Gereja merupakan upaya kita untuk menyongsong kedatang an Sang Juru selamat. Ia adalah imam, nabi, dan raja. Oleh karena itu, sebagai pengikut-Nya yang setia, kita harus berpartisipasi aktif dalam tugas imami, kenabian, dan rajawi Kristus. Selamat merayakan Natal saudara-saudariku seiman. Rayakanlah kelahiran Tuhan dengan sukacita dan maknailah perayaan ini sebagai bentuk kelahiran kita yang baru dalam iman, roh, dan kebenaran. Amin.

Fr. Ervino Hebry Handoko, SX

Leave a Reply