Roti dan Anggur Adalah Yesus Kristus

Gereja Katolik mengajarkan bahwa saat konsekrasi dalam Misa Kudus, roti dan anggur di altar sungguh menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Hakekat roti dan anggur berakhir, meskipun wujud, rasa, atau sifat-sifat roti dan anggurnya masih tetap sama. Perubahan mengagumkan ini dikenal dengan istilah trans-substansiatio (perubahan substansi atau hakekat). Baik roti maupun anggur menjadi Yesus Kristus yang utuh: Tubuh, Darah, Jiwa dan Keilahian-Nya. Maka orang yang menerima Komuni dalam salah satu rupa, menerima Kristus secara utuh dan seluruhnya. Partikel Hosti Kudus atau tetes “anggur” yang terkecil pun adalah Kristus. Meskipun demikian, Kristus tidak terbagi. Ia tetap satu.
 
Tuhan kita hadir selama rupa roti dan anggur masih ada. Kalau Hosti Kudus dicerna atau dilarutkan dalam air, dan tidak lagi memiliki wujud roti, ia bukan lagi Yesus. Jadi, Tuhan kita hadir dalam diri orang yang menyambut Komuni selama kira-kira 15 menit, dan orang harus menyembah Dia dalam dirinya selama Ia hadir secara sakramental. Kisah terkenal diceritakan tentang Santo Filipus Neri yang kita ra yakan tanggal 26 Mei setiap tahun. Ketika memimpin Perayaan Ekaristi, orang kudus ini melihat seorang perempuan yang telah menerima Komuni Kudus meninggalkan gereja langsung sesudah Misa tanpa memerhatikan Kristus yang ada di dalam dirinya. Orang kudus ini mengutus dua orang putra altar dengan lilin bernyala untuk mendampingi dia, karena ia masih menjadi tabernakel hidup bagi Allah Yang Maha Kudus.
 
Memang benar Allah itu hadir di mana-mana sebagai Pencipta dan Penopang segala sesuatu. Ia juga hadir lewat rahmat pengudus dalam jiwa-jiwa yang ada dalam keadaan berahmat, kehadiran ini adalah kehadiran spiritual. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi dengan Tubuh, Darah, Jiwa, dan ke-Allahan-Nya sungguh-sungguh unik, dan biasa disebut kehadiran nyata. Untuk menerima Komuni dengan pantas, orang harus dalam keadaan berahmat, yakni bebas dari dosa berat yang belum dilakukan dan diampuni dalam sakramen Rekonsiliasi. Menyambut Komuni dalam keadaan berdosa berat adalah dosa berat yang biasa disebut dosa sakrilegi. Seorang yang telah melakukan dosa berat harus pertama-tama membersihkan jiwanya dalam Sakramen Rekonsiliasi sebelum menerima Komuni Kudus. Santo Paulus sendiri menyatakan (1 Kor 11:29) bahwa barangsiapa menerima Ekaristi secara tidak pantas, ia makan dan minum hukumannya sendiri. (Dosa sakrilegi karena Komuni dalam keadaan berdosa berat tentu saja dapat diampuni dalam Sakramen Rekonsiliasi).
 
Selain dalam keadaan berahmat, penyambut Komuni harus juga memiliki intensi yang tepat dan melaksanakan puasa Ekaristi yang dituntut. Peraturan sekarang adalah berpuasa dari semua makanan dan minuman (kecuali air putih dan obat) selama satu jam sebelum saat penerimaan Komuni. Puasa dengan durasi yang lebih lama misalnya tiga jam atau mulai tengah malam, merupakan persiapan yang sangat baik. Orang Katolik yang serius juga akan berusaha memurnikan jiwanya dari dosa-dosa ringan untuk menyediakan tempat kediaman yang lebih pantas bagi Tuhan dalam hatinya. Persiapan langsung yang terbaik untuk Komuni adalah mengikut Misa dengan khusyuk.
 
Dampak khusus Sakramen Ekaristi adalah persatuan antara penyambut dan Yesus Kristus (juga dengan anggota Tubuh Mistik Kristus yang lain), penyegaran spiritual bagi jiwa. Dengan menerima Komuni Kudus, seorang Katolik mematuhi perintah Tuhan untuk makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya. Ia melaksanakan tindakan yang paling berkenan di hati Allah, yang rindu datang ke dalam hatinya. Dari pihak penyambut, keinginannya untuk menerima Tuhan semakin meningkat. Setiap penerimaan Komuni Kudus meningkatkan rahmat pengudus dalam jiwa penyambut, peningkatan ini terjadi setaraf dengan keterbukaan hati penyambut bagi Tuhan dengan menghampakan jiwanya dari dosa dan keinginan-keinginan duniawi, dan sesuai dengan disposisi dalam persiapan, penerimaan dan syukur.
 
Akhirnya, rahmat pengudus adalah kehidupan Kristus sendiri dalam jiwa kita, suatu kenyataan spiritual yang sulit dilukiskan, dapat dibayangkan sebagai air jernih dan terang. Rahmat pengudus membuat jiwa kita kudus dan berkenan di hati Allah, rahmat memberi jiwa kita keindahan melampaui keindahan alam yang paling indah. Orang harus berada dalam keadaan berahmat pengudus pada saat meninggal supaya ia diselamatkan. Setiap kunjungan kepada Yesus Kristus dalam Sakramen Ekaristi adalah suatu jaminan hidup abadi bagi mereka yang tetap hidup dalam rahmat Allah dengan menaati perintah-perintah-Nya. Dalam Komuni Kudus, Tuhan kita memberikan rahmat yang memampukan kita mematuhi perintah-perintah-Nya.
(Diambil dari berbagai Sumber)
Yan Kanmese, OFM

Leave a Reply