Renungan Pentakosta : “MEMULIAKAN ALLAH MENGANGKAT MANUSIA”

PENTAKOSTA – A: 04 Juni  2017.

MEMULIAKAN  ALLAH  MENGANGKAT  MANUSIA

Yoh. 20:19–23; Kis. 2:1–11.

Di pojok gedung Asisi lantai 2 terlihat beberapa anak muda duduk santai. Sambil menikmati aroma kopi Lampung, mereka ngobrol serius tentang peristiwa Pentakosta. Kita ikuti obrolan mereka berikut ini….

(Renato) Pentakosta itu artinya apa ya? (Novi) Inget–inget sih pak Okto pernah bilang bahwa Pentakosta itu artinya hari ke–50. Latar belakangnya, di kalangan Umat Perjanjian Lama (bangsa Israel), Pentakosta itu dirayakan 7 Minggu setelah panen gandum. Selanjutnya, hari ke–50 ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu Hari Raya Paskah Yahudi.  Kemudian, hari ke–50 ini diperingati sebagai hari turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan  umat Kristen, hari ke–50 itu dirayakan 7 Minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid, sebagai “panenan rohani” yang kini mulai melimpah (sebab dengan turunnya Roh Kudus umat Kristen berkembang pesat).  (Putri) Loe bisa juga ya Novi, masih bisa inget pelajaran katekumennya. Gue mah, habis baptis tinggal bayang–bayangnya doang… (Renato) Terus, waktu Pentakosta kan dikatakan para Rasul bisa berbicara dalam berbagai bahasa. Maksudnya secara ajaib, mereka jadi lancar omong semua bahasa gitu? (Putri) Bukan begitu juga kalee… Maksudnya, Roh Kudus memampukan mereka, sehingga mereka bersaksi tentang perbuatan–perbuatan besar yang dilakukan Allah. Artinya, kesaksian hidup mereka membuat orang dari bangsa lain mengalami keagungan atau kebesaran Allah. Kesaksian hidup para murid, seolah membahasakan kebesaran Allah, sehingga mereka bisa memahaminya. Jadi, bukan maksudnya mereka tahu semua bahasa… Selanjutnya, mereka yang percaya bergabung dengan para murid dengan cara dibaptis (kira-kira 3000 orang: Kis. 2:41). (Novi) Pantesan waktu katekumen, pak Okto bilang Pentakosta itu hari berdirinya Gereja. (Renato) Ya, jumlah segitu sama dengan 1 Paroki sekarang.

(Hawa) Roh Kudus memampukan para murid untuk berani bersaksi tentang perbuatan besar Allah yang dihadirkan Yesus. Bagaimana kita sekarang ini mempersaksikan Yesus ya? (Renato) Menurut Gue, ada 2 hal. Yang pertama, secara intern. Sebagai anggota Gereja atau sebagai murid Yesus, kita kudu wajib melaksanakan kehendak Yesus dalam perilaku hidup kita, dengan kata dan perbuatan, sehingga orang lain mengalami kebaikan Allah. Kedua, secara ekstern. Kita tidak hanya hidup dengan baik dalam kelompok kita saja, tetapi baik juga dalam kata dan perbuatan dengan orang lain, tanpa menonjolkan identitas keagamaan. Kan semua agama menghendaki demikian to? Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. (Putri)  Tapi, kadang orang lain melihat itu sebagai kristenisasi… (Novi) Itu suara dari orang lain yang menilai dari luar menurut persepsi mereka to? Yang terutama itu tergantung motivasi kita mba Putri. Makanya, “tanpa menonjolkan identitas keagamaan” itu penting. (Hawa) Yang penting kita mau bekerjasama dengan orang lain membangun kemanusiaan. Untuk itu dibutuhkan kepekaan sosial yang tinggi…. (Putri) Tapi yang pokok juga peka akan kehadiran Yang Ilahi, karena kita menghadirkan karya Yang Ilahi. Saya teringat ungkapan almarhum Rm. Mangun Wijaya: “Memuliakan Allah mengangkat manusia”. (Novi) Kalau setiap kegiatan atau apapun yang dilakukan itu membuat martabat manusia semakin terangkat berarti secara tidak langsung Allah semakin dimuliakan; dan Allah semakin dimuliakan melalui segala upaya yang mengangkat  martabat manusia. Ya, dengan cara itulah kita mempersaksikan karya besar Allah yang dihadirkan Yesus, yang berkarya demi membangun kemanusiaan baru dan membawakan damai sejahtera, berkat kekuatan Roh Kudus…. (Renato) Ya, itulah semangat Pentakosta yang bagi saya lebih relevan untuk saat ini, daripada berbahasa roh, atau puji–pujian, atau yang lainnya….. (Okto Lasar).

Leave a Reply