Renungan Minggu, 8 Januari 2017

“Persembahan yang layak!”

Kita dipanggil untuk mampu mempersembahkan diri, apa yang ada dalam diri kepada Tuhan dan sesama. Semuanya itu, dari hati yang terdalam, adalah sebuah persembahan yang pantas kita berikan kepada Tuhan. Persembahan yang kita lakukan demi kemuliaan Tuhan semata. Bukan demi popularitas atau kemuliaan pribadi kita sendiri. Dalam Injil hari ini dikisahkan kepada kita bagaimana para majus datang ke tempat kelahiran Yesus (Mat. 2:1-12). “Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada Anak itu, yaitu emas, kemenyan, dan mur” (Ay. 11). Dalam Yesus janji keselamatan itu mendapatkan pemenuhannya. Yesus menjadi keselamatan bagi semua bangsa, baik Yahudi maupun bukan Yahudi. Para majus yang datang membawa persembahan itu mewakili para bangsa dari seluruh muka bumi, hendak memperlihatkan persaudaraan semua suku dan bangsa di hadapan Yesus. Pertanyaan bagi kita:”Apakah yang dapat kita bawa dan persembahkan kepada Yesus?” Apakah kita telah sungguh-sungguh hidup sebagai orang Katolik yang baik dan benar?” Barangkali yang perlu kita wujudkan dalam hidup bersama entah itu dalam keluarga, lingkungan, paroki ataupun dalam masyarakat ialah membangun persaudaraan sejati dengan siapa saja, persaudaraan yang lintas batas. Seringkali kita terkungkung dalam kelompok sendiri, membuat sekat dan kotak dengan orang lain. “Saya tidak mau bergaul dengan dia karena dia bukan saudara saya, beda suku, agama, ras, dan segala macam dengan saya….” Akibatnya kita membuat jarak dengan orang lain. Tuhan Yesus menuntut kita agar kita bisa berbuat lebih. Artinya kita hidup tanpa adanya sekat-sekat antara orang Betawi, Jawa, Padang, Manado, Flores, Papua, Tionghoa, Batak, dan lain-lain sebagainya. Antara Katolik, Protestan, Islam, Hindu, Budha, dll. Karya keselamatan Tuhan menjangkau semua orang, terbuka bagi siapa saja seperti dalam kisah ketiga majus yang dibimbing sampai kepada Yesus. Semua dibimbing kepada persaudaraan sejati. Yang penting ialah kita percaya dan mau dibimbing oleh kebenaran.Paus Fransiskus pernah berkata:”Gambaran pencarian akan Allah dapat terlihat dari orang-orang Majus yang dituntun ke Betlehem oleh bintang. Bagi mereka, terang ilahi tampak sebagai suatu perjalanan yang harus ditempuh, sebuah bintang yang membimbing mereka pada jalan pencarian. Bintang ini adalah tanda kesabaran Tuhan kepada mata kita, yang perlu semakin dibiasakan dengan terang-Nya” (LF. 35). Semoga kita mampu mempersembahkan yang terbaik dalam hidup ini dengan membangun persaudaraan sejati dengan semua orang, tanpa terkotak-kotak. Itulah harapan yang selalu kita rindu-rindukan oleh semua orang yang berkehendak baik. Selamat hari Minggu! Tuhan memberkati kita! Amin.

8 Januari 2017

P. Andreas Satur, OFM

Comments are closed