Renungan : Minggu, 3 September 2017 “KAMU ADALAH SAUDARAKU”

Kamu Adalah Saudaraku

            renungan 3 septDemikianlah para fransiskan-fransiskanes (sebutan untuk mereka yang mengikuti cara hidup St. Fransiskus Assisi) memanggil sesama yang lain, bahkan alam di sekitarnya. Mereka menyapa orang lain sebagai saudara dan saudarinya. Bumi dipanggil sebagai saudari dan matahari sebagai saudara. Semua yang diciptakan Tuhan dilihat dalam perspektif persaudaraan danbukan sebagai ancaman bahkan bukan sebagai lawan.

            Semangat hidup bersama yang dijiwai oleh keyakinan bahwa kita semua bersaudara adalah ciri mendasar hidup semua orang yang mencintai St. Fransiskus Assisi. Kesaksian hidup Si Miskin dari Asisi menginspirasi banyak orang untuk hidup bersaudara dalam kesederhanaan dengan sesama dan alam semesta di sekitar kita.

            “Kamu adalah saudaraku” adalah pilihan hidup yang berakar kuat pada Kitab Suci, dan sangat kontekstual dengan kondisi hidup kita khususnya pada saat ini, dimana individualisme dan fenomena populisme meraja lela. Individualisme menjebak hidup kita dalam kesendirian dan ketertutupan satu sama lain. Populisme merampas semangat persaudaraan hidup bersama karena ada dan menyebarnya virus ketakutan dan virus kebencian terhadap kehadiran orang lain.

Hidup Dalam Gempuran Populisme

            Beberapa hari terakhir ini, kita dikejutkan dengan terbongkarnya peran kelompok Saracen yang telah menghancurkan semangat persaudaraan dalam hidup bersama kita. Saracen ini telah menyebarkan semangat permusuhan dan perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat kita, sebagai satu bangsa, Indonesia. Penyebaran semangat permusuhan ini dilakukan dengan memproduksi berita-berita atau informasi bohong atau yang tidak benar, dan juga mem-viral-kan atau menyebarluaskan kata-kata kebencian dan kata-kata yang mengadu domba antara pembacanya. Saracen melakukan tindakan tidak terpuji tersebut lewat media sosial secara kontinu dan berdasarkan pesanan oknum-oknum tertentu yang membayar para anggota Saracen.

Kisah yang menyedihkan dan menyakitkan hati bangsa terjadi juga pada Selasa, 1 Agustus 2017. Awal Agustus, bulan kemerdekaan bangsa Indonesia,bertempat di kawasan Pasar Muara, Bekasi, seorang pria yang bernama M Alzahra atau Joya (30 tahun) – maaf -, dibakar hidup-hidup oleh kerumunan orang. Massa atau mob tidak lagi percaya pada hukum yang berlaku dan bertindak main hakim sendiri. Tindakan keji ini dipicu atas dugaan bahwa saudara Joya telah mencuri amplifier atau mesin pengeras suara di Musala Al Hidayah, Kampung Cabang Empat, RT 02 RW 01, Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi. Joya, yang dikenal sebagai tukang reparasi amplifier tersebut, meregang nyawa dalam kobaran api dan akhirnya meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang anak dan seorang isteri (25 tahun) yang sedang mengandung 6 bulan. Tragis!

            Kisah pilu hidup Joya yang dihakimi massa dan peran Saracen yang telah bertindak sebagai penyebar kebencian dan hasutan untuk bermusuhan adalah contoh-contoh kondisi “sakitnya” kehidupan bersama kita sebagai bangsa Indonesia. Kita mudah percaya dan terprovokasi oleh berita-berita palsu atau teriakan-teriakan menghasut. Sikap-sikap hidup kita bahkan sangat dipengaruhi oleh berita hoax dan murahan tersebut. 

            Dalam jargon politik, apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita saat ini dengan dua contoh yang disampaikan sebelumnya adalah tanda nyata dari adanya gerakan populisme. Populisme berasal dari bahasa latin populus yang berarti rakyat. Populisme dapat dipahami sebagai gerakan rakyat yang muncul karena adanya ketidakpuasan pada sistem politik yang ada. Dalam fenomena populisme ini, rakyat menyatakan ketidakpuasannya dengan aksi-aksi jalanan dan bergerilya di media sosial dalam mengecam dan melawan sistem politik, khususnya demokrasi, seperti yang sudah kita miliki.

Namun demikian, kita harus berhati-hati memahami kata “rakyat” dalam populisme. Rakyat disini bukanlah warga negara, orang-orang yang bekerja dan terlibat dalam partai atau asosiasi-asosiasi tertentu. Rakyat (populus) dalam populisme adalah sekelompok orang atau massa yang tidak terbedakan, tidak terdiferensiasi. Mereka adalah kerumunan atau mob yang bertindak seturut pandangan (baca:perasaan) mereka benar, tidak mengakui dan menerima norma atau hukum bersama yang berlaku, dan  cenderung terarah pada kekerasan.

Kita hidup dalam gempuran populisme yang telah menyebabkan rasa takut dan curigasebagai bagian dalam hidup kita sehari-hari. Kehadiran orang lain dilihat sebagai ancaman dan musuh. Curiga dan takut terhadap orang lain atau sesuatu yang lain membuat kita menutup diri, tidak bebas dan hidup dalam keragu-raguan. Dalam ketakutan dan kecurigaan hidup, kita mudah dihasut untuk menyebarkan berita-berita bohong, hoax, mem-viral-kan kata-kata kebencian (hate-speech) dan menghancurkan relasi hidup bersama serta bersaudara sebagaimana dilakukan kelompok Saracen. Dalam ketakutan dan kecurigaan hidup, kita pun mudah diprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan melukai serta mengakhiri hak hidup orang lain seperti dilakukan massa atau mob dalam peristiwa memilukan dibakarnya Joya karena diduga mencuri amplifier.

Hidup Bersaudara Ala Fransiskan 

            Berhadapan dengan situasi populisme yang sedang terjadi, semangat hidup para fransiskan – salah satu nilainya – persaudaraan menjadi urgen dan aktual. Hidup bersama sebagai saudara dan saudari adalah karakter dan cara hidup para pengikut St. Fransiskus Assisi yang dapat memberikan perubahan terhadap suasana saling curiga dan takut serta tindakan kekerasan kepada orang lain atau sesama kita.

            St. Fransiskus Assisi menyebut para pengikut awalnya tidak sebagai teman-teman sepanggilan atau kawan-kawan seperjalanan atau bahkan bawahannya. Ia menyebut mereka sebagai saudara-saudaranya.Dalam tulisan-tulisan yang ditinggalkan kepada kita, ada sekitar 306 kali, Bapa Serafik ini menyebut kata “saudara”. Dalam tulisan paling awalnya tentang peraturan hidup para Fransiskan, yakni Anggaran Tanpa Bulla (baca: anggaran dasar untuk aturan hidup para Fransiskan yang belum mendapat surat peneguhan dari pihak pimpinan Gereja), St. Fransiskus Assisi menulis dengan jelas kepada para pengikutnya, “Kamu semua adalah saudara” (AngTBul, 22:33). Bagi Santo Pelindung Ekologi ini, kita semua adalah saudara. Alam semesta, anda dan saya adalah saudara dan saudari. Kita bukanlah musuh yang saling mengancam sehingga selalu bersikap curiga. Sebaliknya kita semua adalah saudara, yang diajak untuk bersikap peduli dan memberi perhatian satu dengan yang lain.

            Keyakinan bahwa kita semua adalah saudara dan saudari dalam Allah itulah yang meneguhkan St. Fransiskus Assisi bahwa,semua pengikutnya (baca: para fransiskan-fransiskanes serta semua orang yang mencintai gaya hidup St. Fransiskus Assisi) adalah anugerah dari Allah baginya. “Sesudah Tuhan memberi aku sejumlah saudara…” demikianlah salah satu kalimat dari Wasiat St. Fransiskus Assisi. Ia melihat dan menyadari sungguh-sungguh bahwa para pengikutnya adalah saudara dan saudari yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Dengan demikian, bersaudara adalah cara hidup yang terberi dan berahmat dari Allah sendiri bagi para saudara fransiskan.

            Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup Yesus dengan para murid-Nya  adalah inspirasi utama dari hidup bersaudara yang dihayati dan dilaksanakan oleh St. Fransiskus Assisi serta para pengikut-Nya.Kitab Suci adalah dasar utama bagi St. Fransiskus Assisi dalam membangun semangat hidup bersaudara dalam persaudaraannya. Dalam Injil Matius, Yesus mengatakan dengan jelas bahwa kita semua bersaudara. “Kamu semua adalah saudara.” (Mat. 23:8). Bagi Yesus dan Gereja Katolik, tidak ada kelas atas-atasan dan kelas bawah-bawahan atau tuan dan hamba. Sebaliknya, kabar gembira dalam iman pada Yesus Kristus adalah kita semua bersaudara, satu dalam iman kepada Bapa di Surga. Kita bersaudara, bukan karena kita memiliki pertalian darah dari orang tua yang sama atau dari suku dan budaya yang sama. Sebaliknya, kita bersaudara karena didasarkan pada martabat kita sebagai anak-anak Allah dan sebagai anak-anak Allah, kita adalah saudara dan saudari antara yang satu dengan yang lain.

            Jelaslah persaudaraan dalam contoh hidup Yesus dan para murid adalah persaudaraan yang mau dihidupkan oleh St. Fransiskus dan para Fransiskan. Ciri hidup bersaudara ala Fransiskan adalah sebagai berikut. Pertama, sikap peduli kepada sesama dan alam layaknya seorang ibu yang memberi kasih kepada anaknya. “Saudara yang satu hendaknya dengan leluasa menyatakan kebutuhannya kepada yang lain,…[dan], harus mengasihi dan mengasuh saudaranya, seperti seorang ibu mengasihi dan mengasuh anaknya sendiri.” (AngTBul, 9:12). Kasih ibu yang tak terbatas kepada anaknya adalah kasih yang harus menjadi dasar dan harus dimiliki oleh para pengikut St. Fransiskus Assisi dalam berelasi dengan sesama manusia dan alam semesta. Sesama kita dan alam semesta hadir untuk dikasihi dan diasuh, bukan untuk dihancurkan dan dieksploitasi. Kedua, hidup bersaudara mensyaratkan adanya sikap saling menerima, melayani dan menghormati satu sama lain. “Di mana pun saudara-saudara berada dan di tempat mana pun mereka bertemu, haruslah mereka saling menerima dengan saksama dan saling menghormati sebagai manusia rohani.” (AngTBul, 7:38). Bersaudara berarti mampu menerima saudara lain apa adanya. Tidak saja menerima tapi juga bersedia untuk melayani dengan sikap hormat yang pantas. Prioritas saudara yang dilayani dan dihormati adalah mereka yang sakit. “Jika seorang saudara tertinggal karena sakit, di mana pun juga dia berada, saudara-saudara lainnya tidak boleh membiarkannya, kecuali kalau ada seorang saudara atau beberapa, bila perlu, yang ditunjuk untuk melayaninya, sebagaimana mereka sendiri ingin dilayani.” (AngTBul, 10:1).Ketiga, menyapa saudara lain yang tidak hidup sesuai kehendak Tuhan dengan penuh bijak, kasih dan terarah pada perubahan orang tersebut. Ketika ada saudara-saudara yang berdosa atau tidak hidup sesuai kehendak Allah yang tersurat dalam aturan hidup para Fransiskan, maka St. Fransiskus meminta agar mereka ditegur tiga kali agar ia mampu memperbaiki dirinya. Jika ia tetap bersikeras dengan dosanya dan tidak mau berubah, maka minister – pemimpin tertinggi fransiskan – mencari jalan keluar yang terbaik demi saudara yang berdosa itu sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Mari Bersaudara Melawan Populisme

            Demikianlah dalam kepungan dan gempuran populisme yang mengedepankan rasa takut dan curiga terhadap orang lain, kita diundang kembali mempraktikkan hidup bersaudara demi membangun hidup bersama yang saling percaya dan terbuka satu dengan yang lain. Kalau populisme telah mengantar kita untuk melihat sesama kita sebagai musuh, saingan dan ancaman seperti serigala bagi sesamanya (homo homini lupus), semangat persaudaraan ala Fransiskan sebaliknya mengajak kita untuk melihat orang lain sebagai saudara dan saudari bagi kita. Bagi roh dan cara hidup Fransiskan yang berdasarkan pada Kitab Suci, hidup bersaudara adalah kesaksian iman yang otentik dan tepat sebagai anak-anak Allah di dunia ini.

            Kita bersama dipanggil untuk mengaktualisasikan semangat hidup bersaudara dalam perbedaan yang kita miliki baik dalam Gereja Katolik Roma maupun dalam hidup berbangsa, Indonesia. Sebagaimana kita refleksikan sebelumnya, iman pada Yesus Kristus yang teguh telah mengantar St. Fransiskus dan para fransiskan-fransiskanes untuk berusaha terus menerus menyebarkan dan mem-viral-kan semangat hidup bersaudara. Mari jalan bersama para pengikut St Fransiskus Assisi karena “kamu adalah saudaraku”.

Oleh: Sdr. Hieronimus Yoseph Dei Rupa, OFM

 

 

Leave a Reply