Sejarah Paroki

Gereja Hati Kudus Paroki Kramat, berada di Jalan Kramat Raya No. 134, Jakarta Pusat. Wilayah paroki ini pada masa sekarang (2015) meliputi daerah-daerah yang bagian-bagiannya berada dalam empat kecamatan, masing-masing Kecamatan Senen, Johar Baru, Menteng, dan Cempaka Putih. Dalam keempat kecamatan tersebut terdapat delapan kelurahan, yakni Kelurahan Kramat, Kwitang, Cikini, Kenari, Paseban, Johar Baru, Rawa Sari, Menteng, dan Cempaka Putih.

Wilayah paroki ini berbataskan sebelah utara dengan Jl. Prapatan-Kramat Bundar Paroki Paskalis, bagian selatan dengan Jl. Pramuka Raya, sebelah barat dengan Jl. Proklamasi-Cut Mutia Gondangdia/Rel K.A, dan di sebelah timur dengan Jl. Wiyoto Wiyono/Bay Pass.

Jika ingin dilihat berdasarkan lingkungan paroki-paroki di Jakarta, paroki ini berbatasan dengan Paroki Katedral, Paroki Paskalis – Cempaka Putih , Paroki Bonaventura – Pulo Mas, Paroki Kel. Kudus – Rawamangun, Paroki Ignatius Loyola – Jalan Malang, Paroki Theresia – Jalan Sabang. Keadaan kini merupakan perpanjangan masa lalu yang diisi dengan rentetan peristiwa yang dialami oleh paroki ini

Dari Masa VOC hingga Kebebasan beragama

hermanwilliam

Kiranya ada baiknya kita memandang kembali sejarah Paroki Kramat secara singkat dalam konteks Gereja Katolik di Jakarta. Sejak abad ke 16 ketika kapal kapal Portugis, Spanyol dan Belanda mulai bersandar di berbagai pelabuhan di bumi Nusantara, agama Katolik-pun mulai tumbuh kembali. Walaupun mengalami tekanan dan penderitaan, karena adanya larangan kegiatan keagamaan oleh Hindia Belanda, umat Katolik di Nusantara bertahan bahkan dan dengan berbagai upaya mempertahankan serta mewujudkan hidup beriman mereka.

Penderitaan dan tekanan itu berlangsung terus sampai pada awal abad ke-19 ketika hal utama yang dinantikan yaitu kebebasan melakukan ibadat agama diumumkan oleh Daendels, Gubernur Jendral Hindia Belanda tepatnya di tahun 1808. Setahun sebelumnya yaitu pada 8 Mei 1807, dengan persetujuan Raja Louis Napoleon, Vatikan mendirikan Prefektur Apostolik Batavia agar dapat mengatur kegiatan pastoral di seluruh wilayah Hindia Belanda. Seperti diketahui, pada masa itu banyak umat katolik berada dan tersebar, selain di Batavia dan Pulau Jawa, juga di Pulau Flores, Pulau Timor, Kepulauan Maluku, dan daerah-daerah di Sulawesi dan Sumatra. 

Lahirnya Paroki Katedral

katedral

Pastor Nelissen diangkat sebagai Prefek Apostolik yang pertama di Hindia Belanda. Ketika itu beliau berumur 54 tahun. Kemudian Prefek Apostolik Hindia Belanda dan Pastor Prinsen (saat itu berumur 28 tahun) dikirim ke Batavia. Pada 22 Juli 1807 keduanya meninggalkan pantai Texel di Hollandia Utara. Karena masih dalam kancah peperangan melawan Inggris, kapalnya berlayar ke Batavia melalui New York. Mereka tiba di Batavia pada 4 April 1808.

leonard

Pada Mei 1808 kedua iman tersebut diberi sebagian gedung tangsi untuk digunakan sebagai ‘gereja darurat’. Salah satu rumah dinas perwira dekat ‘gereja darurat’ juga diberikan dan dijadikan rumah pastor. Kemudian kedua pastor tersebut membentuk Badan Pengurus Gereja dan Dana Papa, yang terdiri atas Prefek Apostolik Nelissen sebagai ketua dengan anggota-anggotanya tuan Chevreux Le Grevisse, Fils, Bauer, dan Liesart (R. Kurris, S.J.,2001:17).

Pada pertengahan 1818, setelah meninggalnya Perfek Apostolik pertama, Pastor Prinsen diangkat sebagai Perfek Apostolik Batavia. Sebagai Perfek Apostolik, beliau selalu melihat perkembangan gereja di Batavia. Pada 6 November 1829 Monseigneur Prinsen memberkati sebuah gereja yang diberi nama ‘Santa Maria Diangkat Ke Surga’. Mulai saat itu banyak umat katolik pada Minggu datang ke gereja, selain karena telah tersedia gereja yang dapat menampung banyak orang, juga karena peran dan keteladanan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies (1825-1830), seorang ningrat dari Belanda Selatan yang beragama Katolik.

Pada 5 Februari 1830 Monseigneur Prinsen dan Tuan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies pulang ke Eropa. Kepulangan Monseigneur Prinsen membuat Kepala Gereja Katolik Hindia Belanda vakum. Barulah setahun kemudian, pada 1831, diangkat Pastor Scholten, pastor di Semarang, menjadi Perfektur Apostolik yang baru menggantikan Monseigneur Prinsen.

Pada 8 M834 untuk pertama kalinya terjadi empat orang pribumi yang berasal dari etnis Jawa dipermandikan di katedral.

uskupjacobus

Peristiwa ini menjadi dasar bagi kaum oposan untuk menulis fitnahan dan tuduhan terhadap Gereja Katolik di surat kabar Javansche Courant . Hubungan tidak harmonis itu berlanjut sampai pada akhir 1835 ditetapkan keputusan raja yang isinya sangat membatasi kekuasaan gereja. Namun hubungan antara pemerintah dan gereja membaik di pertengahan tahun 1836 sehingga pada 2 September 1836 sebanyak 32 tentara negro dari Afrika diantar dengan iringan korps musik militer ke katedral untuk dipermandikan.

Setahun kemudian, yaitu pada 4 November 1837 umat katolik pun turut bergembira dengan
kedatangan dua pastor baru, yaitu H. J. Cartenstat dan J. A. van Dijk, dan satu setengah tahun berikutnya tiba Pastor C. Reynen. Pastor H. J. Cartenstat ditempatkan di Batavia untuk membantu Monseigneur Scholten sehingga Monseigneur dapat mengunjungi umat katolik di pulau-pulau lain di Hindia Belanda.

Lahirnya Panti Asuhan Vincentius

panti

Pada pertengahan abad ke-19 keadaan keagamaan orang katolik di Hindia Belanda sangat menyedihkan. Pelajaran dan pengetahuan agama terbengkelai. Kehadiran umat untuk merayakan Misa di hari Minggu dibanyak tempat kurang terjamin. Banyak pasangan hidup bersama tanpa perkawinan. Banyak anak yang lahir dari pasangan-pasangan tersebut tanpa pendidikan. Keadaan ini menjadi penghambat tumbuhnya umat katolik yang bermutu. Karena itu, perlu ada pembaharuan dan usaha keras.

Maka salah satu jalan keluar adalah membuka sekolah. Pada 1 Agustus 1856 sekolah Ursulin pertama dibuka di Jl. Juanda. Jalan keluar lainnya adalah membuka panti asuhan. Hal ini terjadi ketika diadakan pertemuan pada 29 Agustus 1855. Dalam pertemuan tersebut diajukan ide untuk mendirikan yayasan panti asuhan oleh Pastor Kepala Katedral, H. Van der Grinten. Yayasan tersebut diberi nama Vereeniging van den H. Vincentius a Paulo (Yayasan Santo Vincentius dari Paulo). Tujuannya untuk memelihara semangat cinta kasih dengan mengamalkan tugas kristiani dan perbuatan amal.

Pada awal mula yayasan ini berjalan apa adanya karena ketiadaan fasilitas dan uang. Anak-anak terlantar dititipkan kepada keluarga katolik yang mampu dan diberi uang imbalan jika diperlukan. Namun demikian, semakin lama semakin banyak anak terlantar sehingga diperlukan sebuah rumah khusus. Akhirnya dicari jalan keluar dengan membuka asrama untuk kaum putri di Pasar Baru pada 1 April 1862. Penghuninya pada waktu itu sebanyak 25 orang. Pada 4 April 1866 asrama putri ini pindah di Biara Santa Ursula untuk selama sebelas tahun hingga pada tahun 1885 rumah panti dibangun untuk menampung 80 anak panti.

Sementara untuk anak- anak lelaki mereka dititipkan pada keluarga-keluarga katolik yang ada. Baru pada November 1893 dibangun sebuah asrama untuk mereka di Kwini. Asrama itu diberkati oleh Pastor J. van Santen, SJ dan diberi nama St. Josephstichting. Anak yang ditampung sebanyak 29 orang.

Kemudian para pengurus yayasan mencari tanah lain dan pada 1910 dibeli sebidang tanah sekaligus dengan rumah di Jalan Kramat. Pada tahun itu juga asrama putri dipindahkan ke Kramat. Pada 1912 dibuat rencana untuk memindahkan St. Josepstichting dari Kwini ke Kramat karena tempat yang ada di Kwini tidak dapat lagi menampung pertambahan jumlah anak-anak putra. Berbarengan dengan pembangunan gedung panti, direncanakan juga untuk membangun sebuah kapel, sebagai tempat merayakan Ekaristi Kudus. Untuk mewujudkan pembangunan kapel tersebut, Yayasan memperoleh bantuan dari Paroki Katedral. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kapel di Kramat dipersiapkan dan kemudian ditentukan sebagai paroki baru, pemekaran dari paroki induk – Paroki Katedral. Sesuai dengan catatan sejarah, gedung panti mulai ditempati 1916. Itu berarti, kapel mulai digunakan juga pada tahun tersebut oleh para panti serta pengurusnya dan umat yang berdiam di sekitar daerah Kramat.

Comments are closed