Persiapan Diri Menyambut Kedatangan Tuhan

Manusia senantiasa mengarahkan seluruh diri dan hidupnya ke masa depan. Karena dipandang masih mengandung sejuta misteri, tak seorang pun mampu mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa depan. Sebagai langkah antisipatif, manusia kemudian menyusun rencana. Di atas fondasi rencana yang tersusun rapi, ia membangun harapannya.

Setiap orang tentu saja mengharapkan hal yang baik ter- jadi dalam hidupnya. Itulah sebab- nya, rencana yang matang selalu dibutuhkan. Akan tetapi, kenyata- an seringkali memperlihatkan hal yang berbeda. Segala rencana yang tersusun rapi tidak selalu berjalan mulus, sehingga harapan pun ti- dak selalu bisa dicapai. Meskipun demikian, adanya rencana dan harapan dalam hidup sejatinya dapat membangkitkan semangat dalam diri untuk melangkah tanpa ragu menuju masa depan. Inilah yang disebut dengan persiapan diri. Apa pun yang terjadi, manu- sia akan selalu mempersiapkan dirinya untuk menyambut hari esok.  Dengan persiapan diri, ia memaknai hidup  dan menjadikan dirinya sendiri berkualitas.

Bagi kita umat Katolik, menantikan kedatangan Tuhan Sang Juru Selamat menuntut adanya persiapan diri. Masa Ad- ven adalah masa penantian. Pada masa ini, kita mendapat kesem- patan istimewa untuk memper- siapkan diri sebaik mungkin. Kita berupaya memperbaharui diri dengan mengubah sikap, perilaku, tindakan, dan tutur-kata menjadi lebih baik. Itu berarti, persiapan diri yang dimaksud di sini lebih merupakan persiapan batin. Kita mempersiapkan batin kita sede- mikian rupa, agar layak menyam- but kedatangan pewahyuan Al- lah yang begitu sempurna dalam pribadi Yesus Kristus. Dengan de- mikian, kelahiran Kristus menjadi tanda dan sarana kelahiran kita menjadi manusia baru.

Persiapan diri mencapai kesempurnaannya dalam doa. St. Paulus, dalam suratnya yang per- tama kepada jemaat di Tesalonika, dengan tegas berkata bahwa setiap orang harus mempersiapkan dirinya dengan tidak bercacat dan kudus untuk menyambut ke- datangan Kristus (bdk. 1 Tes: 3:13). “Kudus” dan “tidak bercacat” melambangkan kesempurnaan. Sebagai pengikut Kristus yang sejati, kita tentu dipanggil pada kekudusan. Tuhan yang Maha ku- dus itu hanya layak disambut oleh manusia berhati murni, suci, dan tak bercela.

Kita memang makhluk yang berdosa, namun kerendahan hati kita untuk mengakui segala dosa di hadapan Allah dan komitmen yang kuat untuk mengubah diri membawa kita kepada kekudusan. Doa yang lahir dari kesadaran nurani yang murni untuk memo- hon belas kasihan Tuhan menjadi dasar bagi kekudusan kita. Oleh karena itu, dalam masa Adven ini, kita mesti berupaya menggapai kekudusan kita masing-masing dengan membuka hati dan mem- biarkan Allah berkarya dalam diri dan kehidupan kita.

Iman tanpa perbuatan adalah mati. Demikian kata St. Yakobus. Persiapan diri yang baik dalam menyongsong kelahiran Sang Putera menuntut iman yang penuh dan utuh dari kita. Agar bermakna, iman haruslah terejawantah dalam tindakan harian kita. Melayani sesama yang menderita, bersikap jujur, menghargai orang tua, berpikir positif, dan segala tindakan sederhana yang ber- makna lainnya, memperlihatkan seberapa teguh iman kita kepada Sang Juru Selamat. Inilah bentuk persiapan diri kita yang paling hakiki dalam menantikan Dia.

(Fr. Albertus Dino OFM)

 

 

 

 

Leave a Reply