Panggilan: Hatiku bernyala-nyala karena CintaNya

Diambil dari Cordia Edisi April 2018

“O..Pencinta hatiku yang manis Berilah aku bagian dalam dukaMu. Semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta. Buatlah aku cakap dalam pengabdianMu, tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja pun juga bagi keselamatan sesama manusia. Amin (EG 39)”

Itulah syair doa Bunda Elisabeth Gruyters Pendiri Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus yang senantiasa dilambungkan oleh para pengikutnya. Syair doa yang indah dan sarat makna menjadi untaian syukur atas segala cinta Tuhan yang dilimpahkan dalam hidup panggilan Religius yang tanpa henti selalu dianugerahkan kepada saya.

Tak terasa sudah hampir 13 tahun saya menjalani hidup membiara yang diawali dari masa pembinaan Postulat dan Novisiat di Yogyakarta. Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Carolus Borromeus menjadi pelabuhan terakhir yang menentukan mau kemana tujuan hidup saya? Akhirnya saya temukan tempat itu, di mana saya ditempa menjadi seorang religius yang memiliki hati untuk mencintai dan melayani sesama baik dalam karya kesehatan, pendidikan, pastoral dan sosial; tempat di mana saya menemukan dan menimba kekuatan serta menerima limpahan rahmat kasih Allah yang mengalir tanpa henti dalam hidup saya.

Pilihan yang saat itu tidak mudah untuk diputuskan. Saya harus meninggalkan keempat adik dan ayah, serta kenangan bersama ibu yang sudah 7 tahun meninggalkan kami selama-lamanya. Saya juga harus berani dengan bebas memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan, rekan kerja di sebuah RS Swasta yang sudah hampir 10 tahun menikmati kemapanan. Demikian pula ketika ketika harus memilih pergi meninggalkan seorang pribadi yang ikut mendukung dalam kesulitan-kesulitan yang saya alami. Ya, semuanya tidaklah mudah, saya lepaskan karena cinta-Nya ternyata lebih kuat dari segala yang ada. Saya pergi meninggalkan semuanya di tahun 2005, saat usia saya sudah mencapai 28 tahun. Usia yang sudah cukup dewasa, bisa dikatakan, namun untuk menjadi pengikut Tuhan tidak ada kata terlambat. Tuhan sudah mengatur semuanya pada waktu yang tepat. Kebimbangan yang paling kuat saya rasakan ketika harus pergi meninggalkan keluarga. Sebagai anak pertama dari 5 bersaudara dalam keluarga yang sudah lama ditinggalkan ibu, sayalah yang menjadi tumpuan hidup dan tulang punggung bagi keluarga. Egoiskah saya dengan pilihan ini? Apakah pilihan ini sudah tepat dan bijak, lalu bagaimana dengan keluarga? Apakah mereka akan baik-baik saja saat ditinggalkan? Itulah kekhawatiran yang berkecamuk dalam hati. Namun peneguhan itu datang. Tidak ada kata EGOIS untuk ikut Tuhan. Pergilah dengan gembira dan lepas bebas. Tuhanlah yang menjaga keluargamu. PERCAYALAH. Saat itu kelegaan menyelimuti hati saya. Akhirnya proses pembinaan di Postulat dan Novisiat CB selama 3 tahun dapat saya jalani dengan kegembiraan dan pengosongan diri serta kerendahan hati yang terus menerus.

Sering terlintas kenangan saat kecil yang membekas dalam hati, ketika teringat akan kebaikan dan senyum keramahan seorang suster CB. Saat itu saya masih SD dan SMP. Sesuatu yang mampu memantapkan hati menjadi seorang religius CB, meskipun untuk itu saya harus melewati banyak rintangan.

Waktu terus berjalan. Kekuatan cinta Tuhan terhadap panggilan khusus ini semakin diasah dan dimurnikan. Proses ini saya rasakan selama masa pembinaan dengan pengalaman cinta Tuhan yang dihadirkan dalam setiap peristiwa hidup yang dianugerahkan Tuhan, terlebih saat mengemban perutusan dalam karya dan sampai akhirnya boleh diperkenankan untuk mengikrarkan kaul kekal tahun 2013. Inilah peristiwa yang tak akan pernah saya lupakan selamanya. Bukan perayaan mewah dan pesta pengikraran kaul kekal yang saya banggakan, namun rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata ketika saya tersungkur luruh di hadapan altar Tuhan. Tak tertahankan, saya meneteskan air mata. “Tuhan, inilah saya! Pakailah seturut kehendakMu” Bukti kasih Tuhan yang luar biasa terjawab semuanya. Tak ada lagi yang perlu dibanggakan dan disombongkan ketika hidup diserahkan kepada Sang Empunya kehidupan. Saya hanyalah debu yang tak berarti namun kebaikan Tuhan yang tak terbatas telah merangkum seluruh diri. Saya hanyalah manusia biasa yang tak memiliki kehebatan apa pun, rapuh dan terbatas, penuh dengan dosa namun sungguh dicintai dan dipakai-Nya sebagai penerus karya Allah di dalam dunia. Semua ini saya wujudkan dengan mencoba setia dan gembira meneladan hidup Bunda Elisabeth Gruyters dan Santo Carolus Borromeus.

Kini Tuhan semakin merentangkan sayap-Nya dan terus menerus menggetarkan siapa pun khususnya kaum muda mudi untuk ikut terlibat akan karya Allah di dalam dunia. Gereja sangat membutuhkan pekerja kebun anggur karena tuaian sangat berlimpah. Demi Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas niscaya Tuhan akan melimpahkan berkat-Nya kepada kita. Amin.

(Sr Thresmiati, CB)

Leave a Reply