Orang Katolik Menyembah Patung?

Misa pagi di suatu hari Minggu baru saja selesai. Beberapa orang bergegas menuju Gua Maria. Mereka menyalakan lilin, menundukkan kepala dan mulai berdoa. Mereka terlihat khusuk larut dalam doanya masing-masing. Sementara itu di bagian lain di dalam gereja, tampak seorang bapak sedang berdiri memandang patung orang kudus yang ada di situ, menundukkan kepala dan mulai berdoa. Ada kalanya kita sendiri juga melakukan yang sama dalam doa pribadi di rumah masing-masing dengan memasang patung Bunda Maria dan menyalakan lilin sebelum memulai doa rosario pribadi. Pemandangan seperti itu sering kita jumpai dalam kehidupan beriman kita sebagai seorang Katolik. Di berbagai tempat rohani (Katolik), seperti gereja, taman doa, dan tempat spiritual yang lain atau bahkan di ruang doa pribadi kita masing-masing sering dijumpai adanya patung. Entah itu patung Bunda Maria,
Hati Kudus Yesus atau pun patung orangorang kudus. Apakah dengan demikian, bisa dikatakan bahwa umat Katolik berdoa kepada patung, kepada benda mati?

Dalam iman Katolik, keberadaan patung dan berdoa di depan patung Yesus atau orang kudus bukanlah suatu bentuk
penyembahan kepada berhala. Patung merupakan sarana yang dapat membantu umat untuk merasakan kedekatannya dengan “pribadi” yang dipatungkan. Ada semacam perasaan dan ingatan tentang Tuhan beserta segala kebaikan-Nya yang bisa muncul hanya dengan melihat patung Yesus misalnya; atau dengan melihat patung santo-santa tertentu kita dibantu untuk mencari tahu tentang riwayat hidup orang kudus tersebut untuk kemudian 
iman katolik meneladani cara hidup dan kesetiaannya kepada Tuhan. Dengan berdoa di depan patung Bunda Maria, seseorang akan terbantu untuk merasakan keberadaannya sebagai Bunda Allah, tapi juga bundanya sendiri. Ini tentu akan sangat membantu seseorang dalam mengungkapkan penghayatan hidup beriman.

Tentang ini St. Basilius Agung (330-379) menyatakan bahwa penghormatan yang kita berikan pada suatu gambar mengacu pada tokoh yang digambarkannya (St. Basilius, De Spiritu Sancto. 18,45). Pandangan ini menunjukkan dengan jelas fungsi patung sebagai alat bantu, sebagai sarana yang membantu umat untuk mengingat, menghormati dan memberikan pemujaan kepada sosok atau tokoh yang dipatungkan atau digambarkan. Dapat dikatakan bahwa yang mendapatkan penghormatan, dikenang, dan dipuja adalah tokoh yang dipatungkan. Jika seseorang berdoa di depan patung Bunda Maria misalnya, bukan patungnya yang dihormati, tapi pada saat itu sosok Bunda Maria-lah yang sedang mendapatkan penghormatan yang sepantasnya. Lagi pula, orang berdoa di depan patung Bunda Maria tentu tidak dengan pemahaman kosong dalam arti dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang patung itu. Pengalaman iman tentang Bunda Maria dalam kehidupan sehari-harilah yang biasanya mendorong orang untuk berdoa secara khusyuk dan penuh rasa hormat di depan patungnya. Gagasan ini ditegaskan oleh Konsili Nisea 11 yang menyatakan bahwa “siapa yang menghormati gambar (patung) dia menghormati pribadi yang digambarkan (dipatungkan) di dalamnya.”

Ini akan sama halnya dengan foto keluarga atau orang-orang dekat yang kita pasang di rumah. Ada kalanya saat
merindukan orang-orang tersebut kita akan memandanginya, sambil mengingat pengalaman yang sudah-sudah bersama orang-orang tersebut. Apa yang kita lakukan ini biasanya didasari oleh adanya kedekatan hubungan antara kita dengan mereka sehingga pengalaman bersama pribadi yang ada di foto itu begitu berkesan mendalam bagi hidup kita. Kalau kita boleh memajang, menyimpan foto orang-orang yang pernah dekat dengan kita, lalu mengapa kita tidak boleh memasang atau menempatkan gambar atau patung Tuhan Yesus, yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia, Bunda Maria dan orang-orang kudus, sebagai satu untuk mengingat, mengenang dan merenungkan pengalaman iman yang dialami bersama tokoh-tokoh tersebut dalam hidup sehari-hari.

Saat umat Katolik berdoa di depan patung, dia tidak sedang berdoa kepada benda mati, tetapi kepada pribadi yang digambarkan melalui patung tersebut. Patung hanyalah sarana yang digunakan untuk membantunya dalam proses penghayatan dalam hidup sehari-hari.

(Benediktus)

Comments are closed