Merindukan Toleransi Gus Dur

KOMPAS / TOTOK WIJAYANTO

[ARSIP FOTO] Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Musyawarah Luar Biasa Parung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan tausyiah di hadapan peserta Dialog Kebangsaan Pemberantasan Korupsi di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (15/6/2008). KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

JAKARTA, KOMPAS.com — Sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tak asing dengan gagasan toleransi antarumat beragama. Bagi Indonesia dan dunia, sosok Presiden keempat RI itu nomor wahid bila berbicara soal toleransi.

Merawat toleransi bagi Gus Dur merupakan proses penting untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarumat beragama. Toleransi itu tidak hanya untuk menciptakan, tetapi juga merawat. Gus Dur sadar betul bahwa keharmonisan harus dijaga karena akan sulit memulihkan bila sudah retak.

Oleh karena itu, setiap bangsa, termasuk Indonesia, setidaknya perlu memiliki kemampuan pemulihan hubungan.

“Kegagalan dalam hal ini (memulihkan hubungan) dapat mengakibatkan ujung traumatik yang mengerikan: terpecah-belahnya kita sebagai bangsa,” tulis Gus Dur dalam judul ‘Islam dan Hubungan Antarumat Beragama’ dalam harian Kompas, Senin 14 Desember 1992.

Pandangan Gus Dur ini tentu tak lepas dari keberagaman umat beragama di Indonesia. Bahkan, Indonesia juga ragam akan keyakinan, kelompok, ras, dan etnis. Sebuah negeri di mana semua tumbuh dengan tanpa rasa takut.

Negeri ini tak didirikan atas dasar kelompok tertentu, tetapi keragaman. Akan tetapi, di Indonesia pula, menurut Gus Dur, keharmonisan akan rapuh sendiri bila ada benturan kepentingan. Dia menggambarkan akan muncul sikap saling menyalahkan.

Di titik ini, sebuah bangsa memerlukan kemampuan pemulihan atas keretakan tersebut. Lantas, bagaimana pandangan Gus Dur soal pemulihan keretakan hubungan?

Secara gamblang, Gus Durdalam tulisannya mengatakan bahwa masalah pokok dalam hal hubungan antarumat beragama adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan.

Menurut dia, bangsa akan kukuh bila umat agama-agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain, bukan hanya sekadar saling menghormati.

“Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging), bukannya hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain,” tulis Gus Dur.

Pemikiran Gus Dur tentu bisa menjadi rujukan Indonesia saat ini, di mana kita tengah berada di antara hiruk pikuk toleransi antarumat beragama. Keriuhan yang kerap kali membuat kita kerap melupakan rasa saling memiliki satu sama lain. Bahkan, untuk tenggang rasa pun tampak sulit tercipta.

Penulis : Kahfi Dirga Cahya
Editor : Fidel Ali

Comments are closed