Merayakan Pesta Imamat Para Pastor Paroki Kramat

Ada kemeriahan di hari Minggu pagi 25 November di Gereja Hati Kudus. Tiga romo di Paroki Kramat yaitu Romo Yustinus Agung Setiadi, OFM, Romo Stephanus Suprobo, OFM, dan Romo Markus Gunadi, OFM merayakan peringatan imamat mereka. Ratusan umat dan beberapa tamu dari paroki lain berkumpul di halaman SD Sint Joseph untuk turut bergembira dalam perayaan tersebut.

Saat perayaan ekaristi di misa pukul 9.00 pagi itu, yang dipersembahkan oleh ketiga romo tersebut, Romo Agung berkesempatan menyampaikan khotbah. Dikatakannya bahwa hari itu menjadi begitu istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, yang ditetapkan oleh Paus Pius XI pada 1925. Penetapan tersebut ditegaskan dengan Ensiklik Qas Primas untuk menentang atheisme dan sekularisme dengan menunjukkan dan menegaskan bahwa Yesus Kristus berkedudukan lebih tinggi danberkuasa di atas segala kekuatan dunia.

Awalnya, peringatan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam dirayakan pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, menjelang Pesta Semua Orang Kudus. Namun sejak 1970 perayaan ini mengalami perubahan penekanan yaitu Kristus yang lebih bercorak kosmis dan eskatologis. Sehingga penempatan tanggalnya pun berubah, bukan lagi pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, tetapi menjelang hari Minggu Pertama Adventus.

Romo Agung juga menyebutkan bahwa hari Minggu 25 November tersebut juga merupakan puncak Tahun Persatuan 2018 untuk KAJ yang bersemboyan “Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia.” Untuk selanjutnya, KAJ sudah menentukan tahun persatuan 2019 dengan semboyan “Amalkan Pancasila: Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat”.

Dalam bagian kotbahnya, Romo Agung menambahkan bahwa selama tahun 2018 ini umat telah melakukan banyak kegiatan dengan tema keberagaman. “Dalam beberapa kesempatan kita mengenakan pakaian khas daerah atau adat. Ini untuk mengingatkan kita semua bahwa Indonesia terdiri dari banyak daerah liputan dan memiliki banyak adat dan agama yang berbeda-beda. Kita juga diingatkan untuk tetap bersatu dalam keluarga kita, dalam gereja dan dalam bermasyarakat.” Dikatakan pula bahwa untuk mencapai persatuan dan perdamaian bukanlah sesuatu yang mudah. “Tapi Tuhan sendiri hadir di dunia untk membawa perdamaian itu,” kata Romo.

Tanggal 25 November juga menjadi pesta imamat yang ke-33 tahun bagi RomoGunadi. “Jumlah tahun imamat Romo Probo dan saya sendiri jika digabungkan baru mencapai 32 tahun, belum cukup 33,” kata Romo Agung berseloroh. “Sebagai imam,
kami turut ambil bagian dari peran Yesus untuk hadir di tengah-tengah umat. Kami bersyukur dapat merayakan kedekatan bersama umat pada saat peringatan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam dan puncak Tahun Persatuan 2018.”

Dari bacaan pertama hari itu, yaitu dari Nubuat Daniel (7:13-14) dapat kita pahami bahwa Nabi Daniel memiliki penglihatan tentang tokoh yang akan datang dan berkuasa sebagai raja, tambahnya. “Visi ini menggambarkan gelar Yesus sesuai Injil Lukas dan Yohanes yaitu tentang anak manusia yang datang dinaungi awan-gemawan,” imbuh Romo Agung. Sedangkan dari bacaan Injil Yohanes (18:33b-37), Yesus disalibkan justru bermakna penobatan-Nya sebagai Raja. Dan dengan bertahta sebagai Raja, Kristus membebaskan umat dari belenggu dosa.

“Dalam bacaan Injil, Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan bahwa Kerajaan-Nya adalah Kerajaan yang berbeda dengan apa yang ada dalam benak Pilatus. Yesus menjadi Raja bukan untuk mengambil kekuasaan tapi untuk merentangkan tangan-Nya dan kita diundang untuk mengikutijalan yang ditunjukkan-Nya sendiri,” ujar Romo Agung.

Selesai misa, Romo Agung, Romo Probo dan Romo Gunadi segera bergabung dalam “Coffee Morning” yaitu acara khusus untuk memperingati pesta imamat mereka. Dalam kesempatan itu disajikan berbagai makanan, minuman dan hiburan
persembahan umat Paroki Kramat. Ada kolitang, tari-tarian dan tentu saja lagu-lagu keriaan. Hari itu juga menjadi peringatan ulang tahun Romo Probo yang dilahirkan pada 24 November 1971.

Romo Agung, kelahiran Klaten 24 Oktober 1972, dan Romo Probo ditahbiskan bersama-sama di Gereja Hati Kudus pada
tanggal 23 November 2002. Sedangkan Romo Gunadi, yang dilahirkan di Klepu, Sleman, DIY, pada 12 Februari 1954, ditahbiskan di Paroki Kristus Raja, Serang, pada 25 November 1985.

Sejak 2014, Romo Agung menjadi Pastor Paroki Kramat. Sebelumnya, Romo Agung menjadi Pastor Kepala Paroki Cipanas, Keuskupan Bogor (2003-2007) dan Magister Postulan dan Para Frater OFM di Yogyakarta (2012-2014).

Sedangkan Romo Probo, sebelum menjadi Pastor Rekan Paroki Kramat sejak 2014, pernah berkarya selama enam tahun
di Keuskupan Agats Asmat, tiga tahun di Paroki Aeramo Flores dan enam tahun di Paroki Santa Clara Cipanas.

Romo Gunadi saat ini bertugas dalam pelayanan pastoral kesehatan di Sint Carolus sejak 2014. Sebelumnya, Romo Gun
berkarya di Depok, Cibinong, Ruteng dan Atambua.

Selamat atas pesta imamat Romo Agung, Romo Probo dan Romo Gunadi. Semoga selalu setia dalam menjalani panggilan hidup, senantiasa mendapat berkah melimpah dan mengobarkan semangat umat dan para orang muda agar tetap saling memberdayakan dan melayani.
(Chris)

Comments are closed