Menyambut Novena Besar Santo Fransiskus Assisi

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari seri “Menyambut Novena Besar Santo Fransiskus Assisi.”

Gita Sang Surya

Di kebun Biara San Damiano, dalam keadaan sakit dan menghadapi berbagai cobaan, Fransiskus menggubah sebuah syair persaudaraan semesta yang dikenal dengan nama Gita Sang Surya. Ia mengucapkan bait-bait berikut:

Yang Maha Luhur, Maha Kuasa, Tuhan yang baik, 

milikMulah pujaan, kemuliaan dan hormat dan segala pujian
KepadaMu saja, Yang Mahaluhur, semuanya itu patut disampaikan,
namun tiada insan satupun layak menyebut namaMu.
Terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua mahklukMu,
terutama Tuan Saudara Matahari;
dia terang siang hari, melalui dia kami Kau beri terang.
Dia indah dan bercahaya dengan sinar cahaya yang cemerlang;
tentang Engkau, Yang Mahaluhur, dia menjadi lambang.
Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Bulan dan bintang-bintang,
di cakrawala Kaupasang mereka, gemerlapan, megah dan indah.
Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Angin, dan karena udara dan kabut,
karena langit yang cerah dan segala cuaca,
dengannya Engkau menopang hidup mahkluk ciptaanMu.

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Air; 

dia besar faedahnya, selalu merendah dan murni.
Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Api,
dengannya Engkau menerangi malam;
dia indah dan cerah ceria, kuat dan perkasa.
Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami Ibu Pertiwi;
dia menyuap dan mengasuh kami,
dia menumbuhkan aneka ragam buah-buahan,
beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan.

Ketika Asisi terancam perpecahan akibat orang-orang saling iri dan saling membenci, Fransiskus menambahkan satu bait untuk perdamaian dalam madahnya ini. Ia mengutus saudara-saudaranya untuk menyanyikan bait ini di depan kelompok-kelompok yang bertikai. Setelah mereka mendengarkan bait ini, mereka saling memaafkan dan berdamai kembali dengan saling berpeluk-pelukan. Inilah bait perdamaian itu:

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena mereka yang mengampuni demi kasihMu,
dan yang menanggung sakit dan duka derita.
Berbahagialah mereka yang menanggungnya dengan tenteram,
karena olehMu, Yang Mahaluhur, mereka akan dimahkotai.

Ketika akhir hidupnya, ketika maut sudah di depan pintu, Fransiskus menambahkan satu bait lagi mengenai saudari maut:

Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari Maut badani, 

dari padanya tidak akan terluput insan hidup satu pun.
Celakalah mereka yang mati dengan dosa berat;
berbahagialah mereka yang didapatinya setia pada kehendakMu yang suci,
karena mereka tak kan ditimpa maut kedua.
Pujalah dan pujilah Tuhanku, bersyukurlah dan mengabdilah kepadaNya
dengan merendahkan diri serendah-rendahnya.

Wafat dan Kanonisasi

Ketika Fransiskus merasa ajalnya mendekat, ia memanggil semua saudara yang hadir di Portiuncula. Ia menyuruh mengadakan perjamuan perpisahan, seperti yang dibuat Yesus pada malam menjelang wafatNya. Injil yang dibacakan selama perjamuan itu adalah bagian Injil Yohanes yang bercerita tentang Yesus membasuh kaki para muridNya. Memang itulah yang selalu dikehendaki Fransiskus: menjadi hamba dan pelayan semua orang. Kemudian, Fransiskus menyuruh para saudara menanggalkan pakian yang dipakai Fransiskus dan dalam keadaaan telanjang ia diletakkan di tanah, sama seperti Yesus telanjang, miskin secara total bergantung di salib yang keras. Sekali lagi, Fransiskus memberkati para saudaranya, lalu sambil menyanyi ia menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Bersama Yesus, Fransiskus juga dapat berkata, “Selesailah Sudah”.

Akhirnya pada 3 Oktober 1226 sore hari, ia bertemu muka dengan Tuhannya yang di dunia ini dilihatnya dalam rupa roti di altar. Tanggal 4 Oktober 1226, Fransiskus dikuburkan di Gereja San Giorgio di Asisi. Dua tahun kemudian, tepatnya 6 Juli 1228, Fransiskus dikukuhkan sebagai orang kudus oleh Paus Gregorius IX.

Leave a Reply