Menyambut Kristus dengan Pertobatan Diri!

Adven berasal dari bahasa Latin yakni adventus yang berarti kedatangan. Ketika Gereja merayakan liturgi Adven setiap tahunnya, ia menghadirkan kembali pengharapan di jaman dahulu akan kedatangan Mesias, sebab dengan mengambil bagian di dalam masa penantian yang panjang terhadap kedatangan pertama Sang Penyelamat, umat beriman memperbaharui kerinduan yang sungguh akan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan merayakan kelahiran sang perintis (Yohanes Pembaptis) dan kematiannya, Gereja mempersatukan kehendaknya: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”(Yoh 3:30)

Dengan demikian masa Adven merupakan masa menantikan kelahiran Kristus yang menjelma menjadi manusia. Masa Adven ini bukan bagian dari masa Natal, tetapi merupakan persiapannya. Oleh karena itu, masa Adven menjadi masa pertobatan (menyerupai masa Prapaskah), sebab memang pertobatanlah yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis agar kita dapat dengan layak dan pantas menyambut Kristus Sang Penyelamat.

Bagi saya dalam masa adven, kita semua diajak untuk berubah 180 derajat. Semuanya ini dapat dimulai dari hal-hal
biasa dan kecil. Kita yang awalnya masih membuang sampah sembarangan mulai belajar membuang pada tempatnya. Menurut saya perbuatan ini dapat dikatakan sebagai perbuatan besar karena dengan berbuat demikian, kita turut menjaga kebersihan lingkungan. Menjadikan lingkungan tempat tinggal kita nyaman untuk ditempati. Tentu semua orang akan merasa nyaman, kalau berada di lingkungan yang bersih dari sampah. Tindakan ini
juga dapat dikatakan sebagai bentuk pertobatan, karena adanya perubahan secara sadar untuk menjadikan semuanya menjadi lebih baik.

Ayolah berubah! Kita bertobat mumpung kita sedang berada pada masa yang tepat, masa Adven. Masa di mana kita
mempersiapkan diri dan hati kita untuk menyambut kedatangan Sang Penebus di dalam dunia. Kalau saat ini kita memiliki musuh atau sedang bertikai, mari kita mencari cara untuk rekonsiliasi. Ini bisa diawal dengan bertanya pada diri sendiri, “Apakah tindakan saya terhadap orang yang memusuhi saya itu sudah benar, atau apakah saya hanya sebatas membuat pembenaran diri di hadapan semua orang?” Apakah kita masih menyalahkan orang
lain, atau kita melihat ke dalam diri sendiri untuk kemudian berusaha menciptakan suasana dan hubungan yang lebih baik dan nyaman dari pada sebelumnya.

Dalam pandangan saya, dengan bercermin terlebih dulu, kita dapat membersihkan diri agar layak menyambut Yesus yang berkenan datang dan lahir di dalam hati kita pada saatnya nanti. Dengan demikian, kedatangan Tuhan Yesus juga akan membawa damai dan suka cita yang besar dalam diri kita. Damai dan suka cita itu diperoleh karena adanya perubahan diri yang nyata serta menjadi hasil dari usaha untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain yang sebelumnya rusak oleh karena sikap dan perbuatan kita yang kurang baik.
(Silvius, siswa SMPN 77 Jakarta)

Comments are closed