Menjadi Muslimah yang Toleran

Bagi Silvia Ayu Rianti, penghayatan dalam Islam berdasarkan asal kata- nya (Arab: al-islām, “berserah diri kepada Tuhan”) berarti seseorang yang mau menyerahkan segala sesuatu kehidupan baik di dunia maupun di akhirat hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala (Allah SWT). Gadis yang kerap disapa Silvi ini menganut Islam sejak lahir karena dibesarkan dalam keluarga muslim. Dari kedua orang tuanyalah Silvi diajarkan bagaimana memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai luhur keislaman, sebagaimana yang terkandung dalam Al-Quran. Kewajiban utama umat islam adalah membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-quran. Dari situ, umat Islam mampu mengenal Allah yang diimani dan hak-hak yang diperolehnya dari iman kepada Allah SWT,” tutur gadis kelahiran Padang, 28 Oktober 1994 ini.

Ia mengaku sejak usia 6 tahun mulai belajar Al-quran dan tetap setia menekuninya sampai kini. Di usianya yang ke-24 tahun, Silvi juga tetap berusaha setia menjalankan sholat dan mengenakan hijab. Menurutnya, sholat adalah fondasi iman yang mampu menenangkan diri dalam mengintenskan realsi yang lebih erat dengan Allah dan sesama ciptaan. Sementara hijab merupakan ungkapan simbol kerendahan hati untuk menjaga dan menghormati harkat dan martabat perempuan muslimah seperti dirinya.

Lantas, apa makna toleransi antara umat beragama baginya? Sejauh mana ia mampu menghayati toleransi dalam kehidupannya? Bagi gadis manis berparas ayu ini, toleransi terhadap umat beragama sangatlah penting. Walaupun keyakinan berbeda tetapi setiap orang pasti mempunyai tujuan hidup yang sama yaitu, kedamaian jiwa di dunia dan akhirat. Ia bersyukur karena lahir dan besar dalam keluarga dan lingkunganku yang sangat menghargai umat agama lain. Selain itu, sejak kecil dia sudah terbiasa belajar untuk hidup terbuka dan berdampingan deng an umat beragama lain. Itu yang menjadi bekalnya ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah dan bekerja di Jakarta. Dia dapat bergaul dan berbaur dengan siapa saja, termasuk teman-teman dari aga- ma yang berbeda. Ia sadar, pengalaman perjumpaan dengan orang-orang dari latar belakang agama ataupun budaya yang berbeda membuatnya memahami makna keberagaman sebagai anugerah yang indah dalam kehidupan bermasyarakat.

Terkait tindakan intoleran yang terjadi di Indonesia belakangan ini, ia merasa resah dan prihatin. “Sebaiknya setiap kasus tidak dijadikan alasan politik. Demikian pula, setiap organisasi Islam harus bebas dari kepentingan politik. Maka, gerakan-gerakan fundamentalis yang bermaksud meneror masyarakat dengan mengatasnamakan Islam, pastinya berseberangan dengan kaidah hukum Islam yang mengajarkan hukum cinta kasih,” tuturnya.

Ia berharap, setiap orang, khususnya kaum muslim, harus dapat menghargai, menghormati, bahkan melindungi umat beragama lain yang minoritas. Selain itu, ia juga berharap agar umat beragama lain tidak memandang Islam dengan sebelah mata. Jangan sampai umat beragama lain terpengaruh “virus” Islamophobia (ketakutan terhadap segala sesuatu tentang Islam). Maka, hal yang dapat diupayakan bersama adalah menjalin relasi persaudaraan melalui silaturahmi dan dialog yang membantu setiap umat beragama untuk saling mengenal dan menghargai keyakinan masing-masing, tanpa pretensi untuk merugikan umat beragama lain.

(Saudara Peziarah).

Leave a Reply