Menikmati Yoga Terapi

Dalam rangka memperingati Hari Yoga Internasional yg kelima, Seksi Pembangunan Sosial Ekonomi, Seksi Kesehatan dan Yogya Group Kramat mengadakan Workshop dengan tema “Yoga Therapy” di Aula Lt. 3 Gedung Antonius pada hari Sabtu 22 Juni 2019.

Acara yang diikuti sekitar 80 peserta itu dikomandoi oleh instruktur Yoga Ben Setiadi yang menjabarkan bahwa masyarakat Jakarta di era sekarang yang serba modern, sibuk dan cepat ini memerlukan olah raga yang praktis tapi efektif dalam menjaga stamina dan memelihara kesehatan yang sekaligus dapat mengusir keluhan karena penyakit tertentu.

“Saat ini ada begitu banyak jenis dan aliran yoga. Saya sengaja meilih yoga Terapi karena posisi dan gerakan yoga jenis ini dapat meningkatkan bahkan memperbaiki kualitas kesehatan seseorang. Tambahan pula, gerakannya relatif lebih ringan dan praktis dapat dilakukan tanpa mengambil tempat yang luas, serta tidak membutuhkan perlengkapan sepeti matras,” katanya.

Dalam workshop itu Ben mengajarkan beberapa gerakan dan posisi yang pada dasarnya mudah dilakukan tanpa meninggalkan pakem yoga konvensional yang sebenarnya. Karena itulah, tambahnya, makin banyak orang yang berminat menerapkan terapi yoga selain meningkatnya kesadaran untuk bergaya hidup lebih sehat.

Dikatakan bahwa yoga baik untuk mengatasi beban di pekerjaan, dampak dari radiasi alat elektronik terhadap tubuh, efek kebiasaan makan yang kurang baik, kurang olah raga, polusi lingkungan dan gaya hidup tak sehat lainnya.

“Cara kita duduk di kursi dan meja kerja, memegang dan mengoperasikan gawai seperti laptop, tablet dan ponsel pintar dapat juga mempengaruhi kesehatan tubuh seperti timbulnya pegal-pegal dan linu, kata Ben yang menggeluti yoga sejak 1978 dan menjadi instruktur di berbagai kelas dan lokasi.

Menurutnya, terapi yoga bermanfaat untuk meningkatkan fungsi otak, mengurangi stres, menyeimbangkan kekebalan tubuh, menambah kelenturan tubuh, dan menyeimbangkan tekanan darah. Dapat pula meningkatkan kapasitas paru-paru dan fungsi seksual, mengurangi nyeri leher kronis, menghilangkan kecemasan, mengontrol kadar dula darah, meningkatkan keseimbangan tubuh, menguatkan tulang, menjaga keseimbangan berat badan dan mengurangi risiko penyakit jantung, katanya lagi.

“Dengan beberapa gerakan dan posisi yang ringan dan sederhana, terapi yoga dapat turut membantu mengatasi keluhan di leher, bahu, punggung, tangan dan kaki,” kata dia.

Ben mengingatkan bahwa dalam kondisi kesehatan tertentu orang tetap diminta untuk konsultasi lebih dahulu dengan dokter. Contohnya apabila seseorang masih dalam masa penyembuhan setelah menjalani operasi besar. Sebaiknya juga tidak makan sejam sebelum dan sesudah yoga, sebutnya. “Penting pula untuk diingat agar melakukan gerakan yoga sesuai dengan kemampuan
dan senyaman mungkin, jangan dihentak dan dipaksakan. Penderita tekanan darah rendah atau tinggi dapat melaukan pernapasan dengan menghirup udara dari hidung lalu hembuskan dari mulut. Ingat pula agar leher tidak diputar” katanya seraya menambahkan bahwa setiap gerakan yoga selalu disadari sensasi tubuh agar lebih bermanfaat untuk kesehatan.

Dalam workshop itu, Ben memberikan contoh beberapa gerakan dan posisi yang dengan mudah diikuti para peserta. “Terlalu lama menunduk bisa menyebabkan cedera leher. Untuk mengatasinya lalukanlah neck bending, dengan cara meregangkan otot leher ke kanan, kiri, bawah, atas, kemudian di tekuk ke kanan dan kekiri. Manfaat terapi ini bisa menghilangkan kekakuan pada leher, nyeri punggung, tulang belakang mencegah gondongan dan lain sebagainya. Yang perlu diingat gerakan harus lembut jangan dihentak.”

Dia memberikan contoh Camel Pose dengan menarik badan ke belakang sebagai terapi untuk meredakan sakit punggung, meningkatkan sirkulasi darah ke kepala dan daerah jantung. Sebagai catatan, terapi gerakan ini tidak baik dilakukan untuk mereka yang memiliki cedera perut, vertigo dan sedang dalam masa kehamilan, kata Ben.

Hal terpenting lain saat menjalankan praktik yoga terapi ialah menjaga pola asupan, Ben menyarankan semua pola hidup harus di perbaiki. “Sebaiknya secara menyeluruh dilakukan, terapi yoga yang dapat memperbaiki organ tubuh yang bisa dikatakan rusak, bisa menjadi normal kembali perlu dukungan asupan yang sehat dan pola istirahat yang ideal,” jelasnya.

Untuk yang usia lanjut, saran Ben, untuk mengurangi asupan karbohidrat, makanan yang mengandung tepung terigu, pewarna, perasa dan makanan instan. “Untuk yang muda juga demikian, kalau bisa semua harus perbanyak minum air putih hangat, kurangi minum teh dan kopi,” sambungnya.

Ben mengatakan bahwa terapi yoga dapat menjadi pilihan karena minim risiko dan cenderung cocok bagi banyak usia dan mengacu pada praktik yoga tradisional sekaligus berdasarkan panduan standar internasional Common Yoga Protocol.

Dini, seorang penyuluh kesehatan gigi dari pihak sponsor acara itu, sempat mengikuti salah satu sesi workshop dan mempraktikkan beberapa posisi dan gerakan terapi yoga. “Ringan, praktis tanpa alat dan cocok bagi saya yang tidak punya waktu banyak untuk ikut kelas yoga. Saya kan coba lagi saat di kantor atau rumah nanti karena tampaknya memang dirancang untuk dapat dilakukan tanpa matras sehingga bisa dilakukan kapan saja sambil berdiri dan bahkan duduk.”

Comments are closed