Mengingat Kembali Tahun Berhikmat

Sudah enam bulan kita lalui tahun 2019 ini dan artinya kita berada di bulan ketujuh yang dalam lingkup Keuskupan Agung Jakarta bertemakan Tahun Berhikmat dengan semboyan “Amalkan Pancasila: Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat.” Apakah kita tetap bersemangat dengan tema tersebut. Dan yang lebih mendasar, masih ingat dan pahamkah kita dengan Tahun Berhikmat ini?

Saat disampaikan oleh Uskup Ignasius Suharyo awal tahun ini, kita diajak agar menjadikan Yesus Kristus sebagai sumber inspirasi dan memberikan daya bagi kita, keluarga dan komunitas kita untuk terus bertumbuh dalam kasih dan kesucian, dalam hikmat dan kebijaksanaan. Kita juga diajak bersyukur atas kehadiran Tuhan dalam beragam peristiwa dan pengalaman hidup kita, saat bersuka-ria, di kala pilu melanda dan dikelilingi sedu-sedan, terluka, marah dan dendam karena dipermalukan atau dibuat kecewa.

Ingatlah bahwa kita berdoa bersama agar kepada kita dianugerahkan ketajaman mata hati untuk menemukan sapaan Tuhan dalam setiap peristiwa dan pengalaman yang melintas dalam hidup kita; sehingga kita perlu memberi perhatian kepada setiap kejadian dalam hidup yang jumlahnya pasti tak terhingga. Dari sekian macam peristiwa dan pengalaman itu, kita umat Katolik diajak untuk merenungkan kembali bahwa semua orang kristiani, bagaimana pun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan kasih. Dengan kesucian itu, juga dalam masyarakat di dunia ini, cara hidup menjadi lebih manusiawi …” (Lumen Gentium 40). Sebelumnya, dalam dokumen yang sama dikatakan, “… Semua orang beriman, dalam keadaan dan status mana pun juga, dipanggil oleh Tuhan untuk menuju kesucian yang sempurna seperti Bapa sendiri sempurna, masing-masing melalui jalannya sendiri” (Lumen Gentium 11).

Dalam pergaulan dan hidup bermasyakat, berbangsa dan bernegara serta berkegiatan di gereja, kita berjumpa dengan begitu banyak jenis pribadi; bertumbuh dalam iman melalui perjumpaan dengan beragam manusia itu adalah bagian dari panggilan kepada kesucian. Apakah kita dapat tampil sebagai pengampun, bukan pendendam saat ada konflik dengan orang lain; apakah kita dapat melihat ke depan dan bukan ke belakang; apakah kita senang membahas ide-ide baru dan bukan sifat dan sikap orang lain kepada kita; apakah kita dapat mengarahkan pikiran pada hal-hal positif dan menyingkirkan hal negatif; apa kita benar memaafkan kesalahan orang yang menyakiti kita; apakah kita tetap tenang dan menikmati dinamika dalam hidup ini….

Ada banyak contoh lain yang dapat menjadi satu langkah maju lagi bagi kita dalam kesucian. Pa. Paus Fransiskus memberikan contoh yang amat konkret dan sehari-hari untuk menanggapi panggilan Tuhan agar kita menjadi semakin sempurna dalam kesucian. Kita diajak untuk sungguh menyadari panggilan kita untuk bertumbuh dalam kasih dan kesucian serta menemukan jalannya dalam setiap pilihan dan keputusan yang kita ambil. Bukan memilih sekadar yang mudah dan menyenangkan, melainkan yang baik dan benar.

Kita semua diajak – dalam konteks yang berbeda-beda – untuk menjawab pertanyaan ini: Apa yang harus kita lakukan, supaya kita menjadi semakin bertumbuh dalam kasih dan kesucian, dalam hikmat dan kebijaksanaan, sehingga hidup masyarakat kita menjadi semakin manusiawi? Uskup Suharyo mengatakan jawabannya bisa bermacam-macam dan sangat konkret, misalnya dalam tata layanan paroki kita pastikan semangat taat asas; atau dalam rangka merawat lingkungan hidup kita pastikan keberlanjutan gerakan pantang plastik dan styrofoam.

Semoga segala niat dan usaha kita untuk bertumbuh dalam kasih dan kesucian, dalam hikmat dan kebijaksanaan, menjadikan hidup kita, keluarga dan komunitas kita seberkas sinar yang menampakkan kemuliaan Tuhan dan ikut mengangkat martabat bangsa kita.

Comments are closed