Mengapa Indulgensi?

Pada tanggal 1-8 November ini Gereja membuka kesempatan kepada kita untuk mendoakan arwah saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia. Dan pada kesempatan ini kita dapat memohonkan kepada Tuhan: indulgensi baik penuh maupun sebagian, untuk mereka yang sudah meninggal yang kita kasihi. Banyak orang yang bingung dengan indulgensi ini. Untuk apakah sih indulgensi itu? Apakah itu hanya untuk mereka yang meninggal tanpa sempat menerima sakramen pengakuan dosasehinggauntukitukitaperlu memohonkan pengampunan atas dosa-dosa mereka? Lalu bagi yang sudah sempat mengaku dosa sebelum meninggal berarti tidak perlu donk!

Tentu saja semua saudara kita yang sudah meninggal memerlukan indulgensi karena indulgensi bukanlah penghapusan dosa tetapi pengurangan atau penghapusan hukuman atas dosa. Jadi meski dosa-dosa kita sudah diampuni oleh Tuhan tetapi itu tidak berarti bahwa hukuman dosa kita pun ikut terhapus. Bagi kita orang Indonesia, konsep ini memang kadang membingungkan karena pemikiran ini lebih sesuai dengan konsep pemikiran Barat.

Saya jadi ingat waktu saya masih sekolah di seminari Bogor. Pada waktu itu yang menjadi rektor kami adalah Pater Remedius Wijbrands, OFM. Saya waktu itu masih duduk di bangku kelas II siswa Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Pada suatu hari Minggu, di malam hari, saya dengan teman-teman, karena lapar, diamdiam mengambil sisa nasi di dapur dan makan sembunyi-sembunyi. Menurut peraturan seminari ketika itu, kami dilarang untuk makan di luar waktu makan. Sedang asyik-asyiknya kami makan, kami tak menyadari kedatangan Pater Rektor. Maka kamipun diminta menghadap beliau esok paginya dan kami dihukum tidak boleh menonton televisi seminggu penuh. Padahal nonton TV adalah satu-satunya hiburan kami saat itu. Keesokan harinya sayapun memberanikan diri menghadap beliau untuk mengakui kesalahan saya dan sekaligus minta maaf. Untunglah Pater Rektor berbaik hati memaa an seluruh kesalahan saya. Maka setelah bersalam an tanda bahwa saya diampuni segera saya bersorak dan dengan girang berkata pada beliau, “Pater jadi karena sudah diampuni saya sekarang boleh nonton TV dong?” Namun apa jawab beliau? “Ya untuk urusan kesalahan atau dosa kamu sudah saya maafkan dan saya ampuni, tapi hukuman atas kesalahanmu yakni seminggu tidak nonton TV tetap berjalan. Itu tidak hilang dengan diampuninya kesalahanmu.”

Oh, ternyata antara pengampunan dosa dan penghapusan hukuman dosa itu sesuatu yang berbeda dalam konsep pemikiran Barat. Pengampunan dosa berarti bahwa relasi dan hubungan kita dengan Allah sejak saat pengampunan itu dipulihkan lagi, karena dosa itu memutuskan relasi kita dengan Allah. Dengan diampuni dosa kita maka hubungan kita dengan Allah dipulihkan kembali, disambung kembali, itulah yang namanya rekonsiliasi. Namun, hukuman atas dosa tetap harus kita pikul dan kita jalani kecuali kalau kita mendapat penghapusan atas hukuman dosa atau yang kita kenal dengan nama indulgensi. Itulah mengapa indulgensi masih perlu kita mohonkan bagi saudara-saudari kita yang sudah meninggal.

Doa mohon indulgensi adalah sebuah bentuk solidaritas kasih kita pada mereka yang sudah meninggal karena untuk mendapatkan indulgensi itu kita harus selain mendoakan mereka selama 9 hari berturut-turut juga selama seminggu sebelum atau sesudah tanggal 2 November, yang merupakan hari saat kita memperingati arwah semua orang beriman, kita harus mengaku doa. Selama doa novena itu kita juga harus menyambut ekaristi kudus dan berdoa satu kali syahadat untukintensiPauspadabulantersebut. Bagi kita yang tidak tahu apa intensi Paus bulan tersebut cukup mendoakan bahwa syahadat ini dipersembahkanbagiintensiPaus.

Pertanyaan Reflektif:

1. Sudahkah Anda memanfaatkan dengan sebesar-besarnya anugerah yang diberikan Gereja untuk membantu mereka yang sudah meninggal?

2. Bagaimana peringatan arwah ini sungguh menjadi kesempatan bagi kita untuk solider dengan orang lain?

Thomas Ferry S, Ofm

Leave a Reply