Menelaah Posisi Maria dari Perspektif Seorang Imam

Pengaruh Maria tak terbayangkan besarnya sepanjang zaman. Bukan saja sebagai tokoh yang paling sering dijadikan obyek lukisan dalam kesenian, tetapi juga dalam kesusastraan. Sesudah Yesus hanya Marialah figur manusia yang paling banyak dijadikan bahan penulisan, mengingat di berbagai tempat di dunia ada perpustakaan khusus untuk studi Mariologi.
 
Melalui buku ini, Romo John mengajak kita untuk menelaah posisi Maria yang sangat istimewa. Dia memberikan tanggapan atas sejumlah perdebatan seputar Maria yang bertitik tolak dari Kitab Suci dan tradisi Gereja Katolik, yang selama ini menjadi dasar dari Mariologi yang otentik. Secara garis besar buku ini akan membahas tiga hal. Pada bagian pertama, akan dibahas tentang devosi kepada Maria. Kemudian yang kedua tentang Maria dikandung tanpa noda. Ketiga tentang keperawanan Maria sebelum dan sesudah Yesus dilahirkan.
 
Pada bagian pertama, Romo John mengatakan bahwa secara teologis ungkapan doa tidak ditujukan kepada Maria ataupun orang kudus lainnya. Kita memohon Bunda Maria dan para orang kudus agar berdoa untuk kita, seperti yang kita lakukan dalam doa Salam Maria (halaman 4).
 
Tentang perdebatan seputar Maria yang dikandung tanpa noda, Romo John menyatakan bahwa walaupun tidak secara langsung, ada beberapa ayat dalam kitab suci yang menunjang ajaran ini. Ayat-ayat tersebut mendukung bahwa tradisi Gereja merupakan salah satu sumber wahyu Ilahi. Anggapan bahwa Maria tanpa dosa adalah suatu tradisi kuno yang dipercaya dan diterapkan secara konsisten dalam Gereja Katolik (halaman 19).
 
Perdebatan seputar keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus, juga menimbulkan pertanyaan, mengapa Rasul Paulus tidak menuliskan hal ini dalam surat-suratnya di dalam kitab suci. Romo John mengatakan bahwa keempat belas Surat Rasul Paulus selalu dibuka dengan istilah yang mengacu pada hubungan Bapa-Putra dalam keluarga Allah, seperti misalnya Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Perumusan seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa tidak ada ayah duniawi. Dari situ dapat disimpulkan bahwa ibu-Nya yaitu Bunda Maria mesti mengandung Dia secara perawan (halaman 48).
 
Buku ini tidak dimaksudkan untuk mencari kebenaran seputar perdebatan Bunda Maria. Melalui buku ini penulisnya ingin mencoba melihat masalah tersebut melalui perspektif Gereja Katolik, terutama dari kaca mata seorang imam Gereja Katolik. Di samping itu penulisnya ingin mengajak kita sebagai umat gereja Katolik untuk semakin menguatkan iman Gereja kita.
(Andri Susanto)

Leave a Reply