Menanti

Seperti biasa, pertemuan adven pada umumnya dihadiri sedikit peserta dan dimulai lewat dari jam yang diumumkan. Undangan jam 19.00 tetapi hampir sejam setelahnya masih belum ada yang datang. Gerimis pula sabtu malam itu menambah suasana hati Pak Petrus Sabar dan istrinya sebagai tuan rumah menjadi galau. Saya yang datang selepas jam 18.00 sibuk membolak balik buku panduan adven mengusir sepi. Sebagai ketua lingkungan, mau tidak mau saya harus siap memimpin renungan sesuai jadwal. Kalau suasana gerimis begini memang biasanya akan lebih sedikit umat yang datang. Jadi ya tidak bisa mengharapkan petugasnya hadir. Bu Sabar sibuk di dapur menyiapkan minum dan makan kecil, sementara Pak Sabar sibuk dengan gawainya. Kami satu ruangan, duduk berdekatan tetapi masing-masing sibuk sendiri.
“Pak…”
Sunyi……..
“Paaaaak”
“Eeh kenapa Bu? Kok teriak-teriak.
Malu sama Pak Andreas.”
“Habis, bapak dipanggil nggak dengr. Sini Pak.” Pak Sabar bergegas ke dapur sementara saya pura-pura sibuk dengan buku panduan tetapi sebenarnya telinga saya gatal ingin mendengar bisik-bisik Pak Sabar dan istrinya di dapur yang hanya tertutup korden.
“Ini kok belum pada datang ya Pak?”
“Ya maklum, ini sedang gerimis… pasti pada malas datang.”
“Lha terus kalo nggak pada datang bagaimana? Tidak jadi pertemuan adven dong?”
“Yaaa gimana ya aku juga bingung Bu, tapi kan sudah ada Pak ketua lingungan, mosok tidak jadi pertemuan.”
“Ya tapi ini sudah mau jam delapan. Kalo pada enggak ada yang datang terus bagaimana ini…”
“Ya sudah Bu, mau gimana lagi. Kita kan ga bisa maksa mereka datang.”
“Mbok coba diinfokan di grup whatsapp.”
“Sudah tapi ga ada yang respon. Kemungkinan masih belum pada pulang. Kejebak macet barangkali.”
“Ya tapi mosok semuanya sih pak. Umat lingkungan kita itu banyak lho. Mosok Cuma pak ketua lingkungan saja yang datang. garing rasanya. ”
“Emang gorengan bu, pake garing segala.”
“Ah bapak ini. Suasananya Pak yang jadi garing. Adven kan mempersiapkan diri menantikan kehadiran Tuhan, kalau tidak ada umat yang datang kan artinya tidak ada yang dipersiapkan, tidak ada maknanya, jadi garing dan tidak ada kenangannya.”
“Loh kok begitu bu?
“Ya habisnya ngeselin. Sudah tahu umat katolik itu setiap mau natalan ada masa Adven, persiapan menantikan kedatangan Tuhan. Ini malah tidak ada yang nongol sampai sekarang. Bisa bisa batal ini pertemuan.”
“Huss ibu kok ngomong begitu. Yang namanya persiapan itu ya semuanya harus disiapkan. Tidak hanya persiapan ngumpul, persiapan pertemuan, persiapan konsumsi tetapi yang pokok justru hati kita yang harus dipersiapkan. Hindari prasangka buruk, kita siapkan hati kita untuk menerima segala sesuatu yang tidak umum di luar rencana dan pikiran kita. Coba bayangkan, Yesus saja yang Tuhan dan Raja hadir malah di dalam palungan di
kandang domba. Padahal Dia itu Raja. Itu kan di luar perkiraan semua orang? Wong raja kok kere. ya tapi itulah faktanya. Memang sulit, tapi ya kita berdoa saja semoga umat lingkungan datang. Kalaupun tidak datang kita doakan semoga mereka semua dalam keadaan sehat dan kita tetap ibadat bareng ketua lingkungan.”
“Cuma kita bertiga pak?”
“Kok Cuma. Tidak ada yang percuma Bu. Mau bertiga ataupun malah hanya kita berdua ya nggak papa to. Yang penting kan kita mempersiapkan hati sampai nanti kita berjumpa dengan Tuhan.”
“Ah bapak itu nggak mikir, saya capek-capek nyiapin konsumsinya, dari kemarin mikir konsumsinya apa, biar tamu
tidak kecewa. Ini bapak malah bilang ndak papa nggak pada datang. Ntar nggak pada datang benaran loh.”
“Ya bukan begitu bu, yakin mereka pasti datang. Ini kan karena Jakarta sore tadi hujan ya dimaklumilah kalau pada
terlambat. Yang penting itu ibu persiapkan hati agar agar nanti pada saat umat datang
itu, ibu tersenyum bukan malah manyun. Coba gimana rasanya datang bertamu kok dikasih bibir manyun. Sudah pulang terjebak macet, eeeh tuan rumah mukanya sepet. Kasihan betul mencari makna Adven saja susah banget.”

Memang betul apa yang dibilang Pak Sabar, menghilangkan prasangka itu sulit. hampir tiap hari saya berprasangka. Ini saja sudah berapa banyak prasangka yang saya buat. Bukannya saya mendoakan mereka atau berdoa rosario, saya malah menduga dan berprasangka buruk.

Apakah saya tidak diinginkan lagi menjadi ketua lingkungan? Jangan-jangan umat kecewa dengan saya. Atau jangan-jangan ada umat yang sengaja menghasut agar tidak datang? Ah entahlah. Prasangka itu terus saja muncul
dan menggoda. Lebih enak berprasangka dari-pada berdoa, sensasinya gimana gitu… Bagaimanapun segala sesuatu harus dipersiapkan. Apalagi menyambut Tuhan Sang Juru Selamat. Sambil menanti kedangan umat, saya lalu berdoa memohon pengampunan Tuhan atas segala prasangka kepada umat. Lebih baik menanti sambil
berdoa.
“Pak Sabar dan ibu.”
“Ya Pak.” Serempak mereka menjawab dari balik korden.
Setelah mereka keluar saya ajak mereka berdoa rosario sambil menunggu umat yang belum datang. “Mari kita berdoa rosario sambil menanti umat yang belum datang.”
“Aku percaya akan Allah…”
(Bapaknya Ganesha)

Comments are closed