Masih Mungkinkah Hidup Kudus di Jaman Ini?

Beberapa bulan yang lalu, kami berbelanja di toko buku rohani. Dengan jumlah uang yang ada, kami memutuskan membeli lima buah buku yang membahas tentang kehidupan rohani. Malangnya, jumlah uang kami tidak mencukupi untuk membayar kelima buku yang akan dibeli. Tawar menawar sempat berlangsung antara saya dan kasir. Menariknya, ketika percakapan kami berlangsung sekitar satu menit, sang pemilik toko bangkit berdiri dari meja kerjanya. Ia mengamati judul-judul buku yang akan kami beli dan bertanya kepada kami, “kamu frater ya?” “Ia,” jawab saudara disamping saya yang mengenakan salib. Mendengar jawaban itu, sang pemilik toko langsung menyuruh kasir itu menyerahkan buku-buku kepada kami. Ketika saya memasukan buku ke dalam tas, saya mendengar suara dari sang kasir, “Frater itu apa bu?”. “Mereka calon pastur yang akan tidak menikah,” jawab ibu itu. “Emangnya orang bisa ya bu, tidak menikah di zaman ini?”, komentar salah seorang karyawan.

Bagi orang yang tidak paham tentang cara hidup seorang religius khatolik, mereka menganggap tidak menikah itu sebagai suatu hal yang aneh. Apalagi di zaman ini, semua orang pada mengejar kenikmatan duniawi daripada mengejar hal yang surgawi. Hal yang surgawi itu urusan akhirat, intinya apa yang ada di dunia ini harus dinikmati, itulah prinsip orang zaman ini. Prahara surgawi akan dipandang sebelah mata, intinya apa yang ada di depan mata, untuk apa mengejar surga abadi jika surga di dunia ini saja tidak dinikamti. Inilah salah satu alasan orang berpandang bahwa hidup tidak menikah itu aneh bahkan bin ajaib.

Manusia zaman ini berpikir tentang kenikmatan dan kesenangan daripada kebahagiaan. Mereka mendambakan kebahagiaan tetapi mereka tidak menyadari bahwa yang didambakan adalah kenikmatan. Mereka makan di restoran mewah dan berkata “aku sangat bahagia malam ini.” Mereka merayakan ulangtahun di tempat-tempat eksotis dan berkata “aku sangat bahagia di hari ulangtahun ku.” Mereka juga berlibur ke luar negeri dan berkata “aku sangat bahagia mengunjungi tempat ini”. Pertanyaannya, apakah pengalaman-pengalaman itu benar-benar pengalaman bahagia? Atau, justru sebatas pengalaman senang dan nikmat? Bahagia itu sifatnya permanen sementara senang itu sifatnya sementara. Lantas, apa yang kita kejar, yang permanen atau yang sementara? Semua orang pasti akan bersorak dan berkata “kami ingin yang permanen”.

Hidup kudus itu membawa kebahagiaan dan bukan kenikmatan. Hidup kudus itur sifatnya permanen dan bukan sementara. Ketika seseorang menghabiskan makanan, ia akan berkata, “rasanya sangat nikmat”, beberapa menit berselang, kenikmatan akan hilang. Ini berbeda dengan pengalaman hidup doa. Hidup doa yang baik akan membuat hari-hari hidup kita memiliki harapan. Meskipun dalam hidup kita mengalami rentetan persoalan yang cukup rumit, harapan itu tetap ada, sebab kita tidak bersandar pada kekuatan sendiri tetapi pada kekuatan Tuhan. Hidup doa yang baik tentunya harus diikuti dengan tindakan dan tutur kata yang baik pula. Dalam refleksi saya, ketika kita menyelaraskan kedua hal itu, itulah yang disebut dengan kekudusan. Kita akan menemukan kebahagiaan di dalamnya. Oleh karena itu, untuk menjadi kudus tidak perlu hidup dalam pertapaan seperti para rahib zaman dulu, yang dibuhkankan hanya hidup doa yang baik dan tutur kata dan tindakan yang benar. Karenanya, hidup kudus masih sangat relevan di zaman ini.
(Arsy Tendor, OFM)

Leave a Reply