Maria: Bunda yang Dijadikan Gereja

Apa yang anda inginkan ketika berdoa kepada Santa Maria, entah itu doa Rosario, Litani Santa Maria atau Novena tiga kali Salam Maria? Apakah karena Anda punya ujub, punya intensi, punya keinginan? Kita berharap dengan doa-doa yang kita haturkan, Bunda berkenan menghantarkannya kepada Allah agar dikabulkan. Kalau Bunda sendiri yang berbicara kemungkinan besar didengar Allah mengingat kedekatannya dengan Allah. Ia adalah putri Allah Bapa, bunda Allah Putra dan mempelai Allah Roh Kudus. Kalau itu jawabannya, hati hatilah! Sebab mungkin Anda sebenarnya tidak sedang berdevosi pada Bunda Maria tapi memanfaatkan Bunda Maria untuk devosi Anda pada ego sendiri. Akibatnya doa menjadi dosa!

Santo Fransiskus Assisi kiranya dapat kita teladani sehingga kita berdevosi secara benar kepada Bunda Maria. Menurut omas dari Celano, Santo Fransiskus tak hanya berdoa tetapi hidupnya sudah menjadi doa. Ia tak hanya berdoa kepada Maria tetapi seluruh hidupnya bagaikan sebuah untaian rosario yang indah dan layak dipersembahkan oleh Maria kepada Allah.

Salah satu kekhasan devosi Fransiskus kepada Bunda Maria tersirat dalam doa yang digubahnya sendiri yakni Salam kepada Santa Perawan Maria, katanya: “Salam, Tuan Putri, Ratu Suci, Santa Bunda Allah, Maria: Engkau adalah perawan yang dijadikan Gereja.” Gelar terakhir tersebut kiranya janggal dan jarang terdengar. Apa maksudnya ia menggelari Bunda Maria demikian?

Sebenarnya gelar itu bersumber pada teologi para bapa Gereja namun kemudian tak populer lagi bahkan sejak abad pertengahan sampai muncul lagi gelar yang mirip itu (Maria Model Bagi Gereja) dalam Dokumen Konsili Vatikan II: Lumen Gentium. Dalam gelar itu Fransiskus menghormati Bunda Maria karena kesediaannya untuk berperan dalam sejarah keselamatan. Ia mau dipilih Allah untuk menjadi Bunda yang mengandung dan melahirkan Yesus Kristus demi keselamatan kita.

Ketika Fransiskus diminta Tuhan melalui suara yang ia dengar dari salib di Gereja San Damiano: “Perbaikilah Gereja-Ku yang kaulihat nyaris roboh ini.” Fransiskus sadar bahwa untuk merenovasinya, ia butuh acuan atau model. Sama seperti kita ketika mau membangun kembali rumah harus punya model atau gambarnya sebagai acuan. Fransiskus menemukan acuan atau model pembaharuan Gereja itu justru dalam diri Maria. Maria tak hanya mengandung dan melahirkan Yesus secara fisik tetapi juga secara rohani dengan secara sempurna mengikuti Yesus, Putran ya. Salah satunya: sama seperti Yesus, Santa Maria pun “menjadi miskin serta penumpang dan hidup dari sedekah.” Karena Gereja bukan gedung tapi persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus. Maka membangun Gereja dengan menjadikan Maria sebagai model artinya berupaya agar kita semua berjuang menjadikan diri kita seperti Maria, model Gereja, model kita semua. Menurutnya, kita menjadi ibu bila kita mengandung Yesus di dalam hati dan tubuh kita karena kasih Ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih; kita melahirkan Yesus melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain.

Mengandung Yesus berarti menyimpan sabda-Nya dan selalu mendengarkan-Nya berbicara lewat hati nurani kita. Sedangkan melahirkan Yesus berarti berbuat kebaikan demi menjalankan sabda dan kehendak Tuhan. Maka berdevosi bukan hanya soal bagaimana doa kita dikabulkan tapi bagaimana kita belajar memahami dan menerima kehendak Allah lewat

bersyukur bila doa terkabul, sebaliknya sabar, ikhlas, tidak kecewa atau protes bila belum dikabulkan Tuhan. Kita percaya entah dikabulkan atau tidak, Tuhan pasti memberi yang terbaik bagi kita semua lebih dari yang kita harapkan

dan bayangkan. Itulah bakti atau devosi Maria kepada Bapa yang hendaknya menginspirasi kita agar sungguh-sungguh berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria.

Pertanyaan Reflektif

1. Selama ini sudahkan Anda berdoa secara benar atau sebenarnya Anda malahan sedang berdosa dengan doa Anda sendiri?

2. Bagaimanakah Anda belajar memahami kehendak Bapa dalam novena yang Anda doakan?

Leave a Reply