Makna Abu pada Rabu Abu

Masa Prapaskah akan segera tiba. Tanggal 14 Februari 2018 adalah hari pertama Masa Prapaskah kita. Setiap kali mengawali masa prapakah, kita, mengadakan ibadat yang dikenal dengan Rabu Abu. Sebutan Rabu Abu itu menunjuk pada isi ibadat tersebut yaitu kita menerima abu tanda pertobatan.

Mengapa kita menggunakan abu pada diri kita dan apa maknanya? Penggunaan abu dalam liturgi Rabu Abu, berasal dari Perjanjian Lama, di mana abu merupakan lambang perkabungan, ung kapan rasa sesal, kerendahan dan pertobatan. Salah satu kisah dalam Kitab Suci yang menunjukkan penggunaan abu sebagai tanda berkabung dan pertobatan dapat kita temukan dalam kisah Nabi Yunus. Pada waktu Yunus di kota Niniwe, ia berseru supaya orang kembali pada Tuhan dan melakukan pertobatan. Orang-orang Niniwe menerima seruan Yunus kemudian memaklumkan puasa serta mengenakan kain kabung sembari duduk di atas abu. Dalam Injil kita juga menemukan kisah dimana Tuhan Yesus menyinggung tentang pemakaian abu yang ditujukan untuk kota yang menolak melakukan pertobatan dari dosa walau sudah melihat sendiri mujizat secara nyata dan mendengarkan kabar gembira.

Dalam sejarah Gereja Perdana, kita menemukan kebiasan umat menggunakan abu sebagai simbolisasi pertobatan. Seorang pujangga Gereja bernama Tertulianus, yang hidup di sekitar tahun 160-230 Masehi, menulis dalam bukunya De Poenitentia, “Jika seorang pendosa mau bertobat maka ia harus hidup tanpa bersenang-senang dan mengenakan kain kabung serta abu.” Tertulianus juga menuliskan suatu peristiwa di mana ada seorang murtad bernama Natalius yang datang pada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung serta abu lalu memohon pengampunan. Pada masa itu rupanya sudah ada kewajiban bagi mereka untuk menyatakan tobat di muka umum dan meminta imam untuk mengoleskan abu di kepala mereka sesudah melakukan pengakuan.

Pada abad pertengahan, juga ada kebiasaan yang tumbuh di tengah masyarakat, bagi mereka yang sedang menghadapi ajal akan dibaringkan di atas tanah beralaskan kain kabung lalu diperciki dengan abu. Imam akan memberikan berkat pada orang tersebut dengan air suci sambil berkata, ”Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Sejak abad pertengahan inilah Gereja memakai abu sebagai tanda dimulainya masa pertobatan yang dilakukan di masa Prapaskah. Hal ini untuk mengingatkan umat beriman bahwa hidup di dunia ini tidaklah abadi dan harus menyesali segala dosa yang sudah diperbuat.

Pada perayaan Rabu Abu sekarang ini, abu yang digunakan diambil dari daun palma yang sudah diberkati di hari Minggu Palma tahun sebelumnya yang kemudian dibakar. Imam akan memberkati abu tersebut lalu menorehkannya pada dahi umat beriman membentuk tanda salib sambil berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu Abu ini menjadi awal pembaharuan diri, intropeksi diri serta pertobatan. Sikap mawas diri dan pertobatan merupakan panggilan hidup bagi umat yang percaya. Merayakan Rabu Abu bukan hanya sekedar paham akan arti abu sebagai tanda pertobatan dan penyesalan atas segala dosa. Merayakan Rabu Abu berarti mengungkapkan pertobatan dengan melakukan puasa dan berpantang, menahan hawa nafsu dan tidak berbuat dosa serta semakin peduli terhadap sesama.

Dengan demikian, Rabu Abu sendiri dapat dimaknai sebagai ungkapan sikap penyesalan serta pertobatan yang didasari kesadaran bahwa hidup manusia ini fana serta sangat bergantung pada rahmat Kristus yang mampu menyelamatkan kita dari hukuman dosa. Tanda salib dari abu yang diterakan pada dahi merupakan tanda peringatan bahwa kita adalah manusia yang penuh dosa dan sudah membuat Yesus disalibkan karena dosa yang sudah kita perbuat itu. Maka umat yang datang ke gereja pada masa Rabu Abu akan diberi tanda salib dengan abu pada bagian dahi sebagai pengingat kita bahwa kita telah berdosa, namun memperoleh jalan keselamatan yaitu dalam salib Tuhan Yesus Kristus.

Yustinus A. Setiadi, OFM

Leave a Reply