Jalur Khusus Menuju Kristus

Perjalanan hidup manusia selalu dipenuhi dengan sebuah misteri yang tidak diketahui awal dan akhirnya. Manusia hanya bisa berjuang untuk menjalaninya dan berharap bahwa akan ada akhir yang sesuai dengan harapan. Hal tersebut juga tidak luput dari kehidupan umat Kristiani untuk mengikuti Kristus.

Sebagai orang yang beriman kita mempunyai Kristus yang selalu mendampingi dan membimbing langkah hidup yang dijalani. Perjalanan hidupnya sejak lahir hingga wafat dikayu salib dan bangkit menjadi bukti kesetiaan-Nya pada Bapa, begitu pula kesetiaan-Nya pada kita sebagai anak-anakNya. Perjalanan hidup manusia sebenarnya menjadi sebuah panggilan untuk berziarah mengikuti Kristus. Seperti Kristus yang dengan setia mendampingi dan membimbing kita, kita juga diundang dan diminta dengan rendah hati untuk setia pada-Nya. Kristus tidak meminta lebih apapun dari yang kita miliki. Ia hanya meminta agar kita setia berjalan bersamaNya.

Kesetiaan panggilan untuk berziarah bersama Kristus secara nyata dan konkret diwujud nyatakan dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan selibat. Kedua bentuk panggilan tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu: Kristus. Panggilan hidup berkeluarga dan selibat memiliki makna luhur yang mampu mempersatukan dan mempererat hubungan dengan Allah yang hadir dalam diri suami, istri, anak, (berkeluarga) dan pimpinan, saudara, saudari sekomunitas (selibat).

Panggilan Selibat

Dalam panggilan selibat terjadi proses dan dinamika yang panjang. Mulai dari proses pembinaan, tantangan, pergulatan melawan diri sendiri, afeksi, pengambilan keputusan untuk tetap setia atau melanjutkan hidup di luar biara, dan lain-lain.

Dalam panggilan hidup selibat, setiap orang terpanggil untuk mengikuti Kristus dengan cara yang berbeda-beda dan unik. Perbedaan dan keunikannya terletak pada proses awal ketika seorang mulai tertarik untuk mengikuti panggilan hidup selibat. Ada yang terpanggil karena kagum dan tertarik karena melihat cara hidup seorang imam, suster, atau bruder. Ada yang terpanggil karena ikut ambil bagian aktif dalam kegiatan menggereja seperti: misdinar, remaja Katolik, orang muda Katolik, dan lain-lain. Ada yang terpanggil karena hanya ingin mencoba, mendapat pengalaman baru, dan ada yang terpanggil karena terpaksa. Hal-hal tersebut adalah cara Allah memanggil setiap orang sesuai kehendak-Nya. Ketika seseorang telah memutuskan untuk menanggapi panggilan Kristus, ia akan menjalani proses dinamika hidup selibat. Pada tahap awal seseorang akan menjalani tahap pembinaan sebagai calon anggota religius. Proses ini berlangsung sesuai dengan ketetapan masing-masing tarekat atau kongregasi.

Tahap kedua dikenal sebagai tahap novisiat, yang berasal dari bahasa latin “Novum” yang artinya baru. Pada tahap novisiat seseorang akan menjalani kehidupannya sebagai orang yang baru diterima dalam tarekat atau kongregasi. Dalam masa novisiat kehidupan rohani mulai diperdalam sebagai hal yang utama, namun tidak juga melupakan hal-hal lain seperti kerja tangan dan lain-lain. Masa novisiat membantu seseorang untuk lebih mendekatkan diri pada Kristus.

Tahap ketiga dikenal sebagai tahap yuniorat. Pada tahap ini seseorang telah resmi secara sementara menjadi anggota tarekat atau kongregasi dengan mengikrarkan ketiga kaul: kemiskinan, ketaatan, kemurnian. Pada tahap ini seseorang mulai diutus untuk berkarya pada bidang-bidang sesuai kebutuhan tarekat, entah dalam bidang pendidikan, kesehatan. Selain itu ada pula yang diutus untuk menjalankan studi di bidang filsafat dan teologi, atau bidang studi lain.

Tahap keempat adalah tahap bagi seseorang untuk secara matang mengambil keputusan. Pada tahap ini seseorang telah definitif menjadi anggota tarekat atau kongragasi. Secara resmi pada tahap ini seseorang telah memutuskan untuk seumur hidup menjadi anggota tarekat atau kongregasi. Pada tahap ini seseorang juga terus menjalani pembinaan berkelanjutan yang dikenal sebagai on going formation. Pembinaan berkelanjutan ini berlangsung seumur hidup.

(Gabriel Rionaldi, OFM)

Leave a Reply