Gadget dan Keluargaku

CD6E3889-0B17-4A93-81B5-87C620B55DB2Status sebagai anak satu-satunya dalam keluargaku membuatku tak bisa jauh dari orang tua. Seiring bertambahnya usia, aku sadar harus belajar hidup mandiri. Apalagi hanya aku satu-satunya yang menjadi harapan keluarga. Untuk membuktikan bahwa aku tidak seperti yang mereka katakan, aku membulatkan tekad untuk kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Rasa ragu dan takut itu ada, karena seumur-umur belum pernah aku pisah jauh dari orang tua. Bahkan aku harus hidup sendiri, dan segala sesuatu harus aku kerjakan sendiri. Setelah pengumuman kelulusan SMA diumumkan, beberapa minggu kemudian,  aku berhasil masuk PTN di Jakarta yang aku impikan melalui jalur SBMPTN. Ini sungguh luar biasa bagiku. Tuhan seperti memberi jalan dan pelajaran bahwa melalui semua ini aku harus mulai hidup mandiri.

Meninggalkan Solo sangat berat bagiku. Tadinya juga Mama tidak setuju dengan keputusanku untuk melanjutkan studiku di Jakarta. Minggu-minggu pertama kuliah dengan suasana dan teman yang baru itu agak menyulitkanku untuk beradaptasi. Setiap hari aku selalu bercerita kepada mama via WhatsApp tentang apa saja yang kualami hari ini. Libur semester ini, aku ingin pulang ke Solo, rindu sekali rasanya.

Hari yang ku nanti-nanti pun tiba. Deru suara kereta seakan menambah semangatku untuk menginjakkan kaki di kota Solo dan memeluk mama dan papa dengan erat. Aku berharap dengan bertemu mereka, akudapat melepaskan penat dan kerinduanku kepada mereka.

Ketika mengetuk pintu rumah,mama menyambutku dengan hangat dan menyuruhku untuk istirahat. Makan malam pun tiba, meja makan sudah terisi penuh dengan makanan dan minuman. Namun ada pemandangan yang berbeda yang tidak pernahku alami sebelumnya. Tidak terasakan adanya kehangatan disini. Mama dan papa masih sibuk dengan gadget nya masing-masing.

Esoknya aku mencoba untuk berbincang-bincang hangat bersama. Aku ingin melepas rindu disini. Sayangnya, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Papa sibuk dengan pekerjaannya di komputernya, sedangkan mama sibuk menjelajah dunia maya. Setiap kali aku hendak mengajak mereka berbincang, mereka sering tidak fokus dan cenderung acuh tak acuh dengan diriku bahkan pada saat di meja makan pun mereka masih asik dengan gadget mereka.

Hal ini membuatku sedih dan kecewa karena merasa bahwa kepulanganku ke Solo menjadi sia-sia. Aku memulainya dengan keluh kesahku terhadap perilakukedua orang tuaku akhir-akhir ini. Mereka pun menyadarinya dan mulai mengurangi intensitas memegang gadget, ya minimal pada saat makan bersama.

Aku ingin penggunaan gadgetini tidak hanya sekedar untuk chit-chat atau menjelajah dunia maya semata. Tetapi harus ada nilai positif dari penggunaan gadgdetini. Aku memutuskan untuk membuat group yang berisikan keluargaku pada aplikasiWhatsApp. Disana aku meminta mereka mengunduh sebuah aplikasi Katolik yang berisikan tentang renungan, doa-doa, dan juga kalender liturgi. Mereka pun menyambut antusias permintaanku dan sekarang kami pun sering berbincang melalui aplikasi chatting ini terutama mengenai renungan-renungan Alkitab serta pengalaman kami masing-masing setiap harinya.

Aku pun sekarang sadar bahwa perkembangan teknologi komunikasi tidak dapat dihindari dan hal tersebut bisa berdampak positif dan juga negatif. Itu semua tergantung bagaimana kita sebagai pengguna memandang hal tersebut. Teknologi komunikasi harus dimanfaatkan sebaik mungkin tanpa harus mengorbankan arti kebersamaan di antar sesama kita manusia.

Selesai…

Di zaman teknologi informasi yang semakin berkembang ini, kita sering kali lupa bahwa pada hakekatnya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri. Hal ini disebabkan karena ada banyaknya yang dapat kita lakukan dengan bantuan teknologi informasi.  Namun ada kalanya, kita cenderung acuh tak acuh dengan orang-orang yang ada di dekat kita. Sebenarnya hal tersebut tidaklah keliru, namun tidaklah tepat jika kita menjadi lupa diri atau melupakan sesama bahkan lupa kepada Allah kita. Pada hari ini, kita diingatkan oleh Injil Yohanes “Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.” (Yoh. 17: 7). Rasul Yohanes ingin mengingatkan kita bahwa segala yang kita punya di dunia ini sesungguhnya berasal dari Allah, jadi kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin sebagai cara untuk memuliakan Dia di dalam hidup kita. (Arnold & Priscilla)

Leave a Reply