Doa di Depan Salib : RP. Thomas Ferry, OFM

Doa di Depan Salib

RP. Thomas Ferry, OFM

Peristiwa salib memberikan pengaruh yang besar dalam hidup Santo Fransiskus. Ada dua doa yang digubah Fransiskus di depan salib yaitu doa di hadapan Salib San Damiano dan doa di depan salib. Tulisan sederhana ini akan mengulas tentang doa di depan salib.

                “Tuhan memberi aku anugerah dalam gereja-gereja, kepercayaan yang sedemikian besar, sehingga aku biasa berdoa secara sederhana dengan kata-kata ini:

”Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.”

Doa tersebut sebenarnya bukan doa yang digubah oleh Fransiskus sendiri. Doa tersebut merupakan sebuah doa liturgis yang mungkin sudah dikenal oleh Fransiskus sejak masa mudanya.

Rumusan yang sama dapat kita temukan Madah Jumat Agung. Rumusan liturgi yang ada dalam ibadat harian dan madah tersebut di atas adalah sebagai berikut:

Kami menyembah Engau ya Kristus, dan mengucap syukur kepada-Mu karena dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.

Kalau kita perhatikan rumusan yang dipakai Fransiskus lebih panjang dari rumusan yang ada dalam ibadat harian. Rupanya Fransiskus menambahkan ke dalam rumusan tersebut, kata-kata yang ia gubah sendiri: Tuhan Yesus Kristus yang ada di sini dan di semua Gereja-Mu di seluruh dunia. Makna apa yang kini membedakan rumusan liturgi yang umum dengan rumusan yang digubah oleh Fransiskus?

  1. Dari “Kristus” menjadi “Tuhan Yesus Kristus”.

Pada masa hidup Fransiskus, iman Kristen masih terlalu menekankan Kristus yang bangkit mulia.  Sementara itu Fransiskus justru terpesona akan Yesus sebagai pribadi yang merendahkan diri dengan lahir sebagai manusia tak berdaya dalam peristiwa Allah menjadi manusia (inkarnasi), wafat dan sengsara di salib dan Ekaristi. Penyebutan “Tuhan Yesus Kristus” menunjukkan pemahaman Fransiskus yang seimbang dan harmonis akan pribadi Tuhan yang adalah Yesus, sungguh manusia, dan sekaligus Kristus, sungguh Allah. Terhadap misteri ini Fransiskus sampai berseru, “O perendahan diri yang luhur! O keluhuran yang merendah!” (Surat Fransiskus untuk Orang-orang Beriman 27).

  1. Penambahan: di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia.

Seluruh dunia telah disucikan dengan darah Kristus tersalib sehingga seluruh dunia menjadi tempat kudus. Maka bagi Fransiskus tak ada pembedaan sikap antara di dalam gereja dan di luar gereja. Kalau kita terbiasa untuk bersikap sopan, berkata santun di dalam gereja maka sikap itupun mesti diwujudkan di luar gereja. Dalam Gita Sang Surya Fransiskus menyatakan bahwa seluruh dunia dan seisi semesta adalah tempat kudus, tempat kehadiran Allah. Allah dapat ditemui juga dalam alam semesta, sehingga bukan hanya kita manusia tetapi juga seluruh semesta hendaknya berpadu dalam puji-pujian kepada Allah.

  1. Penambahan: dari “salib-Mu” menjadi “salib suci-Mu”

Bagi Fransiskus, segala sesuatu yang menghubungkan kita dengan Tuhan adalah suci. Maka apapun yang terkait dengan Tuhan harus diperlakukan secara istimewa. Dalam wasiatnya, ia mengingatkan para pengikutnya demikian, “Nama-Nya yang tersuci dan firman-Nya yang tertulis, di mana pun juga kudapati di tempat yang tidak semestinya, mau kukumpulkan, dan aku minta agar dikumpulkan dan ditaruh di tempat yang pantas.”(Was. 12). Maka salib Tuhan adalah suci karena selalu mengingatkan kita pada peristiwa penebusan dosa yang dilakukan Kristus. Bagi Fransiskus, salib juga mengingatkannya akan Salib San Damiano.

Spiritualitas doa

”Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang   ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.”

 “… kami…

Berbeda dengan doa di depan Salib San Damiano, di mana Fransiskus memakai kata aku yang karenanya bersifat lebih pribadi, dalam doa ini dipakai kata kami untuk menunjukkan bahwa meskipun kita mendoakannya sendirian namun kita sedang berdoa bersama seluruh Gereja di dunia: berdoa bersama Gereja dan untuk kepentingan Gereja di seluruh dunia. Dengan doa ini, Fransiskus mengajak kita untuk memiliki “sense of universality”: menyadari keberadaan kita yang selalu ada bersama dengan semua di seluruh dunia. Semua yang memuji dan menyembah Allah itulah juga saudara dan saudari kita.

“… kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus… “

Ketika Yesus mengajar kita berdoa, pertama-tama Ia mengajak kita untuk bersembah sujud kepada Allah Bapa: dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu. Fransiskus mengajarkan agar  kita menyembah Allah tak hanya dengan badan tetapi dengan seluruh jiwa. Dalam sikap sembah bakti itulah Fransiskus menyadari keberadaan dasar manusia yang rendah di hadapan Allah, karena kita ini hanyalah ciptaan. Sasa merendah ini berpadu dengan ucapan syukur karena meski kita ini hanya mahkluk rendah dan kecil tetapi Allah mengasihi mereka dengan cinta yang begitu besar hingga mengutus Putra tunggal satu-satunya untuk hadir menjadi manusia. Melalui sengsara dan salib-Nya, Ia menyerahkan nyawa bagi keselamatan manusia Dalam diri Fransiskus kita bisa melihat bahwa sikap adorasi yang benar selalu berpengaruh pada sikap sikap terhadap orang lain dengan melihat yang lain sebagai saudara. Bila sikap kita meremehkan dan merendahkan orang lain itu tanda bahwa kita belum menyembah Tuhan secara benar dan sungguh-sungguh.

“… di sini dan di semua Gereja-Mu, yang ada di seluruh dunia… “

Setiap Natal dan Paska, Bapa Suci selalu memberikan berkat Urbi Et Orbi, berkat untuk kota (Vatican) dan dunia. Bapa Suci dengan berkat itu mempersatukan Gereja yang ada dan terwujud nyata di sekitarnya dengan gereja yang ada di seluruh dunia. Setiap kali Fransiskus berada di suatu gereja maka ia sadar bahwa gereja yang ia lihat saat itu bukan suatu Gereja yang berdiri sendiri tetapi Gereja yang ada dalam kesatuan dengan Gereja-gereja lainnya di seluruh dunia, bahkan melampaui dunia: Gereja yang masih berjuang di api pencucian dan Gereja yang sudah mulia di surga.

“dan kami menyembah Dikau…”

Sembah bakti atau adorasi terwujud dalam pujian atas kemuliaan Allah. Bagi Fransiskus kebahagiaan manusia yang pertama bukanlah bila doa dan permohonannya dikabulkan tetapi bila manusia layak dan diperkenankan turut serta memuji kemuliaan Allah bersama dengan paduan para malaikat dan para kudus di surga. Meskipun manusia berdosa dan melupakan Allah, Dia tak berbuat serupa dan tak membalasnya dengan kutuk dan hukuman melainkan mengutus Putra-Nya untuk membebaskan kita melalui  sengsara dan wafatnya di salib.

“… sebab dengan salib sucimu Engkau telah menebus dunia… “

Misteri penebusan Kristus adalah sebab utama mengapa kita harus menghaturkan sembah-bakti, syukur terima kasih kita. Oleh karena penebusan Kristuslah kita dibebaskan dari belenggu dosa. Tapi kebebasan ini bukan hanya kebebasan dari dosa tetapi juga harus punya tujuan: kebebasan untuk memuji dan menyembah Allah, Pencipta dan Penebus kita. Syukur dan pujian ini selalu menggerakkan Fransiskus untuk mengajak semua ciptaan berpadu dalam pujian dan syukur yang sama karena untuk itulah kita diciptakan dan ditebus.

            Berdoa bersama Fransiskus di depan salib ini mengundang kita untuk untuk menempatkan adorasi, pujian dan syukur atas kebaikan dan kemuliaan Allah Tritunggal sebagai yang pertama dan utama jauh melampaui dan mendahului segala permohonan yang biasanya menjadi pusat doa kita. Fransiskus tergerak oleh kata-kata Yesus yang bersabda, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Mat. 6:33) Ketika Allah sungguh merajai hidup kita, maka serentak kita pun akan merasakan kebahagiaan yang tertinggi yaitu keselamatan yang dari Allah. Dan dalam keselamatan ini, kita tak perlu lagi mohon ini dan itu karena semuanya sudah dicukupkan bagi kita. Deus meus et omnia. Allahku adalah segalanya bagiku

Bahan Pustaka Acuan:

LEONHARD LEHMANN, Francesco, maestro di preghiera, Instituto Storico dei Cappuccini, Roma, 1993.

FILIPPO SEDDA & JACQUES DALARUN (Editor),  Franciscus Liturgicus, Editrice Franciscanae, Padova, 2015

Fonti Franciscanae,  Editrice Franciscanae, Padova, 2011.

Leave a Reply