Renungan Pentakosta : “MEMULIAKAN ALLAH MENGANGKAT MANUSIA”

PENTAKOSTA – A: 04 Juni  2017.

MEMULIAKAN  ALLAH  MENGANGKAT  MANUSIA

Yoh. 20:19–23; Kis. 2:1–11.

Di pojok gedung Asisi lantai 2 terlihat beberapa anak muda duduk santai. Sambil menikmati aroma kopi Lampung, mereka ngobrol serius tentang peristiwa Pentakosta. Kita ikuti obrolan mereka berikut ini….

(Renato) Pentakosta itu artinya apa ya? (Novi) Inget–inget sih pak Okto pernah bilang bahwa Pentakosta itu artinya hari ke–50. Latar belakangnya, di kalangan Umat Perjanjian Lama (bangsa Israel), Pentakosta itu dirayakan 7 Minggu setelah panen gandum. Selanjutnya, hari ke–50 ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu Hari Raya Paskah Yahudi.  Kemudian, hari ke–50 ini diperingati sebagai hari turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan  umat Kristen, hari ke–50 itu dirayakan 7 Minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid, sebagai “panenan rohani” yang kini mulai melimpah (sebab dengan turunnya Roh Kudus umat Kristen berkembang pesat).  (Putri) Loe bisa juga ya Novi, masih bisa inget pelajaran katekumennya. Gue mah, habis baptis tinggal bayang–bayangnya doang… (Renato) Terus, waktu Pentakosta kan dikatakan para Rasul bisa berbicara dalam berbagai bahasa. Maksudnya secara ajaib, mereka jadi lancar omong semua bahasa gitu? (Putri) Bukan begitu juga kalee… Maksudnya, Roh Kudus memampukan mereka, sehingga mereka bersaksi tentang perbuatan–perbuatan besar yang dilakukan Allah. Artinya, kesaksian hidup mereka membuat orang dari bangsa lain mengalami keagungan atau kebesaran Allah. Kesaksian hidup para murid, seolah membahasakan kebesaran Allah, sehingga mereka bisa memahaminya. Jadi, bukan maksudnya mereka tahu semua bahasa… Selanjutnya, mereka yang percaya bergabung dengan para murid dengan cara dibaptis (kira-kira 3000 orang: Kis. 2:41). (Novi) Pantesan waktu katekumen, pak Okto bilang Pentakosta itu hari berdirinya Gereja. (Renato) Ya, jumlah segitu sama dengan 1 Paroki sekarang.

(Hawa) Roh Kudus memampukan para murid untuk berani bersaksi tentang perbuatan besar Allah yang dihadirkan Yesus. Bagaimana kita sekarang ini mempersaksikan Yesus ya? (Renato) Menurut Gue, ada 2 hal. Yang pertama, secara intern. Sebagai anggota Gereja atau sebagai murid Yesus, kita kudu wajib melaksanakan kehendak Yesus dalam perilaku hidup kita, dengan kata dan perbuatan, sehingga orang lain mengalami kebaikan Allah. Kedua, secara ekstern. Kita tidak hanya hidup dengan baik dalam kelompok kita saja, tetapi baik juga dalam kata dan perbuatan dengan orang lain, tanpa menonjolkan identitas keagamaan. Kan semua agama menghendaki demikian to? Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. (Putri)  Tapi, kadang orang lain melihat itu sebagai kristenisasi… (Novi) Itu suara dari orang lain yang menilai dari luar menurut persepsi mereka to? Yang terutama itu tergantung motivasi kita mba Putri. Makanya, “tanpa menonjolkan identitas keagamaan” itu penting. (Hawa) Yang penting kita mau bekerjasama dengan orang lain membangun kemanusiaan. Untuk itu dibutuhkan kepekaan sosial yang tinggi…. (Putri) Tapi yang pokok juga peka akan kehadiran Yang Ilahi, karena kita menghadirkan karya Yang Ilahi. Saya teringat ungkapan almarhum Rm. Mangun Wijaya: “Memuliakan Allah mengangkat manusia”. (Novi) Kalau setiap kegiatan atau apapun yang dilakukan itu membuat martabat manusia semakin terangkat berarti secara tidak langsung Allah semakin dimuliakan; dan Allah semakin dimuliakan melalui segala upaya yang mengangkat  martabat manusia. Ya, dengan cara itulah kita mempersaksikan karya besar Allah yang dihadirkan Yesus, yang berkarya demi membangun kemanusiaan baru dan membawakan damai sejahtera, berkat kekuatan Roh Kudus…. (Renato) Ya, itulah semangat Pentakosta yang bagi saya lebih relevan untuk saat ini, daripada berbahasa roh, atau puji–pujian, atau yang lainnya….. (Okto Lasar).

Gadget dan Keluargaku

CD6E3889-0B17-4A93-81B5-87C620B55DB2Status sebagai anak satu-satunya dalam keluargaku membuatku tak bisa jauh dari orang tua. Seiring bertambahnya usia, aku sadar harus belajar hidup mandiri. Apalagi hanya aku satu-satunya yang menjadi harapan keluarga. Untuk membuktikan bahwa aku tidak seperti yang mereka katakan, aku membulatkan tekad untuk kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Rasa ragu dan takut itu ada, karena seumur-umur belum pernah aku pisah jauh dari orang tua. Bahkan aku harus hidup sendiri, dan segala sesuatu harus aku kerjakan sendiri. Setelah pengumuman kelulusan SMA diumumkan, beberapa minggu kemudian,  aku berhasil masuk PTN di Jakarta yang aku impikan melalui jalur SBMPTN. Ini sungguh luar biasa bagiku. Tuhan seperti memberi jalan dan pelajaran bahwa melalui semua ini aku harus mulai hidup mandiri.

Meninggalkan Solo sangat berat bagiku. Tadinya juga Mama tidak setuju dengan keputusanku untuk melanjutkan studiku di Jakarta. Minggu-minggu pertama kuliah dengan suasana dan teman yang baru itu agak menyulitkanku untuk beradaptasi. Setiap hari aku selalu bercerita kepada mama via WhatsApp tentang apa saja yang kualami hari ini. Libur semester ini, aku ingin pulang ke Solo, rindu sekali rasanya.

Hari yang ku nanti-nanti pun tiba. Deru suara kereta seakan menambah semangatku untuk menginjakkan kaki di kota Solo dan memeluk mama dan papa dengan erat. Aku berharap dengan bertemu mereka, akudapat melepaskan penat dan kerinduanku kepada mereka.

Ketika mengetuk pintu rumah,mama menyambutku dengan hangat dan menyuruhku untuk istirahat. Makan malam pun tiba, meja makan sudah terisi penuh dengan makanan dan minuman. Namun ada pemandangan yang berbeda yang tidak pernahku alami sebelumnya. Tidak terasakan adanya kehangatan disini. Mama dan papa masih sibuk dengan gadget nya masing-masing.

Esoknya aku mencoba untuk berbincang-bincang hangat bersama. Aku ingin melepas rindu disini. Sayangnya, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Papa sibuk dengan pekerjaannya di komputernya, sedangkan mama sibuk menjelajah dunia maya. Setiap kali aku hendak mengajak mereka berbincang, mereka sering tidak fokus dan cenderung acuh tak acuh dengan diriku bahkan pada saat di meja makan pun mereka masih asik dengan gadget mereka.

Hal ini membuatku sedih dan kecewa karena merasa bahwa kepulanganku ke Solo menjadi sia-sia. Aku memulainya dengan keluh kesahku terhadap perilakukedua orang tuaku akhir-akhir ini. Mereka pun menyadarinya dan mulai mengurangi intensitas memegang gadget, ya minimal pada saat makan bersama.

Aku ingin penggunaan gadgetini tidak hanya sekedar untuk chit-chat atau menjelajah dunia maya semata. Tetapi harus ada nilai positif dari penggunaan gadgdetini. Aku memutuskan untuk membuat group yang berisikan keluargaku pada aplikasiWhatsApp. Disana aku meminta mereka mengunduh sebuah aplikasi Katolik yang berisikan tentang renungan, doa-doa, dan juga kalender liturgi. Mereka pun menyambut antusias permintaanku dan sekarang kami pun sering berbincang melalui aplikasi chatting ini terutama mengenai renungan-renungan Alkitab serta pengalaman kami masing-masing setiap harinya.

Aku pun sekarang sadar bahwa perkembangan teknologi komunikasi tidak dapat dihindari dan hal tersebut bisa berdampak positif dan juga negatif. Itu semua tergantung bagaimana kita sebagai pengguna memandang hal tersebut. Teknologi komunikasi harus dimanfaatkan sebaik mungkin tanpa harus mengorbankan arti kebersamaan di antar sesama kita manusia.

Selesai…

Di zaman teknologi informasi yang semakin berkembang ini, kita sering kali lupa bahwa pada hakekatnya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri. Hal ini disebabkan karena ada banyaknya yang dapat kita lakukan dengan bantuan teknologi informasi.  Namun ada kalanya, kita cenderung acuh tak acuh dengan orang-orang yang ada di dekat kita. Sebenarnya hal tersebut tidaklah keliru, namun tidaklah tepat jika kita menjadi lupa diri atau melupakan sesama bahkan lupa kepada Allah kita. Pada hari ini, kita diingatkan oleh Injil Yohanes “Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.” (Yoh. 17: 7). Rasul Yohanes ingin mengingatkan kita bahwa segala yang kita punya di dunia ini sesungguhnya berasal dari Allah, jadi kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin sebagai cara untuk memuliakan Dia di dalam hidup kita. (Arnold & Priscilla)

Cerpen : Menyuarakan Kebenaran Butuh Keberanian

CerpenAkhir-akhir ini aku merasakan dan melihat hal-hal aneh di sekitarku. Seperti ada rasa bersalah dalam batinku. Aku tidak mampu bangkit untuk menyuarakan kebenaran. Aku tidak ingin dikatakan sok suci, atau pahlawan, tidak juga bermaksud untuk menyombongkan diri. Aku takut menyuarakan kebenaran.

Minggu lalu ketika pulang sekolah, seperti biasa aku naik bus kota menuju ke rumah. Keadaan bus saat itu cukup ramai. Lalu di lampu merah, naiklah tiga orang pemuda ke atas bis kota yang aku tumpangi. Aku tak menaruh curiga sedikitpun, karena penampilan dan gerak-gerik mereka tidak mencurigakan sama sekali. Mereka berdiri didekat wanita paruh baya, dari sana aku mulai merasa ada yang aneh dengan orang-orang ini. Ya benar saja ternyata mereka sekomplotan pencopet. Aku melihatnya

dengan mata kepalaku sendiri. Namun aku hanya mematung dan seperti tidak punya rasa peduli dengan ibu ini. Setelah melancarkan aksinya, para komplotan pencopet itu turun dari bus kota.

Seperti biasa setiap Sabtu aku membantu ibu berdagang sayur di pasar. Tiba-tiba dari kejauhan aku mendengar suara teriakan dari sebelah utara kios ibu. Aku pun melihat segerombolan orang berlari, suaranya juga semakin jelas ketika mendekati kios ibu. Anak kecil pun menghampiri ku, dan segara mengumpat di bawah meja tempat ibu menaruh sayur-sayuran segar. Saat itu ibu sedang tidak ada ditempat, dan keadaan kios sedang tidak ada pembeli. Orang-orang yang tadi berteriak dan berlari itu pun kebingungan mencari sosok bocah kecil itu. Aku pun menyadari ternyata orang yang mereka teriaki maling itu bocah ini. Astaga aku sangat dilema! Jika aku menyerahkan bocah ini habislah ia. Aku hanya diam saja, tutup mulut dan seperti tidak mengetahui apa yang terjadi.

Hari ini tengah berlangsung ujian tengah semester pelajaran Sejarah. Kami duduk sesuai dengan nomor urut yang telah ditentukan. Aku duduk paling belakang. Sejarah merupakan pelajaran favoritku. Sudah pasti aku bisa mengerjakannya dengan baik. Beberapa teman meminta jawaban kepadaku, ya aku berikan karena aku juga takut dimusuhi atau dibully mereka. Di depanku duduk seorang anak laki-laki bernama Abi, disebelahnya Sarah. Abi memaksa Sarah untuk memberikan jawaban kepadanya. Namun Sarah tidak memberikannya. Abi tidak menyerah, ia pun berhasil mengambil kertas ulangan Sarah, lalu menyalinnya. Mendengar kegaduhan guruku langsung menghampiri mereka, dan memergoki Abi yang sedang menyalin jawaban ujian Sarah. Tanpa ampun guru pun mengambil kertas ulangan mereka berdua, dan tidak mengizinkan mereka untuk mengerjakan lagi. Sudah pasti ujian mereka mendapatkan nilai nol. Sarah membela dirinya, namun sang guru tidak memberi ampun kepada mereka berdua. Ia pun menangis. Hal ini sungguh menyedihkan, lagi-lagi aku tak mampu mengutarakan kebenaran.

Aku memikirkan kejadian akhir-akhir ini bahkan sampai terbawa mimpi. Rasa salah menghantuiku terus menerus. Aku tahu hal ini salah. Mengapa aku terlalu takut mengatakan hal yang benar. Mengapa kejujuran itu sulit aku katakan? Aku hanya memikirkan diri sendiri tidak peduli dengan nasib orang lain. Merasa cuek dan takut adalah hal yang aku benci dari diriku sendiri. Aku ingin bangkit. Bangkit dari rasa takut. Entah itu takut tidak dihargai, aku takut dikucilkan, aku ingin hilangkan rasa takutku ini Tuhan. Aku merasa menyesal, sangat menyesal!

Selesai…

Mengungkapkan kebenaran bukanlah hal mudah dalam hidup ini. Cerita di atas hanyalah satu dari banyaknya cerita ketakutan di dalam mengungkapkan kebenaran. Di dalam Injil pun kita sama-sama mengetahui bagaimana ketakutannya para rasul saat Yesus ditangkap dan diadili, bahkan Petrus pun menyangkal diri sebagai murid Yesus. Mengungkapkan suatu kebenaran memiliki berbagai resiko yang terkadang membahayakan diri kita, itulah mengapa mengungkapkan setitik kebenaran tidaklah mudah. Tetapi Yesus, Putera Allah, telah lebih dahulu berani mengungkapkan kebenaran dan mengajarkannya kepada banyak orang. Dia tidak takut menanggung resikonya, bahkan Dia pun rela menyerahkan diri-Nya demi menebus dosa kita manusia. Semoga hari raya Paskah sungguh menjadi saat yang tepat bagi kita untuk bangkit, bertobat dan lebih berani mengungkapkan kebenaran di sekitar kita. (Priscilla & Arnold)

Renungan Paskah Sdr. Hendra, OFM

Seribu Angin

Jangan menangis di depan makamku,

karena aku tidak ada di situ,

aku tidak tidur di situ.

……..

Jangan menangis di depan makamku,

Sebab aku tidak mati,

Aku hidup.

Penggalan puisi di atas merupakan terjemahan dari Puisi A Thousand Winds. Versi lengkapnya tidak saya cantumkan di sini. Puisi A Thousand Winds merupakan surat cinta dari orang yang telah meninggal kepada  mereka yang masih melanjutkan hidup di dunia ini. Kira-kira pesannya mau menyatakan bahwa kematian orang yang terkasih memang menyedihkan, membuat kita menangis; tetapi itu bukan menjadi alasan untuk berhenti merajut mimpi baru. Perjalanan hidup harus tetap dilanjutkan. Itulah bagian atau cara melanjutkan hidup dari mereka yang telah mendahului kita.

Melalui puisi ini kita diantar untuk menjadi saksi dari setiap orang yang pernah hidup bersama kita. Kita menjadi saksi yang meneruskan kabar gembira Tuhan Yesus di tengah dunia: Ia bangkit. Perayaan Paskah ialah momen untuk menjadi saksi iman. Paskah menjadi momen yang hidup, move on, kita harus bangkit untuk melanjutkan hidup.

Puncak perayaan iman kita sebagai orang Katolik ada dalam misteri Paskah ini. Kita merenungkan perjalanan  hidup Tuhan kita Yesus Kristus yang sungguh manusia, merasakan kelemahan kita sebagai manusia, kecuali dalam hal dosa, mengalami ketakutan ketika saat-saat terakhir hendak meninggalkan dunia. Kemudian, Ia dibangkitkan oleh Allah pada hari yang ketiga. Singkatnya, kita merayakan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan yang hidup di antara kita (Allah beserta kita).

“Katakan Maria, engkau melihat apa?”

“Katakan Maria, engkau melihat apa? Wajah Yesusku yang hidup sungguh mulia hingga aku takjub. Kudengar malaikat menyampaikan amanat. Yesus Kristus sudah bangkit, kabarkanlah pada para murid.” Percakapan ini merupakan penggalan dari Madah Paskah.

Maria sebagai salah satu murid Yesus pasti sangat merasakan kehilangan dengan peristiwa yang menimpa Yesus. Sebagai manusia, ia merasakan kesedihan, galau, kecewa, pupus, kehilangan harapan, dan beragam perasaan lainnya. Tetapi kemudian Ia bertemu kembali dengan pribadi itu, Ia hidup dan bangkit kembali, melihat “wajah Yesusku”. Ia tidak hanya melihat, tetapi bertemu dan bercakap-cakap dengan-Nya.

Itulah penggalan kalimat yang disampaikan Maria kepada Petrus dan murid-murid lainnya. Ia mengisahkan pengalaman perjumpaannya dengan Yesus di makam dan menyampaikan pesan dari malaikat. Ia menjadi saksi pertama untuk menyampaikan kabar suka cita kebangkitan kepada dunia. Pengalaman perjumpaan, ketemu dengan Tuhan.

Apa yang kita bayangkan dengan pengalaman seperti itu? Dalam Injil, kita mengenal karakter Petrus yang spontan, antusias, dan proaktif. Petrus sungguh penasaran dengan ekspresi Maria pada perisitwa kebangkitan ini, Petrus menampilkan diri sekali lagi sebagai pribadi spontan, antusias, dan proaktif. Petrus tidak perlu menunggu Maria bercerita, tetapi  spontan dan langsung bertanya kepada Maria, “Katakan Maria, engkau melihat apa?

Petrus dan Maria Magdalena

Kita bisa meneladani kemuridan Petrus dan Maria Magdalena. Dua murid yang sungguh dekat dengan Yesus. Melalui dua murid ini kita bisa menimba banyak hal. Pertama dari seorang Petrus. Pribadi yang spontan, antusias, dan proaktif. Untuk menjadi saksi Kristus yang bangkit hendaknya memiliki keberanian seperti Petrus. Meskipun dalam keraguan, Ia tetap melangkah pasti. Rasa penasaran, keraguan dalam pencarian makna hidup, perlahan namun pasti ditemukan dalam imannya akan Yesus Kristus. Kristus yang sungguh-sungguh bangkit dan menyelamatkan.

Kedua dari seorang Maria Magdalena. Dalam keraguan harapan selalu ada, meskipun kecil, tetapi tetap bernyala. Harapan mendorong kita untuk tetap malanjutkan hidup. Harapan itulah yang membuat kita memiliki hidup itu. Maria Magdalena menunjukkan kepada kita betapa Tuhan sungguh-sungguh hidup dan beserta kita. Oleh karena itu, perayaan Paskah bagi kita ialah kesempatan untuk sekali lagi dan sekali lagi untuk berani menjadi saksi Kristus.

Moment Paskah bagi kita merupakan pengalaman iman untuk mensyukuri karunia kehidupan. Paskah bagi kita orang beriman adalah kesempatan untuk menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, masyarakat, dan negara. Kristus yang bangkit, Kristus yang hidup, dan Kristus yang memberikan harapan yang pasti untuk kita manusia. Selamat merayakan Pesta Paskah. Alleluya. 

(Sdr. Hendra, OFM)

Renungan Minggu Biasa VI – Menjadi Pembawa Damai !

Menjadi Pembawa Damai!

Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat. 5:24b)

Kita dipanggil untuk mewujudkan damai di tengah muka bumi ini. Damai yang kita wujudkan merupakan bagian dari iman. Iman yang menyata dalam praktek hidup harian kita. Namun bisa jadi saya dan saudari-saudara sekalian belum mampu menjadi pembawa damai dalam kehidupan.

Hiduplah seorang bernama Yakobus. Lengkapnya Yakobus Telolet. Sama dengan om telolet om kale. Barangkali ketika ia lahir lewatlah bis dengan bunyi klakson om telolet om. Yakobus terkenal karena perihidupnya yang kurang baik. Di jarang membantu sesama di lingkungan, kurang terlibat  dalam kegiatan lingkungan, dan jarang berdoa, apalagi ekaristi hari Minggu. Bisa dihitung….Banyak litani keburukan melekat pada dirinya. Banyak kebobrokan yang ada dalam dirinya. Meskipun ada juga sedikit litani kebaikan dalam diri Yakobus. Tetapi kalo di Media Sosial, MedSos Kobus sangat aktif. Nama Facebook Kobus Telolet…Sibuk update status setiap hari. “Kramat panas pagi ini….Ketika siang: Keramat panas sepanas Pilgub DKI. Dan ketika sore hari:Kramat selalu dihati, sekeramat hatiku dan hatimu…

Suatu ketika, Yakobus meninggal dunia. Istrinya Yakomina, lengkapnya Yakomina Che Mie Lan.…Mungkin karena orangtuanya suka cemilan kalee. Si Yakomina ini sangat sedih mendengar berita itu. Seperti biasa St. Petrus sang penjaga pintu surga sudah siap menunggu. Konon katanya amat jarang orang Indonesia masuk surga. Mengapa? Saya juga tidak tahu…..

            Entah mengapa Yakobus bersama beberapa temannya diijinkan untuk masuk surga. Betapa senangnya hati Yakobus. Dia teringat akan khotbah romo parokinya,”Meskipun kita memiliki banyak dosa, percayalah….Tuhan selalu menyediakan surga bagi kita!” Tuhan Yesuspun merasa terkejut dan heran karena di beberapa sudut jalan, Dia bertemu dengan dengan Yakobus dan teman-temannya yang sama sekali asing bagi-Nya. Ia merasa belum bertemu empat mata dengan orang-orang itu. Kalo menonton acara “Bukan empat mata” sudah banyak kali.

            Tuhan pun segera memanggil St. Petrus. “Petrus, mengapa kamu teledor dalam menjaga gerbang surga. Kamu tahukan siapa orang-orang itu?”

“Maaf Tuhan…Saya selalu standbye, siaga satu…Biarpun banjir menghadang, hujan berhari-hari seperti di Jakarta, saya tetap menjaga pintu surga….Hanya orang-orang yang layak dapat masuk ke dalamnya.” Jawab St. Petrus.

“Lho, mengapa bisa masuk ke sini?”

“Tuhan, saya menjaga pintu gerbang dengan ketat, tetapi pada malam hari Ibu Anda….Ibu Maria membuka jendela dan mengijinkan orang-orang asing itu masuk. Mana mungkin saya berani melawan beliau?”

“Ooooooo……yah sudahlah!” Jawab Tuhan Yesus.

            Kita ingin tetap bercahaya sekalipun ada orang yang tidak menyukainya. Kita mesti tetap tampil sebagai orang baik, melahirkan perbuatan-perbuatan baik dalam hidup setiap hari. Perbuatan baik tidak pernah akan goyah sekalipun ada orang yang tidak menyukainya.

Dalam bacaan kedua, dilukiskan bagaimana Tuhan telah menyediakan hikmat bagi kita manusia. Rasul Paulus mengingatkan demikian:”…Yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” (I Kor. 2:6-7). Karena itu, manusia yang dibiarkan saja atau didorong oleh kekuatan-kekuatan jahat dunia ini, takkan dapat mencapai kebahagiaan. Di sini, Paulus berbicara tentang kebijaksanaan sejati. Jika kita menaruh cintakasih kepada Tuhan, maka hal itu lambat laun akan kita capai.

Sementara dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk membatalkan hukum, melainkan untuk menggenapinya (Mat. 5:17-37). Yesus mengatakan dirinya datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. “Bukan meniadakan” tentunya bukan mengurungkan Taurat. Ia samasekali tidak menyangkal kesahihan sikap orang menerima Taurat dalam cara itu. Kesalehan ini wajar. Tapi sekaligus ditegaskannya bahwa ia datang untuk memenuhi Taurat. Taurat dihayatinya sebagai yang membuatnya dekat pada Dia yang bersabda lewat Taurat. Orang seperti ini menggenapkan Taurat, membuat Taurat utuh, bukan menganggapnya sebagai himpunan aturan, perintah, larangan belaka.

Salah satu yang mesti dilakukan ialah memelihara perdamaian dengan sesama. “Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mesbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu….” (Mat. 5:24b). Persembahan seperti itulah, yang berkenan kepada Tuhan. Bukan terbatas pada hal-hal lahiriah, fisik, materi, dsb. Yang utama bagi Tuhan ialah membangun sikap sebagai seorang pembawa damai dalam kehidupan kongkret.

 

Pertanyaan untuk kita renungkan ialah:”Apakah kita telah sungguh-sungguh menghayati iman kita dengan baik dan benar?” Apakah kita hanya mengamalkan aturan Gereja sekedar sebuah ritualisme, tanpa makna nan mendalam dalam diri?”

            Barangkali di tengah keluarga kita belum menciptakan damai di antara suami-istri dan anak-anak.

Atau juga di lingkungan. “Akh…malas akh gabung sama dia. Orangnya bikin sebel banget tahu!” Kata-kata seperti itu kadang terlontar dari diri kita.

 Pernah terjadi bukan di Indonesia pastinya, tetapi di Amerika sana, seseorang membatalkan pesta pernikahannya. Pesta yang telah disiapkan dan menelan biaya total 35.000 dollar AS dibatalkan hanya seminggu sebelum hari-H. Karena uang untuk konsumsi tak bisa diminta kembali, keluarga itu membagikan sajian bagi 120 tamu undangan itu kepada tunawisma, tempat mereka tinggal. Pesta pernikahan itu pun berubah menjadi festival tunawisma di hotel mewah. Tamu pertama adalah seorang perempuan yang datang sendirian dari wisma penampungan. Tak lama, tunawisma lainnya termasuk keluarga yang membawa anak-anak. Mereka menikmati suguhan seperti salad dan salmon dari restoran, hotel berbintang empat. “Ini sungguh tindakan yang sangat murah hati,” ujar seorang ibu yang datang bersama suami dan lima anaknya.

Suatu tindakan mulia, yang mungkin jarang dilakukan oleh banyak orang. Damai terwujud lewat hal-hal yang sederhana, yang menguggah banyak orang.

Masih banyak hal yang menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya mewujudkan damai dalam hidup. Kalau kita berlaku demikian, apakah iman kita bermakna bagi kehidupan kongkret kita? Meminjam bahasa petinggi negeri ini….”Saya hanya bisa prihatin melihat kondisi yang terjadi seperti ini…..Menjadi refleksi yang kiranya terus-menerus kita renungkan sepanjang kehidupan ini.

St. Fransiskus Asissi dalam doanya berkata:”Tuhan jadikanlah daku pembawa damai.  Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.”

Kiranya kita sanggup untuk berani berubah mulai saat ini….Di sini dan sekarang! Tuhan memberkati kita!

12 Februari 2017

RP. Andreas Satur, OFM

           

 

 

Renungan Minggu, 8 Januari 2017

“Persembahan yang layak!”

Kita dipanggil untuk mampu mempersembahkan diri, apa yang ada dalam diri kepada Tuhan dan sesama. Semuanya itu, dari hati yang terdalam, adalah sebuah persembahan yang pantas kita berikan kepada Tuhan. Persembahan yang kita lakukan demi kemuliaan Tuhan semata. Bukan demi popularitas atau kemuliaan pribadi kita sendiri. Dalam Injil hari ini dikisahkan kepada kita bagaimana para majus datang ke tempat kelahiran Yesus (Mat. 2:1-12). “Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada Anak itu, yaitu emas, kemenyan, dan mur” (Ay. 11). Dalam Yesus janji keselamatan itu mendapatkan pemenuhannya. Yesus menjadi keselamatan bagi semua bangsa, baik Yahudi maupun bukan Yahudi. Para majus yang datang membawa persembahan itu mewakili para bangsa dari seluruh muka bumi, hendak memperlihatkan persaudaraan semua suku dan bangsa di hadapan Yesus. Pertanyaan bagi kita:”Apakah yang dapat kita bawa dan persembahkan kepada Yesus?” Apakah kita telah sungguh-sungguh hidup sebagai orang Katolik yang baik dan benar?” Barangkali yang perlu kita wujudkan dalam hidup bersama entah itu dalam keluarga, lingkungan, paroki ataupun dalam masyarakat ialah membangun persaudaraan sejati dengan siapa saja, persaudaraan yang lintas batas. Seringkali kita terkungkung dalam kelompok sendiri, membuat sekat dan kotak dengan orang lain. “Saya tidak mau bergaul dengan dia karena dia bukan saudara saya, beda suku, agama, ras, dan segala macam dengan saya….” Akibatnya kita membuat jarak dengan orang lain. Tuhan Yesus menuntut kita agar kita bisa berbuat lebih. Artinya kita hidup tanpa adanya sekat-sekat antara orang Betawi, Jawa, Padang, Manado, Flores, Papua, Tionghoa, Batak, dan lain-lain sebagainya. Antara Katolik, Protestan, Islam, Hindu, Budha, dll. Karya keselamatan Tuhan menjangkau semua orang, terbuka bagi siapa saja seperti dalam kisah ketiga majus yang dibimbing sampai kepada Yesus. Semua dibimbing kepada persaudaraan sejati. Yang penting ialah kita percaya dan mau dibimbing oleh kebenaran.Paus Fransiskus pernah berkata:”Gambaran pencarian akan Allah dapat terlihat dari orang-orang Majus yang dituntun ke Betlehem oleh bintang. Bagi mereka, terang ilahi tampak sebagai suatu perjalanan yang harus ditempuh, sebuah bintang yang membimbing mereka pada jalan pencarian. Bintang ini adalah tanda kesabaran Tuhan kepada mata kita, yang perlu semakin dibiasakan dengan terang-Nya” (LF. 35). Semoga kita mampu mempersembahkan yang terbaik dalam hidup ini dengan membangun persaudaraan sejati dengan semua orang, tanpa terkotak-kotak. Itulah harapan yang selalu kita rindu-rindukan oleh semua orang yang berkehendak baik. Selamat hari Minggu! Tuhan memberkati kita! Amin.

8 Januari 2017

P. Andreas Satur, OFM