Menjadi Muslimah yang Toleran

Bagi Silvia Ayu Rianti, penghayatan dalam Islam berdasarkan asal kata- nya (Arab: al-islām, “berserah diri kepada Tuhan”) berarti seseorang yang mau menyerahkan segala sesuatu kehidupan baik di dunia maupun di akhirat hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala (Allah SWT). Gadis yang kerap disapa Silvi ini menganut Islam sejak lahir karena dibesarkan dalam keluarga muslim. Dari kedua orang tuanyalah Silvi diajarkan bagaimana memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai luhur keislaman, sebagaimana yang terkandung dalam Al-Quran. Kewajiban utama umat islam adalah membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-quran. Dari situ, umat Islam mampu mengenal Allah yang diimani dan hak-hak yang diperolehnya dari iman kepada Allah SWT,” tutur gadis kelahiran Padang, 28 Oktober 1994 ini.

Ia mengaku sejak usia 6 tahun mulai belajar Al-quran dan tetap setia menekuninya sampai kini. Di usianya yang ke-24 tahun, Silvi juga tetap berusaha setia menjalankan sholat dan mengenakan hijab. Menurutnya, sholat adalah fondasi iman yang mampu menenangkan diri dalam mengintenskan realsi yang lebih erat dengan Allah dan sesama ciptaan. Sementara hijab merupakan ungkapan simbol kerendahan hati untuk menjaga dan menghormati harkat dan martabat perempuan muslimah seperti dirinya.

Lantas, apa makna toleransi antara umat beragama baginya? Sejauh mana ia mampu menghayati toleransi dalam kehidupannya? Bagi gadis manis berparas ayu ini, toleransi terhadap umat beragama sangatlah penting. Walaupun keyakinan berbeda tetapi setiap orang pasti mempunyai tujuan hidup yang sama yaitu, kedamaian jiwa di dunia dan akhirat. Ia bersyukur karena lahir dan besar dalam keluarga dan lingkunganku yang sangat menghargai umat agama lain. Selain itu, sejak kecil dia sudah terbiasa belajar untuk hidup terbuka dan berdampingan deng an umat beragama lain. Itu yang menjadi bekalnya ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah dan bekerja di Jakarta. Dia dapat bergaul dan berbaur dengan siapa saja, termasuk teman-teman dari aga- ma yang berbeda. Ia sadar, pengalaman perjumpaan dengan orang-orang dari latar belakang agama ataupun budaya yang berbeda membuatnya memahami makna keberagaman sebagai anugerah yang indah dalam kehidupan bermasyarakat.

Terkait tindakan intoleran yang terjadi di Indonesia belakangan ini, ia merasa resah dan prihatin. “Sebaiknya setiap kasus tidak dijadikan alasan politik. Demikian pula, setiap organisasi Islam harus bebas dari kepentingan politik. Maka, gerakan-gerakan fundamentalis yang bermaksud meneror masyarakat dengan mengatasnamakan Islam, pastinya berseberangan dengan kaidah hukum Islam yang mengajarkan hukum cinta kasih,” tuturnya.

Ia berharap, setiap orang, khususnya kaum muslim, harus dapat menghargai, menghormati, bahkan melindungi umat beragama lain yang minoritas. Selain itu, ia juga berharap agar umat beragama lain tidak memandang Islam dengan sebelah mata. Jangan sampai umat beragama lain terpengaruh “virus” Islamophobia (ketakutan terhadap segala sesuatu tentang Islam). Maka, hal yang dapat diupayakan bersama adalah menjalin relasi persaudaraan melalui silaturahmi dan dialog yang membantu setiap umat beragama untuk saling mengenal dan menghargai keyakinan masing-masing, tanpa pretensi untuk merugikan umat beragama lain.

(Saudara Peziarah).

Anti Hoax

Hoax bisa didefinisikan sebagai kabar bohong. Termasuk di dalamnya berita dan laporan palsu, informasi dan pengumuman sesat, serta upanya pengibulan lain, yang umumnya berbentuk pesan.

Berbagai informasi berseliweran melalui media sosial (medsos) dan aplikasi obrolan. Di antara kita kadang bertanya tentang kebenaran suatu informasi. melalui akun semacam twitter, facebook atau di grup seperti whatsapp biasanya kita menampilkan suatu foto, pesan pendek dengan tautan berita dan mengetik “Apa ini betul?” “Mohon konfirmasi…” atau bahkan “Tolong bantu sebarkan…” Tapi ternyata kita tidak tahu dengan pasti bahwa materi yang kita paparkan itu adalah informasi keliru, palsu, sesat atau bohong belaka.

Di era informasi dengan berbagai ponsel-pintar dan gawai canggih lainya, penyebaran informasi sesat atau pun berita bohong, yang dikenal dengan istilah hoax, memang tidak terhindarkan. Di Indonesia hal ini terjadi menjelang serta saat pemilihan presiden, juga kepala daerah.

Bahkan dalam hal keagamaan pun, Keuskupan Agung Jakarta sempat harus membuat bantahan dan klarifikasi saat beredar informasi palsu tentang warna pakaian umat dalam peringatan Pekan Suci yang lalu.

Rupanya penyesatan lewat kabar palsu ini menjadi perhatian Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia yang diperigati setiap tahun pada hari Minggu sebelum Pentakosta. Dalam perayaan ke-52 tahun ini, yang jatuh pada 13 Mei, tema yang dipilih adalah “Kebenaran akan Memerdekakanmu (Yoh 8:32): Berita Bohong dan Jurnalisme untuk Perdamaian.”

Saat meyampaikan pesannya pada tanggal 24 Januari (perayaan Santo Fransiskus de Sales, pelindung para jurnalis) Paus Fransiskus mengatakan bahwa penyebaran hoax adalah perbuatan setan. Ia mengimbau agar para jurnalis dan penggiat media sosial menghindari penyebaran berita bohong atau palsu yang dapat memicu perpecahan hanya demi kepenting an politik serta ekonomi pihak tertentu.

Paus membandingkan penyebaran informasi sesat itu dengan kisah manusia jatuh ke dalam dosa karena godaan iblis yang menyamar sebagai ular (Kej. 3:1-15). Menurutnya, tipuan tersebut adalah penyebaran berita bohong pertama di dunia. Taktik licik seperti itulah yang kemudian menyebabkan kisah tragis dosa manusia lainnya seperti pembunuhan pertama (Kej. 4) dan kemudian diikuti berbagai kejahatan lain melawan Tuhan, sesama manusia, masyarakat dan ciptaan lainnya.

Hoax bisa didefinisikan sebagai kabar bohong. Dalam artian yang lebih luas, hal ini termasuk berita dan laporan palsu, informasi dan pengumuman sesat, serta upanya pengibulan lain, umumnya berbentuk pesan. Motifnya bisa untuk mengeruk keuntungan dan kepentingan lain.

Sebenarnya penyesatan dalam bentuk hoax ini sudah lama muncul. Contohnya klasiknya adalah pesan berantai tentang cara menjadi manusia sakti, melipat-gandakan uang, undian berhadiah, pengobatan segala jenis penyakit dan ancaman bencana alam. Dengan bertambah  canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, hoax juga dimanfaatkan untuk hal-hal lain termasuk persaingan politik.

Salah satu keadaan yang sering membuat hoax cepat menyebar adalah ketidakmampuan sebagian pengguna media sosial dan anggota chat group (aplikasi obrolan kelompok) untuk membedakan apakah suatu informasi atau berita itu adalah benar atau bohong. Terlebih, ada yang menjadi lebih emosional dibanding rasional saat membaca pesan, kabar atau pun laporan yang menggugah perasaan atau keyakinan mereka.

Banyak di antara kita yang khawatir dan muak dengan makin seringnya hoax beredar. Apalagi Indonesia termasuk pengguna media sosial (khususnya facebook dan twitter) tertinggi di dunia, sekaligus salah satu negara dengan pasar dan jumlah pemakai ponsel terbesar sejagat. Hal ini, sayangnya, dimanfaatkan oleh “pihak yang bertaktik licik” dengan menampilkan kebohongan, juga hasutan, dan kebencian, yang berlawanan dengan fakta yang ada.

Keresahan makin bertambah karena hoax dirasakan sebagai upanya pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh suasana demi kepentingan mereka secara tidak bertanggung jawab. Fenomena penyesatan ini akan berdampak pada kerukunan hidup berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Modus para pembuat informasi palsu umumnya adalah mengambil berita atau foto dari media-media terkenal. Mereka meniru berita asli, mengubah judul, isi, mengedit gambar sehingga terlihatan  masuk akal; untuk kemudian disebarkan di medsos (facebook, twitter, instagram, path dan lainnya), atau aplikasi obrolan (whatsapp). Ada juga yang menyebar berita bohong dengan membuat website dengan meniru nama media resmi.

(Chris)

Makna Abu pada Rabu Abu

Masa Prapaskah akan segera tiba. Tanggal 14 Februari 2018 adalah hari pertama Masa Prapaskah kita. Setiap kali mengawali masa prapakah, kita, mengadakan ibadat yang dikenal dengan Rabu Abu. Sebutan Rabu Abu itu menunjuk pada isi ibadat tersebut yaitu kita menerima abu tanda pertobatan.

Mengapa kita menggunakan abu pada diri kita dan apa maknanya? Penggunaan abu dalam liturgi Rabu Abu, berasal dari Perjanjian Lama, di mana abu merupakan lambang perkabungan, ung kapan rasa sesal, kerendahan dan pertobatan. Salah satu kisah dalam Kitab Suci yang menunjukkan penggunaan abu sebagai tanda berkabung dan pertobatan dapat kita temukan dalam kisah Nabi Yunus. Pada waktu Yunus di kota Niniwe, ia berseru supaya orang kembali pada Tuhan dan melakukan pertobatan. Orang-orang Niniwe menerima seruan Yunus kemudian memaklumkan puasa serta mengenakan kain kabung sembari duduk di atas abu. Dalam Injil kita juga menemukan kisah dimana Tuhan Yesus menyinggung tentang pemakaian abu yang ditujukan untuk kota yang menolak melakukan pertobatan dari dosa walau sudah melihat sendiri mujizat secara nyata dan mendengarkan kabar gembira.

Dalam sejarah Gereja Perdana, kita menemukan kebiasan umat menggunakan abu sebagai simbolisasi pertobatan. Seorang pujangga Gereja bernama Tertulianus, yang hidup di sekitar tahun 160-230 Masehi, menulis dalam bukunya De Poenitentia, “Jika seorang pendosa mau bertobat maka ia harus hidup tanpa bersenang-senang dan mengenakan kain kabung serta abu.” Tertulianus juga menuliskan suatu peristiwa di mana ada seorang murtad bernama Natalius yang datang pada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung serta abu lalu memohon pengampunan. Pada masa itu rupanya sudah ada kewajiban bagi mereka untuk menyatakan tobat di muka umum dan meminta imam untuk mengoleskan abu di kepala mereka sesudah melakukan pengakuan.

Pada abad pertengahan, juga ada kebiasaan yang tumbuh di tengah masyarakat, bagi mereka yang sedang menghadapi ajal akan dibaringkan di atas tanah beralaskan kain kabung lalu diperciki dengan abu. Imam akan memberikan berkat pada orang tersebut dengan air suci sambil berkata, ”Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Sejak abad pertengahan inilah Gereja memakai abu sebagai tanda dimulainya masa pertobatan yang dilakukan di masa Prapaskah. Hal ini untuk mengingatkan umat beriman bahwa hidup di dunia ini tidaklah abadi dan harus menyesali segala dosa yang sudah diperbuat.

Pada perayaan Rabu Abu sekarang ini, abu yang digunakan diambil dari daun palma yang sudah diberkati di hari Minggu Palma tahun sebelumnya yang kemudian dibakar. Imam akan memberkati abu tersebut lalu menorehkannya pada dahi umat beriman membentuk tanda salib sambil berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu Abu ini menjadi awal pembaharuan diri, intropeksi diri serta pertobatan. Sikap mawas diri dan pertobatan merupakan panggilan hidup bagi umat yang percaya. Merayakan Rabu Abu bukan hanya sekedar paham akan arti abu sebagai tanda pertobatan dan penyesalan atas segala dosa. Merayakan Rabu Abu berarti mengungkapkan pertobatan dengan melakukan puasa dan berpantang, menahan hawa nafsu dan tidak berbuat dosa serta semakin peduli terhadap sesama.

Dengan demikian, Rabu Abu sendiri dapat dimaknai sebagai ungkapan sikap penyesalan serta pertobatan yang didasari kesadaran bahwa hidup manusia ini fana serta sangat bergantung pada rahmat Kristus yang mampu menyelamatkan kita dari hukuman dosa. Tanda salib dari abu yang diterakan pada dahi merupakan tanda peringatan bahwa kita adalah manusia yang penuh dosa dan sudah membuat Yesus disalibkan karena dosa yang sudah kita perbuat itu. Maka umat yang datang ke gereja pada masa Rabu Abu akan diberi tanda salib dengan abu pada bagian dahi sebagai pengingat kita bahwa kita telah berdosa, namun memperoleh jalan keselamatan yaitu dalam salib Tuhan Yesus Kristus.

Yustinus A. Setiadi, OFM

Sang Raja Telah Datang, Songsonglah Dia!

Natal merupakan suatu peristiwa iman. Artinya, Natal dimaknai sebagai momen yang tepat bagi kita untuk menyongsong kedatangan Yesus Sang Raja ke dalam dunia. Ia datang atas kehendak Nya sendiri, terutama untuk mengangkat kita dari lumpur dosa. Itulah sebabnya, pada hari Natal, Ia pertama-tama hadir di dalam hati kita masing-masing. Sudahkah kita mempersiapkan diri guna menyambut kedatangan Sang Juru Selamat?

Persiapan diri tidak hanya merujuk pada persiapan lahiriah, seperti menyediakan pernak-pernik Natal, membuat kartu ucapan, membeli baju baru, membuat kue Natal, dan lain sebagainya. Persiapan yang utama adalah persiapan batin. Kita menyucikan hati agar menjadi “palungan” bagi Tuhan. Hati yang bersih adalah tempat yang pantas dan layak bagi-Nya. Pertanyaan reektifnya adalah bagaimana kita dapat mempersiapkan batin kita secara lebih baik?

Bacaan-bacaan Injil selama empat pekan masa Adven menjadi jawaban yang tepat. Makna yang terkandung di dalam Injil itu merupakan pedoman dalam bertingkah laku sekaligus petunjuk praktis untuk persiapan yang lebih baik. Itulah sebabnya, teramat penting bagi kita untuk merefleksikan dan menghayatinya.

Pada Minggu Adven pekan pertama, kita semua diajak untuk senantiasa berjaga-jaga (Mrk. 13:33-37). Berjaga-jaga berarti menarik diri dari segala kesibukan. Tujuannya jelas, yakni supaya kita meluangkan banyak waktu untuk membangun relasi yang mesra dengan Tuhan. Dengan demikian, ketika Ia datang, kita berada dalam disposisi iman yang tepat. Pada Minggu Adven pekan kedua, Yohanes Pembaptis mendorong kita untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Juru Selamat (Markus 1:1-8). “Ada suara yang berseru-seru di padang gurun, persiapkan jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan baginya” (Mrk. 1:3). Jalan yang dimaksudkan Yohanes tak lain ialah hati kita masing-masing, sebab ketika Yesus datang, Ia akan tinggal dan bersemayam di dalam hati kita. Lalu, bagaimana kita dapat meluruskan jalan bagi Tuhan? Salah satu caranya adalah dengan menerima sakramen tobat. Melalui sakramen ini, kita secara eksplisit mengungkapkan dan menyesali segala dosa, serta berniat teguh untuk memperbaikinya.

Pada Minggu Adven pekan ketiga, Yohanes penginjil mengajak kita pula untuk menjadi saksi Kristus (Yoh. 1:6-8; 9-28). Menjadi saksi berarti mewartakan Kristus dengan perkataan dan perbuatan, tanpa hasrat untuk menonjolkan diri. Dalam hal ini, Yohanes Pembaptis patut diteladani. Ia mewartakan sukacita Injil dengan penuh kerendahan hati dan kesederhanaan. Ia tidak mencari muka ataupun memegahkan diri. Ia melihat dan menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan yang hina dina. Namun, justru dalam kehinaan itulah, Yohanes Pembaptis menunjukkan kekayaan rohani yang berlimpah ruah. St. Paulus bahkan meneladani kerendahan hati Yohanes Pembaptis. Itulah sebabnya, Tuhan sendiri berkata kepadanya demikian: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna (2Kor. 12:9)”. Sabda ini dengan tegas memperlihatkan bahwa di hadapan-Nya, kita adalah makhluk yang lemah. Maka, jangan pernah menyombongkan diri! Segala yang kita miliki saat ini, baik harta benda yang berlimpah maupun potensi diri yang berkembang pesat, adalah anugerah Tuhan. Manfaatkanlah itu sebagaimana mestinya, sesuai dengan tugas perutusan kita masing-masing.

Pada Minggu Adven pekan keempat, Lukas pengarang Injil juga mengundang kita untuk melakukan dua hal penting ini (bdk. Luk. 1:26-28). Pertama, kita mesti meneladani Maria dalam mengungkapkan ketaatan total pada kehendak Allah. “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Karena penyerahan diri yang total kepada Allah, Maria mendapat karunia terbesar. Ia menjadi Bunda Allah sekaligus Bunda Gereja. Dalam kehidupan nyata, ketaatan total kita pada Allah terlihat jelas dalam pekerjaan atau kegiatan sederhana yang kita lakukan dengan tulus. Kedua, kita semua dipanggil untuk menjadi “ibu yang me ngandung, melahirkan, dan membesarkan” bayi Yesus dalam hati kita. Artinya, segala bentuk pelayanan atau pun tingkah laku dan tutur kata kita mesti dilandasi oleh iman pada Kristus. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadikan Kristus semata-mata milik kita, tetapi juga mewartakan-Nya kepada sesama. Inilah hakikat Gereja sebagai paguyuban umat beriman yang berciri misioner.

Menjalankan tugas perutusan kita masing-masing berdasarkan tugas yang diserahkan Allah

kepada Gereja merupakan upaya kita untuk menyongsong kedatang an Sang Juru selamat. Ia adalah imam, nabi, dan raja. Oleh karena itu, sebagai pengikut-Nya yang setia, kita harus berpartisipasi aktif dalam tugas imami, kenabian, dan rajawi Kristus. Selamat merayakan Natal saudara-saudariku seiman. Rayakanlah kelahiran Tuhan dengan sukacita dan maknailah perayaan ini sebagai bentuk kelahiran kita yang baru dalam iman, roh, dan kebenaran. Amin.

Fr. Ervino Hebry Handoko, SX

Persiapan Diri Menyambut Kedatangan Tuhan

Manusia senantiasa mengarahkan seluruh diri dan hidupnya ke masa depan. Karena dipandang masih mengandung sejuta misteri, tak seorang pun mampu mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa depan. Sebagai langkah antisipatif, manusia kemudian menyusun rencana. Di atas fondasi rencana yang tersusun rapi, ia membangun harapannya.

Setiap orang tentu saja mengharapkan hal yang baik ter- jadi dalam hidupnya. Itulah sebab- nya, rencana yang matang selalu dibutuhkan. Akan tetapi, kenyata- an seringkali memperlihatkan hal yang berbeda. Segala rencana yang tersusun rapi tidak selalu berjalan mulus, sehingga harapan pun ti- dak selalu bisa dicapai. Meskipun demikian, adanya rencana dan harapan dalam hidup sejatinya dapat membangkitkan semangat dalam diri untuk melangkah tanpa ragu menuju masa depan. Inilah yang disebut dengan persiapan diri. Apa pun yang terjadi, manu- sia akan selalu mempersiapkan dirinya untuk menyambut hari esok.  Dengan persiapan diri, ia memaknai hidup  dan menjadikan dirinya sendiri berkualitas.

Bagi kita umat Katolik, menantikan kedatangan Tuhan Sang Juru Selamat menuntut adanya persiapan diri. Masa Ad- ven adalah masa penantian. Pada masa ini, kita mendapat kesem- patan istimewa untuk memper- siapkan diri sebaik mungkin. Kita berupaya memperbaharui diri dengan mengubah sikap, perilaku, tindakan, dan tutur-kata menjadi lebih baik. Itu berarti, persiapan diri yang dimaksud di sini lebih merupakan persiapan batin. Kita mempersiapkan batin kita sede- mikian rupa, agar layak menyam- but kedatangan pewahyuan Al- lah yang begitu sempurna dalam pribadi Yesus Kristus. Dengan de- mikian, kelahiran Kristus menjadi tanda dan sarana kelahiran kita menjadi manusia baru.

Persiapan diri mencapai kesempurnaannya dalam doa. St. Paulus, dalam suratnya yang per- tama kepada jemaat di Tesalonika, dengan tegas berkata bahwa setiap orang harus mempersiapkan dirinya dengan tidak bercacat dan kudus untuk menyambut ke- datangan Kristus (bdk. 1 Tes: 3:13). “Kudus” dan “tidak bercacat” melambangkan kesempurnaan. Sebagai pengikut Kristus yang sejati, kita tentu dipanggil pada kekudusan. Tuhan yang Maha ku- dus itu hanya layak disambut oleh manusia berhati murni, suci, dan tak bercela.

Kita memang makhluk yang berdosa, namun kerendahan hati kita untuk mengakui segala dosa di hadapan Allah dan komitmen yang kuat untuk mengubah diri membawa kita kepada kekudusan. Doa yang lahir dari kesadaran nurani yang murni untuk memo- hon belas kasihan Tuhan menjadi dasar bagi kekudusan kita. Oleh karena itu, dalam masa Adven ini, kita mesti berupaya menggapai kekudusan kita masing-masing dengan membuka hati dan mem- biarkan Allah berkarya dalam diri dan kehidupan kita.

Iman tanpa perbuatan adalah mati. Demikian kata St. Yakobus. Persiapan diri yang baik dalam menyongsong kelahiran Sang Putera menuntut iman yang penuh dan utuh dari kita. Agar bermakna, iman haruslah terejawantah dalam tindakan harian kita. Melayani sesama yang menderita, bersikap jujur, menghargai orang tua, berpikir positif, dan segala tindakan sederhana yang ber- makna lainnya, memperlihatkan seberapa teguh iman kita kepada Sang Juru Selamat. Inilah bentuk persiapan diri kita yang paling hakiki dalam menantikan Dia.

(Fr. Albertus Dino OFM)

 

 

 

 

Mengapa Indulgensi?

Pada tanggal 1-8 November ini Gereja membuka kesempatan kepada kita untuk mendoakan arwah saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia. Dan pada kesempatan ini kita dapat memohonkan kepada Tuhan: indulgensi baik penuh maupun sebagian, untuk mereka yang sudah meninggal yang kita kasihi. Banyak orang yang bingung dengan indulgensi ini. Untuk apakah sih indulgensi itu? Apakah itu hanya untuk mereka yang meninggal tanpa sempat menerima sakramen pengakuan dosasehinggauntukitukitaperlu memohonkan pengampunan atas dosa-dosa mereka? Lalu bagi yang sudah sempat mengaku dosa sebelum meninggal berarti tidak perlu donk!

Tentu saja semua saudara kita yang sudah meninggal memerlukan indulgensi karena indulgensi bukanlah penghapusan dosa tetapi pengurangan atau penghapusan hukuman atas dosa. Jadi meski dosa-dosa kita sudah diampuni oleh Tuhan tetapi itu tidak berarti bahwa hukuman dosa kita pun ikut terhapus. Bagi kita orang Indonesia, konsep ini memang kadang membingungkan karena pemikiran ini lebih sesuai dengan konsep pemikiran Barat.

Saya jadi ingat waktu saya masih sekolah di seminari Bogor. Pada waktu itu yang menjadi rektor kami adalah Pater Remedius Wijbrands, OFM. Saya waktu itu masih duduk di bangku kelas II siswa Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Pada suatu hari Minggu, di malam hari, saya dengan teman-teman, karena lapar, diamdiam mengambil sisa nasi di dapur dan makan sembunyi-sembunyi. Menurut peraturan seminari ketika itu, kami dilarang untuk makan di luar waktu makan. Sedang asyik-asyiknya kami makan, kami tak menyadari kedatangan Pater Rektor. Maka kamipun diminta menghadap beliau esok paginya dan kami dihukum tidak boleh menonton televisi seminggu penuh. Padahal nonton TV adalah satu-satunya hiburan kami saat itu. Keesokan harinya sayapun memberanikan diri menghadap beliau untuk mengakui kesalahan saya dan sekaligus minta maaf. Untunglah Pater Rektor berbaik hati memaa an seluruh kesalahan saya. Maka setelah bersalam an tanda bahwa saya diampuni segera saya bersorak dan dengan girang berkata pada beliau, “Pater jadi karena sudah diampuni saya sekarang boleh nonton TV dong?” Namun apa jawab beliau? “Ya untuk urusan kesalahan atau dosa kamu sudah saya maafkan dan saya ampuni, tapi hukuman atas kesalahanmu yakni seminggu tidak nonton TV tetap berjalan. Itu tidak hilang dengan diampuninya kesalahanmu.”

Oh, ternyata antara pengampunan dosa dan penghapusan hukuman dosa itu sesuatu yang berbeda dalam konsep pemikiran Barat. Pengampunan dosa berarti bahwa relasi dan hubungan kita dengan Allah sejak saat pengampunan itu dipulihkan lagi, karena dosa itu memutuskan relasi kita dengan Allah. Dengan diampuni dosa kita maka hubungan kita dengan Allah dipulihkan kembali, disambung kembali, itulah yang namanya rekonsiliasi. Namun, hukuman atas dosa tetap harus kita pikul dan kita jalani kecuali kalau kita mendapat penghapusan atas hukuman dosa atau yang kita kenal dengan nama indulgensi. Itulah mengapa indulgensi masih perlu kita mohonkan bagi saudara-saudari kita yang sudah meninggal.

Doa mohon indulgensi adalah sebuah bentuk solidaritas kasih kita pada mereka yang sudah meninggal karena untuk mendapatkan indulgensi itu kita harus selain mendoakan mereka selama 9 hari berturut-turut juga selama seminggu sebelum atau sesudah tanggal 2 November, yang merupakan hari saat kita memperingati arwah semua orang beriman, kita harus mengaku doa. Selama doa novena itu kita juga harus menyambut ekaristi kudus dan berdoa satu kali syahadat untukintensiPauspadabulantersebut. Bagi kita yang tidak tahu apa intensi Paus bulan tersebut cukup mendoakan bahwa syahadat ini dipersembahkanbagiintensiPaus.

Pertanyaan Reflektif:

1. Sudahkah Anda memanfaatkan dengan sebesar-besarnya anugerah yang diberikan Gereja untuk membantu mereka yang sudah meninggal?

2. Bagaimana peringatan arwah ini sungguh menjadi kesempatan bagi kita untuk solider dengan orang lain?

Thomas Ferry S, Ofm

Maria: Bunda yang Dijadikan Gereja

Apa yang anda inginkan ketika berdoa kepada Santa Maria, entah itu doa Rosario, Litani Santa Maria atau Novena tiga kali Salam Maria? Apakah karena Anda punya ujub, punya intensi, punya keinginan? Kita berharap dengan doa-doa yang kita haturkan, Bunda berkenan menghantarkannya kepada Allah agar dikabulkan. Kalau Bunda sendiri yang berbicara kemungkinan besar didengar Allah mengingat kedekatannya dengan Allah. Ia adalah putri Allah Bapa, bunda Allah Putra dan mempelai Allah Roh Kudus. Kalau itu jawabannya, hati hatilah! Sebab mungkin Anda sebenarnya tidak sedang berdevosi pada Bunda Maria tapi memanfaatkan Bunda Maria untuk devosi Anda pada ego sendiri. Akibatnya doa menjadi dosa!

Santo Fransiskus Assisi kiranya dapat kita teladani sehingga kita berdevosi secara benar kepada Bunda Maria. Menurut omas dari Celano, Santo Fransiskus tak hanya berdoa tetapi hidupnya sudah menjadi doa. Ia tak hanya berdoa kepada Maria tetapi seluruh hidupnya bagaikan sebuah untaian rosario yang indah dan layak dipersembahkan oleh Maria kepada Allah.

Salah satu kekhasan devosi Fransiskus kepada Bunda Maria tersirat dalam doa yang digubahnya sendiri yakni Salam kepada Santa Perawan Maria, katanya: “Salam, Tuan Putri, Ratu Suci, Santa Bunda Allah, Maria: Engkau adalah perawan yang dijadikan Gereja.” Gelar terakhir tersebut kiranya janggal dan jarang terdengar. Apa maksudnya ia menggelari Bunda Maria demikian?

Sebenarnya gelar itu bersumber pada teologi para bapa Gereja namun kemudian tak populer lagi bahkan sejak abad pertengahan sampai muncul lagi gelar yang mirip itu (Maria Model Bagi Gereja) dalam Dokumen Konsili Vatikan II: Lumen Gentium. Dalam gelar itu Fransiskus menghormati Bunda Maria karena kesediaannya untuk berperan dalam sejarah keselamatan. Ia mau dipilih Allah untuk menjadi Bunda yang mengandung dan melahirkan Yesus Kristus demi keselamatan kita.

Ketika Fransiskus diminta Tuhan melalui suara yang ia dengar dari salib di Gereja San Damiano: “Perbaikilah Gereja-Ku yang kaulihat nyaris roboh ini.” Fransiskus sadar bahwa untuk merenovasinya, ia butuh acuan atau model. Sama seperti kita ketika mau membangun kembali rumah harus punya model atau gambarnya sebagai acuan. Fransiskus menemukan acuan atau model pembaharuan Gereja itu justru dalam diri Maria. Maria tak hanya mengandung dan melahirkan Yesus secara fisik tetapi juga secara rohani dengan secara sempurna mengikuti Yesus, Putran ya. Salah satunya: sama seperti Yesus, Santa Maria pun “menjadi miskin serta penumpang dan hidup dari sedekah.” Karena Gereja bukan gedung tapi persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus. Maka membangun Gereja dengan menjadikan Maria sebagai model artinya berupaya agar kita semua berjuang menjadikan diri kita seperti Maria, model Gereja, model kita semua. Menurutnya, kita menjadi ibu bila kita mengandung Yesus di dalam hati dan tubuh kita karena kasih Ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih; kita melahirkan Yesus melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain.

Mengandung Yesus berarti menyimpan sabda-Nya dan selalu mendengarkan-Nya berbicara lewat hati nurani kita. Sedangkan melahirkan Yesus berarti berbuat kebaikan demi menjalankan sabda dan kehendak Tuhan. Maka berdevosi bukan hanya soal bagaimana doa kita dikabulkan tapi bagaimana kita belajar memahami dan menerima kehendak Allah lewat

bersyukur bila doa terkabul, sebaliknya sabar, ikhlas, tidak kecewa atau protes bila belum dikabulkan Tuhan. Kita percaya entah dikabulkan atau tidak, Tuhan pasti memberi yang terbaik bagi kita semua lebih dari yang kita harapkan

dan bayangkan. Itulah bakti atau devosi Maria kepada Bapa yang hendaknya menginspirasi kita agar sungguh-sungguh berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria.

Pertanyaan Reflektif

1. Selama ini sudahkan Anda berdoa secara benar atau sebenarnya Anda malahan sedang berdosa dengan doa Anda sendiri?

2. Bagaimanakah Anda belajar memahami kehendak Bapa dalam novena yang Anda doakan?

Doa di Depan Salib : RP. Thomas Ferry, OFM

Doa di Depan Salib

RP. Thomas Ferry, OFM

Peristiwa salib memberikan pengaruh yang besar dalam hidup Santo Fransiskus. Ada dua doa yang digubah Fransiskus di depan salib yaitu doa di hadapan Salib San Damiano dan doa di depan salib. Tulisan sederhana ini akan mengulas tentang doa di depan salib.

                “Tuhan memberi aku anugerah dalam gereja-gereja, kepercayaan yang sedemikian besar, sehingga aku biasa berdoa secara sederhana dengan kata-kata ini:

”Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.”

Doa tersebut sebenarnya bukan doa yang digubah oleh Fransiskus sendiri. Doa tersebut merupakan sebuah doa liturgis yang mungkin sudah dikenal oleh Fransiskus sejak masa mudanya.

Rumusan yang sama dapat kita temukan Madah Jumat Agung. Rumusan liturgi yang ada dalam ibadat harian dan madah tersebut di atas adalah sebagai berikut:

Kami menyembah Engau ya Kristus, dan mengucap syukur kepada-Mu karena dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.

Kalau kita perhatikan rumusan yang dipakai Fransiskus lebih panjang dari rumusan yang ada dalam ibadat harian. Rupanya Fransiskus menambahkan ke dalam rumusan tersebut, kata-kata yang ia gubah sendiri: Tuhan Yesus Kristus yang ada di sini dan di semua Gereja-Mu di seluruh dunia. Makna apa yang kini membedakan rumusan liturgi yang umum dengan rumusan yang digubah oleh Fransiskus?

  1. Dari “Kristus” menjadi “Tuhan Yesus Kristus”.

Pada masa hidup Fransiskus, iman Kristen masih terlalu menekankan Kristus yang bangkit mulia.  Sementara itu Fransiskus justru terpesona akan Yesus sebagai pribadi yang merendahkan diri dengan lahir sebagai manusia tak berdaya dalam peristiwa Allah menjadi manusia (inkarnasi), wafat dan sengsara di salib dan Ekaristi. Penyebutan “Tuhan Yesus Kristus” menunjukkan pemahaman Fransiskus yang seimbang dan harmonis akan pribadi Tuhan yang adalah Yesus, sungguh manusia, dan sekaligus Kristus, sungguh Allah. Terhadap misteri ini Fransiskus sampai berseru, “O perendahan diri yang luhur! O keluhuran yang merendah!” (Surat Fransiskus untuk Orang-orang Beriman 27).

  1. Penambahan: di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia.

Seluruh dunia telah disucikan dengan darah Kristus tersalib sehingga seluruh dunia menjadi tempat kudus. Maka bagi Fransiskus tak ada pembedaan sikap antara di dalam gereja dan di luar gereja. Kalau kita terbiasa untuk bersikap sopan, berkata santun di dalam gereja maka sikap itupun mesti diwujudkan di luar gereja. Dalam Gita Sang Surya Fransiskus menyatakan bahwa seluruh dunia dan seisi semesta adalah tempat kudus, tempat kehadiran Allah. Allah dapat ditemui juga dalam alam semesta, sehingga bukan hanya kita manusia tetapi juga seluruh semesta hendaknya berpadu dalam puji-pujian kepada Allah.

  1. Penambahan: dari “salib-Mu” menjadi “salib suci-Mu”

Bagi Fransiskus, segala sesuatu yang menghubungkan kita dengan Tuhan adalah suci. Maka apapun yang terkait dengan Tuhan harus diperlakukan secara istimewa. Dalam wasiatnya, ia mengingatkan para pengikutnya demikian, “Nama-Nya yang tersuci dan firman-Nya yang tertulis, di mana pun juga kudapati di tempat yang tidak semestinya, mau kukumpulkan, dan aku minta agar dikumpulkan dan ditaruh di tempat yang pantas.”(Was. 12). Maka salib Tuhan adalah suci karena selalu mengingatkan kita pada peristiwa penebusan dosa yang dilakukan Kristus. Bagi Fransiskus, salib juga mengingatkannya akan Salib San Damiano.

Spiritualitas doa

”Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang   ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.”

 “… kami…

Berbeda dengan doa di depan Salib San Damiano, di mana Fransiskus memakai kata aku yang karenanya bersifat lebih pribadi, dalam doa ini dipakai kata kami untuk menunjukkan bahwa meskipun kita mendoakannya sendirian namun kita sedang berdoa bersama seluruh Gereja di dunia: berdoa bersama Gereja dan untuk kepentingan Gereja di seluruh dunia. Dengan doa ini, Fransiskus mengajak kita untuk memiliki “sense of universality”: menyadari keberadaan kita yang selalu ada bersama dengan semua di seluruh dunia. Semua yang memuji dan menyembah Allah itulah juga saudara dan saudari kita.

“… kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus… “

Ketika Yesus mengajar kita berdoa, pertama-tama Ia mengajak kita untuk bersembah sujud kepada Allah Bapa: dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu. Fransiskus mengajarkan agar  kita menyembah Allah tak hanya dengan badan tetapi dengan seluruh jiwa. Dalam sikap sembah bakti itulah Fransiskus menyadari keberadaan dasar manusia yang rendah di hadapan Allah, karena kita ini hanyalah ciptaan. Sasa merendah ini berpadu dengan ucapan syukur karena meski kita ini hanya mahkluk rendah dan kecil tetapi Allah mengasihi mereka dengan cinta yang begitu besar hingga mengutus Putra tunggal satu-satunya untuk hadir menjadi manusia. Melalui sengsara dan salib-Nya, Ia menyerahkan nyawa bagi keselamatan manusia Dalam diri Fransiskus kita bisa melihat bahwa sikap adorasi yang benar selalu berpengaruh pada sikap sikap terhadap orang lain dengan melihat yang lain sebagai saudara. Bila sikap kita meremehkan dan merendahkan orang lain itu tanda bahwa kita belum menyembah Tuhan secara benar dan sungguh-sungguh.

“… di sini dan di semua Gereja-Mu, yang ada di seluruh dunia… “

Setiap Natal dan Paska, Bapa Suci selalu memberikan berkat Urbi Et Orbi, berkat untuk kota (Vatican) dan dunia. Bapa Suci dengan berkat itu mempersatukan Gereja yang ada dan terwujud nyata di sekitarnya dengan gereja yang ada di seluruh dunia. Setiap kali Fransiskus berada di suatu gereja maka ia sadar bahwa gereja yang ia lihat saat itu bukan suatu Gereja yang berdiri sendiri tetapi Gereja yang ada dalam kesatuan dengan Gereja-gereja lainnya di seluruh dunia, bahkan melampaui dunia: Gereja yang masih berjuang di api pencucian dan Gereja yang sudah mulia di surga.

“dan kami menyembah Dikau…”

Sembah bakti atau adorasi terwujud dalam pujian atas kemuliaan Allah. Bagi Fransiskus kebahagiaan manusia yang pertama bukanlah bila doa dan permohonannya dikabulkan tetapi bila manusia layak dan diperkenankan turut serta memuji kemuliaan Allah bersama dengan paduan para malaikat dan para kudus di surga. Meskipun manusia berdosa dan melupakan Allah, Dia tak berbuat serupa dan tak membalasnya dengan kutuk dan hukuman melainkan mengutus Putra-Nya untuk membebaskan kita melalui  sengsara dan wafatnya di salib.

“… sebab dengan salib sucimu Engkau telah menebus dunia… “

Misteri penebusan Kristus adalah sebab utama mengapa kita harus menghaturkan sembah-bakti, syukur terima kasih kita. Oleh karena penebusan Kristuslah kita dibebaskan dari belenggu dosa. Tapi kebebasan ini bukan hanya kebebasan dari dosa tetapi juga harus punya tujuan: kebebasan untuk memuji dan menyembah Allah, Pencipta dan Penebus kita. Syukur dan pujian ini selalu menggerakkan Fransiskus untuk mengajak semua ciptaan berpadu dalam pujian dan syukur yang sama karena untuk itulah kita diciptakan dan ditebus.

            Berdoa bersama Fransiskus di depan salib ini mengundang kita untuk untuk menempatkan adorasi, pujian dan syukur atas kebaikan dan kemuliaan Allah Tritunggal sebagai yang pertama dan utama jauh melampaui dan mendahului segala permohonan yang biasanya menjadi pusat doa kita. Fransiskus tergerak oleh kata-kata Yesus yang bersabda, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Mat. 6:33) Ketika Allah sungguh merajai hidup kita, maka serentak kita pun akan merasakan kebahagiaan yang tertinggi yaitu keselamatan yang dari Allah. Dan dalam keselamatan ini, kita tak perlu lagi mohon ini dan itu karena semuanya sudah dicukupkan bagi kita. Deus meus et omnia. Allahku adalah segalanya bagiku

Bahan Pustaka Acuan:

LEONHARD LEHMANN, Francesco, maestro di preghiera, Instituto Storico dei Cappuccini, Roma, 1993.

FILIPPO SEDDA & JACQUES DALARUN (Editor),  Franciscus Liturgicus, Editrice Franciscanae, Padova, 2015

Fonti Franciscanae,  Editrice Franciscanae, Padova, 2011.

Renungan : Minggu, 3 September 2017 “KAMU ADALAH SAUDARAKU”

Kamu Adalah Saudaraku

            renungan 3 septDemikianlah para fransiskan-fransiskanes (sebutan untuk mereka yang mengikuti cara hidup St. Fransiskus Assisi) memanggil sesama yang lain, bahkan alam di sekitarnya. Mereka menyapa orang lain sebagai saudara dan saudarinya. Bumi dipanggil sebagai saudari dan matahari sebagai saudara. Semua yang diciptakan Tuhan dilihat dalam perspektif persaudaraan danbukan sebagai ancaman bahkan bukan sebagai lawan.

            Semangat hidup bersama yang dijiwai oleh keyakinan bahwa kita semua bersaudara adalah ciri mendasar hidup semua orang yang mencintai St. Fransiskus Assisi. Kesaksian hidup Si Miskin dari Asisi menginspirasi banyak orang untuk hidup bersaudara dalam kesederhanaan dengan sesama dan alam semesta di sekitar kita.

            “Kamu adalah saudaraku” adalah pilihan hidup yang berakar kuat pada Kitab Suci, dan sangat kontekstual dengan kondisi hidup kita khususnya pada saat ini, dimana individualisme dan fenomena populisme meraja lela. Individualisme menjebak hidup kita dalam kesendirian dan ketertutupan satu sama lain. Populisme merampas semangat persaudaraan hidup bersama karena ada dan menyebarnya virus ketakutan dan virus kebencian terhadap kehadiran orang lain.

Hidup Dalam Gempuran Populisme

            Beberapa hari terakhir ini, kita dikejutkan dengan terbongkarnya peran kelompok Saracen yang telah menghancurkan semangat persaudaraan dalam hidup bersama kita. Saracen ini telah menyebarkan semangat permusuhan dan perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat kita, sebagai satu bangsa, Indonesia. Penyebaran semangat permusuhan ini dilakukan dengan memproduksi berita-berita atau informasi bohong atau yang tidak benar, dan juga mem-viral-kan atau menyebarluaskan kata-kata kebencian dan kata-kata yang mengadu domba antara pembacanya. Saracen melakukan tindakan tidak terpuji tersebut lewat media sosial secara kontinu dan berdasarkan pesanan oknum-oknum tertentu yang membayar para anggota Saracen.

Kisah yang menyedihkan dan menyakitkan hati bangsa terjadi juga pada Selasa, 1 Agustus 2017. Awal Agustus, bulan kemerdekaan bangsa Indonesia,bertempat di kawasan Pasar Muara, Bekasi, seorang pria yang bernama M Alzahra atau Joya (30 tahun) – maaf -, dibakar hidup-hidup oleh kerumunan orang. Massa atau mob tidak lagi percaya pada hukum yang berlaku dan bertindak main hakim sendiri. Tindakan keji ini dipicu atas dugaan bahwa saudara Joya telah mencuri amplifier atau mesin pengeras suara di Musala Al Hidayah, Kampung Cabang Empat, RT 02 RW 01, Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi. Joya, yang dikenal sebagai tukang reparasi amplifier tersebut, meregang nyawa dalam kobaran api dan akhirnya meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang anak dan seorang isteri (25 tahun) yang sedang mengandung 6 bulan. Tragis!

            Kisah pilu hidup Joya yang dihakimi massa dan peran Saracen yang telah bertindak sebagai penyebar kebencian dan hasutan untuk bermusuhan adalah contoh-contoh kondisi “sakitnya” kehidupan bersama kita sebagai bangsa Indonesia. Kita mudah percaya dan terprovokasi oleh berita-berita palsu atau teriakan-teriakan menghasut. Sikap-sikap hidup kita bahkan sangat dipengaruhi oleh berita hoax dan murahan tersebut. 

            Dalam jargon politik, apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita saat ini dengan dua contoh yang disampaikan sebelumnya adalah tanda nyata dari adanya gerakan populisme. Populisme berasal dari bahasa latin populus yang berarti rakyat. Populisme dapat dipahami sebagai gerakan rakyat yang muncul karena adanya ketidakpuasan pada sistem politik yang ada. Dalam fenomena populisme ini, rakyat menyatakan ketidakpuasannya dengan aksi-aksi jalanan dan bergerilya di media sosial dalam mengecam dan melawan sistem politik, khususnya demokrasi, seperti yang sudah kita miliki.

Namun demikian, kita harus berhati-hati memahami kata “rakyat” dalam populisme. Rakyat disini bukanlah warga negara, orang-orang yang bekerja dan terlibat dalam partai atau asosiasi-asosiasi tertentu. Rakyat (populus) dalam populisme adalah sekelompok orang atau massa yang tidak terbedakan, tidak terdiferensiasi. Mereka adalah kerumunan atau mob yang bertindak seturut pandangan (baca:perasaan) mereka benar, tidak mengakui dan menerima norma atau hukum bersama yang berlaku, dan  cenderung terarah pada kekerasan.

Kita hidup dalam gempuran populisme yang telah menyebabkan rasa takut dan curigasebagai bagian dalam hidup kita sehari-hari. Kehadiran orang lain dilihat sebagai ancaman dan musuh. Curiga dan takut terhadap orang lain atau sesuatu yang lain membuat kita menutup diri, tidak bebas dan hidup dalam keragu-raguan. Dalam ketakutan dan kecurigaan hidup, kita mudah dihasut untuk menyebarkan berita-berita bohong, hoax, mem-viral-kan kata-kata kebencian (hate-speech) dan menghancurkan relasi hidup bersama serta bersaudara sebagaimana dilakukan kelompok Saracen. Dalam ketakutan dan kecurigaan hidup, kita pun mudah diprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan melukai serta mengakhiri hak hidup orang lain seperti dilakukan massa atau mob dalam peristiwa memilukan dibakarnya Joya karena diduga mencuri amplifier.

Hidup Bersaudara Ala Fransiskan 

            Berhadapan dengan situasi populisme yang sedang terjadi, semangat hidup para fransiskan – salah satu nilainya – persaudaraan menjadi urgen dan aktual. Hidup bersama sebagai saudara dan saudari adalah karakter dan cara hidup para pengikut St. Fransiskus Assisi yang dapat memberikan perubahan terhadap suasana saling curiga dan takut serta tindakan kekerasan kepada orang lain atau sesama kita.

            St. Fransiskus Assisi menyebut para pengikut awalnya tidak sebagai teman-teman sepanggilan atau kawan-kawan seperjalanan atau bahkan bawahannya. Ia menyebut mereka sebagai saudara-saudaranya.Dalam tulisan-tulisan yang ditinggalkan kepada kita, ada sekitar 306 kali, Bapa Serafik ini menyebut kata “saudara”. Dalam tulisan paling awalnya tentang peraturan hidup para Fransiskan, yakni Anggaran Tanpa Bulla (baca: anggaran dasar untuk aturan hidup para Fransiskan yang belum mendapat surat peneguhan dari pihak pimpinan Gereja), St. Fransiskus Assisi menulis dengan jelas kepada para pengikutnya, “Kamu semua adalah saudara” (AngTBul, 22:33). Bagi Santo Pelindung Ekologi ini, kita semua adalah saudara. Alam semesta, anda dan saya adalah saudara dan saudari. Kita bukanlah musuh yang saling mengancam sehingga selalu bersikap curiga. Sebaliknya kita semua adalah saudara, yang diajak untuk bersikap peduli dan memberi perhatian satu dengan yang lain.

            Keyakinan bahwa kita semua adalah saudara dan saudari dalam Allah itulah yang meneguhkan St. Fransiskus Assisi bahwa,semua pengikutnya (baca: para fransiskan-fransiskanes serta semua orang yang mencintai gaya hidup St. Fransiskus Assisi) adalah anugerah dari Allah baginya. “Sesudah Tuhan memberi aku sejumlah saudara…” demikianlah salah satu kalimat dari Wasiat St. Fransiskus Assisi. Ia melihat dan menyadari sungguh-sungguh bahwa para pengikutnya adalah saudara dan saudari yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Dengan demikian, bersaudara adalah cara hidup yang terberi dan berahmat dari Allah sendiri bagi para saudara fransiskan.

            Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup Yesus dengan para murid-Nya  adalah inspirasi utama dari hidup bersaudara yang dihayati dan dilaksanakan oleh St. Fransiskus Assisi serta para pengikut-Nya.Kitab Suci adalah dasar utama bagi St. Fransiskus Assisi dalam membangun semangat hidup bersaudara dalam persaudaraannya. Dalam Injil Matius, Yesus mengatakan dengan jelas bahwa kita semua bersaudara. “Kamu semua adalah saudara.” (Mat. 23:8). Bagi Yesus dan Gereja Katolik, tidak ada kelas atas-atasan dan kelas bawah-bawahan atau tuan dan hamba. Sebaliknya, kabar gembira dalam iman pada Yesus Kristus adalah kita semua bersaudara, satu dalam iman kepada Bapa di Surga. Kita bersaudara, bukan karena kita memiliki pertalian darah dari orang tua yang sama atau dari suku dan budaya yang sama. Sebaliknya, kita bersaudara karena didasarkan pada martabat kita sebagai anak-anak Allah dan sebagai anak-anak Allah, kita adalah saudara dan saudari antara yang satu dengan yang lain.

            Jelaslah persaudaraan dalam contoh hidup Yesus dan para murid adalah persaudaraan yang mau dihidupkan oleh St. Fransiskus dan para Fransiskan. Ciri hidup bersaudara ala Fransiskan adalah sebagai berikut. Pertama, sikap peduli kepada sesama dan alam layaknya seorang ibu yang memberi kasih kepada anaknya. “Saudara yang satu hendaknya dengan leluasa menyatakan kebutuhannya kepada yang lain,…[dan], harus mengasihi dan mengasuh saudaranya, seperti seorang ibu mengasihi dan mengasuh anaknya sendiri.” (AngTBul, 9:12). Kasih ibu yang tak terbatas kepada anaknya adalah kasih yang harus menjadi dasar dan harus dimiliki oleh para pengikut St. Fransiskus Assisi dalam berelasi dengan sesama manusia dan alam semesta. Sesama kita dan alam semesta hadir untuk dikasihi dan diasuh, bukan untuk dihancurkan dan dieksploitasi. Kedua, hidup bersaudara mensyaratkan adanya sikap saling menerima, melayani dan menghormati satu sama lain. “Di mana pun saudara-saudara berada dan di tempat mana pun mereka bertemu, haruslah mereka saling menerima dengan saksama dan saling menghormati sebagai manusia rohani.” (AngTBul, 7:38). Bersaudara berarti mampu menerima saudara lain apa adanya. Tidak saja menerima tapi juga bersedia untuk melayani dengan sikap hormat yang pantas. Prioritas saudara yang dilayani dan dihormati adalah mereka yang sakit. “Jika seorang saudara tertinggal karena sakit, di mana pun juga dia berada, saudara-saudara lainnya tidak boleh membiarkannya, kecuali kalau ada seorang saudara atau beberapa, bila perlu, yang ditunjuk untuk melayaninya, sebagaimana mereka sendiri ingin dilayani.” (AngTBul, 10:1).Ketiga, menyapa saudara lain yang tidak hidup sesuai kehendak Tuhan dengan penuh bijak, kasih dan terarah pada perubahan orang tersebut. Ketika ada saudara-saudara yang berdosa atau tidak hidup sesuai kehendak Allah yang tersurat dalam aturan hidup para Fransiskan, maka St. Fransiskus meminta agar mereka ditegur tiga kali agar ia mampu memperbaiki dirinya. Jika ia tetap bersikeras dengan dosanya dan tidak mau berubah, maka minister – pemimpin tertinggi fransiskan – mencari jalan keluar yang terbaik demi saudara yang berdosa itu sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Mari Bersaudara Melawan Populisme

            Demikianlah dalam kepungan dan gempuran populisme yang mengedepankan rasa takut dan curiga terhadap orang lain, kita diundang kembali mempraktikkan hidup bersaudara demi membangun hidup bersama yang saling percaya dan terbuka satu dengan yang lain. Kalau populisme telah mengantar kita untuk melihat sesama kita sebagai musuh, saingan dan ancaman seperti serigala bagi sesamanya (homo homini lupus), semangat persaudaraan ala Fransiskan sebaliknya mengajak kita untuk melihat orang lain sebagai saudara dan saudari bagi kita. Bagi roh dan cara hidup Fransiskan yang berdasarkan pada Kitab Suci, hidup bersaudara adalah kesaksian iman yang otentik dan tepat sebagai anak-anak Allah di dunia ini.

            Kita bersama dipanggil untuk mengaktualisasikan semangat hidup bersaudara dalam perbedaan yang kita miliki baik dalam Gereja Katolik Roma maupun dalam hidup berbangsa, Indonesia. Sebagaimana kita refleksikan sebelumnya, iman pada Yesus Kristus yang teguh telah mengantar St. Fransiskus dan para fransiskan-fransiskanes untuk berusaha terus menerus menyebarkan dan mem-viral-kan semangat hidup bersaudara. Mari jalan bersama para pengikut St Fransiskus Assisi karena “kamu adalah saudaraku”.

Oleh: Sdr. Hieronimus Yoseph Dei Rupa, OFM

 

 

Cerpen : Salib Tanda Kemenangan dan Kesaksian Iman Kita

Aku seorang Katolik. Aku sadar bahwa banyak kekuranganku, terutama imanku. Jarang membaca Kitab Suci, menyakiti sesama, jarang mengikuti misa, sekalinya misa kadang aku tidak terlalu fokus. Bahkan ada hal-hal kecil yang seringkali aku abaikan, yakni untuk memulai makan yang seharusnya diawali dengan doa bukan? Mengapa rasanya seperti takut atau ada perasaan yang membuatku enggan membuat tanda kemenangan didepan orang banyak.

Suatu hari, aku mendengarkan homili dari seorang romo yang membawaku masuk dalam permenungan batin.“Saudara-saudara terkasih, kita seharusnya patut bersyukur, karena kita dapat memuji dan memuliakan nama Tuhan dengan khidmat dan tenang. Lihat saudara-saudara kita yang tetap memiliki kerinduan dan keinginan yang kuat untuk beribadah, meskipun harus menerima tekanan dan desakan dari mana-mana. Banyak saudara-saudara kita yang masih kesulitan dalam membangun rumah ibadah atau bahkan untuk berkumpul dalam suatu bangunan pun terasa begitu sulit. Jangan jadikan keberadaan kita ditengah-tengah kaum mayoritas sebagai suatu penghalang dalam mewartakan Kristus. Sebenarnya hal-hal seperti itu bisa kita atasi bersama. Coba telisik lagi kurangnya pada diri kita masing-masing apa. Kita kurang menjalin kebersamaan antar sesama, yang membuat orang lain tidak mengenal kita. Tidak mengenal diri kita. Selain menjalin komunikasi yang harmonis dengan sesama, mulailah juga untuk berani memperkenalkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah kita memulai doa dengan tanda kemenangan saat ingin makan dalam keramaian? Atau memulai menjalankan aktivitas seperti di sekolah, kampus atau kantordengan doa. Jika hal itu saja kita masih canggung untuk melakukannya, bagaimana kita mau memperkenalkan Kristus kepada orang lain, biarlah ini menjadi identitas kita sebagai seorang Katolik.” tegas Romo dalam homilinya. Cerita Romo ini sangat menegur hidupku. Mungkin ini cara Tuhan untuk menyadarkanku bahwa memang menjadi pengikut Kristus tidaklah mudah. Namun selalu ada cara dan pertolongan Tuhan yang selalu menyertai kita.

Sejak saat itu, aku sadar dan mulai mendekatkan diriku kembali pada Allah. Memulai segala aktivitas dengan doa dan tak lupa dengan tanda kemenangan yang diajarkan-Nya. Aku juga mulai ikut komunitas Kitab Suci di gerejaku,dengan harapanagar lebih mendalami dan memahami konsekuensi menjadi seorang pengikut Kristus itu.

-Selesai-

Hari Minggu Kitab Suci Nasional yang kita rayakan hari ini menjadi suatu perayaan yang mengingatkan kita akan pentingnya membaca Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya untuk lebih mengenal Kristus tetapi juga baik untuk perkembangan iman kita sendiri. “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Bdk. Mat 16:25). Kutipan Injil pada hari ini mengingatkan kita bahwa untuk menjadi pengikut Kristus kita tidak perlu takut kehilanganyan nyawa kita karena Kristus senantiasa menyertai kita semua umat-Nya. Semoga cerita singkat di atas menjadi renungan yang baik bagi kita semua agar kita selalu berani menyatakan iman kita akan Kristus dan rajin membaca Kitab Suci untuk lebih mengenal-Nya. (Priscilla & Arnold)

cerpen