Doa di Depan Salib : RP. Thomas Ferry, OFM

Doa di Depan Salib

RP. Thomas Ferry, OFM

Peristiwa salib memberikan pengaruh yang besar dalam hidup Santo Fransiskus. Ada dua doa yang digubah Fransiskus di depan salib yaitu doa di hadapan Salib San Damiano dan doa di depan salib. Tulisan sederhana ini akan mengulas tentang doa di depan salib.

                “Tuhan memberi aku anugerah dalam gereja-gereja, kepercayaan yang sedemikian besar, sehingga aku biasa berdoa secara sederhana dengan kata-kata ini:

”Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.”

Doa tersebut sebenarnya bukan doa yang digubah oleh Fransiskus sendiri. Doa tersebut merupakan sebuah doa liturgis yang mungkin sudah dikenal oleh Fransiskus sejak masa mudanya.

Rumusan yang sama dapat kita temukan Madah Jumat Agung. Rumusan liturgi yang ada dalam ibadat harian dan madah tersebut di atas adalah sebagai berikut:

Kami menyembah Engau ya Kristus, dan mengucap syukur kepada-Mu karena dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.

Kalau kita perhatikan rumusan yang dipakai Fransiskus lebih panjang dari rumusan yang ada dalam ibadat harian. Rupanya Fransiskus menambahkan ke dalam rumusan tersebut, kata-kata yang ia gubah sendiri: Tuhan Yesus Kristus yang ada di sini dan di semua Gereja-Mu di seluruh dunia. Makna apa yang kini membedakan rumusan liturgi yang umum dengan rumusan yang digubah oleh Fransiskus?

  1. Dari “Kristus” menjadi “Tuhan Yesus Kristus”.

Pada masa hidup Fransiskus, iman Kristen masih terlalu menekankan Kristus yang bangkit mulia.  Sementara itu Fransiskus justru terpesona akan Yesus sebagai pribadi yang merendahkan diri dengan lahir sebagai manusia tak berdaya dalam peristiwa Allah menjadi manusia (inkarnasi), wafat dan sengsara di salib dan Ekaristi. Penyebutan “Tuhan Yesus Kristus” menunjukkan pemahaman Fransiskus yang seimbang dan harmonis akan pribadi Tuhan yang adalah Yesus, sungguh manusia, dan sekaligus Kristus, sungguh Allah. Terhadap misteri ini Fransiskus sampai berseru, “O perendahan diri yang luhur! O keluhuran yang merendah!” (Surat Fransiskus untuk Orang-orang Beriman 27).

  1. Penambahan: di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia.

Seluruh dunia telah disucikan dengan darah Kristus tersalib sehingga seluruh dunia menjadi tempat kudus. Maka bagi Fransiskus tak ada pembedaan sikap antara di dalam gereja dan di luar gereja. Kalau kita terbiasa untuk bersikap sopan, berkata santun di dalam gereja maka sikap itupun mesti diwujudkan di luar gereja. Dalam Gita Sang Surya Fransiskus menyatakan bahwa seluruh dunia dan seisi semesta adalah tempat kudus, tempat kehadiran Allah. Allah dapat ditemui juga dalam alam semesta, sehingga bukan hanya kita manusia tetapi juga seluruh semesta hendaknya berpadu dalam puji-pujian kepada Allah.

  1. Penambahan: dari “salib-Mu” menjadi “salib suci-Mu”

Bagi Fransiskus, segala sesuatu yang menghubungkan kita dengan Tuhan adalah suci. Maka apapun yang terkait dengan Tuhan harus diperlakukan secara istimewa. Dalam wasiatnya, ia mengingatkan para pengikutnya demikian, “Nama-Nya yang tersuci dan firman-Nya yang tertulis, di mana pun juga kudapati di tempat yang tidak semestinya, mau kukumpulkan, dan aku minta agar dikumpulkan dan ditaruh di tempat yang pantas.”(Was. 12). Maka salib Tuhan adalah suci karena selalu mengingatkan kita pada peristiwa penebusan dosa yang dilakukan Kristus. Bagi Fransiskus, salib juga mengingatkannya akan Salib San Damiano.

Spiritualitas doa

”Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang   ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.”

 “… kami…

Berbeda dengan doa di depan Salib San Damiano, di mana Fransiskus memakai kata aku yang karenanya bersifat lebih pribadi, dalam doa ini dipakai kata kami untuk menunjukkan bahwa meskipun kita mendoakannya sendirian namun kita sedang berdoa bersama seluruh Gereja di dunia: berdoa bersama Gereja dan untuk kepentingan Gereja di seluruh dunia. Dengan doa ini, Fransiskus mengajak kita untuk memiliki “sense of universality”: menyadari keberadaan kita yang selalu ada bersama dengan semua di seluruh dunia. Semua yang memuji dan menyembah Allah itulah juga saudara dan saudari kita.

“… kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus… “

Ketika Yesus mengajar kita berdoa, pertama-tama Ia mengajak kita untuk bersembah sujud kepada Allah Bapa: dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu. Fransiskus mengajarkan agar  kita menyembah Allah tak hanya dengan badan tetapi dengan seluruh jiwa. Dalam sikap sembah bakti itulah Fransiskus menyadari keberadaan dasar manusia yang rendah di hadapan Allah, karena kita ini hanyalah ciptaan. Sasa merendah ini berpadu dengan ucapan syukur karena meski kita ini hanya mahkluk rendah dan kecil tetapi Allah mengasihi mereka dengan cinta yang begitu besar hingga mengutus Putra tunggal satu-satunya untuk hadir menjadi manusia. Melalui sengsara dan salib-Nya, Ia menyerahkan nyawa bagi keselamatan manusia Dalam diri Fransiskus kita bisa melihat bahwa sikap adorasi yang benar selalu berpengaruh pada sikap sikap terhadap orang lain dengan melihat yang lain sebagai saudara. Bila sikap kita meremehkan dan merendahkan orang lain itu tanda bahwa kita belum menyembah Tuhan secara benar dan sungguh-sungguh.

“… di sini dan di semua Gereja-Mu, yang ada di seluruh dunia… “

Setiap Natal dan Paska, Bapa Suci selalu memberikan berkat Urbi Et Orbi, berkat untuk kota (Vatican) dan dunia. Bapa Suci dengan berkat itu mempersatukan Gereja yang ada dan terwujud nyata di sekitarnya dengan gereja yang ada di seluruh dunia. Setiap kali Fransiskus berada di suatu gereja maka ia sadar bahwa gereja yang ia lihat saat itu bukan suatu Gereja yang berdiri sendiri tetapi Gereja yang ada dalam kesatuan dengan Gereja-gereja lainnya di seluruh dunia, bahkan melampaui dunia: Gereja yang masih berjuang di api pencucian dan Gereja yang sudah mulia di surga.

“dan kami menyembah Dikau…”

Sembah bakti atau adorasi terwujud dalam pujian atas kemuliaan Allah. Bagi Fransiskus kebahagiaan manusia yang pertama bukanlah bila doa dan permohonannya dikabulkan tetapi bila manusia layak dan diperkenankan turut serta memuji kemuliaan Allah bersama dengan paduan para malaikat dan para kudus di surga. Meskipun manusia berdosa dan melupakan Allah, Dia tak berbuat serupa dan tak membalasnya dengan kutuk dan hukuman melainkan mengutus Putra-Nya untuk membebaskan kita melalui  sengsara dan wafatnya di salib.

“… sebab dengan salib sucimu Engkau telah menebus dunia… “

Misteri penebusan Kristus adalah sebab utama mengapa kita harus menghaturkan sembah-bakti, syukur terima kasih kita. Oleh karena penebusan Kristuslah kita dibebaskan dari belenggu dosa. Tapi kebebasan ini bukan hanya kebebasan dari dosa tetapi juga harus punya tujuan: kebebasan untuk memuji dan menyembah Allah, Pencipta dan Penebus kita. Syukur dan pujian ini selalu menggerakkan Fransiskus untuk mengajak semua ciptaan berpadu dalam pujian dan syukur yang sama karena untuk itulah kita diciptakan dan ditebus.

            Berdoa bersama Fransiskus di depan salib ini mengundang kita untuk untuk menempatkan adorasi, pujian dan syukur atas kebaikan dan kemuliaan Allah Tritunggal sebagai yang pertama dan utama jauh melampaui dan mendahului segala permohonan yang biasanya menjadi pusat doa kita. Fransiskus tergerak oleh kata-kata Yesus yang bersabda, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Mat. 6:33) Ketika Allah sungguh merajai hidup kita, maka serentak kita pun akan merasakan kebahagiaan yang tertinggi yaitu keselamatan yang dari Allah. Dan dalam keselamatan ini, kita tak perlu lagi mohon ini dan itu karena semuanya sudah dicukupkan bagi kita. Deus meus et omnia. Allahku adalah segalanya bagiku

Bahan Pustaka Acuan:

LEONHARD LEHMANN, Francesco, maestro di preghiera, Instituto Storico dei Cappuccini, Roma, 1993.

FILIPPO SEDDA & JACQUES DALARUN (Editor),  Franciscus Liturgicus, Editrice Franciscanae, Padova, 2015

Fonti Franciscanae,  Editrice Franciscanae, Padova, 2011.

Renungan : Minggu, 3 September 2017 “KAMU ADALAH SAUDARAKU”

Kamu Adalah Saudaraku

            renungan 3 septDemikianlah para fransiskan-fransiskanes (sebutan untuk mereka yang mengikuti cara hidup St. Fransiskus Assisi) memanggil sesama yang lain, bahkan alam di sekitarnya. Mereka menyapa orang lain sebagai saudara dan saudarinya. Bumi dipanggil sebagai saudari dan matahari sebagai saudara. Semua yang diciptakan Tuhan dilihat dalam perspektif persaudaraan danbukan sebagai ancaman bahkan bukan sebagai lawan.

            Semangat hidup bersama yang dijiwai oleh keyakinan bahwa kita semua bersaudara adalah ciri mendasar hidup semua orang yang mencintai St. Fransiskus Assisi. Kesaksian hidup Si Miskin dari Asisi menginspirasi banyak orang untuk hidup bersaudara dalam kesederhanaan dengan sesama dan alam semesta di sekitar kita.

            “Kamu adalah saudaraku” adalah pilihan hidup yang berakar kuat pada Kitab Suci, dan sangat kontekstual dengan kondisi hidup kita khususnya pada saat ini, dimana individualisme dan fenomena populisme meraja lela. Individualisme menjebak hidup kita dalam kesendirian dan ketertutupan satu sama lain. Populisme merampas semangat persaudaraan hidup bersama karena ada dan menyebarnya virus ketakutan dan virus kebencian terhadap kehadiran orang lain.

Hidup Dalam Gempuran Populisme

            Beberapa hari terakhir ini, kita dikejutkan dengan terbongkarnya peran kelompok Saracen yang telah menghancurkan semangat persaudaraan dalam hidup bersama kita. Saracen ini telah menyebarkan semangat permusuhan dan perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat kita, sebagai satu bangsa, Indonesia. Penyebaran semangat permusuhan ini dilakukan dengan memproduksi berita-berita atau informasi bohong atau yang tidak benar, dan juga mem-viral-kan atau menyebarluaskan kata-kata kebencian dan kata-kata yang mengadu domba antara pembacanya. Saracen melakukan tindakan tidak terpuji tersebut lewat media sosial secara kontinu dan berdasarkan pesanan oknum-oknum tertentu yang membayar para anggota Saracen.

Kisah yang menyedihkan dan menyakitkan hati bangsa terjadi juga pada Selasa, 1 Agustus 2017. Awal Agustus, bulan kemerdekaan bangsa Indonesia,bertempat di kawasan Pasar Muara, Bekasi, seorang pria yang bernama M Alzahra atau Joya (30 tahun) – maaf -, dibakar hidup-hidup oleh kerumunan orang. Massa atau mob tidak lagi percaya pada hukum yang berlaku dan bertindak main hakim sendiri. Tindakan keji ini dipicu atas dugaan bahwa saudara Joya telah mencuri amplifier atau mesin pengeras suara di Musala Al Hidayah, Kampung Cabang Empat, RT 02 RW 01, Hurip Jaya, Babelan, Kabupaten Bekasi. Joya, yang dikenal sebagai tukang reparasi amplifier tersebut, meregang nyawa dalam kobaran api dan akhirnya meninggal dunia. Ia meninggalkan seorang anak dan seorang isteri (25 tahun) yang sedang mengandung 6 bulan. Tragis!

            Kisah pilu hidup Joya yang dihakimi massa dan peran Saracen yang telah bertindak sebagai penyebar kebencian dan hasutan untuk bermusuhan adalah contoh-contoh kondisi “sakitnya” kehidupan bersama kita sebagai bangsa Indonesia. Kita mudah percaya dan terprovokasi oleh berita-berita palsu atau teriakan-teriakan menghasut. Sikap-sikap hidup kita bahkan sangat dipengaruhi oleh berita hoax dan murahan tersebut. 

            Dalam jargon politik, apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita saat ini dengan dua contoh yang disampaikan sebelumnya adalah tanda nyata dari adanya gerakan populisme. Populisme berasal dari bahasa latin populus yang berarti rakyat. Populisme dapat dipahami sebagai gerakan rakyat yang muncul karena adanya ketidakpuasan pada sistem politik yang ada. Dalam fenomena populisme ini, rakyat menyatakan ketidakpuasannya dengan aksi-aksi jalanan dan bergerilya di media sosial dalam mengecam dan melawan sistem politik, khususnya demokrasi, seperti yang sudah kita miliki.

Namun demikian, kita harus berhati-hati memahami kata “rakyat” dalam populisme. Rakyat disini bukanlah warga negara, orang-orang yang bekerja dan terlibat dalam partai atau asosiasi-asosiasi tertentu. Rakyat (populus) dalam populisme adalah sekelompok orang atau massa yang tidak terbedakan, tidak terdiferensiasi. Mereka adalah kerumunan atau mob yang bertindak seturut pandangan (baca:perasaan) mereka benar, tidak mengakui dan menerima norma atau hukum bersama yang berlaku, dan  cenderung terarah pada kekerasan.

Kita hidup dalam gempuran populisme yang telah menyebabkan rasa takut dan curigasebagai bagian dalam hidup kita sehari-hari. Kehadiran orang lain dilihat sebagai ancaman dan musuh. Curiga dan takut terhadap orang lain atau sesuatu yang lain membuat kita menutup diri, tidak bebas dan hidup dalam keragu-raguan. Dalam ketakutan dan kecurigaan hidup, kita mudah dihasut untuk menyebarkan berita-berita bohong, hoax, mem-viral-kan kata-kata kebencian (hate-speech) dan menghancurkan relasi hidup bersama serta bersaudara sebagaimana dilakukan kelompok Saracen. Dalam ketakutan dan kecurigaan hidup, kita pun mudah diprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan melukai serta mengakhiri hak hidup orang lain seperti dilakukan massa atau mob dalam peristiwa memilukan dibakarnya Joya karena diduga mencuri amplifier.

Hidup Bersaudara Ala Fransiskan 

            Berhadapan dengan situasi populisme yang sedang terjadi, semangat hidup para fransiskan – salah satu nilainya – persaudaraan menjadi urgen dan aktual. Hidup bersama sebagai saudara dan saudari adalah karakter dan cara hidup para pengikut St. Fransiskus Assisi yang dapat memberikan perubahan terhadap suasana saling curiga dan takut serta tindakan kekerasan kepada orang lain atau sesama kita.

            St. Fransiskus Assisi menyebut para pengikut awalnya tidak sebagai teman-teman sepanggilan atau kawan-kawan seperjalanan atau bahkan bawahannya. Ia menyebut mereka sebagai saudara-saudaranya.Dalam tulisan-tulisan yang ditinggalkan kepada kita, ada sekitar 306 kali, Bapa Serafik ini menyebut kata “saudara”. Dalam tulisan paling awalnya tentang peraturan hidup para Fransiskan, yakni Anggaran Tanpa Bulla (baca: anggaran dasar untuk aturan hidup para Fransiskan yang belum mendapat surat peneguhan dari pihak pimpinan Gereja), St. Fransiskus Assisi menulis dengan jelas kepada para pengikutnya, “Kamu semua adalah saudara” (AngTBul, 22:33). Bagi Santo Pelindung Ekologi ini, kita semua adalah saudara. Alam semesta, anda dan saya adalah saudara dan saudari. Kita bukanlah musuh yang saling mengancam sehingga selalu bersikap curiga. Sebaliknya kita semua adalah saudara, yang diajak untuk bersikap peduli dan memberi perhatian satu dengan yang lain.

            Keyakinan bahwa kita semua adalah saudara dan saudari dalam Allah itulah yang meneguhkan St. Fransiskus Assisi bahwa,semua pengikutnya (baca: para fransiskan-fransiskanes serta semua orang yang mencintai gaya hidup St. Fransiskus Assisi) adalah anugerah dari Allah baginya. “Sesudah Tuhan memberi aku sejumlah saudara…” demikianlah salah satu kalimat dari Wasiat St. Fransiskus Assisi. Ia melihat dan menyadari sungguh-sungguh bahwa para pengikutnya adalah saudara dan saudari yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Dengan demikian, bersaudara adalah cara hidup yang terberi dan berahmat dari Allah sendiri bagi para saudara fransiskan.

            Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup Yesus dengan para murid-Nya  adalah inspirasi utama dari hidup bersaudara yang dihayati dan dilaksanakan oleh St. Fransiskus Assisi serta para pengikut-Nya.Kitab Suci adalah dasar utama bagi St. Fransiskus Assisi dalam membangun semangat hidup bersaudara dalam persaudaraannya. Dalam Injil Matius, Yesus mengatakan dengan jelas bahwa kita semua bersaudara. “Kamu semua adalah saudara.” (Mat. 23:8). Bagi Yesus dan Gereja Katolik, tidak ada kelas atas-atasan dan kelas bawah-bawahan atau tuan dan hamba. Sebaliknya, kabar gembira dalam iman pada Yesus Kristus adalah kita semua bersaudara, satu dalam iman kepada Bapa di Surga. Kita bersaudara, bukan karena kita memiliki pertalian darah dari orang tua yang sama atau dari suku dan budaya yang sama. Sebaliknya, kita bersaudara karena didasarkan pada martabat kita sebagai anak-anak Allah dan sebagai anak-anak Allah, kita adalah saudara dan saudari antara yang satu dengan yang lain.

            Jelaslah persaudaraan dalam contoh hidup Yesus dan para murid adalah persaudaraan yang mau dihidupkan oleh St. Fransiskus dan para Fransiskan. Ciri hidup bersaudara ala Fransiskan adalah sebagai berikut. Pertama, sikap peduli kepada sesama dan alam layaknya seorang ibu yang memberi kasih kepada anaknya. “Saudara yang satu hendaknya dengan leluasa menyatakan kebutuhannya kepada yang lain,…[dan], harus mengasihi dan mengasuh saudaranya, seperti seorang ibu mengasihi dan mengasuh anaknya sendiri.” (AngTBul, 9:12). Kasih ibu yang tak terbatas kepada anaknya adalah kasih yang harus menjadi dasar dan harus dimiliki oleh para pengikut St. Fransiskus Assisi dalam berelasi dengan sesama manusia dan alam semesta. Sesama kita dan alam semesta hadir untuk dikasihi dan diasuh, bukan untuk dihancurkan dan dieksploitasi. Kedua, hidup bersaudara mensyaratkan adanya sikap saling menerima, melayani dan menghormati satu sama lain. “Di mana pun saudara-saudara berada dan di tempat mana pun mereka bertemu, haruslah mereka saling menerima dengan saksama dan saling menghormati sebagai manusia rohani.” (AngTBul, 7:38). Bersaudara berarti mampu menerima saudara lain apa adanya. Tidak saja menerima tapi juga bersedia untuk melayani dengan sikap hormat yang pantas. Prioritas saudara yang dilayani dan dihormati adalah mereka yang sakit. “Jika seorang saudara tertinggal karena sakit, di mana pun juga dia berada, saudara-saudara lainnya tidak boleh membiarkannya, kecuali kalau ada seorang saudara atau beberapa, bila perlu, yang ditunjuk untuk melayaninya, sebagaimana mereka sendiri ingin dilayani.” (AngTBul, 10:1).Ketiga, menyapa saudara lain yang tidak hidup sesuai kehendak Tuhan dengan penuh bijak, kasih dan terarah pada perubahan orang tersebut. Ketika ada saudara-saudara yang berdosa atau tidak hidup sesuai kehendak Allah yang tersurat dalam aturan hidup para Fransiskan, maka St. Fransiskus meminta agar mereka ditegur tiga kali agar ia mampu memperbaiki dirinya. Jika ia tetap bersikeras dengan dosanya dan tidak mau berubah, maka minister – pemimpin tertinggi fransiskan – mencari jalan keluar yang terbaik demi saudara yang berdosa itu sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Mari Bersaudara Melawan Populisme

            Demikianlah dalam kepungan dan gempuran populisme yang mengedepankan rasa takut dan curiga terhadap orang lain, kita diundang kembali mempraktikkan hidup bersaudara demi membangun hidup bersama yang saling percaya dan terbuka satu dengan yang lain. Kalau populisme telah mengantar kita untuk melihat sesama kita sebagai musuh, saingan dan ancaman seperti serigala bagi sesamanya (homo homini lupus), semangat persaudaraan ala Fransiskan sebaliknya mengajak kita untuk melihat orang lain sebagai saudara dan saudari bagi kita. Bagi roh dan cara hidup Fransiskan yang berdasarkan pada Kitab Suci, hidup bersaudara adalah kesaksian iman yang otentik dan tepat sebagai anak-anak Allah di dunia ini.

            Kita bersama dipanggil untuk mengaktualisasikan semangat hidup bersaudara dalam perbedaan yang kita miliki baik dalam Gereja Katolik Roma maupun dalam hidup berbangsa, Indonesia. Sebagaimana kita refleksikan sebelumnya, iman pada Yesus Kristus yang teguh telah mengantar St. Fransiskus dan para fransiskan-fransiskanes untuk berusaha terus menerus menyebarkan dan mem-viral-kan semangat hidup bersaudara. Mari jalan bersama para pengikut St Fransiskus Assisi karena “kamu adalah saudaraku”.

Oleh: Sdr. Hieronimus Yoseph Dei Rupa, OFM

 

 

Cerpen : Salib Tanda Kemenangan dan Kesaksian Iman Kita

Aku seorang Katolik. Aku sadar bahwa banyak kekuranganku, terutama imanku. Jarang membaca Kitab Suci, menyakiti sesama, jarang mengikuti misa, sekalinya misa kadang aku tidak terlalu fokus. Bahkan ada hal-hal kecil yang seringkali aku abaikan, yakni untuk memulai makan yang seharusnya diawali dengan doa bukan? Mengapa rasanya seperti takut atau ada perasaan yang membuatku enggan membuat tanda kemenangan didepan orang banyak.

Suatu hari, aku mendengarkan homili dari seorang romo yang membawaku masuk dalam permenungan batin.“Saudara-saudara terkasih, kita seharusnya patut bersyukur, karena kita dapat memuji dan memuliakan nama Tuhan dengan khidmat dan tenang. Lihat saudara-saudara kita yang tetap memiliki kerinduan dan keinginan yang kuat untuk beribadah, meskipun harus menerima tekanan dan desakan dari mana-mana. Banyak saudara-saudara kita yang masih kesulitan dalam membangun rumah ibadah atau bahkan untuk berkumpul dalam suatu bangunan pun terasa begitu sulit. Jangan jadikan keberadaan kita ditengah-tengah kaum mayoritas sebagai suatu penghalang dalam mewartakan Kristus. Sebenarnya hal-hal seperti itu bisa kita atasi bersama. Coba telisik lagi kurangnya pada diri kita masing-masing apa. Kita kurang menjalin kebersamaan antar sesama, yang membuat orang lain tidak mengenal kita. Tidak mengenal diri kita. Selain menjalin komunikasi yang harmonis dengan sesama, mulailah juga untuk berani memperkenalkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Sudahkah kita memulai doa dengan tanda kemenangan saat ingin makan dalam keramaian? Atau memulai menjalankan aktivitas seperti di sekolah, kampus atau kantordengan doa. Jika hal itu saja kita masih canggung untuk melakukannya, bagaimana kita mau memperkenalkan Kristus kepada orang lain, biarlah ini menjadi identitas kita sebagai seorang Katolik.” tegas Romo dalam homilinya. Cerita Romo ini sangat menegur hidupku. Mungkin ini cara Tuhan untuk menyadarkanku bahwa memang menjadi pengikut Kristus tidaklah mudah. Namun selalu ada cara dan pertolongan Tuhan yang selalu menyertai kita.

Sejak saat itu, aku sadar dan mulai mendekatkan diriku kembali pada Allah. Memulai segala aktivitas dengan doa dan tak lupa dengan tanda kemenangan yang diajarkan-Nya. Aku juga mulai ikut komunitas Kitab Suci di gerejaku,dengan harapanagar lebih mendalami dan memahami konsekuensi menjadi seorang pengikut Kristus itu.

-Selesai-

Hari Minggu Kitab Suci Nasional yang kita rayakan hari ini menjadi suatu perayaan yang mengingatkan kita akan pentingnya membaca Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya untuk lebih mengenal Kristus tetapi juga baik untuk perkembangan iman kita sendiri. “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Bdk. Mat 16:25). Kutipan Injil pada hari ini mengingatkan kita bahwa untuk menjadi pengikut Kristus kita tidak perlu takut kehilanganyan nyawa kita karena Kristus senantiasa menyertai kita semua umat-Nya. Semoga cerita singkat di atas menjadi renungan yang baik bagi kita semua agar kita selalu berani menyatakan iman kita akan Kristus dan rajin membaca Kitab Suci untuk lebih mengenal-Nya. (Priscilla & Arnold)

cerpen

Renungan Pentakosta : “MEMULIAKAN ALLAH MENGANGKAT MANUSIA”

PENTAKOSTA – A: 04 Juni  2017.

MEMULIAKAN  ALLAH  MENGANGKAT  MANUSIA

Yoh. 20:19–23; Kis. 2:1–11.

Di pojok gedung Asisi lantai 2 terlihat beberapa anak muda duduk santai. Sambil menikmati aroma kopi Lampung, mereka ngobrol serius tentang peristiwa Pentakosta. Kita ikuti obrolan mereka berikut ini….

(Renato) Pentakosta itu artinya apa ya? (Novi) Inget–inget sih pak Okto pernah bilang bahwa Pentakosta itu artinya hari ke–50. Latar belakangnya, di kalangan Umat Perjanjian Lama (bangsa Israel), Pentakosta itu dirayakan 7 Minggu setelah panen gandum. Selanjutnya, hari ke–50 ini dihitung mulai dari tanggal 14 Nisan, yaitu Hari Raya Paskah Yahudi.  Kemudian, hari ke–50 ini diperingati sebagai hari turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan  umat Kristen, hari ke–50 itu dirayakan 7 Minggu setelah Kebangkitan Yesus untuk memperingati turunnya Roh Kudus kepada para murid, sebagai “panenan rohani” yang kini mulai melimpah (sebab dengan turunnya Roh Kudus umat Kristen berkembang pesat).  (Putri) Loe bisa juga ya Novi, masih bisa inget pelajaran katekumennya. Gue mah, habis baptis tinggal bayang–bayangnya doang… (Renato) Terus, waktu Pentakosta kan dikatakan para Rasul bisa berbicara dalam berbagai bahasa. Maksudnya secara ajaib, mereka jadi lancar omong semua bahasa gitu? (Putri) Bukan begitu juga kalee… Maksudnya, Roh Kudus memampukan mereka, sehingga mereka bersaksi tentang perbuatan–perbuatan besar yang dilakukan Allah. Artinya, kesaksian hidup mereka membuat orang dari bangsa lain mengalami keagungan atau kebesaran Allah. Kesaksian hidup para murid, seolah membahasakan kebesaran Allah, sehingga mereka bisa memahaminya. Jadi, bukan maksudnya mereka tahu semua bahasa… Selanjutnya, mereka yang percaya bergabung dengan para murid dengan cara dibaptis (kira-kira 3000 orang: Kis. 2:41). (Novi) Pantesan waktu katekumen, pak Okto bilang Pentakosta itu hari berdirinya Gereja. (Renato) Ya, jumlah segitu sama dengan 1 Paroki sekarang.

(Hawa) Roh Kudus memampukan para murid untuk berani bersaksi tentang perbuatan besar Allah yang dihadirkan Yesus. Bagaimana kita sekarang ini mempersaksikan Yesus ya? (Renato) Menurut Gue, ada 2 hal. Yang pertama, secara intern. Sebagai anggota Gereja atau sebagai murid Yesus, kita kudu wajib melaksanakan kehendak Yesus dalam perilaku hidup kita, dengan kata dan perbuatan, sehingga orang lain mengalami kebaikan Allah. Kedua, secara ekstern. Kita tidak hanya hidup dengan baik dalam kelompok kita saja, tetapi baik juga dalam kata dan perbuatan dengan orang lain, tanpa menonjolkan identitas keagamaan. Kan semua agama menghendaki demikian to? Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. (Putri)  Tapi, kadang orang lain melihat itu sebagai kristenisasi… (Novi) Itu suara dari orang lain yang menilai dari luar menurut persepsi mereka to? Yang terutama itu tergantung motivasi kita mba Putri. Makanya, “tanpa menonjolkan identitas keagamaan” itu penting. (Hawa) Yang penting kita mau bekerjasama dengan orang lain membangun kemanusiaan. Untuk itu dibutuhkan kepekaan sosial yang tinggi…. (Putri) Tapi yang pokok juga peka akan kehadiran Yang Ilahi, karena kita menghadirkan karya Yang Ilahi. Saya teringat ungkapan almarhum Rm. Mangun Wijaya: “Memuliakan Allah mengangkat manusia”. (Novi) Kalau setiap kegiatan atau apapun yang dilakukan itu membuat martabat manusia semakin terangkat berarti secara tidak langsung Allah semakin dimuliakan; dan Allah semakin dimuliakan melalui segala upaya yang mengangkat  martabat manusia. Ya, dengan cara itulah kita mempersaksikan karya besar Allah yang dihadirkan Yesus, yang berkarya demi membangun kemanusiaan baru dan membawakan damai sejahtera, berkat kekuatan Roh Kudus…. (Renato) Ya, itulah semangat Pentakosta yang bagi saya lebih relevan untuk saat ini, daripada berbahasa roh, atau puji–pujian, atau yang lainnya….. (Okto Lasar).

Gadget dan Keluargaku

CD6E3889-0B17-4A93-81B5-87C620B55DB2Status sebagai anak satu-satunya dalam keluargaku membuatku tak bisa jauh dari orang tua. Seiring bertambahnya usia, aku sadar harus belajar hidup mandiri. Apalagi hanya aku satu-satunya yang menjadi harapan keluarga. Untuk membuktikan bahwa aku tidak seperti yang mereka katakan, aku membulatkan tekad untuk kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Rasa ragu dan takut itu ada, karena seumur-umur belum pernah aku pisah jauh dari orang tua. Bahkan aku harus hidup sendiri, dan segala sesuatu harus aku kerjakan sendiri. Setelah pengumuman kelulusan SMA diumumkan, beberapa minggu kemudian,  aku berhasil masuk PTN di Jakarta yang aku impikan melalui jalur SBMPTN. Ini sungguh luar biasa bagiku. Tuhan seperti memberi jalan dan pelajaran bahwa melalui semua ini aku harus mulai hidup mandiri.

Meninggalkan Solo sangat berat bagiku. Tadinya juga Mama tidak setuju dengan keputusanku untuk melanjutkan studiku di Jakarta. Minggu-minggu pertama kuliah dengan suasana dan teman yang baru itu agak menyulitkanku untuk beradaptasi. Setiap hari aku selalu bercerita kepada mama via WhatsApp tentang apa saja yang kualami hari ini. Libur semester ini, aku ingin pulang ke Solo, rindu sekali rasanya.

Hari yang ku nanti-nanti pun tiba. Deru suara kereta seakan menambah semangatku untuk menginjakkan kaki di kota Solo dan memeluk mama dan papa dengan erat. Aku berharap dengan bertemu mereka, akudapat melepaskan penat dan kerinduanku kepada mereka.

Ketika mengetuk pintu rumah,mama menyambutku dengan hangat dan menyuruhku untuk istirahat. Makan malam pun tiba, meja makan sudah terisi penuh dengan makanan dan minuman. Namun ada pemandangan yang berbeda yang tidak pernahku alami sebelumnya. Tidak terasakan adanya kehangatan disini. Mama dan papa masih sibuk dengan gadget nya masing-masing.

Esoknya aku mencoba untuk berbincang-bincang hangat bersama. Aku ingin melepas rindu disini. Sayangnya, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Papa sibuk dengan pekerjaannya di komputernya, sedangkan mama sibuk menjelajah dunia maya. Setiap kali aku hendak mengajak mereka berbincang, mereka sering tidak fokus dan cenderung acuh tak acuh dengan diriku bahkan pada saat di meja makan pun mereka masih asik dengan gadget mereka.

Hal ini membuatku sedih dan kecewa karena merasa bahwa kepulanganku ke Solo menjadi sia-sia. Aku memulainya dengan keluh kesahku terhadap perilakukedua orang tuaku akhir-akhir ini. Mereka pun menyadarinya dan mulai mengurangi intensitas memegang gadget, ya minimal pada saat makan bersama.

Aku ingin penggunaan gadgetini tidak hanya sekedar untuk chit-chat atau menjelajah dunia maya semata. Tetapi harus ada nilai positif dari penggunaan gadgdetini. Aku memutuskan untuk membuat group yang berisikan keluargaku pada aplikasiWhatsApp. Disana aku meminta mereka mengunduh sebuah aplikasi Katolik yang berisikan tentang renungan, doa-doa, dan juga kalender liturgi. Mereka pun menyambut antusias permintaanku dan sekarang kami pun sering berbincang melalui aplikasi chatting ini terutama mengenai renungan-renungan Alkitab serta pengalaman kami masing-masing setiap harinya.

Aku pun sekarang sadar bahwa perkembangan teknologi komunikasi tidak dapat dihindari dan hal tersebut bisa berdampak positif dan juga negatif. Itu semua tergantung bagaimana kita sebagai pengguna memandang hal tersebut. Teknologi komunikasi harus dimanfaatkan sebaik mungkin tanpa harus mengorbankan arti kebersamaan di antar sesama kita manusia.

Selesai…

Di zaman teknologi informasi yang semakin berkembang ini, kita sering kali lupa bahwa pada hakekatnya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri. Hal ini disebabkan karena ada banyaknya yang dapat kita lakukan dengan bantuan teknologi informasi.  Namun ada kalanya, kita cenderung acuh tak acuh dengan orang-orang yang ada di dekat kita. Sebenarnya hal tersebut tidaklah keliru, namun tidaklah tepat jika kita menjadi lupa diri atau melupakan sesama bahkan lupa kepada Allah kita. Pada hari ini, kita diingatkan oleh Injil Yohanes “Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.” (Yoh. 17: 7). Rasul Yohanes ingin mengingatkan kita bahwa segala yang kita punya di dunia ini sesungguhnya berasal dari Allah, jadi kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin sebagai cara untuk memuliakan Dia di dalam hidup kita. (Arnold & Priscilla)

Cerpen : Menyuarakan Kebenaran Butuh Keberanian

CerpenAkhir-akhir ini aku merasakan dan melihat hal-hal aneh di sekitarku. Seperti ada rasa bersalah dalam batinku. Aku tidak mampu bangkit untuk menyuarakan kebenaran. Aku tidak ingin dikatakan sok suci, atau pahlawan, tidak juga bermaksud untuk menyombongkan diri. Aku takut menyuarakan kebenaran.

Minggu lalu ketika pulang sekolah, seperti biasa aku naik bus kota menuju ke rumah. Keadaan bus saat itu cukup ramai. Lalu di lampu merah, naiklah tiga orang pemuda ke atas bis kota yang aku tumpangi. Aku tak menaruh curiga sedikitpun, karena penampilan dan gerak-gerik mereka tidak mencurigakan sama sekali. Mereka berdiri didekat wanita paruh baya, dari sana aku mulai merasa ada yang aneh dengan orang-orang ini. Ya benar saja ternyata mereka sekomplotan pencopet. Aku melihatnya

dengan mata kepalaku sendiri. Namun aku hanya mematung dan seperti tidak punya rasa peduli dengan ibu ini. Setelah melancarkan aksinya, para komplotan pencopet itu turun dari bus kota.

Seperti biasa setiap Sabtu aku membantu ibu berdagang sayur di pasar. Tiba-tiba dari kejauhan aku mendengar suara teriakan dari sebelah utara kios ibu. Aku pun melihat segerombolan orang berlari, suaranya juga semakin jelas ketika mendekati kios ibu. Anak kecil pun menghampiri ku, dan segara mengumpat di bawah meja tempat ibu menaruh sayur-sayuran segar. Saat itu ibu sedang tidak ada ditempat, dan keadaan kios sedang tidak ada pembeli. Orang-orang yang tadi berteriak dan berlari itu pun kebingungan mencari sosok bocah kecil itu. Aku pun menyadari ternyata orang yang mereka teriaki maling itu bocah ini. Astaga aku sangat dilema! Jika aku menyerahkan bocah ini habislah ia. Aku hanya diam saja, tutup mulut dan seperti tidak mengetahui apa yang terjadi.

Hari ini tengah berlangsung ujian tengah semester pelajaran Sejarah. Kami duduk sesuai dengan nomor urut yang telah ditentukan. Aku duduk paling belakang. Sejarah merupakan pelajaran favoritku. Sudah pasti aku bisa mengerjakannya dengan baik. Beberapa teman meminta jawaban kepadaku, ya aku berikan karena aku juga takut dimusuhi atau dibully mereka. Di depanku duduk seorang anak laki-laki bernama Abi, disebelahnya Sarah. Abi memaksa Sarah untuk memberikan jawaban kepadanya. Namun Sarah tidak memberikannya. Abi tidak menyerah, ia pun berhasil mengambil kertas ulangan Sarah, lalu menyalinnya. Mendengar kegaduhan guruku langsung menghampiri mereka, dan memergoki Abi yang sedang menyalin jawaban ujian Sarah. Tanpa ampun guru pun mengambil kertas ulangan mereka berdua, dan tidak mengizinkan mereka untuk mengerjakan lagi. Sudah pasti ujian mereka mendapatkan nilai nol. Sarah membela dirinya, namun sang guru tidak memberi ampun kepada mereka berdua. Ia pun menangis. Hal ini sungguh menyedihkan, lagi-lagi aku tak mampu mengutarakan kebenaran.

Aku memikirkan kejadian akhir-akhir ini bahkan sampai terbawa mimpi. Rasa salah menghantuiku terus menerus. Aku tahu hal ini salah. Mengapa aku terlalu takut mengatakan hal yang benar. Mengapa kejujuran itu sulit aku katakan? Aku hanya memikirkan diri sendiri tidak peduli dengan nasib orang lain. Merasa cuek dan takut adalah hal yang aku benci dari diriku sendiri. Aku ingin bangkit. Bangkit dari rasa takut. Entah itu takut tidak dihargai, aku takut dikucilkan, aku ingin hilangkan rasa takutku ini Tuhan. Aku merasa menyesal, sangat menyesal!

Selesai…

Mengungkapkan kebenaran bukanlah hal mudah dalam hidup ini. Cerita di atas hanyalah satu dari banyaknya cerita ketakutan di dalam mengungkapkan kebenaran. Di dalam Injil pun kita sama-sama mengetahui bagaimana ketakutannya para rasul saat Yesus ditangkap dan diadili, bahkan Petrus pun menyangkal diri sebagai murid Yesus. Mengungkapkan suatu kebenaran memiliki berbagai resiko yang terkadang membahayakan diri kita, itulah mengapa mengungkapkan setitik kebenaran tidaklah mudah. Tetapi Yesus, Putera Allah, telah lebih dahulu berani mengungkapkan kebenaran dan mengajarkannya kepada banyak orang. Dia tidak takut menanggung resikonya, bahkan Dia pun rela menyerahkan diri-Nya demi menebus dosa kita manusia. Semoga hari raya Paskah sungguh menjadi saat yang tepat bagi kita untuk bangkit, bertobat dan lebih berani mengungkapkan kebenaran di sekitar kita. (Priscilla & Arnold)

Renungan Paskah Sdr. Hendra, OFM

Seribu Angin

Jangan menangis di depan makamku,

karena aku tidak ada di situ,

aku tidak tidur di situ.

……..

Jangan menangis di depan makamku,

Sebab aku tidak mati,

Aku hidup.

Penggalan puisi di atas merupakan terjemahan dari Puisi A Thousand Winds. Versi lengkapnya tidak saya cantumkan di sini. Puisi A Thousand Winds merupakan surat cinta dari orang yang telah meninggal kepada  mereka yang masih melanjutkan hidup di dunia ini. Kira-kira pesannya mau menyatakan bahwa kematian orang yang terkasih memang menyedihkan, membuat kita menangis; tetapi itu bukan menjadi alasan untuk berhenti merajut mimpi baru. Perjalanan hidup harus tetap dilanjutkan. Itulah bagian atau cara melanjutkan hidup dari mereka yang telah mendahului kita.

Melalui puisi ini kita diantar untuk menjadi saksi dari setiap orang yang pernah hidup bersama kita. Kita menjadi saksi yang meneruskan kabar gembira Tuhan Yesus di tengah dunia: Ia bangkit. Perayaan Paskah ialah momen untuk menjadi saksi iman. Paskah menjadi momen yang hidup, move on, kita harus bangkit untuk melanjutkan hidup.

Puncak perayaan iman kita sebagai orang Katolik ada dalam misteri Paskah ini. Kita merenungkan perjalanan  hidup Tuhan kita Yesus Kristus yang sungguh manusia, merasakan kelemahan kita sebagai manusia, kecuali dalam hal dosa, mengalami ketakutan ketika saat-saat terakhir hendak meninggalkan dunia. Kemudian, Ia dibangkitkan oleh Allah pada hari yang ketiga. Singkatnya, kita merayakan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan yang hidup di antara kita (Allah beserta kita).

“Katakan Maria, engkau melihat apa?”

“Katakan Maria, engkau melihat apa? Wajah Yesusku yang hidup sungguh mulia hingga aku takjub. Kudengar malaikat menyampaikan amanat. Yesus Kristus sudah bangkit, kabarkanlah pada para murid.” Percakapan ini merupakan penggalan dari Madah Paskah.

Maria sebagai salah satu murid Yesus pasti sangat merasakan kehilangan dengan peristiwa yang menimpa Yesus. Sebagai manusia, ia merasakan kesedihan, galau, kecewa, pupus, kehilangan harapan, dan beragam perasaan lainnya. Tetapi kemudian Ia bertemu kembali dengan pribadi itu, Ia hidup dan bangkit kembali, melihat “wajah Yesusku”. Ia tidak hanya melihat, tetapi bertemu dan bercakap-cakap dengan-Nya.

Itulah penggalan kalimat yang disampaikan Maria kepada Petrus dan murid-murid lainnya. Ia mengisahkan pengalaman perjumpaannya dengan Yesus di makam dan menyampaikan pesan dari malaikat. Ia menjadi saksi pertama untuk menyampaikan kabar suka cita kebangkitan kepada dunia. Pengalaman perjumpaan, ketemu dengan Tuhan.

Apa yang kita bayangkan dengan pengalaman seperti itu? Dalam Injil, kita mengenal karakter Petrus yang spontan, antusias, dan proaktif. Petrus sungguh penasaran dengan ekspresi Maria pada perisitwa kebangkitan ini, Petrus menampilkan diri sekali lagi sebagai pribadi spontan, antusias, dan proaktif. Petrus tidak perlu menunggu Maria bercerita, tetapi  spontan dan langsung bertanya kepada Maria, “Katakan Maria, engkau melihat apa?

Petrus dan Maria Magdalena

Kita bisa meneladani kemuridan Petrus dan Maria Magdalena. Dua murid yang sungguh dekat dengan Yesus. Melalui dua murid ini kita bisa menimba banyak hal. Pertama dari seorang Petrus. Pribadi yang spontan, antusias, dan proaktif. Untuk menjadi saksi Kristus yang bangkit hendaknya memiliki keberanian seperti Petrus. Meskipun dalam keraguan, Ia tetap melangkah pasti. Rasa penasaran, keraguan dalam pencarian makna hidup, perlahan namun pasti ditemukan dalam imannya akan Yesus Kristus. Kristus yang sungguh-sungguh bangkit dan menyelamatkan.

Kedua dari seorang Maria Magdalena. Dalam keraguan harapan selalu ada, meskipun kecil, tetapi tetap bernyala. Harapan mendorong kita untuk tetap malanjutkan hidup. Harapan itulah yang membuat kita memiliki hidup itu. Maria Magdalena menunjukkan kepada kita betapa Tuhan sungguh-sungguh hidup dan beserta kita. Oleh karena itu, perayaan Paskah bagi kita ialah kesempatan untuk sekali lagi dan sekali lagi untuk berani menjadi saksi Kristus.

Moment Paskah bagi kita merupakan pengalaman iman untuk mensyukuri karunia kehidupan. Paskah bagi kita orang beriman adalah kesempatan untuk menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, masyarakat, dan negara. Kristus yang bangkit, Kristus yang hidup, dan Kristus yang memberikan harapan yang pasti untuk kita manusia. Selamat merayakan Pesta Paskah. Alleluya. 

(Sdr. Hendra, OFM)

Renungan Minggu Biasa VI – Menjadi Pembawa Damai !

Menjadi Pembawa Damai!

Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat. 5:24b)

Kita dipanggil untuk mewujudkan damai di tengah muka bumi ini. Damai yang kita wujudkan merupakan bagian dari iman. Iman yang menyata dalam praktek hidup harian kita. Namun bisa jadi saya dan saudari-saudara sekalian belum mampu menjadi pembawa damai dalam kehidupan.

Hiduplah seorang bernama Yakobus. Lengkapnya Yakobus Telolet. Sama dengan om telolet om kale. Barangkali ketika ia lahir lewatlah bis dengan bunyi klakson om telolet om. Yakobus terkenal karena perihidupnya yang kurang baik. Di jarang membantu sesama di lingkungan, kurang terlibat  dalam kegiatan lingkungan, dan jarang berdoa, apalagi ekaristi hari Minggu. Bisa dihitung….Banyak litani keburukan melekat pada dirinya. Banyak kebobrokan yang ada dalam dirinya. Meskipun ada juga sedikit litani kebaikan dalam diri Yakobus. Tetapi kalo di Media Sosial, MedSos Kobus sangat aktif. Nama Facebook Kobus Telolet…Sibuk update status setiap hari. “Kramat panas pagi ini….Ketika siang: Keramat panas sepanas Pilgub DKI. Dan ketika sore hari:Kramat selalu dihati, sekeramat hatiku dan hatimu…

Suatu ketika, Yakobus meninggal dunia. Istrinya Yakomina, lengkapnya Yakomina Che Mie Lan.…Mungkin karena orangtuanya suka cemilan kalee. Si Yakomina ini sangat sedih mendengar berita itu. Seperti biasa St. Petrus sang penjaga pintu surga sudah siap menunggu. Konon katanya amat jarang orang Indonesia masuk surga. Mengapa? Saya juga tidak tahu…..

            Entah mengapa Yakobus bersama beberapa temannya diijinkan untuk masuk surga. Betapa senangnya hati Yakobus. Dia teringat akan khotbah romo parokinya,”Meskipun kita memiliki banyak dosa, percayalah….Tuhan selalu menyediakan surga bagi kita!” Tuhan Yesuspun merasa terkejut dan heran karena di beberapa sudut jalan, Dia bertemu dengan dengan Yakobus dan teman-temannya yang sama sekali asing bagi-Nya. Ia merasa belum bertemu empat mata dengan orang-orang itu. Kalo menonton acara “Bukan empat mata” sudah banyak kali.

            Tuhan pun segera memanggil St. Petrus. “Petrus, mengapa kamu teledor dalam menjaga gerbang surga. Kamu tahukan siapa orang-orang itu?”

“Maaf Tuhan…Saya selalu standbye, siaga satu…Biarpun banjir menghadang, hujan berhari-hari seperti di Jakarta, saya tetap menjaga pintu surga….Hanya orang-orang yang layak dapat masuk ke dalamnya.” Jawab St. Petrus.

“Lho, mengapa bisa masuk ke sini?”

“Tuhan, saya menjaga pintu gerbang dengan ketat, tetapi pada malam hari Ibu Anda….Ibu Maria membuka jendela dan mengijinkan orang-orang asing itu masuk. Mana mungkin saya berani melawan beliau?”

“Ooooooo……yah sudahlah!” Jawab Tuhan Yesus.

            Kita ingin tetap bercahaya sekalipun ada orang yang tidak menyukainya. Kita mesti tetap tampil sebagai orang baik, melahirkan perbuatan-perbuatan baik dalam hidup setiap hari. Perbuatan baik tidak pernah akan goyah sekalipun ada orang yang tidak menyukainya.

Dalam bacaan kedua, dilukiskan bagaimana Tuhan telah menyediakan hikmat bagi kita manusia. Rasul Paulus mengingatkan demikian:”…Yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” (I Kor. 2:6-7). Karena itu, manusia yang dibiarkan saja atau didorong oleh kekuatan-kekuatan jahat dunia ini, takkan dapat mencapai kebahagiaan. Di sini, Paulus berbicara tentang kebijaksanaan sejati. Jika kita menaruh cintakasih kepada Tuhan, maka hal itu lambat laun akan kita capai.

Sementara dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk membatalkan hukum, melainkan untuk menggenapinya (Mat. 5:17-37). Yesus mengatakan dirinya datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. “Bukan meniadakan” tentunya bukan mengurungkan Taurat. Ia samasekali tidak menyangkal kesahihan sikap orang menerima Taurat dalam cara itu. Kesalehan ini wajar. Tapi sekaligus ditegaskannya bahwa ia datang untuk memenuhi Taurat. Taurat dihayatinya sebagai yang membuatnya dekat pada Dia yang bersabda lewat Taurat. Orang seperti ini menggenapkan Taurat, membuat Taurat utuh, bukan menganggapnya sebagai himpunan aturan, perintah, larangan belaka.

Salah satu yang mesti dilakukan ialah memelihara perdamaian dengan sesama. “Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mesbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu, dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu….” (Mat. 5:24b). Persembahan seperti itulah, yang berkenan kepada Tuhan. Bukan terbatas pada hal-hal lahiriah, fisik, materi, dsb. Yang utama bagi Tuhan ialah membangun sikap sebagai seorang pembawa damai dalam kehidupan kongkret.

 

Pertanyaan untuk kita renungkan ialah:”Apakah kita telah sungguh-sungguh menghayati iman kita dengan baik dan benar?” Apakah kita hanya mengamalkan aturan Gereja sekedar sebuah ritualisme, tanpa makna nan mendalam dalam diri?”

            Barangkali di tengah keluarga kita belum menciptakan damai di antara suami-istri dan anak-anak.

Atau juga di lingkungan. “Akh…malas akh gabung sama dia. Orangnya bikin sebel banget tahu!” Kata-kata seperti itu kadang terlontar dari diri kita.

 Pernah terjadi bukan di Indonesia pastinya, tetapi di Amerika sana, seseorang membatalkan pesta pernikahannya. Pesta yang telah disiapkan dan menelan biaya total 35.000 dollar AS dibatalkan hanya seminggu sebelum hari-H. Karena uang untuk konsumsi tak bisa diminta kembali, keluarga itu membagikan sajian bagi 120 tamu undangan itu kepada tunawisma, tempat mereka tinggal. Pesta pernikahan itu pun berubah menjadi festival tunawisma di hotel mewah. Tamu pertama adalah seorang perempuan yang datang sendirian dari wisma penampungan. Tak lama, tunawisma lainnya termasuk keluarga yang membawa anak-anak. Mereka menikmati suguhan seperti salad dan salmon dari restoran, hotel berbintang empat. “Ini sungguh tindakan yang sangat murah hati,” ujar seorang ibu yang datang bersama suami dan lima anaknya.

Suatu tindakan mulia, yang mungkin jarang dilakukan oleh banyak orang. Damai terwujud lewat hal-hal yang sederhana, yang menguggah banyak orang.

Masih banyak hal yang menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya mewujudkan damai dalam hidup. Kalau kita berlaku demikian, apakah iman kita bermakna bagi kehidupan kongkret kita? Meminjam bahasa petinggi negeri ini….”Saya hanya bisa prihatin melihat kondisi yang terjadi seperti ini…..Menjadi refleksi yang kiranya terus-menerus kita renungkan sepanjang kehidupan ini.

St. Fransiskus Asissi dalam doanya berkata:”Tuhan jadikanlah daku pembawa damai.  Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.”

Kiranya kita sanggup untuk berani berubah mulai saat ini….Di sini dan sekarang! Tuhan memberkati kita!

12 Februari 2017

RP. Andreas Satur, OFM

           

 

 

Renungan Minggu, 8 Januari 2017

“Persembahan yang layak!”

Kita dipanggil untuk mampu mempersembahkan diri, apa yang ada dalam diri kepada Tuhan dan sesama. Semuanya itu, dari hati yang terdalam, adalah sebuah persembahan yang pantas kita berikan kepada Tuhan. Persembahan yang kita lakukan demi kemuliaan Tuhan semata. Bukan demi popularitas atau kemuliaan pribadi kita sendiri. Dalam Injil hari ini dikisahkan kepada kita bagaimana para majus datang ke tempat kelahiran Yesus (Mat. 2:1-12). “Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada Anak itu, yaitu emas, kemenyan, dan mur” (Ay. 11). Dalam Yesus janji keselamatan itu mendapatkan pemenuhannya. Yesus menjadi keselamatan bagi semua bangsa, baik Yahudi maupun bukan Yahudi. Para majus yang datang membawa persembahan itu mewakili para bangsa dari seluruh muka bumi, hendak memperlihatkan persaudaraan semua suku dan bangsa di hadapan Yesus. Pertanyaan bagi kita:”Apakah yang dapat kita bawa dan persembahkan kepada Yesus?” Apakah kita telah sungguh-sungguh hidup sebagai orang Katolik yang baik dan benar?” Barangkali yang perlu kita wujudkan dalam hidup bersama entah itu dalam keluarga, lingkungan, paroki ataupun dalam masyarakat ialah membangun persaudaraan sejati dengan siapa saja, persaudaraan yang lintas batas. Seringkali kita terkungkung dalam kelompok sendiri, membuat sekat dan kotak dengan orang lain. “Saya tidak mau bergaul dengan dia karena dia bukan saudara saya, beda suku, agama, ras, dan segala macam dengan saya….” Akibatnya kita membuat jarak dengan orang lain. Tuhan Yesus menuntut kita agar kita bisa berbuat lebih. Artinya kita hidup tanpa adanya sekat-sekat antara orang Betawi, Jawa, Padang, Manado, Flores, Papua, Tionghoa, Batak, dan lain-lain sebagainya. Antara Katolik, Protestan, Islam, Hindu, Budha, dll. Karya keselamatan Tuhan menjangkau semua orang, terbuka bagi siapa saja seperti dalam kisah ketiga majus yang dibimbing sampai kepada Yesus. Semua dibimbing kepada persaudaraan sejati. Yang penting ialah kita percaya dan mau dibimbing oleh kebenaran.Paus Fransiskus pernah berkata:”Gambaran pencarian akan Allah dapat terlihat dari orang-orang Majus yang dituntun ke Betlehem oleh bintang. Bagi mereka, terang ilahi tampak sebagai suatu perjalanan yang harus ditempuh, sebuah bintang yang membimbing mereka pada jalan pencarian. Bintang ini adalah tanda kesabaran Tuhan kepada mata kita, yang perlu semakin dibiasakan dengan terang-Nya” (LF. 35). Semoga kita mampu mempersembahkan yang terbaik dalam hidup ini dengan membangun persaudaraan sejati dengan semua orang, tanpa terkotak-kotak. Itulah harapan yang selalu kita rindu-rindukan oleh semua orang yang berkehendak baik. Selamat hari Minggu! Tuhan memberkati kita! Amin.

8 Januari 2017

P. Andreas Satur, OFM