Menyambut Kristus dengan Pertobatan Diri!

Adven berasal dari bahasa Latin yakni adventus yang berarti kedatangan. Ketika Gereja merayakan liturgi Adven setiap tahunnya, ia menghadirkan kembali pengharapan di jaman dahulu akan kedatangan Mesias, sebab dengan mengambil bagian di dalam masa penantian yang panjang terhadap kedatangan pertama Sang Penyelamat, umat beriman memperbaharui kerinduan yang sungguh akan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan merayakan kelahiran sang perintis (Yohanes Pembaptis) dan kematiannya, Gereja mempersatukan kehendaknya: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”(Yoh 3:30)

Dengan demikian masa Adven merupakan masa menantikan kelahiran Kristus yang menjelma menjadi manusia. Masa Adven ini bukan bagian dari masa Natal, tetapi merupakan persiapannya. Oleh karena itu, masa Adven menjadi masa pertobatan (menyerupai masa Prapaskah), sebab memang pertobatanlah yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis agar kita dapat dengan layak dan pantas menyambut Kristus Sang Penyelamat.

Bagi saya dalam masa adven, kita semua diajak untuk berubah 180 derajat. Semuanya ini dapat dimulai dari hal-hal
biasa dan kecil. Kita yang awalnya masih membuang sampah sembarangan mulai belajar membuang pada tempatnya. Menurut saya perbuatan ini dapat dikatakan sebagai perbuatan besar karena dengan berbuat demikian, kita turut menjaga kebersihan lingkungan. Menjadikan lingkungan tempat tinggal kita nyaman untuk ditempati. Tentu semua orang akan merasa nyaman, kalau berada di lingkungan yang bersih dari sampah. Tindakan ini
juga dapat dikatakan sebagai bentuk pertobatan, karena adanya perubahan secara sadar untuk menjadikan semuanya menjadi lebih baik.

Ayolah berubah! Kita bertobat mumpung kita sedang berada pada masa yang tepat, masa Adven. Masa di mana kita
mempersiapkan diri dan hati kita untuk menyambut kedatangan Sang Penebus di dalam dunia. Kalau saat ini kita memiliki musuh atau sedang bertikai, mari kita mencari cara untuk rekonsiliasi. Ini bisa diawal dengan bertanya pada diri sendiri, “Apakah tindakan saya terhadap orang yang memusuhi saya itu sudah benar, atau apakah saya hanya sebatas membuat pembenaran diri di hadapan semua orang?” Apakah kita masih menyalahkan orang
lain, atau kita melihat ke dalam diri sendiri untuk kemudian berusaha menciptakan suasana dan hubungan yang lebih baik dan nyaman dari pada sebelumnya.

Dalam pandangan saya, dengan bercermin terlebih dulu, kita dapat membersihkan diri agar layak menyambut Yesus yang berkenan datang dan lahir di dalam hati kita pada saatnya nanti. Dengan demikian, kedatangan Tuhan Yesus juga akan membawa damai dan suka cita yang besar dalam diri kita. Damai dan suka cita itu diperoleh karena adanya perubahan diri yang nyata serta menjadi hasil dari usaha untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain yang sebelumnya rusak oleh karena sikap dan perbuatan kita yang kurang baik.
(Silvius, siswa SMPN 77 Jakarta)

Masih Mungkinkah Hidup Kudus di Jaman Ini?

Beberapa bulan yang lalu, kami berbelanja di toko buku rohani. Dengan jumlah uang yang ada, kami memutuskan membeli lima buah buku yang membahas tentang kehidupan rohani. Malangnya, jumlah uang kami tidak mencukupi untuk membayar kelima buku yang akan dibeli. Tawar menawar sempat berlangsung antara saya dan kasir. Menariknya, ketika percakapan kami berlangsung sekitar satu menit, sang pemilik toko bangkit berdiri dari meja kerjanya. Ia mengamati judul-judul buku yang akan kami beli dan bertanya kepada kami, “kamu frater ya?” “Ia,” jawab saudara disamping saya yang mengenakan salib. Mendengar jawaban itu, sang pemilik toko langsung menyuruh kasir itu menyerahkan buku-buku kepada kami. Ketika saya memasukan buku ke dalam tas, saya mendengar suara dari sang kasir, “Frater itu apa bu?”. “Mereka calon pastur yang akan tidak menikah,” jawab ibu itu. “Emangnya orang bisa ya bu, tidak menikah di zaman ini?”, komentar salah seorang karyawan.

Bagi orang yang tidak paham tentang cara hidup seorang religius khatolik, mereka menganggap tidak menikah itu sebagai suatu hal yang aneh. Apalagi di zaman ini, semua orang pada mengejar kenikmatan duniawi daripada mengejar hal yang surgawi. Hal yang surgawi itu urusan akhirat, intinya apa yang ada di dunia ini harus dinikmati, itulah prinsip orang zaman ini. Prahara surgawi akan dipandang sebelah mata, intinya apa yang ada di depan mata, untuk apa mengejar surga abadi jika surga di dunia ini saja tidak dinikamti. Inilah salah satu alasan orang berpandang bahwa hidup tidak menikah itu aneh bahkan bin ajaib.

Manusia zaman ini berpikir tentang kenikmatan dan kesenangan daripada kebahagiaan. Mereka mendambakan kebahagiaan tetapi mereka tidak menyadari bahwa yang didambakan adalah kenikmatan. Mereka makan di restoran mewah dan berkata “aku sangat bahagia malam ini.” Mereka merayakan ulangtahun di tempat-tempat eksotis dan berkata “aku sangat bahagia di hari ulangtahun ku.” Mereka juga berlibur ke luar negeri dan berkata “aku sangat bahagia mengunjungi tempat ini”. Pertanyaannya, apakah pengalaman-pengalaman itu benar-benar pengalaman bahagia? Atau, justru sebatas pengalaman senang dan nikmat? Bahagia itu sifatnya permanen sementara senang itu sifatnya sementara. Lantas, apa yang kita kejar, yang permanen atau yang sementara? Semua orang pasti akan bersorak dan berkata “kami ingin yang permanen”.

Hidup kudus itu membawa kebahagiaan dan bukan kenikmatan. Hidup kudus itur sifatnya permanen dan bukan sementara. Ketika seseorang menghabiskan makanan, ia akan berkata, “rasanya sangat nikmat”, beberapa menit berselang, kenikmatan akan hilang. Ini berbeda dengan pengalaman hidup doa. Hidup doa yang baik akan membuat hari-hari hidup kita memiliki harapan. Meskipun dalam hidup kita mengalami rentetan persoalan yang cukup rumit, harapan itu tetap ada, sebab kita tidak bersandar pada kekuatan sendiri tetapi pada kekuatan Tuhan. Hidup doa yang baik tentunya harus diikuti dengan tindakan dan tutur kata yang baik pula. Dalam refleksi saya, ketika kita menyelaraskan kedua hal itu, itulah yang disebut dengan kekudusan. Kita akan menemukan kebahagiaan di dalamnya. Oleh karena itu, untuk menjadi kudus tidak perlu hidup dalam pertapaan seperti para rahib zaman dulu, yang dibuhkankan hanya hidup doa yang baik dan tutur kata dan tindakan yang benar. Karenanya, hidup kudus masih sangat relevan di zaman ini.
(Arsy Tendor, OFM)

Jalan Kekudusan

Banyak orang tidak menyadari bahwa Gereja Katolik sangat terbuka terhadap semua niat dan motivasi dalam melayani dengan risiko disakiti dan ditinggalkan. Gereja yang adalah Tubuh Kristus sendiri sungguh rela untuk terbuka, menerima dan terluka. Ia tidak membalas apa yang dilakukan oleh umat kebanyakan. Yang Yesus minta hanya kesungguhan hati untuk terlibat dalam karya Allah di dalam dunia, yang dalam konteks ini dalam pelayanan kegiatan Gereja, sekaligus sebagai bentuk pertobatan dan penyangkalan diri.

Maka dalam setiap kali misa, Yesus meminta kita sungguh-sungguh dalam mengungkapkan doa tobat “Saya mengaku kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan kepada saudara sekalian bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa saya sungguh berdosa…” Yang sering terjadi adalah doa itu sekedar terucap saja dengan lantang tanpa ada niat untuk merenungkan kembali apakah yang telah kuperbuat telah melukai sesamaku?

“Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian supaya mendoakan saya pada Allah Tuhan kita.” Pernahkah kita sungguh-sungguh memohon kepada Bunda Maria untuk mendoakan kita kepada Allah? Yang sering terjadi justru memanfaatkan Bunda Maria supaya Allah berkenan mengabulkan keinginan sendiri; atau berdoa bersama para Kudus yang menjadi nama babtis, dan pengantara kita kepada Allah. Bagaimana mau berdoa dengan perantaraan mereka kalau sejarah dan riwayat hidup santo santa nama babtis sendiri saja tidak tahu. Bagaimana mereka hidup agar menjadi suci dan kudus saja tidak peduli dan berusaha meneladan apa lagi diajak berdoa bersama.

Karya pelayanan kita merupakan bagian dari perutusan Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya di dalam dunia. Harus disadari bahwa setiap orang mendapatkan karunia yang unik dan khas agar dia dapat menjalankan tugas perutusan itu dengan baik. Karena itu setiap pelayanan dalam Gereja – juga hidup sehari-hari – hendaknya didasari oleh keinginan dan motivasi yang kuat untuk memuliakan Tuhan dalam perbuatan, kata-kata dan sikap hidup sehari-hari. Setiap pelayanan, seberat atau sesulit apa pun itu, kalau dijalani dengan kesungguhan hati untuk mengabdi Tuhan, maka ini akan mendatangkan kedamaian dan ketenangan batin. Walaupun ada kalanya harus menanggung kesulitan dan penderitaan, namun kesetiaan untuk tetap mengabdi Tuhan akan membuat kita kuat untuk mengatasi semuanya itu. Masalah atau kesulitannya mungkin tidak akan pernah selesai, tapi kita juga yakin bahwa kuasa Tuhan akan menopang dan bekerja di dalam diri kita. Keyakinan itu akan membuat hidup kita terasa ringan dan bahagia.

Pertobatan menandakan kerendahan hati, serta kemauan untuk menjadikan diri sendiri lebih baik. Ini hendaknya juga disadari sebagai bentuk kesadaran bahwa Tuhan sungguh mengasihi kita. Dia turut menggerakkan hati kita untuk kembali kepada-Nya. Karena itu hendaknya, pertobatan disertai dengan kesungguhan hati dan perbuatan nyata dalam hidup sehari-hari. Ini bisa ditunjukkan dengan ungkapan maaf serta usaha-usaha yang jelas untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari. Pada akhirnya pertobatan akan mendatangkan rekonsiliasi baik personal (dengan orang yang dirugikan), sosial (dengan lingkungan) maupun spiritual (dengan Tuhan).

Pertobatan merupakan langkah awal untuk membuat segalanya jadi lebih baik. Ini tidak dapat dilakukan sendiri tanpa bantuan atau pertolongan Allah. Di sini kita juga membutuhkan doa baik melalui pertolongan para kudus maupun orang lain. Lebih dari itu kita juga mesti berani untuk menata hidup doa sendiri, dan ini berarti memberi waktu untuk membangun relasi yang akrab dengan Tuhan sendiri. Doa bukan sekadar rumusan yang harus dihafal tapi benar-benar menjadi ungkapan hati seorang anak kepada Bapanya yang ada di surga. Lebih dari itu, kasihlah yang mendasari doa kita. Kita berdoa karena kita dikasihi Allah, dan karenanya kita juga diutus untuk membagikan kasih Allah yang kita terima itu kepada orang lain.

(Ajisaka, Benediktus)

Menjadi Muslimah yang Toleran

Bagi Silvia Ayu Rianti, penghayatan dalam Islam berdasarkan asal kata- nya (Arab: al-islām, “berserah diri kepada Tuhan”) berarti seseorang yang mau menyerahkan segala sesuatu kehidupan baik di dunia maupun di akhirat hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala (Allah SWT). Gadis yang kerap disapa Silvi ini menganut Islam sejak lahir karena dibesarkan dalam keluarga muslim. Dari kedua orang tuanyalah Silvi diajarkan bagaimana memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai luhur keislaman, sebagaimana yang terkandung dalam Al-Quran. Kewajiban utama umat islam adalah membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-quran. Dari situ, umat Islam mampu mengenal Allah yang diimani dan hak-hak yang diperolehnya dari iman kepada Allah SWT,” tutur gadis kelahiran Padang, 28 Oktober 1994 ini.

Ia mengaku sejak usia 6 tahun mulai belajar Al-quran dan tetap setia menekuninya sampai kini. Di usianya yang ke-24 tahun, Silvi juga tetap berusaha setia menjalankan sholat dan mengenakan hijab. Menurutnya, sholat adalah fondasi iman yang mampu menenangkan diri dalam mengintenskan realsi yang lebih erat dengan Allah dan sesama ciptaan. Sementara hijab merupakan ungkapan simbol kerendahan hati untuk menjaga dan menghormati harkat dan martabat perempuan muslimah seperti dirinya.

Lantas, apa makna toleransi antara umat beragama baginya? Sejauh mana ia mampu menghayati toleransi dalam kehidupannya? Bagi gadis manis berparas ayu ini, toleransi terhadap umat beragama sangatlah penting. Walaupun keyakinan berbeda tetapi setiap orang pasti mempunyai tujuan hidup yang sama yaitu, kedamaian jiwa di dunia dan akhirat. Ia bersyukur karena lahir dan besar dalam keluarga dan lingkunganku yang sangat menghargai umat agama lain. Selain itu, sejak kecil dia sudah terbiasa belajar untuk hidup terbuka dan berdampingan deng an umat beragama lain. Itu yang menjadi bekalnya ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah dan bekerja di Jakarta. Dia dapat bergaul dan berbaur dengan siapa saja, termasuk teman-teman dari aga- ma yang berbeda. Ia sadar, pengalaman perjumpaan dengan orang-orang dari latar belakang agama ataupun budaya yang berbeda membuatnya memahami makna keberagaman sebagai anugerah yang indah dalam kehidupan bermasyarakat.

Terkait tindakan intoleran yang terjadi di Indonesia belakangan ini, ia merasa resah dan prihatin. “Sebaiknya setiap kasus tidak dijadikan alasan politik. Demikian pula, setiap organisasi Islam harus bebas dari kepentingan politik. Maka, gerakan-gerakan fundamentalis yang bermaksud meneror masyarakat dengan mengatasnamakan Islam, pastinya berseberangan dengan kaidah hukum Islam yang mengajarkan hukum cinta kasih,” tuturnya.

Ia berharap, setiap orang, khususnya kaum muslim, harus dapat menghargai, menghormati, bahkan melindungi umat beragama lain yang minoritas. Selain itu, ia juga berharap agar umat beragama lain tidak memandang Islam dengan sebelah mata. Jangan sampai umat beragama lain terpengaruh “virus” Islamophobia (ketakutan terhadap segala sesuatu tentang Islam). Maka, hal yang dapat diupayakan bersama adalah menjalin relasi persaudaraan melalui silaturahmi dan dialog yang membantu setiap umat beragama untuk saling mengenal dan menghargai keyakinan masing-masing, tanpa pretensi untuk merugikan umat beragama lain.

(Saudara Peziarah).

Anti Hoax

Hoax bisa didefinisikan sebagai kabar bohong. Termasuk di dalamnya berita dan laporan palsu, informasi dan pengumuman sesat, serta upanya pengibulan lain, yang umumnya berbentuk pesan.

Berbagai informasi berseliweran melalui media sosial (medsos) dan aplikasi obrolan. Di antara kita kadang bertanya tentang kebenaran suatu informasi. melalui akun semacam twitter, facebook atau di grup seperti whatsapp biasanya kita menampilkan suatu foto, pesan pendek dengan tautan berita dan mengetik “Apa ini betul?” “Mohon konfirmasi…” atau bahkan “Tolong bantu sebarkan…” Tapi ternyata kita tidak tahu dengan pasti bahwa materi yang kita paparkan itu adalah informasi keliru, palsu, sesat atau bohong belaka.

Di era informasi dengan berbagai ponsel-pintar dan gawai canggih lainya, penyebaran informasi sesat atau pun berita bohong, yang dikenal dengan istilah hoax, memang tidak terhindarkan. Di Indonesia hal ini terjadi menjelang serta saat pemilihan presiden, juga kepala daerah.

Bahkan dalam hal keagamaan pun, Keuskupan Agung Jakarta sempat harus membuat bantahan dan klarifikasi saat beredar informasi palsu tentang warna pakaian umat dalam peringatan Pekan Suci yang lalu.

Rupanya penyesatan lewat kabar palsu ini menjadi perhatian Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia yang diperigati setiap tahun pada hari Minggu sebelum Pentakosta. Dalam perayaan ke-52 tahun ini, yang jatuh pada 13 Mei, tema yang dipilih adalah “Kebenaran akan Memerdekakanmu (Yoh 8:32): Berita Bohong dan Jurnalisme untuk Perdamaian.”

Saat meyampaikan pesannya pada tanggal 24 Januari (perayaan Santo Fransiskus de Sales, pelindung para jurnalis) Paus Fransiskus mengatakan bahwa penyebaran hoax adalah perbuatan setan. Ia mengimbau agar para jurnalis dan penggiat media sosial menghindari penyebaran berita bohong atau palsu yang dapat memicu perpecahan hanya demi kepenting an politik serta ekonomi pihak tertentu.

Paus membandingkan penyebaran informasi sesat itu dengan kisah manusia jatuh ke dalam dosa karena godaan iblis yang menyamar sebagai ular (Kej. 3:1-15). Menurutnya, tipuan tersebut adalah penyebaran berita bohong pertama di dunia. Taktik licik seperti itulah yang kemudian menyebabkan kisah tragis dosa manusia lainnya seperti pembunuhan pertama (Kej. 4) dan kemudian diikuti berbagai kejahatan lain melawan Tuhan, sesama manusia, masyarakat dan ciptaan lainnya.

Hoax bisa didefinisikan sebagai kabar bohong. Dalam artian yang lebih luas, hal ini termasuk berita dan laporan palsu, informasi dan pengumuman sesat, serta upanya pengibulan lain, umumnya berbentuk pesan. Motifnya bisa untuk mengeruk keuntungan dan kepentingan lain.

Sebenarnya penyesatan dalam bentuk hoax ini sudah lama muncul. Contohnya klasiknya adalah pesan berantai tentang cara menjadi manusia sakti, melipat-gandakan uang, undian berhadiah, pengobatan segala jenis penyakit dan ancaman bencana alam. Dengan bertambah  canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, hoax juga dimanfaatkan untuk hal-hal lain termasuk persaingan politik.

Salah satu keadaan yang sering membuat hoax cepat menyebar adalah ketidakmampuan sebagian pengguna media sosial dan anggota chat group (aplikasi obrolan kelompok) untuk membedakan apakah suatu informasi atau berita itu adalah benar atau bohong. Terlebih, ada yang menjadi lebih emosional dibanding rasional saat membaca pesan, kabar atau pun laporan yang menggugah perasaan atau keyakinan mereka.

Banyak di antara kita yang khawatir dan muak dengan makin seringnya hoax beredar. Apalagi Indonesia termasuk pengguna media sosial (khususnya facebook dan twitter) tertinggi di dunia, sekaligus salah satu negara dengan pasar dan jumlah pemakai ponsel terbesar sejagat. Hal ini, sayangnya, dimanfaatkan oleh “pihak yang bertaktik licik” dengan menampilkan kebohongan, juga hasutan, dan kebencian, yang berlawanan dengan fakta yang ada.

Keresahan makin bertambah karena hoax dirasakan sebagai upanya pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh suasana demi kepentingan mereka secara tidak bertanggung jawab. Fenomena penyesatan ini akan berdampak pada kerukunan hidup berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Modus para pembuat informasi palsu umumnya adalah mengambil berita atau foto dari media-media terkenal. Mereka meniru berita asli, mengubah judul, isi, mengedit gambar sehingga terlihatan  masuk akal; untuk kemudian disebarkan di medsos (facebook, twitter, instagram, path dan lainnya), atau aplikasi obrolan (whatsapp). Ada juga yang menyebar berita bohong dengan membuat website dengan meniru nama media resmi.

(Chris)

Makna Abu pada Rabu Abu

Masa Prapaskah akan segera tiba. Tanggal 14 Februari 2018 adalah hari pertama Masa Prapaskah kita. Setiap kali mengawali masa prapakah, kita, mengadakan ibadat yang dikenal dengan Rabu Abu. Sebutan Rabu Abu itu menunjuk pada isi ibadat tersebut yaitu kita menerima abu tanda pertobatan.

Mengapa kita menggunakan abu pada diri kita dan apa maknanya? Penggunaan abu dalam liturgi Rabu Abu, berasal dari Perjanjian Lama, di mana abu merupakan lambang perkabungan, ung kapan rasa sesal, kerendahan dan pertobatan. Salah satu kisah dalam Kitab Suci yang menunjukkan penggunaan abu sebagai tanda berkabung dan pertobatan dapat kita temukan dalam kisah Nabi Yunus. Pada waktu Yunus di kota Niniwe, ia berseru supaya orang kembali pada Tuhan dan melakukan pertobatan. Orang-orang Niniwe menerima seruan Yunus kemudian memaklumkan puasa serta mengenakan kain kabung sembari duduk di atas abu. Dalam Injil kita juga menemukan kisah dimana Tuhan Yesus menyinggung tentang pemakaian abu yang ditujukan untuk kota yang menolak melakukan pertobatan dari dosa walau sudah melihat sendiri mujizat secara nyata dan mendengarkan kabar gembira.

Dalam sejarah Gereja Perdana, kita menemukan kebiasan umat menggunakan abu sebagai simbolisasi pertobatan. Seorang pujangga Gereja bernama Tertulianus, yang hidup di sekitar tahun 160-230 Masehi, menulis dalam bukunya De Poenitentia, “Jika seorang pendosa mau bertobat maka ia harus hidup tanpa bersenang-senang dan mengenakan kain kabung serta abu.” Tertulianus juga menuliskan suatu peristiwa di mana ada seorang murtad bernama Natalius yang datang pada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung serta abu lalu memohon pengampunan. Pada masa itu rupanya sudah ada kewajiban bagi mereka untuk menyatakan tobat di muka umum dan meminta imam untuk mengoleskan abu di kepala mereka sesudah melakukan pengakuan.

Pada abad pertengahan, juga ada kebiasaan yang tumbuh di tengah masyarakat, bagi mereka yang sedang menghadapi ajal akan dibaringkan di atas tanah beralaskan kain kabung lalu diperciki dengan abu. Imam akan memberikan berkat pada orang tersebut dengan air suci sambil berkata, ”Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Sejak abad pertengahan inilah Gereja memakai abu sebagai tanda dimulainya masa pertobatan yang dilakukan di masa Prapaskah. Hal ini untuk mengingatkan umat beriman bahwa hidup di dunia ini tidaklah abadi dan harus menyesali segala dosa yang sudah diperbuat.

Pada perayaan Rabu Abu sekarang ini, abu yang digunakan diambil dari daun palma yang sudah diberkati di hari Minggu Palma tahun sebelumnya yang kemudian dibakar. Imam akan memberkati abu tersebut lalu menorehkannya pada dahi umat beriman membentuk tanda salib sambil berkata, “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu,” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”

Masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu Abu ini menjadi awal pembaharuan diri, intropeksi diri serta pertobatan. Sikap mawas diri dan pertobatan merupakan panggilan hidup bagi umat yang percaya. Merayakan Rabu Abu bukan hanya sekedar paham akan arti abu sebagai tanda pertobatan dan penyesalan atas segala dosa. Merayakan Rabu Abu berarti mengungkapkan pertobatan dengan melakukan puasa dan berpantang, menahan hawa nafsu dan tidak berbuat dosa serta semakin peduli terhadap sesama.

Dengan demikian, Rabu Abu sendiri dapat dimaknai sebagai ungkapan sikap penyesalan serta pertobatan yang didasari kesadaran bahwa hidup manusia ini fana serta sangat bergantung pada rahmat Kristus yang mampu menyelamatkan kita dari hukuman dosa. Tanda salib dari abu yang diterakan pada dahi merupakan tanda peringatan bahwa kita adalah manusia yang penuh dosa dan sudah membuat Yesus disalibkan karena dosa yang sudah kita perbuat itu. Maka umat yang datang ke gereja pada masa Rabu Abu akan diberi tanda salib dengan abu pada bagian dahi sebagai pengingat kita bahwa kita telah berdosa, namun memperoleh jalan keselamatan yaitu dalam salib Tuhan Yesus Kristus.

Yustinus A. Setiadi, OFM

Sang Raja Telah Datang, Songsonglah Dia!

Natal merupakan suatu peristiwa iman. Artinya, Natal dimaknai sebagai momen yang tepat bagi kita untuk menyongsong kedatangan Yesus Sang Raja ke dalam dunia. Ia datang atas kehendak Nya sendiri, terutama untuk mengangkat kita dari lumpur dosa. Itulah sebabnya, pada hari Natal, Ia pertama-tama hadir di dalam hati kita masing-masing. Sudahkah kita mempersiapkan diri guna menyambut kedatangan Sang Juru Selamat?

Persiapan diri tidak hanya merujuk pada persiapan lahiriah, seperti menyediakan pernak-pernik Natal, membuat kartu ucapan, membeli baju baru, membuat kue Natal, dan lain sebagainya. Persiapan yang utama adalah persiapan batin. Kita menyucikan hati agar menjadi “palungan” bagi Tuhan. Hati yang bersih adalah tempat yang pantas dan layak bagi-Nya. Pertanyaan reektifnya adalah bagaimana kita dapat mempersiapkan batin kita secara lebih baik?

Bacaan-bacaan Injil selama empat pekan masa Adven menjadi jawaban yang tepat. Makna yang terkandung di dalam Injil itu merupakan pedoman dalam bertingkah laku sekaligus petunjuk praktis untuk persiapan yang lebih baik. Itulah sebabnya, teramat penting bagi kita untuk merefleksikan dan menghayatinya.

Pada Minggu Adven pekan pertama, kita semua diajak untuk senantiasa berjaga-jaga (Mrk. 13:33-37). Berjaga-jaga berarti menarik diri dari segala kesibukan. Tujuannya jelas, yakni supaya kita meluangkan banyak waktu untuk membangun relasi yang mesra dengan Tuhan. Dengan demikian, ketika Ia datang, kita berada dalam disposisi iman yang tepat. Pada Minggu Adven pekan kedua, Yohanes Pembaptis mendorong kita untuk mempersiapkan jalan bagi Sang Juru Selamat (Markus 1:1-8). “Ada suara yang berseru-seru di padang gurun, persiapkan jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan baginya” (Mrk. 1:3). Jalan yang dimaksudkan Yohanes tak lain ialah hati kita masing-masing, sebab ketika Yesus datang, Ia akan tinggal dan bersemayam di dalam hati kita. Lalu, bagaimana kita dapat meluruskan jalan bagi Tuhan? Salah satu caranya adalah dengan menerima sakramen tobat. Melalui sakramen ini, kita secara eksplisit mengungkapkan dan menyesali segala dosa, serta berniat teguh untuk memperbaikinya.

Pada Minggu Adven pekan ketiga, Yohanes penginjil mengajak kita pula untuk menjadi saksi Kristus (Yoh. 1:6-8; 9-28). Menjadi saksi berarti mewartakan Kristus dengan perkataan dan perbuatan, tanpa hasrat untuk menonjolkan diri. Dalam hal ini, Yohanes Pembaptis patut diteladani. Ia mewartakan sukacita Injil dengan penuh kerendahan hati dan kesederhanaan. Ia tidak mencari muka ataupun memegahkan diri. Ia melihat dan menempatkan dirinya sebagai hamba Tuhan yang hina dina. Namun, justru dalam kehinaan itulah, Yohanes Pembaptis menunjukkan kekayaan rohani yang berlimpah ruah. St. Paulus bahkan meneladani kerendahan hati Yohanes Pembaptis. Itulah sebabnya, Tuhan sendiri berkata kepadanya demikian: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna (2Kor. 12:9)”. Sabda ini dengan tegas memperlihatkan bahwa di hadapan-Nya, kita adalah makhluk yang lemah. Maka, jangan pernah menyombongkan diri! Segala yang kita miliki saat ini, baik harta benda yang berlimpah maupun potensi diri yang berkembang pesat, adalah anugerah Tuhan. Manfaatkanlah itu sebagaimana mestinya, sesuai dengan tugas perutusan kita masing-masing.

Pada Minggu Adven pekan keempat, Lukas pengarang Injil juga mengundang kita untuk melakukan dua hal penting ini (bdk. Luk. 1:26-28). Pertama, kita mesti meneladani Maria dalam mengungkapkan ketaatan total pada kehendak Allah. “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Karena penyerahan diri yang total kepada Allah, Maria mendapat karunia terbesar. Ia menjadi Bunda Allah sekaligus Bunda Gereja. Dalam kehidupan nyata, ketaatan total kita pada Allah terlihat jelas dalam pekerjaan atau kegiatan sederhana yang kita lakukan dengan tulus. Kedua, kita semua dipanggil untuk menjadi “ibu yang me ngandung, melahirkan, dan membesarkan” bayi Yesus dalam hati kita. Artinya, segala bentuk pelayanan atau pun tingkah laku dan tutur kata kita mesti dilandasi oleh iman pada Kristus. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadikan Kristus semata-mata milik kita, tetapi juga mewartakan-Nya kepada sesama. Inilah hakikat Gereja sebagai paguyuban umat beriman yang berciri misioner.

Menjalankan tugas perutusan kita masing-masing berdasarkan tugas yang diserahkan Allah

kepada Gereja merupakan upaya kita untuk menyongsong kedatang an Sang Juru selamat. Ia adalah imam, nabi, dan raja. Oleh karena itu, sebagai pengikut-Nya yang setia, kita harus berpartisipasi aktif dalam tugas imami, kenabian, dan rajawi Kristus. Selamat merayakan Natal saudara-saudariku seiman. Rayakanlah kelahiran Tuhan dengan sukacita dan maknailah perayaan ini sebagai bentuk kelahiran kita yang baru dalam iman, roh, dan kebenaran. Amin.

Fr. Ervino Hebry Handoko, SX

Persiapan Diri Menyambut Kedatangan Tuhan

Manusia senantiasa mengarahkan seluruh diri dan hidupnya ke masa depan. Karena dipandang masih mengandung sejuta misteri, tak seorang pun mampu mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa depan. Sebagai langkah antisipatif, manusia kemudian menyusun rencana. Di atas fondasi rencana yang tersusun rapi, ia membangun harapannya.

Setiap orang tentu saja mengharapkan hal yang baik ter- jadi dalam hidupnya. Itulah sebab- nya, rencana yang matang selalu dibutuhkan. Akan tetapi, kenyata- an seringkali memperlihatkan hal yang berbeda. Segala rencana yang tersusun rapi tidak selalu berjalan mulus, sehingga harapan pun ti- dak selalu bisa dicapai. Meskipun demikian, adanya rencana dan harapan dalam hidup sejatinya dapat membangkitkan semangat dalam diri untuk melangkah tanpa ragu menuju masa depan. Inilah yang disebut dengan persiapan diri. Apa pun yang terjadi, manu- sia akan selalu mempersiapkan dirinya untuk menyambut hari esok.  Dengan persiapan diri, ia memaknai hidup  dan menjadikan dirinya sendiri berkualitas.

Bagi kita umat Katolik, menantikan kedatangan Tuhan Sang Juru Selamat menuntut adanya persiapan diri. Masa Ad- ven adalah masa penantian. Pada masa ini, kita mendapat kesem- patan istimewa untuk memper- siapkan diri sebaik mungkin. Kita berupaya memperbaharui diri dengan mengubah sikap, perilaku, tindakan, dan tutur-kata menjadi lebih baik. Itu berarti, persiapan diri yang dimaksud di sini lebih merupakan persiapan batin. Kita mempersiapkan batin kita sede- mikian rupa, agar layak menyam- but kedatangan pewahyuan Al- lah yang begitu sempurna dalam pribadi Yesus Kristus. Dengan de- mikian, kelahiran Kristus menjadi tanda dan sarana kelahiran kita menjadi manusia baru.

Persiapan diri mencapai kesempurnaannya dalam doa. St. Paulus, dalam suratnya yang per- tama kepada jemaat di Tesalonika, dengan tegas berkata bahwa setiap orang harus mempersiapkan dirinya dengan tidak bercacat dan kudus untuk menyambut ke- datangan Kristus (bdk. 1 Tes: 3:13). “Kudus” dan “tidak bercacat” melambangkan kesempurnaan. Sebagai pengikut Kristus yang sejati, kita tentu dipanggil pada kekudusan. Tuhan yang Maha ku- dus itu hanya layak disambut oleh manusia berhati murni, suci, dan tak bercela.

Kita memang makhluk yang berdosa, namun kerendahan hati kita untuk mengakui segala dosa di hadapan Allah dan komitmen yang kuat untuk mengubah diri membawa kita kepada kekudusan. Doa yang lahir dari kesadaran nurani yang murni untuk memo- hon belas kasihan Tuhan menjadi dasar bagi kekudusan kita. Oleh karena itu, dalam masa Adven ini, kita mesti berupaya menggapai kekudusan kita masing-masing dengan membuka hati dan mem- biarkan Allah berkarya dalam diri dan kehidupan kita.

Iman tanpa perbuatan adalah mati. Demikian kata St. Yakobus. Persiapan diri yang baik dalam menyongsong kelahiran Sang Putera menuntut iman yang penuh dan utuh dari kita. Agar bermakna, iman haruslah terejawantah dalam tindakan harian kita. Melayani sesama yang menderita, bersikap jujur, menghargai orang tua, berpikir positif, dan segala tindakan sederhana yang ber- makna lainnya, memperlihatkan seberapa teguh iman kita kepada Sang Juru Selamat. Inilah bentuk persiapan diri kita yang paling hakiki dalam menantikan Dia.

(Fr. Albertus Dino OFM)

 

 

 

 

Mengapa Indulgensi?

Pada tanggal 1-8 November ini Gereja membuka kesempatan kepada kita untuk mendoakan arwah saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia. Dan pada kesempatan ini kita dapat memohonkan kepada Tuhan: indulgensi baik penuh maupun sebagian, untuk mereka yang sudah meninggal yang kita kasihi. Banyak orang yang bingung dengan indulgensi ini. Untuk apakah sih indulgensi itu? Apakah itu hanya untuk mereka yang meninggal tanpa sempat menerima sakramen pengakuan dosasehinggauntukitukitaperlu memohonkan pengampunan atas dosa-dosa mereka? Lalu bagi yang sudah sempat mengaku dosa sebelum meninggal berarti tidak perlu donk!

Tentu saja semua saudara kita yang sudah meninggal memerlukan indulgensi karena indulgensi bukanlah penghapusan dosa tetapi pengurangan atau penghapusan hukuman atas dosa. Jadi meski dosa-dosa kita sudah diampuni oleh Tuhan tetapi itu tidak berarti bahwa hukuman dosa kita pun ikut terhapus. Bagi kita orang Indonesia, konsep ini memang kadang membingungkan karena pemikiran ini lebih sesuai dengan konsep pemikiran Barat.

Saya jadi ingat waktu saya masih sekolah di seminari Bogor. Pada waktu itu yang menjadi rektor kami adalah Pater Remedius Wijbrands, OFM. Saya waktu itu masih duduk di bangku kelas II siswa Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Pada suatu hari Minggu, di malam hari, saya dengan teman-teman, karena lapar, diamdiam mengambil sisa nasi di dapur dan makan sembunyi-sembunyi. Menurut peraturan seminari ketika itu, kami dilarang untuk makan di luar waktu makan. Sedang asyik-asyiknya kami makan, kami tak menyadari kedatangan Pater Rektor. Maka kamipun diminta menghadap beliau esok paginya dan kami dihukum tidak boleh menonton televisi seminggu penuh. Padahal nonton TV adalah satu-satunya hiburan kami saat itu. Keesokan harinya sayapun memberanikan diri menghadap beliau untuk mengakui kesalahan saya dan sekaligus minta maaf. Untunglah Pater Rektor berbaik hati memaa an seluruh kesalahan saya. Maka setelah bersalam an tanda bahwa saya diampuni segera saya bersorak dan dengan girang berkata pada beliau, “Pater jadi karena sudah diampuni saya sekarang boleh nonton TV dong?” Namun apa jawab beliau? “Ya untuk urusan kesalahan atau dosa kamu sudah saya maafkan dan saya ampuni, tapi hukuman atas kesalahanmu yakni seminggu tidak nonton TV tetap berjalan. Itu tidak hilang dengan diampuninya kesalahanmu.”

Oh, ternyata antara pengampunan dosa dan penghapusan hukuman dosa itu sesuatu yang berbeda dalam konsep pemikiran Barat. Pengampunan dosa berarti bahwa relasi dan hubungan kita dengan Allah sejak saat pengampunan itu dipulihkan lagi, karena dosa itu memutuskan relasi kita dengan Allah. Dengan diampuni dosa kita maka hubungan kita dengan Allah dipulihkan kembali, disambung kembali, itulah yang namanya rekonsiliasi. Namun, hukuman atas dosa tetap harus kita pikul dan kita jalani kecuali kalau kita mendapat penghapusan atas hukuman dosa atau yang kita kenal dengan nama indulgensi. Itulah mengapa indulgensi masih perlu kita mohonkan bagi saudara-saudari kita yang sudah meninggal.

Doa mohon indulgensi adalah sebuah bentuk solidaritas kasih kita pada mereka yang sudah meninggal karena untuk mendapatkan indulgensi itu kita harus selain mendoakan mereka selama 9 hari berturut-turut juga selama seminggu sebelum atau sesudah tanggal 2 November, yang merupakan hari saat kita memperingati arwah semua orang beriman, kita harus mengaku doa. Selama doa novena itu kita juga harus menyambut ekaristi kudus dan berdoa satu kali syahadat untukintensiPauspadabulantersebut. Bagi kita yang tidak tahu apa intensi Paus bulan tersebut cukup mendoakan bahwa syahadat ini dipersembahkanbagiintensiPaus.

Pertanyaan Reflektif:

1. Sudahkah Anda memanfaatkan dengan sebesar-besarnya anugerah yang diberikan Gereja untuk membantu mereka yang sudah meninggal?

2. Bagaimana peringatan arwah ini sungguh menjadi kesempatan bagi kita untuk solider dengan orang lain?

Thomas Ferry S, Ofm

Maria: Bunda yang Dijadikan Gereja

Apa yang anda inginkan ketika berdoa kepada Santa Maria, entah itu doa Rosario, Litani Santa Maria atau Novena tiga kali Salam Maria? Apakah karena Anda punya ujub, punya intensi, punya keinginan? Kita berharap dengan doa-doa yang kita haturkan, Bunda berkenan menghantarkannya kepada Allah agar dikabulkan. Kalau Bunda sendiri yang berbicara kemungkinan besar didengar Allah mengingat kedekatannya dengan Allah. Ia adalah putri Allah Bapa, bunda Allah Putra dan mempelai Allah Roh Kudus. Kalau itu jawabannya, hati hatilah! Sebab mungkin Anda sebenarnya tidak sedang berdevosi pada Bunda Maria tapi memanfaatkan Bunda Maria untuk devosi Anda pada ego sendiri. Akibatnya doa menjadi dosa!

Santo Fransiskus Assisi kiranya dapat kita teladani sehingga kita berdevosi secara benar kepada Bunda Maria. Menurut omas dari Celano, Santo Fransiskus tak hanya berdoa tetapi hidupnya sudah menjadi doa. Ia tak hanya berdoa kepada Maria tetapi seluruh hidupnya bagaikan sebuah untaian rosario yang indah dan layak dipersembahkan oleh Maria kepada Allah.

Salah satu kekhasan devosi Fransiskus kepada Bunda Maria tersirat dalam doa yang digubahnya sendiri yakni Salam kepada Santa Perawan Maria, katanya: “Salam, Tuan Putri, Ratu Suci, Santa Bunda Allah, Maria: Engkau adalah perawan yang dijadikan Gereja.” Gelar terakhir tersebut kiranya janggal dan jarang terdengar. Apa maksudnya ia menggelari Bunda Maria demikian?

Sebenarnya gelar itu bersumber pada teologi para bapa Gereja namun kemudian tak populer lagi bahkan sejak abad pertengahan sampai muncul lagi gelar yang mirip itu (Maria Model Bagi Gereja) dalam Dokumen Konsili Vatikan II: Lumen Gentium. Dalam gelar itu Fransiskus menghormati Bunda Maria karena kesediaannya untuk berperan dalam sejarah keselamatan. Ia mau dipilih Allah untuk menjadi Bunda yang mengandung dan melahirkan Yesus Kristus demi keselamatan kita.

Ketika Fransiskus diminta Tuhan melalui suara yang ia dengar dari salib di Gereja San Damiano: “Perbaikilah Gereja-Ku yang kaulihat nyaris roboh ini.” Fransiskus sadar bahwa untuk merenovasinya, ia butuh acuan atau model. Sama seperti kita ketika mau membangun kembali rumah harus punya model atau gambarnya sebagai acuan. Fransiskus menemukan acuan atau model pembaharuan Gereja itu justru dalam diri Maria. Maria tak hanya mengandung dan melahirkan Yesus secara fisik tetapi juga secara rohani dengan secara sempurna mengikuti Yesus, Putran ya. Salah satunya: sama seperti Yesus, Santa Maria pun “menjadi miskin serta penumpang dan hidup dari sedekah.” Karena Gereja bukan gedung tapi persekutuan orang-orang yang beriman kepada Kristus. Maka membangun Gereja dengan menjadikan Maria sebagai model artinya berupaya agar kita semua berjuang menjadikan diri kita seperti Maria, model Gereja, model kita semua. Menurutnya, kita menjadi ibu bila kita mengandung Yesus di dalam hati dan tubuh kita karena kasih Ilahi dan karena suara hati yang murni dan jernih; kita melahirkan Yesus melalui karya yang suci, yang harus bercahaya bagi orang lain.

Mengandung Yesus berarti menyimpan sabda-Nya dan selalu mendengarkan-Nya berbicara lewat hati nurani kita. Sedangkan melahirkan Yesus berarti berbuat kebaikan demi menjalankan sabda dan kehendak Tuhan. Maka berdevosi bukan hanya soal bagaimana doa kita dikabulkan tapi bagaimana kita belajar memahami dan menerima kehendak Allah lewat

bersyukur bila doa terkabul, sebaliknya sabar, ikhlas, tidak kecewa atau protes bila belum dikabulkan Tuhan. Kita percaya entah dikabulkan atau tidak, Tuhan pasti memberi yang terbaik bagi kita semua lebih dari yang kita harapkan

dan bayangkan. Itulah bakti atau devosi Maria kepada Bapa yang hendaknya menginspirasi kita agar sungguh-sungguh berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria.

Pertanyaan Reflektif

1. Selama ini sudahkan Anda berdoa secara benar atau sebenarnya Anda malahan sedang berdosa dengan doa Anda sendiri?

2. Bagaimanakah Anda belajar memahami kehendak Bapa dalam novena yang Anda doakan?