ASIAN YOUTH DAY 2017

ASIAN YOUTH DAY 2017

“Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia”

Asian Youth Day (AYD) atau Hari Orang Muda Asia adalah perjumpaan orang muda Katolik se-Asia. Acara ini diselenggarakan tiga tahunan dan dihadiri kurang lebih seribu sampai tiga ribu OMK perwakilan dari berbagai negara di Asia. AYD digagas oleh pembina OMK se-Asia dan disetujui oleh Federasi Konferensi Uskup-uskup se-Asia (FABC) dibawah kantor Komisi Keluarga dan Kerawam bagian kepemudaan.

Ajang Asian Youth Day (AYD) ke-7 di Yogyakarta mengusung tema Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia”merupakan implementasi dari keberagaman Indonesia. Acara ini diikuti 2.140 peserta dari 19 konferensi uskup-uskup se-Asia. Dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti AYD diadakan rekoleksi pra-AYD yang diikuti 102 OMK KAJ. AYD terdiri dari 3 acara besar yakni Day in the Diocese, Days in AYD’s Venue and Asian Youth Ministers’ Meeting (AYMM)‎, yang dilaksanakan dari tanggal 29 Juli hingga 6 Agustus 2017.

Pada tanggal 1 hingga 6 Agustus 2017, para delegasi dari berbagai negara di Asia berkumpul bersama untuk mengikuti Days in AYD’s Venue di Yogyakarta. Acara puncak ini dipusatkan di Jogja Expo Center, yang diikuti oleh seluruh peserta dan Uskup dari berbagai negara di Asia. Pada acara puncak tersebut, kami diajak untuk berbaur dengan OMK dari berbagai delegasi, bertemu dengan uskup-uskup di Asia, festival budaya, seminar, mengunjungi tempat-tempat di Yogyakarta untuk mengetahui keberagaman budaya, agama, bahasa di Indonesia. Misa penutup yang dikuti hampir 5000 umat katolik di jogja dan tidak ketinggalan dihadiri oleh wakil Presiden Jusuf Kalla. Sedangkan acara Asian Youth Ministers’ Meeting (AYMM)‎dikhususkan untuk para pembina OMK negara-negara Asia. Pesertanya antara lain uskup, pastor, dan awam yang terlibat dalam komisi kepemudaan tingkat nasional.

Dari perhelatan akbar tiga tahunan ini, saya merefleksikan bahwa tujuan AYD adalah memberikan kesempatan kepada Orang Muda Katolik untuk memperbaharui dan memperdalam iman mereka sebagai murid Kristus dalam dialog multikultural dan bekerja untuk keadilan sosial dan perdamaian.Harapan saya ke depan adalah semoga acara ini terus ada, OMK Kramat lebih berpartisipasi aktif dan makin eksis dalam pelayanan baik digereja maupun diluar gereja. Terima kasih. (Bastian)

Foto AYD

Merindukan Toleransi Gus Dur

KOMPAS / TOTOK WIJAYANTO

[ARSIP FOTO] Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Musyawarah Luar Biasa Parung Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan tausyiah di hadapan peserta Dialog Kebangsaan Pemberantasan Korupsi di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (15/6/2008). KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

JAKARTA, KOMPAS.com — Sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tak asing dengan gagasan toleransi antarumat beragama. Bagi Indonesia dan dunia, sosok Presiden keempat RI itu nomor wahid bila berbicara soal toleransi.

Merawat toleransi bagi Gus Dur merupakan proses penting untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarumat beragama. Toleransi itu tidak hanya untuk menciptakan, tetapi juga merawat. Gus Dur sadar betul bahwa keharmonisan harus dijaga karena akan sulit memulihkan bila sudah retak.

Oleh karena itu, setiap bangsa, termasuk Indonesia, setidaknya perlu memiliki kemampuan pemulihan hubungan.

“Kegagalan dalam hal ini (memulihkan hubungan) dapat mengakibatkan ujung traumatik yang mengerikan: terpecah-belahnya kita sebagai bangsa,” tulis Gus Dur dalam judul ‘Islam dan Hubungan Antarumat Beragama’ dalam harian Kompas, Senin 14 Desember 1992.

Pandangan Gus Dur ini tentu tak lepas dari keberagaman umat beragama di Indonesia. Bahkan, Indonesia juga ragam akan keyakinan, kelompok, ras, dan etnis. Sebuah negeri di mana semua tumbuh dengan tanpa rasa takut.

Negeri ini tak didirikan atas dasar kelompok tertentu, tetapi keragaman. Akan tetapi, di Indonesia pula, menurut Gus Dur, keharmonisan akan rapuh sendiri bila ada benturan kepentingan. Dia menggambarkan akan muncul sikap saling menyalahkan.

Di titik ini, sebuah bangsa memerlukan kemampuan pemulihan atas keretakan tersebut. Lantas, bagaimana pandangan Gus Dur soal pemulihan keretakan hubungan?

Secara gamblang, Gus Durdalam tulisannya mengatakan bahwa masalah pokok dalam hal hubungan antarumat beragama adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan.

Menurut dia, bangsa akan kukuh bila umat agama-agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain, bukan hanya sekadar saling menghormati.

“Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging), bukannya hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain,” tulis Gus Dur.

Pemikiran Gus Dur tentu bisa menjadi rujukan Indonesia saat ini, di mana kita tengah berada di antara hiruk pikuk toleransi antarumat beragama. Keriuhan yang kerap kali membuat kita kerap melupakan rasa saling memiliki satu sama lain. Bahkan, untuk tenggang rasa pun tampak sulit tercipta.

Penulis : Kahfi Dirga Cahya
Editor : Fidel Ali