Makna Pembaptisan Bayi

Tradisi membaptiskan anak-anak di usia balita, atau sering disebut baptisan bayi merupakan pelayanan Gereja yang telah berlangsung, sejak awal tumbuhnya Gereja. Hingga saat ini Gereja Katolik terus melanjutkan tradisi ini. Bahkan kepada pasangan suami istri atau calon pengantin, Gereja memberikan himbauan agar mereka membawa anak-anak mereka untuk dibaptis di usia balita. Kadang kala ada pertanyaan apakah dasar atau alasan dari tradisi baptisan bayi tersebut?

Ada tiga alasan yang membuat Gereja Katolik membaptis para bayi, yaitu: (1) perintah Kristus, (2) baptisan diperlukan untuk keselamatan, (3) tanggung jawab orangtua untuk membawa anak-anaknya ke dalam Kerajaan Sorga.

Tuhan Yesus Kristus mengatakan bahwa tidak boleh ada seorangpun yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, karena mereka adalah empunya Kerajaan Sorga (lih. Mat 19:14; Mar 10:14; Luk 18:16). Kalau ada yang menghalangi atau menyesatkan anak-anak, maka akan memperoleh hukuman yang berat (lih. Mat 18:6). Dalam Kitab Suci ditemukan pernyataan bahwa barang siapa percaya dan dibaptis, maka dia akan diselamatkan (lih. Yoh 3:3-5; Mrk 16:16), karena mendapatkan pengampunan dosa -termasuk dosa asal- dan karunia Roh Kudus (lih. Kis 2:38). Dengan demikian melalui Pembaptisan , seseorang disatukan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama dengan Kristus; sehingga ia dapat mati terhadap dosa dan hidup baru bagi Allah di dalam Kristus (lih. Rom 6:3-4,11).

Jika Kristus menginginkan agar anak-anak datang kepada-Nya dan tidak boleh ada yang menghalangi mereka, serta baptisan diperlukan untuk keselamatan, maka orang tua harus memberi bayi mereka dibaptis. Maka, dengan membawa anak-anak untuk dibaptis para orang tua melaksanakan amanat agung Kristus untuk pemuridan, pembaptisan dan pengajaran (lih. Mat 28:19-20), sehingga bayi/ anak- anak mereka dapat memperoleh keselamatan.

Pertanyaan lain yang muncul ada lah; Apakah dengan Baptisan bayi berarti orang tua merenggut kebebasan bayi mere ka? Tentu saja tidak. Dalam tatanan kod- rat, sudah selayaknya orang tua memberi obat kepada bayi yang sakit tanpa persetujuan bayi itu. Kalau hal ini dianggap benar, maka menjadi benar juga bahwa untuk keselamatan bayi yang mereka kasihi, mereka membaptis bayi mereka tanpa persetujuan bayi mereka. Di jaman para rasul, para murid juga membaptis keluarga (yang berarti bisa termasuk anak-anak dan bayi), seperti pada pembaptisan keluarga Lydia (Kis 16:15), kepala penjara di Filipi (Kis 16:33) dan Stefanus (1 Kor 1:16).

Atas dasar atau alasan tersebut, menjadi jelas bahwa pembaptisan bayi me- rupakan ungkapan Iman Gereja, jawaban setiap orang beriman untuk melaksanakan perintah Tuhan dan mewujudkan tang- gungjawab kita sebagai orang beriman. Semoga keluarga-keluarga senantiasa menjadi tempat Tuhan dikenal dan kehendakNya dilaksanakan.

(Yustinus A. Setiadi, OFM)

Menjadi Muslimah yang Toleran

Bagi Silvia Ayu Rianti, penghayatan dalam Islam berdasarkan asal kata- nya (Arab: al-islām, “berserah diri kepada Tuhan”) berarti seseorang yang mau menyerahkan segala sesuatu kehidupan baik di dunia maupun di akhirat hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala (Allah SWT). Gadis yang kerap disapa Silvi ini menganut Islam sejak lahir karena dibesarkan dalam keluarga muslim. Dari kedua orang tuanyalah Silvi diajarkan bagaimana memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai luhur keislaman, sebagaimana yang terkandung dalam Al-Quran. Kewajiban utama umat islam adalah membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-quran. Dari situ, umat Islam mampu mengenal Allah yang diimani dan hak-hak yang diperolehnya dari iman kepada Allah SWT,” tutur gadis kelahiran Padang, 28 Oktober 1994 ini.

Ia mengaku sejak usia 6 tahun mulai belajar Al-quran dan tetap setia menekuninya sampai kini. Di usianya yang ke-24 tahun, Silvi juga tetap berusaha setia menjalankan sholat dan mengenakan hijab. Menurutnya, sholat adalah fondasi iman yang mampu menenangkan diri dalam mengintenskan realsi yang lebih erat dengan Allah dan sesama ciptaan. Sementara hijab merupakan ungkapan simbol kerendahan hati untuk menjaga dan menghormati harkat dan martabat perempuan muslimah seperti dirinya.

Lantas, apa makna toleransi antara umat beragama baginya? Sejauh mana ia mampu menghayati toleransi dalam kehidupannya? Bagi gadis manis berparas ayu ini, toleransi terhadap umat beragama sangatlah penting. Walaupun keyakinan berbeda tetapi setiap orang pasti mempunyai tujuan hidup yang sama yaitu, kedamaian jiwa di dunia dan akhirat. Ia bersyukur karena lahir dan besar dalam keluarga dan lingkunganku yang sangat menghargai umat agama lain. Selain itu, sejak kecil dia sudah terbiasa belajar untuk hidup terbuka dan berdampingan deng an umat beragama lain. Itu yang menjadi bekalnya ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah dan bekerja di Jakarta. Dia dapat bergaul dan berbaur dengan siapa saja, termasuk teman-teman dari aga- ma yang berbeda. Ia sadar, pengalaman perjumpaan dengan orang-orang dari latar belakang agama ataupun budaya yang berbeda membuatnya memahami makna keberagaman sebagai anugerah yang indah dalam kehidupan bermasyarakat.

Terkait tindakan intoleran yang terjadi di Indonesia belakangan ini, ia merasa resah dan prihatin. “Sebaiknya setiap kasus tidak dijadikan alasan politik. Demikian pula, setiap organisasi Islam harus bebas dari kepentingan politik. Maka, gerakan-gerakan fundamentalis yang bermaksud meneror masyarakat dengan mengatasnamakan Islam, pastinya berseberangan dengan kaidah hukum Islam yang mengajarkan hukum cinta kasih,” tuturnya.

Ia berharap, setiap orang, khususnya kaum muslim, harus dapat menghargai, menghormati, bahkan melindungi umat beragama lain yang minoritas. Selain itu, ia juga berharap agar umat beragama lain tidak memandang Islam dengan sebelah mata. Jangan sampai umat beragama lain terpengaruh “virus” Islamophobia (ketakutan terhadap segala sesuatu tentang Islam). Maka, hal yang dapat diupayakan bersama adalah menjalin relasi persaudaraan melalui silaturahmi dan dialog yang membantu setiap umat beragama untuk saling mengenal dan menghargai keyakinan masing-masing, tanpa pretensi untuk merugikan umat beragama lain.

(Saudara Peziarah).

Waktu menurut Santo Agustinus

Aurelius Agustinus nama baptisnya. Dia lahir pada 354 SM di Soukhras (saat ini Aljazair). Ayahnya seorang penganut paganisme Romawi Kuno. Ibundanya, Monika, membesarkan dan membimbing Agustinus menurut ajaran cinta kasih iman Kristen. Namun, keimanan sang ibu yang saleh tidak langsung diikuti Agustinus. Sempat menjadi penganut Manikeisme, Agustinus justru menemukan kekosongan dan merasa tidak puas. Karena kepintarannya dan kepiawiannya dalam berfilsafat, Agustinus merasa Manikeisme tidak mampu memberikan jaminan kebahagiaan dan keselamatan jiwanya.

Pada 386 M, dia duduk di taman rumahnya. Nelangsa karena kenyataan bahwa pikirannya yang kelewat analitis membuatnya sulit percaya pada apapun. Pada saat itulah, sekonyong-konyong ia mendengar suara seorang anak kecil yang mengucapkan kata secara berulang-ulang, “Ambil dan bacalah…Ambil dan bacalah…” Merasa seperti terbangun dari tidur, Agustinus merasa yakin bahwa itu adalah inspirasi Allah bahwa ia harus mengambil Alkitab dan membacanya. Dia membaca Alkitab sepanjang waktu hingga tiba di penghujung nas, “Jangan (hidup) dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan jangalah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginan- nya” (Roma 13:13-14). Seketika Agustinus merasa diterangi cahaya keyakinan yang menyinari segenap relung hatinya dan mengenyahkan gelapnya keraguan dan kekosongan hati.

Peristiwa itulah yang menandai pertobatan Agustinus untuk kembali kepada pangkuan iman Kristen. Pada hari Paskah 387 M, dia dibaptis oleh Uskup Ambrosius dari Milan. Di kemudian hari, Agustinus menjadi Uskup Hippo (Afrika Utara). Dalam masa kepemimpinannya tersebut, ia banyak menulis dan mengajarkan teologi. Salah satunya mengenai penciptaan oleh Allah di dalam waktu.

Agustinus memahami waktu sebagai suatu gejala batin yang bergerak dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. Arti nya, waktu terjadi karena ada yang sudah berlangsung, sedang berlangsung, dan akan berlangsung. Waktu lampau adalah ingatan jiwa yang tetap mempertahankan dan mengingat apa yang sudah lalu. Waktu sekarang adalah perhatian akan apa yang sedang terjadi. Waktu yang akan datang adalah harapan akan apa yang akan terjadi. Kemudian, Agustinus menghubungkan adanya waktu dalam kaitannya dengan penciptaan.

Pada masa itu, refleksi mengenai waktu yang diajarkan Agustinus sangat kental dipengaruhi oleh platonisme. Kaum Platonis berpendapat bahwa pengada (ciptaan) yang merupakan akibat berada bersama dengan penyebabnya (Pencipta) dalam waktu. Agustinus mengkritiknya dengan menyatakan pencipta itu abadi. Pencipta mengatasi keadaan-keadaan sementara dan mutlak mendahului akibat-akibatnya. Maka, pencipta tidak tunduk pada waktu. Dalam bahasa iman Kristen, Sang Pencipta disebut Allah. Lebih lanjut, Agustinus mendukung ajaran iman Kristen tentang penciptaan Allah yang bebas dalam waktu. Tindakan Allah yang terdorong oleh cinta kasih untuk menciptakan mengakibatkan ciptaan menjadi ada.

Mengenai kisah penciptaan dan waktu, Agustinus meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Dengan kekuasaan yang mutlak, Allah menciptakan alam semesta. Materi yang diciptakan hampir merupakan ketiadaan. Maksudnya adalah materi yang tidak berbentuk tidak berada selain dengan bentuk. Kendatipun lebih dahulu dari bentuk, materi selalu ada bersama dengan bentuk itu di dalam waktu. Singkatnya, materi dan bentuk diciptakan bersamaan karena materi selalu ada bersama dengan bentuk. Waktu menyusul segera sesudah materi dan bentuknya diciptakan. Maka, waktu mulai ketika jagad raya diciptakan. Agustinus pun berkesimpulan bahwa dunia di- ciptakan dengan waktu dari pada dalam waktu. Demikianlah jangka waktu (hidup) manusia dapat diukur sebagai masa lalu, sekarang, dan akan datang karena hakekat sifat ciptaan yang terbatas dan tidak kekal.

Lantas, apa yang dapat dipetik dari pandangan St. Agustinus? Pertama, Allah adalah Sang Pencipta dan kita adalah ciptaan. Tindakan Allah yang menciptakan adalah tindakan bebas. Kebebasan Allah dalam mencipta terletak di dalam kelimpahan Cinta Kasih-Nya sehingga membuat ciptaan menjadi ada. Kita semua ada semata-mata karena belas kasih Allah. Kedua, Allah adalah Keabadian yang berada di luar waktu yang melingkupi ciptaan. Waktu mulai bersamaan dengan diciptakan- nya jagad raya. Maka, Allah tetap menjadi penguasa waktu. Sebaliknya, manusia terikat dan dibatasi oleh waktu. Ketiga, waktu kita terbatas. Masa lampau sudah berlalu. Kita tidak dapat mengembalikan masa lalu. Masa depan belum terbuka. Di hadapan kita terdapat masa kini. Pada masa kini, kita masih dapat berpikir dan berkehendak yang baik. Dengan memanfaatkan waktu sekarang, kita dapat merencanakan masa depan dengan yang lebih baik. Mengutip ungkapan tersohor St. Agustinus, “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Sebagai makhluk ciptaan, sudah sepantasnya kita menyadari hidup di dunia ini sebagai peziarahan untuk mencapai persatuan kembali dengan Sang Pencipta, Allah yang kita imani. Jang an menunda-nunda perbuatan yang baik. Marilah menggunakan waktu kita sebaik mungkin karena waktu kita terbatas.

(Daku Morin).

Santo Benediktus

Setiap tanggal 11 Juli, Gereja memperingati Santo Benediktus, seorang tokoh besar dalam dunia kerahiban Barat. Santo Benediktus adalah pendiri Ordo Benediktin. Ia dilahirkan pada tahun 480 dalam keluarga bangsawan Italia dari Nursia yang kaya-raya. Menurut tradisi, ia adalah saudara kembar dari Santa Skolastika. Hidupnya penuh dengan petualangan dan perbuatan-perbuatan hebat. Semasa kanak-kanak, ia dikirim ke Roma untuk belajar di sekolah rakyat. Tumbuh dewasa sebagai seorang pemuda, Benediktus merasa muak dengan gaya hidup korupsi para kafir di Roma.

Benediktus meninggalkan kota Roma dan mencari suatu tempat terasing di mana ia dapat menyendiri bersama Tuhan. Atas petunjuk Santo Romanus, Benediktus dapat menemukan tempat yang tepat, yaitu sebuah gua di Gunung Subiako. Benediktus mengasingkan diri selama tiga tahun dalam gua tersebut. Setan sering kali membujuknya untuk kembali ke rumahnya yang mewah dan kehidupannya yang nyaman di sana. Tetapi, Benediktus berhasil mengatasi godaan-godaan tersebut dengan doa dan mati raga. Suatu hari, iblis terus-menerus menggodanya deng- an bayangan seorang perempuan cantik yang pernah dijumpainya di Roma. Iblis berusaha membujuknya untuk kembali ke kota mencari perempuan itu. Hampir saja Benediktus jatuh dalam pencobaan. Kemudian ia merasa sangat menyesal hingga menghempaskan dirinya dalam semak-semak dengan duri-duri yang panjang serta tajam. Ia berguling-guling di atas semak duri hingga seluruh tubuhnya penuh deng an goresan-goresan luka. Sejak saat itu, hidupnya mulai tenang. Ia tidak pernah merasakan godaan yang dahsyat seperti itu lagi.

Setelah tiga tahun, orang-orang mulai datang kepada Benediktus. Mereka ingin belajar bagaimana menjadi kudus. Ia menjadi pemimpin dari sejumlah pria yang mohon bantuannya. Tetapi, ketika Benediktus meminta mereka untuk melakukan mati raga, mereka menjadi marah. Bahkan para pria itu berusaha meracuninya. Bene- diktus membuat Tanda Salib di atas anggur beracun itu dan gelas anggur tiba-tiba pecah berkeping-keping.

Di kemudian hari, Benediktus menjadi pemimpin dari banyak rahib yang baik. Ia mendirikan dua belas biara. Kemudian ia pergi ke Monte Kasino di mana ia mendirikan biaranya yang paling terkenal. Di sanalah Santo Benediktus menuliskan peraturan-peraturan Ordo Benediktin yang mengagumkan. Ia mengajar para rahibnya untuk berdoa dan bekerja deng an tekun. Terutama sekali, ia mengajarkan mereka untuk senantiasa rendah hati. Benediktus dan para rahibnya banyak menolong masyarakat sekitar pada masa itu. Mereka mengajari orang banyak itu membaca dan menulis, bercocok tanam dan aneka macam keterampilan.

Santo Benediktus mampu melakukan hal-hal baik karena ia senantiasa berdoa. Ia wafat pada tanggal 21 Maret tahun 547. Pada tahun 1966, Paus Paulus VI menyatakan Santo Benediktus sebagai santo pelindung Eropa. Pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II menambahkan St. Sirilus dan St. Metodius sebagai santo pelindung Eropa bersama dengan Santo Benediktus.

Medali Santo Benediktus

Bagian depan medali terdapat gambar Santo Benediktus sedang memegang salib di tangan kanan dan Regula (aturan) Suci di tangan kirinya. Pada bagian lain terdapat gambar piala yang di atas nya terdapat seekor burung gagak. Di atas keduanya terdapat tulisan “Crux Sancti Patris Benedicti” (Salib Santo Benediktus). Di sekeliling medali itu terdapat kata-kata “Ejus in obitu nostro praesentia muniamus” (Semoga kita pada saat kematian dikuatkan oleh kehadirannya).

Sementara itu, di bagian belakang terdapat gambar salib dengan tulisan inisial: “Crux Sacra Sit Mihi Lux” (Semoga Salib Suci ini menjadi terangku), yang ditulis vertikal. Selanjutnya, “Non Draco Sit Mihi Dux” (Janganlah iblis menjadi penuntunku), yang ditulis secara horizontal. Kemudian tulisan “Crux Sancti Patris Bene- dicti” terdapat pada masing-masing sudut salib. Salib tersebut dikelilingi oleh tulisan: “Vade Retro Satana, Nunquam Suade Mihi Vana – Sunt Mala Quae Libas, Ipse Venena Bibas” (Enyahlah iblis, jangan kau tunjukkan kesombonganmu di hadapanku – kejahatanlah yang engkau tawarkan, minumlah sendiri racunmu). Di bagian ujung salib biasanya terdapat tulisan “PAX” (damai) atau monogram  “IHS” (Iesu Homen Salvator – Yesus Penyelamat Manusia).

Medali ini biasanya digunakan untuk melawan kuasa kegelapan melalui kekudusan dan perantaraan Santo Benediktus. Selain itu, benda sakramentali ini juga dikenal sebagai “Salib Kematian yang Berbahagia” karena adanya perlindungan dari Santo Benediktus yang menyertainya.  Indulgensi (pengampunan dosa) penuh akan diterima oleh mereka yang pada saat kematiannya mencium, menyentuh atau melakukan penghormatan salib, dan menyerahkan jiwanya kepada Allah.

Sumber: katakombe.org dan https://stpeterslist.com

Menelaah Posisi Maria dari Perspektif Seorang Imam

Pengaruh Maria tak terbayangkan besarnya sepanjang zaman. Bukan saja sebagai tokoh yang paling sering dijadikan obyek lukisan dalam kesenian, tetapi juga dalam kesusastraan. Sesudah Yesus hanya Marialah figur manusia yang paling banyak dijadikan bahan penulisan, mengingat di berbagai tempat di dunia ada perpustakaan khusus untuk studi Mariologi.
 
Melalui buku ini, Romo John mengajak kita untuk menelaah posisi Maria yang sangat istimewa. Dia memberikan tanggapan atas sejumlah perdebatan seputar Maria yang bertitik tolak dari Kitab Suci dan tradisi Gereja Katolik, yang selama ini menjadi dasar dari Mariologi yang otentik. Secara garis besar buku ini akan membahas tiga hal. Pada bagian pertama, akan dibahas tentang devosi kepada Maria. Kemudian yang kedua tentang Maria dikandung tanpa noda. Ketiga tentang keperawanan Maria sebelum dan sesudah Yesus dilahirkan.
 
Pada bagian pertama, Romo John mengatakan bahwa secara teologis ungkapan doa tidak ditujukan kepada Maria ataupun orang kudus lainnya. Kita memohon Bunda Maria dan para orang kudus agar berdoa untuk kita, seperti yang kita lakukan dalam doa Salam Maria (halaman 4).
 
Tentang perdebatan seputar Maria yang dikandung tanpa noda, Romo John menyatakan bahwa walaupun tidak secara langsung, ada beberapa ayat dalam kitab suci yang menunjang ajaran ini. Ayat-ayat tersebut mendukung bahwa tradisi Gereja merupakan salah satu sumber wahyu Ilahi. Anggapan bahwa Maria tanpa dosa adalah suatu tradisi kuno yang dipercaya dan diterapkan secara konsisten dalam Gereja Katolik (halaman 19).
 
Perdebatan seputar keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus, juga menimbulkan pertanyaan, mengapa Rasul Paulus tidak menuliskan hal ini dalam surat-suratnya di dalam kitab suci. Romo John mengatakan bahwa keempat belas Surat Rasul Paulus selalu dibuka dengan istilah yang mengacu pada hubungan Bapa-Putra dalam keluarga Allah, seperti misalnya Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Perumusan seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa tidak ada ayah duniawi. Dari situ dapat disimpulkan bahwa ibu-Nya yaitu Bunda Maria mesti mengandung Dia secara perawan (halaman 48).
 
Buku ini tidak dimaksudkan untuk mencari kebenaran seputar perdebatan Bunda Maria. Melalui buku ini penulisnya ingin mencoba melihat masalah tersebut melalui perspektif Gereja Katolik, terutama dari kaca mata seorang imam Gereja Katolik. Di samping itu penulisnya ingin mengajak kita sebagai umat gereja Katolik untuk semakin menguatkan iman Gereja kita.
(Andri Susanto)

Panggilan: Hatiku bernyala-nyala karena CintaNya

Diambil dari Cordia Edisi April 2018

“O..Pencinta hatiku yang manis Berilah aku bagian dalam dukaMu. Semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta. Buatlah aku cakap dalam pengabdianMu, tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja pun juga bagi keselamatan sesama manusia. Amin (EG 39)”

Itulah syair doa Bunda Elisabeth Gruyters Pendiri Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus yang senantiasa dilambungkan oleh para pengikutnya. Syair doa yang indah dan sarat makna menjadi untaian syukur atas segala cinta Tuhan yang dilimpahkan dalam hidup panggilan Religius yang tanpa henti selalu dianugerahkan kepada saya.

Tak terasa sudah hampir 13 tahun saya menjalani hidup membiara yang diawali dari masa pembinaan Postulat dan Novisiat di Yogyakarta. Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Carolus Borromeus menjadi pelabuhan terakhir yang menentukan mau kemana tujuan hidup saya? Akhirnya saya temukan tempat itu, di mana saya ditempa menjadi seorang religius yang memiliki hati untuk mencintai dan melayani sesama baik dalam karya kesehatan, pendidikan, pastoral dan sosial; tempat di mana saya menemukan dan menimba kekuatan serta menerima limpahan rahmat kasih Allah yang mengalir tanpa henti dalam hidup saya.

Pilihan yang saat itu tidak mudah untuk diputuskan. Saya harus meninggalkan keempat adik dan ayah, serta kenangan bersama ibu yang sudah 7 tahun meninggalkan kami selama-lamanya. Saya juga harus berani dengan bebas memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan, rekan kerja di sebuah RS Swasta yang sudah hampir 10 tahun menikmati kemapanan. Demikian pula ketika ketika harus memilih pergi meninggalkan seorang pribadi yang ikut mendukung dalam kesulitan-kesulitan yang saya alami. Ya, semuanya tidaklah mudah, saya lepaskan karena cinta-Nya ternyata lebih kuat dari segala yang ada. Saya pergi meninggalkan semuanya di tahun 2005, saat usia saya sudah mencapai 28 tahun. Usia yang sudah cukup dewasa, bisa dikatakan, namun untuk menjadi pengikut Tuhan tidak ada kata terlambat. Tuhan sudah mengatur semuanya pada waktu yang tepat. Kebimbangan yang paling kuat saya rasakan ketika harus pergi meninggalkan keluarga. Sebagai anak pertama dari 5 bersaudara dalam keluarga yang sudah lama ditinggalkan ibu, sayalah yang menjadi tumpuan hidup dan tulang punggung bagi keluarga. Egoiskah saya dengan pilihan ini? Apakah pilihan ini sudah tepat dan bijak, lalu bagaimana dengan keluarga? Apakah mereka akan baik-baik saja saat ditinggalkan? Itulah kekhawatiran yang berkecamuk dalam hati. Namun peneguhan itu datang. Tidak ada kata EGOIS untuk ikut Tuhan. Pergilah dengan gembira dan lepas bebas. Tuhanlah yang menjaga keluargamu. PERCAYALAH. Saat itu kelegaan menyelimuti hati saya. Akhirnya proses pembinaan di Postulat dan Novisiat CB selama 3 tahun dapat saya jalani dengan kegembiraan dan pengosongan diri serta kerendahan hati yang terus menerus.

Sering terlintas kenangan saat kecil yang membekas dalam hati, ketika teringat akan kebaikan dan senyum keramahan seorang suster CB. Saat itu saya masih SD dan SMP. Sesuatu yang mampu memantapkan hati menjadi seorang religius CB, meskipun untuk itu saya harus melewati banyak rintangan.

Waktu terus berjalan. Kekuatan cinta Tuhan terhadap panggilan khusus ini semakin diasah dan dimurnikan. Proses ini saya rasakan selama masa pembinaan dengan pengalaman cinta Tuhan yang dihadirkan dalam setiap peristiwa hidup yang dianugerahkan Tuhan, terlebih saat mengemban perutusan dalam karya dan sampai akhirnya boleh diperkenankan untuk mengikrarkan kaul kekal tahun 2013. Inilah peristiwa yang tak akan pernah saya lupakan selamanya. Bukan perayaan mewah dan pesta pengikraran kaul kekal yang saya banggakan, namun rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata ketika saya tersungkur luruh di hadapan altar Tuhan. Tak tertahankan, saya meneteskan air mata. “Tuhan, inilah saya! Pakailah seturut kehendakMu” Bukti kasih Tuhan yang luar biasa terjawab semuanya. Tak ada lagi yang perlu dibanggakan dan disombongkan ketika hidup diserahkan kepada Sang Empunya kehidupan. Saya hanyalah debu yang tak berarti namun kebaikan Tuhan yang tak terbatas telah merangkum seluruh diri. Saya hanyalah manusia biasa yang tak memiliki kehebatan apa pun, rapuh dan terbatas, penuh dengan dosa namun sungguh dicintai dan dipakai-Nya sebagai penerus karya Allah di dalam dunia. Semua ini saya wujudkan dengan mencoba setia dan gembira meneladan hidup Bunda Elisabeth Gruyters dan Santo Carolus Borromeus.

Kini Tuhan semakin merentangkan sayap-Nya dan terus menerus menggetarkan siapa pun khususnya kaum muda mudi untuk ikut terlibat akan karya Allah di dalam dunia. Gereja sangat membutuhkan pekerja kebun anggur karena tuaian sangat berlimpah. Demi Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas niscaya Tuhan akan melimpahkan berkat-Nya kepada kita. Amin.

(Sr Thresmiati, CB)

Pak Gembul, Petugas Kebersihan Toilet Gereja

"Puji syukur kepada Tuhan bahwa saya akhirnya dipercayakan tugas oleh Paroki Kramat sebagai penanggung jawab kebersihan toilet di paroki ini. Saya juga sangat senang menjalankan tugas yang diserahkan kepada saya. Pernah keadaan toilet paroki kurang terjaga kerapihan maaupun kebersihannya, sehingga saya sering mendengar keluhan dari beberapa umat gereja. Saya mengalami suka dan duka, terutama masih kurangnya kesadaran dari pengguna toilet untuk ikut menjaga kebersihan dan merawat fasilitas toilet yg sudah disediakan oleh paroki. Terima kasih kepada Romo Agung untuk pekerjaan yang telah diberikan."

Demikian pesan dari Pak Gembul, yang sekarang bertugas sebagai penanggung jawab kebersihan kamar kecil di paroki. Berikut foto – foto ilustrasi Pak Gembul ketika bertugas.

20170819_135656kec 20170819_135634kec

Doa di Depan Salib : RP. Thomas Ferry, OFM

Doa di Depan Salib

RP. Thomas Ferry, OFM

Peristiwa salib memberikan pengaruh yang besar dalam hidup Santo Fransiskus. Ada dua doa yang digubah Fransiskus di depan salib yaitu doa di hadapan Salib San Damiano dan doa di depan salib. Tulisan sederhana ini akan mengulas tentang doa di depan salib.

                “Tuhan memberi aku anugerah dalam gereja-gereja, kepercayaan yang sedemikian besar, sehingga aku biasa berdoa secara sederhana dengan kata-kata ini:

”Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.”

Doa tersebut sebenarnya bukan doa yang digubah oleh Fransiskus sendiri. Doa tersebut merupakan sebuah doa liturgis yang mungkin sudah dikenal oleh Fransiskus sejak masa mudanya.

Rumusan yang sama dapat kita temukan Madah Jumat Agung. Rumusan liturgi yang ada dalam ibadat harian dan madah tersebut di atas adalah sebagai berikut:

Kami menyembah Engau ya Kristus, dan mengucap syukur kepada-Mu karena dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.

Kalau kita perhatikan rumusan yang dipakai Fransiskus lebih panjang dari rumusan yang ada dalam ibadat harian. Rupanya Fransiskus menambahkan ke dalam rumusan tersebut, kata-kata yang ia gubah sendiri: Tuhan Yesus Kristus yang ada di sini dan di semua Gereja-Mu di seluruh dunia. Makna apa yang kini membedakan rumusan liturgi yang umum dengan rumusan yang digubah oleh Fransiskus?

  1. Dari “Kristus” menjadi “Tuhan Yesus Kristus”.

Pada masa hidup Fransiskus, iman Kristen masih terlalu menekankan Kristus yang bangkit mulia.  Sementara itu Fransiskus justru terpesona akan Yesus sebagai pribadi yang merendahkan diri dengan lahir sebagai manusia tak berdaya dalam peristiwa Allah menjadi manusia (inkarnasi), wafat dan sengsara di salib dan Ekaristi. Penyebutan “Tuhan Yesus Kristus” menunjukkan pemahaman Fransiskus yang seimbang dan harmonis akan pribadi Tuhan yang adalah Yesus, sungguh manusia, dan sekaligus Kristus, sungguh Allah. Terhadap misteri ini Fransiskus sampai berseru, “O perendahan diri yang luhur! O keluhuran yang merendah!” (Surat Fransiskus untuk Orang-orang Beriman 27).

  1. Penambahan: di sini dan di semua gereja-Mu yang ada di seluruh dunia.

Seluruh dunia telah disucikan dengan darah Kristus tersalib sehingga seluruh dunia menjadi tempat kudus. Maka bagi Fransiskus tak ada pembedaan sikap antara di dalam gereja dan di luar gereja. Kalau kita terbiasa untuk bersikap sopan, berkata santun di dalam gereja maka sikap itupun mesti diwujudkan di luar gereja. Dalam Gita Sang Surya Fransiskus menyatakan bahwa seluruh dunia dan seisi semesta adalah tempat kudus, tempat kehadiran Allah. Allah dapat ditemui juga dalam alam semesta, sehingga bukan hanya kita manusia tetapi juga seluruh semesta hendaknya berpadu dalam puji-pujian kepada Allah.

  1. Penambahan: dari “salib-Mu” menjadi “salib suci-Mu”

Bagi Fransiskus, segala sesuatu yang menghubungkan kita dengan Tuhan adalah suci. Maka apapun yang terkait dengan Tuhan harus diperlakukan secara istimewa. Dalam wasiatnya, ia mengingatkan para pengikutnya demikian, “Nama-Nya yang tersuci dan firman-Nya yang tertulis, di mana pun juga kudapati di tempat yang tidak semestinya, mau kukumpulkan, dan aku minta agar dikumpulkan dan ditaruh di tempat yang pantas.”(Was. 12). Maka salib Tuhan adalah suci karena selalu mengingatkan kita pada peristiwa penebusan dosa yang dilakukan Kristus. Bagi Fransiskus, salib juga mengingatkannya akan Salib San Damiano.

Spiritualitas doa

”Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja-Mu yang   ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau telah menebus dunia dengan salib-Mu yang suci.”

 “… kami…

Berbeda dengan doa di depan Salib San Damiano, di mana Fransiskus memakai kata aku yang karenanya bersifat lebih pribadi, dalam doa ini dipakai kata kami untuk menunjukkan bahwa meskipun kita mendoakannya sendirian namun kita sedang berdoa bersama seluruh Gereja di dunia: berdoa bersama Gereja dan untuk kepentingan Gereja di seluruh dunia. Dengan doa ini, Fransiskus mengajak kita untuk memiliki “sense of universality”: menyadari keberadaan kita yang selalu ada bersama dengan semua di seluruh dunia. Semua yang memuji dan menyembah Allah itulah juga saudara dan saudari kita.

“… kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus… “

Ketika Yesus mengajar kita berdoa, pertama-tama Ia mengajak kita untuk bersembah sujud kepada Allah Bapa: dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu. Fransiskus mengajarkan agar  kita menyembah Allah tak hanya dengan badan tetapi dengan seluruh jiwa. Dalam sikap sembah bakti itulah Fransiskus menyadari keberadaan dasar manusia yang rendah di hadapan Allah, karena kita ini hanyalah ciptaan. Sasa merendah ini berpadu dengan ucapan syukur karena meski kita ini hanya mahkluk rendah dan kecil tetapi Allah mengasihi mereka dengan cinta yang begitu besar hingga mengutus Putra tunggal satu-satunya untuk hadir menjadi manusia. Melalui sengsara dan salib-Nya, Ia menyerahkan nyawa bagi keselamatan manusia Dalam diri Fransiskus kita bisa melihat bahwa sikap adorasi yang benar selalu berpengaruh pada sikap sikap terhadap orang lain dengan melihat yang lain sebagai saudara. Bila sikap kita meremehkan dan merendahkan orang lain itu tanda bahwa kita belum menyembah Tuhan secara benar dan sungguh-sungguh.

“… di sini dan di semua Gereja-Mu, yang ada di seluruh dunia… “

Setiap Natal dan Paska, Bapa Suci selalu memberikan berkat Urbi Et Orbi, berkat untuk kota (Vatican) dan dunia. Bapa Suci dengan berkat itu mempersatukan Gereja yang ada dan terwujud nyata di sekitarnya dengan gereja yang ada di seluruh dunia. Setiap kali Fransiskus berada di suatu gereja maka ia sadar bahwa gereja yang ia lihat saat itu bukan suatu Gereja yang berdiri sendiri tetapi Gereja yang ada dalam kesatuan dengan Gereja-gereja lainnya di seluruh dunia, bahkan melampaui dunia: Gereja yang masih berjuang di api pencucian dan Gereja yang sudah mulia di surga.

“dan kami menyembah Dikau…”

Sembah bakti atau adorasi terwujud dalam pujian atas kemuliaan Allah. Bagi Fransiskus kebahagiaan manusia yang pertama bukanlah bila doa dan permohonannya dikabulkan tetapi bila manusia layak dan diperkenankan turut serta memuji kemuliaan Allah bersama dengan paduan para malaikat dan para kudus di surga. Meskipun manusia berdosa dan melupakan Allah, Dia tak berbuat serupa dan tak membalasnya dengan kutuk dan hukuman melainkan mengutus Putra-Nya untuk membebaskan kita melalui  sengsara dan wafatnya di salib.

“… sebab dengan salib sucimu Engkau telah menebus dunia… “

Misteri penebusan Kristus adalah sebab utama mengapa kita harus menghaturkan sembah-bakti, syukur terima kasih kita. Oleh karena penebusan Kristuslah kita dibebaskan dari belenggu dosa. Tapi kebebasan ini bukan hanya kebebasan dari dosa tetapi juga harus punya tujuan: kebebasan untuk memuji dan menyembah Allah, Pencipta dan Penebus kita. Syukur dan pujian ini selalu menggerakkan Fransiskus untuk mengajak semua ciptaan berpadu dalam pujian dan syukur yang sama karena untuk itulah kita diciptakan dan ditebus.

            Berdoa bersama Fransiskus di depan salib ini mengundang kita untuk untuk menempatkan adorasi, pujian dan syukur atas kebaikan dan kemuliaan Allah Tritunggal sebagai yang pertama dan utama jauh melampaui dan mendahului segala permohonan yang biasanya menjadi pusat doa kita. Fransiskus tergerak oleh kata-kata Yesus yang bersabda, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Mat. 6:33) Ketika Allah sungguh merajai hidup kita, maka serentak kita pun akan merasakan kebahagiaan yang tertinggi yaitu keselamatan yang dari Allah. Dan dalam keselamatan ini, kita tak perlu lagi mohon ini dan itu karena semuanya sudah dicukupkan bagi kita. Deus meus et omnia. Allahku adalah segalanya bagiku

Bahan Pustaka Acuan:

LEONHARD LEHMANN, Francesco, maestro di preghiera, Instituto Storico dei Cappuccini, Roma, 1993.

FILIPPO SEDDA & JACQUES DALARUN (Editor),  Franciscus Liturgicus, Editrice Franciscanae, Padova, 2015

Fonti Franciscanae,  Editrice Franciscanae, Padova, 2011.

ASIAN YOUTH DAY 2017

ASIAN YOUTH DAY 2017

“Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia”

Asian Youth Day (AYD) atau Hari Orang Muda Asia adalah perjumpaan orang muda Katolik se-Asia. Acara ini diselenggarakan tiga tahunan dan dihadiri kurang lebih seribu sampai tiga ribu OMK perwakilan dari berbagai negara di Asia. AYD digagas oleh pembina OMK se-Asia dan disetujui oleh Federasi Konferensi Uskup-uskup se-Asia (FABC) dibawah kantor Komisi Keluarga dan Kerawam bagian kepemudaan.

Ajang Asian Youth Day (AYD) ke-7 di Yogyakarta mengusung tema Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia”merupakan implementasi dari keberagaman Indonesia. Acara ini diikuti 2.140 peserta dari 19 konferensi uskup-uskup se-Asia. Dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti AYD diadakan rekoleksi pra-AYD yang diikuti 102 OMK KAJ. AYD terdiri dari 3 acara besar yakni Day in the Diocese, Days in AYD’s Venue and Asian Youth Ministers’ Meeting (AYMM)‎, yang dilaksanakan dari tanggal 29 Juli hingga 6 Agustus 2017.

Pada tanggal 1 hingga 6 Agustus 2017, para delegasi dari berbagai negara di Asia berkumpul bersama untuk mengikuti Days in AYD’s Venue di Yogyakarta. Acara puncak ini dipusatkan di Jogja Expo Center, yang diikuti oleh seluruh peserta dan Uskup dari berbagai negara di Asia. Pada acara puncak tersebut, kami diajak untuk berbaur dengan OMK dari berbagai delegasi, bertemu dengan uskup-uskup di Asia, festival budaya, seminar, mengunjungi tempat-tempat di Yogyakarta untuk mengetahui keberagaman budaya, agama, bahasa di Indonesia. Misa penutup yang dikuti hampir 5000 umat katolik di jogja dan tidak ketinggalan dihadiri oleh wakil Presiden Jusuf Kalla. Sedangkan acara Asian Youth Ministers’ Meeting (AYMM)‎dikhususkan untuk para pembina OMK negara-negara Asia. Pesertanya antara lain uskup, pastor, dan awam yang terlibat dalam komisi kepemudaan tingkat nasional.

Dari perhelatan akbar tiga tahunan ini, saya merefleksikan bahwa tujuan AYD adalah memberikan kesempatan kepada Orang Muda Katolik untuk memperbaharui dan memperdalam iman mereka sebagai murid Kristus dalam dialog multikultural dan bekerja untuk keadilan sosial dan perdamaian.Harapan saya ke depan adalah semoga acara ini terus ada, OMK Kramat lebih berpartisipasi aktif dan makin eksis dalam pelayanan baik digereja maupun diluar gereja. Terima kasih. (Bastian)

Foto AYD