Menanti

Seperti biasa, pertemuan adven pada umumnya dihadiri sedikit peserta dan dimulai lewat dari jam yang diumumkan. Undangan jam 19.00 tetapi hampir sejam setelahnya masih belum ada yang datang. Gerimis pula sabtu malam itu menambah suasana hati Pak Petrus Sabar dan istrinya sebagai tuan rumah menjadi galau. Saya yang datang selepas jam 18.00 sibuk membolak balik buku panduan adven mengusir sepi. Sebagai ketua lingkungan, mau tidak mau saya harus siap memimpin renungan sesuai jadwal. Kalau suasana gerimis begini memang biasanya akan lebih sedikit umat yang datang. Jadi ya tidak bisa mengharapkan petugasnya hadir. Bu Sabar sibuk di dapur menyiapkan minum dan makan kecil, sementara Pak Sabar sibuk dengan gawainya. Kami satu ruangan, duduk berdekatan tetapi masing-masing sibuk sendiri.
“Pak…”
Sunyi……..
“Paaaaak”
“Eeh kenapa Bu? Kok teriak-teriak.
Malu sama Pak Andreas.”
“Habis, bapak dipanggil nggak dengr. Sini Pak.” Pak Sabar bergegas ke dapur sementara saya pura-pura sibuk dengan buku panduan tetapi sebenarnya telinga saya gatal ingin mendengar bisik-bisik Pak Sabar dan istrinya di dapur yang hanya tertutup korden.
“Ini kok belum pada datang ya Pak?”
“Ya maklum, ini sedang gerimis… pasti pada malas datang.”
“Lha terus kalo nggak pada datang bagaimana? Tidak jadi pertemuan adven dong?”
“Yaaa gimana ya aku juga bingung Bu, tapi kan sudah ada Pak ketua lingungan, mosok tidak jadi pertemuan.”
“Ya tapi ini sudah mau jam delapan. Kalo pada enggak ada yang datang terus bagaimana ini…”
“Ya sudah Bu, mau gimana lagi. Kita kan ga bisa maksa mereka datang.”
“Mbok coba diinfokan di grup whatsapp.”
“Sudah tapi ga ada yang respon. Kemungkinan masih belum pada pulang. Kejebak macet barangkali.”
“Ya tapi mosok semuanya sih pak. Umat lingkungan kita itu banyak lho. Mosok Cuma pak ketua lingkungan saja yang datang. garing rasanya. ”
“Emang gorengan bu, pake garing segala.”
“Ah bapak ini. Suasananya Pak yang jadi garing. Adven kan mempersiapkan diri menantikan kehadiran Tuhan, kalau tidak ada umat yang datang kan artinya tidak ada yang dipersiapkan, tidak ada maknanya, jadi garing dan tidak ada kenangannya.”
“Loh kok begitu bu?
“Ya habisnya ngeselin. Sudah tahu umat katolik itu setiap mau natalan ada masa Adven, persiapan menantikan kedatangan Tuhan. Ini malah tidak ada yang nongol sampai sekarang. Bisa bisa batal ini pertemuan.”
“Huss ibu kok ngomong begitu. Yang namanya persiapan itu ya semuanya harus disiapkan. Tidak hanya persiapan ngumpul, persiapan pertemuan, persiapan konsumsi tetapi yang pokok justru hati kita yang harus dipersiapkan. Hindari prasangka buruk, kita siapkan hati kita untuk menerima segala sesuatu yang tidak umum di luar rencana dan pikiran kita. Coba bayangkan, Yesus saja yang Tuhan dan Raja hadir malah di dalam palungan di
kandang domba. Padahal Dia itu Raja. Itu kan di luar perkiraan semua orang? Wong raja kok kere. ya tapi itulah faktanya. Memang sulit, tapi ya kita berdoa saja semoga umat lingkungan datang. Kalaupun tidak datang kita doakan semoga mereka semua dalam keadaan sehat dan kita tetap ibadat bareng ketua lingkungan.”
“Cuma kita bertiga pak?”
“Kok Cuma. Tidak ada yang percuma Bu. Mau bertiga ataupun malah hanya kita berdua ya nggak papa to. Yang penting kan kita mempersiapkan hati sampai nanti kita berjumpa dengan Tuhan.”
“Ah bapak itu nggak mikir, saya capek-capek nyiapin konsumsinya, dari kemarin mikir konsumsinya apa, biar tamu
tidak kecewa. Ini bapak malah bilang ndak papa nggak pada datang. Ntar nggak pada datang benaran loh.”
“Ya bukan begitu bu, yakin mereka pasti datang. Ini kan karena Jakarta sore tadi hujan ya dimaklumilah kalau pada
terlambat. Yang penting itu ibu persiapkan hati agar agar nanti pada saat umat datang
itu, ibu tersenyum bukan malah manyun. Coba gimana rasanya datang bertamu kok dikasih bibir manyun. Sudah pulang terjebak macet, eeeh tuan rumah mukanya sepet. Kasihan betul mencari makna Adven saja susah banget.”

Memang betul apa yang dibilang Pak Sabar, menghilangkan prasangka itu sulit. hampir tiap hari saya berprasangka. Ini saja sudah berapa banyak prasangka yang saya buat. Bukannya saya mendoakan mereka atau berdoa rosario, saya malah menduga dan berprasangka buruk.

Apakah saya tidak diinginkan lagi menjadi ketua lingkungan? Jangan-jangan umat kecewa dengan saya. Atau jangan-jangan ada umat yang sengaja menghasut agar tidak datang? Ah entahlah. Prasangka itu terus saja muncul
dan menggoda. Lebih enak berprasangka dari-pada berdoa, sensasinya gimana gitu… Bagaimanapun segala sesuatu harus dipersiapkan. Apalagi menyambut Tuhan Sang Juru Selamat. Sambil menanti kedangan umat, saya lalu berdoa memohon pengampunan Tuhan atas segala prasangka kepada umat. Lebih baik menanti sambil
berdoa.
“Pak Sabar dan ibu.”
“Ya Pak.” Serempak mereka menjawab dari balik korden.
Setelah mereka keluar saya ajak mereka berdoa rosario sambil menunggu umat yang belum datang. “Mari kita berdoa rosario sambil menanti umat yang belum datang.”
“Aku percaya akan Allah…”
(Bapaknya Ganesha)

Mendalami Silsilah Orang-Orang Kudus

Perjalanan hidup jemaat (Gereja Perdana) tidak terlepas dari berbagai kesulitan, tantangan dan berbagai hambatan. Mereka menolak dan tidak menerima berbagai ajaran dan penyembahan terhadap para dewa yang mengingkari iman mereka. Nyawa adalah taruhan mereka. Lebih dari itu, iman akan Tuhan Yesus menjadi andalan dan pegangan pokok. Karena iman inilah, mereka rela dihukum mati oleh para penguasa setempat.

Ada lebih dari 10.000 Santo atau Santa dan orang terberkati dalam Gereja Katolik Roma. Gereja percaya bahwa para rasul dan para martir yang telah menjadi saksi iman, terhubung secara sangat erat dengan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Gereja mengangkat mereka sebagai Santo atau Santa dan menghormati mereka dengan devosi khusus, bersama-sama dengan Santa Perawan Maria dan para malaikat.

Proses penentuan pernyataan resmi seseorang menjadi Santo atau Santa dalam Gereja Katolik memakan waktu yang panjang dan memerlukan bukti yang kuat berupa mukjizat-mukjizat yang harus ada untuk membuktikan bahwa Allah berkenan kepada perantaraan doa orang tersebut.

Pada zaman modern ini juga banyak orang kudus lahir, seperti Bunda Teresa dan Paus Yohanes Paulus II. Mereka diakui oleh Gereja sebagai orang kudus karena perjuangan iman mereka, berani mengakui diri sebagai orang yang percaya kepada Tuhan dan memberikan kesaksian hidup yang sangat baik.

Di buku ini anda akan menemukan bagaimana perjuangan orang-orang kudus yang diakui oleh Gereja Katolik. Gereja banyak belajar dari mereka. Kekudusan mereka merupakan tanda kesaksian iman yang sangat besar.
Dalam buku “Ensiklopedia Orang kudus Sepanjang Tahun” ini, penulis menyajikan riwayat hidup dan kesaksian iman para orang Kudus, yang telah disusun berdasarkan tanggal perayaan peringatan yang ditetapkan dalam kalender liturgi Gereja Katolik sepanjang tahun, dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember. .
Buku ini juga dapat digunakan oleh umat Katolik sebagai salah satu bahan bacaan untuk lebih para Santo dan Santa yang telah diangkat oleh Gereja Katolik, karena bulan November telah ditetapkan sebagai bulan arwah oleh Gereja Katolik.

Yang membedakan buku ini dibandingkan dengan buku yang judulnya serupa, yaitu “Ensiklopedia orang Kudus”, yang ditulis oleh Heuken, A. SJ adalah, disajikannya sekitar 40 orang kudus tambahan yang belum lama ini diakui oleh Gereja Katolik.

Bagi anda pasangan umat Kristiani yang akan dikaruniai keturunan, buku ini juga menyajikan 999 nama bayi kristiani berikut dengan artinya yang dapat anda pilih dan gunakan untuk memberi nama si buah hati. Di samping itu pilihan nama-nama Santo atau Santa ini juga dapat anda jadikan pilihan nama ketika anda akan menerima sakramen pembabtisan, atau pun penguatan.
(Paulus Andrie Susanto)

Makna Pembaptisan Bayi

Tradisi membaptiskan anak-anak di usia balita, atau sering disebut baptisan bayi merupakan pelayanan Gereja yang telah berlangsung, sejak awal tumbuhnya Gereja. Hingga saat ini Gereja Katolik terus melanjutkan tradisi ini. Bahkan kepada pasangan suami istri atau calon pengantin, Gereja memberikan himbauan agar mereka membawa anak-anak mereka untuk dibaptis di usia balita. Kadang kala ada pertanyaan apakah dasar atau alasan dari tradisi baptisan bayi tersebut?

Ada tiga alasan yang membuat Gereja Katolik membaptis para bayi, yaitu: (1) perintah Kristus, (2) baptisan diperlukan untuk keselamatan, (3) tanggung jawab orangtua untuk membawa anak-anaknya ke dalam Kerajaan Sorga.

Tuhan Yesus Kristus mengatakan bahwa tidak boleh ada seorangpun yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, karena mereka adalah empunya Kerajaan Sorga (lih. Mat 19:14; Mar 10:14; Luk 18:16). Kalau ada yang menghalangi atau menyesatkan anak-anak, maka akan memperoleh hukuman yang berat (lih. Mat 18:6). Dalam Kitab Suci ditemukan pernyataan bahwa barang siapa percaya dan dibaptis, maka dia akan diselamatkan (lih. Yoh 3:3-5; Mrk 16:16), karena mendapatkan pengampunan dosa -termasuk dosa asal- dan karunia Roh Kudus (lih. Kis 2:38). Dengan demikian melalui Pembaptisan , seseorang disatukan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama dengan Kristus; sehingga ia dapat mati terhadap dosa dan hidup baru bagi Allah di dalam Kristus (lih. Rom 6:3-4,11).

Jika Kristus menginginkan agar anak-anak datang kepada-Nya dan tidak boleh ada yang menghalangi mereka, serta baptisan diperlukan untuk keselamatan, maka orang tua harus memberi bayi mereka dibaptis. Maka, dengan membawa anak-anak untuk dibaptis para orang tua melaksanakan amanat agung Kristus untuk pemuridan, pembaptisan dan pengajaran (lih. Mat 28:19-20), sehingga bayi/ anak- anak mereka dapat memperoleh keselamatan.

Pertanyaan lain yang muncul ada lah; Apakah dengan Baptisan bayi berarti orang tua merenggut kebebasan bayi mere ka? Tentu saja tidak. Dalam tatanan kod- rat, sudah selayaknya orang tua memberi obat kepada bayi yang sakit tanpa persetujuan bayi itu. Kalau hal ini dianggap benar, maka menjadi benar juga bahwa untuk keselamatan bayi yang mereka kasihi, mereka membaptis bayi mereka tanpa persetujuan bayi mereka. Di jaman para rasul, para murid juga membaptis keluarga (yang berarti bisa termasuk anak-anak dan bayi), seperti pada pembaptisan keluarga Lydia (Kis 16:15), kepala penjara di Filipi (Kis 16:33) dan Stefanus (1 Kor 1:16).

Atas dasar atau alasan tersebut, menjadi jelas bahwa pembaptisan bayi me- rupakan ungkapan Iman Gereja, jawaban setiap orang beriman untuk melaksanakan perintah Tuhan dan mewujudkan tang- gungjawab kita sebagai orang beriman. Semoga keluarga-keluarga senantiasa menjadi tempat Tuhan dikenal dan kehendakNya dilaksanakan.

(Yustinus A. Setiadi, OFM)

Menjadi Muslimah yang Toleran

Bagi Silvia Ayu Rianti, penghayatan dalam Islam berdasarkan asal kata- nya (Arab: al-islām, “berserah diri kepada Tuhan”) berarti seseorang yang mau menyerahkan segala sesuatu kehidupan baik di dunia maupun di akhirat hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala (Allah SWT). Gadis yang kerap disapa Silvi ini menganut Islam sejak lahir karena dibesarkan dalam keluarga muslim. Dari kedua orang tuanyalah Silvi diajarkan bagaimana memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai luhur keislaman, sebagaimana yang terkandung dalam Al-Quran. Kewajiban utama umat islam adalah membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-quran. Dari situ, umat Islam mampu mengenal Allah yang diimani dan hak-hak yang diperolehnya dari iman kepada Allah SWT,” tutur gadis kelahiran Padang, 28 Oktober 1994 ini.

Ia mengaku sejak usia 6 tahun mulai belajar Al-quran dan tetap setia menekuninya sampai kini. Di usianya yang ke-24 tahun, Silvi juga tetap berusaha setia menjalankan sholat dan mengenakan hijab. Menurutnya, sholat adalah fondasi iman yang mampu menenangkan diri dalam mengintenskan realsi yang lebih erat dengan Allah dan sesama ciptaan. Sementara hijab merupakan ungkapan simbol kerendahan hati untuk menjaga dan menghormati harkat dan martabat perempuan muslimah seperti dirinya.

Lantas, apa makna toleransi antara umat beragama baginya? Sejauh mana ia mampu menghayati toleransi dalam kehidupannya? Bagi gadis manis berparas ayu ini, toleransi terhadap umat beragama sangatlah penting. Walaupun keyakinan berbeda tetapi setiap orang pasti mempunyai tujuan hidup yang sama yaitu, kedamaian jiwa di dunia dan akhirat. Ia bersyukur karena lahir dan besar dalam keluarga dan lingkunganku yang sangat menghargai umat agama lain. Selain itu, sejak kecil dia sudah terbiasa belajar untuk hidup terbuka dan berdampingan deng an umat beragama lain. Itu yang menjadi bekalnya ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah dan bekerja di Jakarta. Dia dapat bergaul dan berbaur dengan siapa saja, termasuk teman-teman dari aga- ma yang berbeda. Ia sadar, pengalaman perjumpaan dengan orang-orang dari latar belakang agama ataupun budaya yang berbeda membuatnya memahami makna keberagaman sebagai anugerah yang indah dalam kehidupan bermasyarakat.

Terkait tindakan intoleran yang terjadi di Indonesia belakangan ini, ia merasa resah dan prihatin. “Sebaiknya setiap kasus tidak dijadikan alasan politik. Demikian pula, setiap organisasi Islam harus bebas dari kepentingan politik. Maka, gerakan-gerakan fundamentalis yang bermaksud meneror masyarakat dengan mengatasnamakan Islam, pastinya berseberangan dengan kaidah hukum Islam yang mengajarkan hukum cinta kasih,” tuturnya.

Ia berharap, setiap orang, khususnya kaum muslim, harus dapat menghargai, menghormati, bahkan melindungi umat beragama lain yang minoritas. Selain itu, ia juga berharap agar umat beragama lain tidak memandang Islam dengan sebelah mata. Jangan sampai umat beragama lain terpengaruh “virus” Islamophobia (ketakutan terhadap segala sesuatu tentang Islam). Maka, hal yang dapat diupayakan bersama adalah menjalin relasi persaudaraan melalui silaturahmi dan dialog yang membantu setiap umat beragama untuk saling mengenal dan menghargai keyakinan masing-masing, tanpa pretensi untuk merugikan umat beragama lain.

(Saudara Peziarah).

Waktu menurut Santo Agustinus

Aurelius Agustinus nama baptisnya. Dia lahir pada 354 SM di Soukhras (saat ini Aljazair). Ayahnya seorang penganut paganisme Romawi Kuno. Ibundanya, Monika, membesarkan dan membimbing Agustinus menurut ajaran cinta kasih iman Kristen. Namun, keimanan sang ibu yang saleh tidak langsung diikuti Agustinus. Sempat menjadi penganut Manikeisme, Agustinus justru menemukan kekosongan dan merasa tidak puas. Karena kepintarannya dan kepiawiannya dalam berfilsafat, Agustinus merasa Manikeisme tidak mampu memberikan jaminan kebahagiaan dan keselamatan jiwanya.

Pada 386 M, dia duduk di taman rumahnya. Nelangsa karena kenyataan bahwa pikirannya yang kelewat analitis membuatnya sulit percaya pada apapun. Pada saat itulah, sekonyong-konyong ia mendengar suara seorang anak kecil yang mengucapkan kata secara berulang-ulang, “Ambil dan bacalah…Ambil dan bacalah…” Merasa seperti terbangun dari tidur, Agustinus merasa yakin bahwa itu adalah inspirasi Allah bahwa ia harus mengambil Alkitab dan membacanya. Dia membaca Alkitab sepanjang waktu hingga tiba di penghujung nas, “Jangan (hidup) dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan jangalah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginan- nya” (Roma 13:13-14). Seketika Agustinus merasa diterangi cahaya keyakinan yang menyinari segenap relung hatinya dan mengenyahkan gelapnya keraguan dan kekosongan hati.

Peristiwa itulah yang menandai pertobatan Agustinus untuk kembali kepada pangkuan iman Kristen. Pada hari Paskah 387 M, dia dibaptis oleh Uskup Ambrosius dari Milan. Di kemudian hari, Agustinus menjadi Uskup Hippo (Afrika Utara). Dalam masa kepemimpinannya tersebut, ia banyak menulis dan mengajarkan teologi. Salah satunya mengenai penciptaan oleh Allah di dalam waktu.

Agustinus memahami waktu sebagai suatu gejala batin yang bergerak dari masa lampau, masa kini, dan masa depan. Arti nya, waktu terjadi karena ada yang sudah berlangsung, sedang berlangsung, dan akan berlangsung. Waktu lampau adalah ingatan jiwa yang tetap mempertahankan dan mengingat apa yang sudah lalu. Waktu sekarang adalah perhatian akan apa yang sedang terjadi. Waktu yang akan datang adalah harapan akan apa yang akan terjadi. Kemudian, Agustinus menghubungkan adanya waktu dalam kaitannya dengan penciptaan.

Pada masa itu, refleksi mengenai waktu yang diajarkan Agustinus sangat kental dipengaruhi oleh platonisme. Kaum Platonis berpendapat bahwa pengada (ciptaan) yang merupakan akibat berada bersama dengan penyebabnya (Pencipta) dalam waktu. Agustinus mengkritiknya dengan menyatakan pencipta itu abadi. Pencipta mengatasi keadaan-keadaan sementara dan mutlak mendahului akibat-akibatnya. Maka, pencipta tidak tunduk pada waktu. Dalam bahasa iman Kristen, Sang Pencipta disebut Allah. Lebih lanjut, Agustinus mendukung ajaran iman Kristen tentang penciptaan Allah yang bebas dalam waktu. Tindakan Allah yang terdorong oleh cinta kasih untuk menciptakan mengakibatkan ciptaan menjadi ada.

Mengenai kisah penciptaan dan waktu, Agustinus meyakini bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Dengan kekuasaan yang mutlak, Allah menciptakan alam semesta. Materi yang diciptakan hampir merupakan ketiadaan. Maksudnya adalah materi yang tidak berbentuk tidak berada selain dengan bentuk. Kendatipun lebih dahulu dari bentuk, materi selalu ada bersama dengan bentuk itu di dalam waktu. Singkatnya, materi dan bentuk diciptakan bersamaan karena materi selalu ada bersama dengan bentuk. Waktu menyusul segera sesudah materi dan bentuknya diciptakan. Maka, waktu mulai ketika jagad raya diciptakan. Agustinus pun berkesimpulan bahwa dunia di- ciptakan dengan waktu dari pada dalam waktu. Demikianlah jangka waktu (hidup) manusia dapat diukur sebagai masa lalu, sekarang, dan akan datang karena hakekat sifat ciptaan yang terbatas dan tidak kekal.

Lantas, apa yang dapat dipetik dari pandangan St. Agustinus? Pertama, Allah adalah Sang Pencipta dan kita adalah ciptaan. Tindakan Allah yang menciptakan adalah tindakan bebas. Kebebasan Allah dalam mencipta terletak di dalam kelimpahan Cinta Kasih-Nya sehingga membuat ciptaan menjadi ada. Kita semua ada semata-mata karena belas kasih Allah. Kedua, Allah adalah Keabadian yang berada di luar waktu yang melingkupi ciptaan. Waktu mulai bersamaan dengan diciptakan- nya jagad raya. Maka, Allah tetap menjadi penguasa waktu. Sebaliknya, manusia terikat dan dibatasi oleh waktu. Ketiga, waktu kita terbatas. Masa lampau sudah berlalu. Kita tidak dapat mengembalikan masa lalu. Masa depan belum terbuka. Di hadapan kita terdapat masa kini. Pada masa kini, kita masih dapat berpikir dan berkehendak yang baik. Dengan memanfaatkan waktu sekarang, kita dapat merencanakan masa depan dengan yang lebih baik. Mengutip ungkapan tersohor St. Agustinus, “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Sebagai makhluk ciptaan, sudah sepantasnya kita menyadari hidup di dunia ini sebagai peziarahan untuk mencapai persatuan kembali dengan Sang Pencipta, Allah yang kita imani. Jang an menunda-nunda perbuatan yang baik. Marilah menggunakan waktu kita sebaik mungkin karena waktu kita terbatas.

(Daku Morin).

Santo Benediktus

Setiap tanggal 11 Juli, Gereja memperingati Santo Benediktus, seorang tokoh besar dalam dunia kerahiban Barat. Santo Benediktus adalah pendiri Ordo Benediktin. Ia dilahirkan pada tahun 480 dalam keluarga bangsawan Italia dari Nursia yang kaya-raya. Menurut tradisi, ia adalah saudara kembar dari Santa Skolastika. Hidupnya penuh dengan petualangan dan perbuatan-perbuatan hebat. Semasa kanak-kanak, ia dikirim ke Roma untuk belajar di sekolah rakyat. Tumbuh dewasa sebagai seorang pemuda, Benediktus merasa muak dengan gaya hidup korupsi para kafir di Roma.

Benediktus meninggalkan kota Roma dan mencari suatu tempat terasing di mana ia dapat menyendiri bersama Tuhan. Atas petunjuk Santo Romanus, Benediktus dapat menemukan tempat yang tepat, yaitu sebuah gua di Gunung Subiako. Benediktus mengasingkan diri selama tiga tahun dalam gua tersebut. Setan sering kali membujuknya untuk kembali ke rumahnya yang mewah dan kehidupannya yang nyaman di sana. Tetapi, Benediktus berhasil mengatasi godaan-godaan tersebut dengan doa dan mati raga. Suatu hari, iblis terus-menerus menggodanya deng- an bayangan seorang perempuan cantik yang pernah dijumpainya di Roma. Iblis berusaha membujuknya untuk kembali ke kota mencari perempuan itu. Hampir saja Benediktus jatuh dalam pencobaan. Kemudian ia merasa sangat menyesal hingga menghempaskan dirinya dalam semak-semak dengan duri-duri yang panjang serta tajam. Ia berguling-guling di atas semak duri hingga seluruh tubuhnya penuh deng an goresan-goresan luka. Sejak saat itu, hidupnya mulai tenang. Ia tidak pernah merasakan godaan yang dahsyat seperti itu lagi.

Setelah tiga tahun, orang-orang mulai datang kepada Benediktus. Mereka ingin belajar bagaimana menjadi kudus. Ia menjadi pemimpin dari sejumlah pria yang mohon bantuannya. Tetapi, ketika Benediktus meminta mereka untuk melakukan mati raga, mereka menjadi marah. Bahkan para pria itu berusaha meracuninya. Bene- diktus membuat Tanda Salib di atas anggur beracun itu dan gelas anggur tiba-tiba pecah berkeping-keping.

Di kemudian hari, Benediktus menjadi pemimpin dari banyak rahib yang baik. Ia mendirikan dua belas biara. Kemudian ia pergi ke Monte Kasino di mana ia mendirikan biaranya yang paling terkenal. Di sanalah Santo Benediktus menuliskan peraturan-peraturan Ordo Benediktin yang mengagumkan. Ia mengajar para rahibnya untuk berdoa dan bekerja deng an tekun. Terutama sekali, ia mengajarkan mereka untuk senantiasa rendah hati. Benediktus dan para rahibnya banyak menolong masyarakat sekitar pada masa itu. Mereka mengajari orang banyak itu membaca dan menulis, bercocok tanam dan aneka macam keterampilan.

Santo Benediktus mampu melakukan hal-hal baik karena ia senantiasa berdoa. Ia wafat pada tanggal 21 Maret tahun 547. Pada tahun 1966, Paus Paulus VI menyatakan Santo Benediktus sebagai santo pelindung Eropa. Pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II menambahkan St. Sirilus dan St. Metodius sebagai santo pelindung Eropa bersama dengan Santo Benediktus.

Medali Santo Benediktus

Bagian depan medali terdapat gambar Santo Benediktus sedang memegang salib di tangan kanan dan Regula (aturan) Suci di tangan kirinya. Pada bagian lain terdapat gambar piala yang di atas nya terdapat seekor burung gagak. Di atas keduanya terdapat tulisan “Crux Sancti Patris Benedicti” (Salib Santo Benediktus). Di sekeliling medali itu terdapat kata-kata “Ejus in obitu nostro praesentia muniamus” (Semoga kita pada saat kematian dikuatkan oleh kehadirannya).

Sementara itu, di bagian belakang terdapat gambar salib dengan tulisan inisial: “Crux Sacra Sit Mihi Lux” (Semoga Salib Suci ini menjadi terangku), yang ditulis vertikal. Selanjutnya, “Non Draco Sit Mihi Dux” (Janganlah iblis menjadi penuntunku), yang ditulis secara horizontal. Kemudian tulisan “Crux Sancti Patris Bene- dicti” terdapat pada masing-masing sudut salib. Salib tersebut dikelilingi oleh tulisan: “Vade Retro Satana, Nunquam Suade Mihi Vana – Sunt Mala Quae Libas, Ipse Venena Bibas” (Enyahlah iblis, jangan kau tunjukkan kesombonganmu di hadapanku – kejahatanlah yang engkau tawarkan, minumlah sendiri racunmu). Di bagian ujung salib biasanya terdapat tulisan “PAX” (damai) atau monogram  “IHS” (Iesu Homen Salvator – Yesus Penyelamat Manusia).

Medali ini biasanya digunakan untuk melawan kuasa kegelapan melalui kekudusan dan perantaraan Santo Benediktus. Selain itu, benda sakramentali ini juga dikenal sebagai “Salib Kematian yang Berbahagia” karena adanya perlindungan dari Santo Benediktus yang menyertainya.  Indulgensi (pengampunan dosa) penuh akan diterima oleh mereka yang pada saat kematiannya mencium, menyentuh atau melakukan penghormatan salib, dan menyerahkan jiwanya kepada Allah.

Sumber: katakombe.org dan https://stpeterslist.com

Menelaah Posisi Maria dari Perspektif Seorang Imam

Pengaruh Maria tak terbayangkan besarnya sepanjang zaman. Bukan saja sebagai tokoh yang paling sering dijadikan obyek lukisan dalam kesenian, tetapi juga dalam kesusastraan. Sesudah Yesus hanya Marialah figur manusia yang paling banyak dijadikan bahan penulisan, mengingat di berbagai tempat di dunia ada perpustakaan khusus untuk studi Mariologi.
 
Melalui buku ini, Romo John mengajak kita untuk menelaah posisi Maria yang sangat istimewa. Dia memberikan tanggapan atas sejumlah perdebatan seputar Maria yang bertitik tolak dari Kitab Suci dan tradisi Gereja Katolik, yang selama ini menjadi dasar dari Mariologi yang otentik. Secara garis besar buku ini akan membahas tiga hal. Pada bagian pertama, akan dibahas tentang devosi kepada Maria. Kemudian yang kedua tentang Maria dikandung tanpa noda. Ketiga tentang keperawanan Maria sebelum dan sesudah Yesus dilahirkan.
 
Pada bagian pertama, Romo John mengatakan bahwa secara teologis ungkapan doa tidak ditujukan kepada Maria ataupun orang kudus lainnya. Kita memohon Bunda Maria dan para orang kudus agar berdoa untuk kita, seperti yang kita lakukan dalam doa Salam Maria (halaman 4).
 
Tentang perdebatan seputar Maria yang dikandung tanpa noda, Romo John menyatakan bahwa walaupun tidak secara langsung, ada beberapa ayat dalam kitab suci yang menunjang ajaran ini. Ayat-ayat tersebut mendukung bahwa tradisi Gereja merupakan salah satu sumber wahyu Ilahi. Anggapan bahwa Maria tanpa dosa adalah suatu tradisi kuno yang dipercaya dan diterapkan secara konsisten dalam Gereja Katolik (halaman 19).
 
Perdebatan seputar keperawanan Maria pada saat melahirkan Yesus, juga menimbulkan pertanyaan, mengapa Rasul Paulus tidak menuliskan hal ini dalam surat-suratnya di dalam kitab suci. Romo John mengatakan bahwa keempat belas Surat Rasul Paulus selalu dibuka dengan istilah yang mengacu pada hubungan Bapa-Putra dalam keluarga Allah, seperti misalnya Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Perumusan seperti ini secara tidak langsung menyatakan bahwa tidak ada ayah duniawi. Dari situ dapat disimpulkan bahwa ibu-Nya yaitu Bunda Maria mesti mengandung Dia secara perawan (halaman 48).
 
Buku ini tidak dimaksudkan untuk mencari kebenaran seputar perdebatan Bunda Maria. Melalui buku ini penulisnya ingin mencoba melihat masalah tersebut melalui perspektif Gereja Katolik, terutama dari kaca mata seorang imam Gereja Katolik. Di samping itu penulisnya ingin mengajak kita sebagai umat gereja Katolik untuk semakin menguatkan iman Gereja kita.
(Andri Susanto)

Panggilan: Hatiku bernyala-nyala karena CintaNya

Diambil dari Cordia Edisi April 2018

“O..Pencinta hatiku yang manis Berilah aku bagian dalam dukaMu. Semoga hatiku bernyala-nyala karena cinta. Buatlah aku cakap dalam pengabdianMu, tetapi tidaklah bermanfaat bagiku saja pun juga bagi keselamatan sesama manusia. Amin (EG 39)”

Itulah syair doa Bunda Elisabeth Gruyters Pendiri Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus yang senantiasa dilambungkan oleh para pengikutnya. Syair doa yang indah dan sarat makna menjadi untaian syukur atas segala cinta Tuhan yang dilimpahkan dalam hidup panggilan Religius yang tanpa henti selalu dianugerahkan kepada saya.

Tak terasa sudah hampir 13 tahun saya menjalani hidup membiara yang diawali dari masa pembinaan Postulat dan Novisiat di Yogyakarta. Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Carolus Borromeus menjadi pelabuhan terakhir yang menentukan mau kemana tujuan hidup saya? Akhirnya saya temukan tempat itu, di mana saya ditempa menjadi seorang religius yang memiliki hati untuk mencintai dan melayani sesama baik dalam karya kesehatan, pendidikan, pastoral dan sosial; tempat di mana saya menemukan dan menimba kekuatan serta menerima limpahan rahmat kasih Allah yang mengalir tanpa henti dalam hidup saya.

Pilihan yang saat itu tidak mudah untuk diputuskan. Saya harus meninggalkan keempat adik dan ayah, serta kenangan bersama ibu yang sudah 7 tahun meninggalkan kami selama-lamanya. Saya juga harus berani dengan bebas memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan, rekan kerja di sebuah RS Swasta yang sudah hampir 10 tahun menikmati kemapanan. Demikian pula ketika ketika harus memilih pergi meninggalkan seorang pribadi yang ikut mendukung dalam kesulitan-kesulitan yang saya alami. Ya, semuanya tidaklah mudah, saya lepaskan karena cinta-Nya ternyata lebih kuat dari segala yang ada. Saya pergi meninggalkan semuanya di tahun 2005, saat usia saya sudah mencapai 28 tahun. Usia yang sudah cukup dewasa, bisa dikatakan, namun untuk menjadi pengikut Tuhan tidak ada kata terlambat. Tuhan sudah mengatur semuanya pada waktu yang tepat. Kebimbangan yang paling kuat saya rasakan ketika harus pergi meninggalkan keluarga. Sebagai anak pertama dari 5 bersaudara dalam keluarga yang sudah lama ditinggalkan ibu, sayalah yang menjadi tumpuan hidup dan tulang punggung bagi keluarga. Egoiskah saya dengan pilihan ini? Apakah pilihan ini sudah tepat dan bijak, lalu bagaimana dengan keluarga? Apakah mereka akan baik-baik saja saat ditinggalkan? Itulah kekhawatiran yang berkecamuk dalam hati. Namun peneguhan itu datang. Tidak ada kata EGOIS untuk ikut Tuhan. Pergilah dengan gembira dan lepas bebas. Tuhanlah yang menjaga keluargamu. PERCAYALAH. Saat itu kelegaan menyelimuti hati saya. Akhirnya proses pembinaan di Postulat dan Novisiat CB selama 3 tahun dapat saya jalani dengan kegembiraan dan pengosongan diri serta kerendahan hati yang terus menerus.

Sering terlintas kenangan saat kecil yang membekas dalam hati, ketika teringat akan kebaikan dan senyum keramahan seorang suster CB. Saat itu saya masih SD dan SMP. Sesuatu yang mampu memantapkan hati menjadi seorang religius CB, meskipun untuk itu saya harus melewati banyak rintangan.

Waktu terus berjalan. Kekuatan cinta Tuhan terhadap panggilan khusus ini semakin diasah dan dimurnikan. Proses ini saya rasakan selama masa pembinaan dengan pengalaman cinta Tuhan yang dihadirkan dalam setiap peristiwa hidup yang dianugerahkan Tuhan, terlebih saat mengemban perutusan dalam karya dan sampai akhirnya boleh diperkenankan untuk mengikrarkan kaul kekal tahun 2013. Inilah peristiwa yang tak akan pernah saya lupakan selamanya. Bukan perayaan mewah dan pesta pengikraran kaul kekal yang saya banggakan, namun rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata ketika saya tersungkur luruh di hadapan altar Tuhan. Tak tertahankan, saya meneteskan air mata. “Tuhan, inilah saya! Pakailah seturut kehendakMu” Bukti kasih Tuhan yang luar biasa terjawab semuanya. Tak ada lagi yang perlu dibanggakan dan disombongkan ketika hidup diserahkan kepada Sang Empunya kehidupan. Saya hanyalah debu yang tak berarti namun kebaikan Tuhan yang tak terbatas telah merangkum seluruh diri. Saya hanyalah manusia biasa yang tak memiliki kehebatan apa pun, rapuh dan terbatas, penuh dengan dosa namun sungguh dicintai dan dipakai-Nya sebagai penerus karya Allah di dalam dunia. Semua ini saya wujudkan dengan mencoba setia dan gembira meneladan hidup Bunda Elisabeth Gruyters dan Santo Carolus Borromeus.

Kini Tuhan semakin merentangkan sayap-Nya dan terus menerus menggetarkan siapa pun khususnya kaum muda mudi untuk ikut terlibat akan karya Allah di dalam dunia. Gereja sangat membutuhkan pekerja kebun anggur karena tuaian sangat berlimpah. Demi Tuhan dimuliakan dan sesama diabdi dengan tulus ikhlas niscaya Tuhan akan melimpahkan berkat-Nya kepada kita. Amin.

(Sr Thresmiati, CB)

Pak Gembul, Petugas Kebersihan Toilet Gereja

"Puji syukur kepada Tuhan bahwa saya akhirnya dipercayakan tugas oleh Paroki Kramat sebagai penanggung jawab kebersihan toilet di paroki ini. Saya juga sangat senang menjalankan tugas yang diserahkan kepada saya. Pernah keadaan toilet paroki kurang terjaga kerapihan maaupun kebersihannya, sehingga saya sering mendengar keluhan dari beberapa umat gereja. Saya mengalami suka dan duka, terutama masih kurangnya kesadaran dari pengguna toilet untuk ikut menjaga kebersihan dan merawat fasilitas toilet yg sudah disediakan oleh paroki. Terima kasih kepada Romo Agung untuk pekerjaan yang telah diberikan."

Demikian pesan dari Pak Gembul, yang sekarang bertugas sebagai penanggung jawab kebersihan kamar kecil di paroki. Berikut foto – foto ilustrasi Pak Gembul ketika bertugas.

20170819_135656kec 20170819_135634kec