Tentang Doa Bapa Kami

Allah itu ‘Omnipotent’. Omnipotent artinya adalah keagunganNya melampaui atau melebihi segala sesuatu yang ada di alam semesta. Allah berkuasa atas segala mahkluk, baik mahkluk hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan maupun benda-benda mati. Allah juga berkuasa atas mahkluk-mahkluk yang tak kelihatan seperti para malaikat dan setan. Karena itu dalam Doa Bapa Kami dikatakan bahwa Allah adalah Bapa yang di surga. Surga adalah tempat Allah berdiam dan bertakhta. Meskipun demikian, keberadaan Allah sajalah yang membuat surga menjadi tempat yang damai dan membahagiakan. Karena kebaikan dan kasihNya yang tidak terbatas, maka Allah pun akan memberikan surga kepada setiap orang yang menjalankan kehendakNya. Harus diingat bahwa Allah adalah kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan itu sendiri. Maka kehendak Allah hendaklah dipahami sebagai ‘perintah’ untuk membuat diri kita sendiri sebagai orang yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan kepada setiap orang. Ini adalah perutusan kita sebagai anak-anakNya. Kalau kita bisa menjalankan perutusan ini di dalam kehidupan sehari-hari, maka kita telah membawa suasana surga yang penuh dengan kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan itu ke dalam dunia; membawa suasana surga ke atas bumi. Tentang ini, kita sering kali berucap, ‘Rasanya seperti di surga’ dan itu semata-mata karena kebaikan Allah saja.

Allah yang memiliki keagungan dan kuasa seperti itu berkenan untuk kita panggil dengan sebutan ‘BAPA’. Kalau Allah berkenan dipanggil dengan sebutan ‘BAPA’ itu juga dapat diartikan bahwa Allah
mau diperlakukan dan dipandang sebagai seorang ayah, bapak, atau papa. Dengan demikian, hendaknya kita juga meyakini bahwa Allah juga memperlakukan kita sebagai anak-anak yang dikasihiNya. Karenanya kita pun boleh saja meminta apa yang kita butuhkan kepada Allah, yang adalah Bapa kita sendiri. Kalau pernah mendengar istilah ‘Penyelenggaraan Ilahi’ maka itu tak lain adalah kebaikan Allah sendiri dalam bentuk karunia-karunia tertentu yang kita terima dalam hidup sehari-hari seperti makanan, dan berbagai keperluan dalam hidup sehari-hari seperti
uang untuk membeli barang yang kita butuhkan. Itulah yang dinamakan rejeki dari Allah melalui kebaikan hati orang-orang yang dipakai sebagai alatNya. Kalau tadi kita menyebutkan bahwa Allah itu tidak terbatas, maka pada bagian ini kita diajak untuk menyadari akan kelemahan dan keterbatasan diri kita sebagai manusia. Adanya kelemahan dan
keterbatasan ini sering kali membuat kita melakukan kesalahan pada sesuatu yang sedang dikerjakan dan juga melakukan perbuatan-perbuatan yang salah, dalam arti bertentangan dengan kehendak Allah. Kita telah mengetahui bahwa kehendak Allah tak lain adalah agar kita kita membawa kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan. Tetapi kalau perbuatan kita tidak mengarah pada kebaikan, kebahagiaan dan ketenangan maka dapat dipastikan bahwa kita telah melanggar kehendak Allah dan bersalah. Atas kesalahan ini pula, baiknya memang kita memohon pengampunan kepada Allah sendiri, akan tetapi hendaknya kita juga meminta maaf dan ampun kepada pihak-pihak yang dirugikan. Selain itu kita juga dituntut untuk berani mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita, karena dengan pengampunan kita akan membawa kebaikan, kebahagiaan

dan ketenangan tidak hanya kepada diri sendiri tetapi itu juga membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi orang-orang yang ada di sekitar kita, khususnya orang yang telah bersalah. Penting bagi kita untuk belajar rendah hati, dan tidak menanamkan rasa bersalah yang berlebihan kepada orang lain karena rasa bersalah tidak akan pernah membahagiakan. Menyadari kita sebagai orang yang lemah, maka di dalam kerendahan hati hendaknya kita memohon agar Allah menjauhkan diri kita dari segala bentuk pencobaan, dan sebagai konsekuensinya maka kita pun harus berani melawan setiap godaan yang ada sejak godaan itu pertama kali muncul. Akan terasa lebih mudah untuk melawan godaan saat godaan tersebut muncu dalam pikiran. Tetapi rasanya akan semakin sulit untuk diatasi
kalau kita tidak segera ‘memotong’ godaan dalam pikiran. Godaan selalu berasal dari ‘si jahat’ yaitu setan. Kalau kita mengikuti godaan maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya kita sedang menyetujui usulan dari si jahat untuk
melawan Allah Bapa. Hanya dengan berserah diri kepada Allah Bapa, maka kita akan terus dikuatkan meskipun berulang kali jatuh dalam berbagai pencobaan karena kelemahan dan keterbatasan manusiawi kita. Kalau kita menang maka surga akan menjadi bagian yang pantas untuknya.

(Benediktus)

Orang Katolik Menyembah Patung?

Misa pagi di suatu hari Minggu baru saja selesai. Beberapa orang bergegas menuju Gua Maria. Mereka menyalakan lilin, menundukkan kepala dan mulai berdoa. Mereka terlihat khusuk larut dalam doanya masing-masing. Sementara itu di bagian lain di dalam gereja, tampak seorang bapak sedang berdiri memandang patung orang kudus yang ada di situ, menundukkan kepala dan mulai berdoa. Ada kalanya kita sendiri juga melakukan yang sama dalam doa pribadi di rumah masing-masing dengan memasang patung Bunda Maria dan menyalakan lilin sebelum memulai doa rosario pribadi. Pemandangan seperti itu sering kita jumpai dalam kehidupan beriman kita sebagai seorang Katolik. Di berbagai tempat rohani (Katolik), seperti gereja, taman doa, dan tempat spiritual yang lain atau bahkan di ruang doa pribadi kita masing-masing sering dijumpai adanya patung. Entah itu patung Bunda Maria,
Hati Kudus Yesus atau pun patung orangorang kudus. Apakah dengan demikian, bisa dikatakan bahwa umat Katolik berdoa kepada patung, kepada benda mati?

Dalam iman Katolik, keberadaan patung dan berdoa di depan patung Yesus atau orang kudus bukanlah suatu bentuk
penyembahan kepada berhala. Patung merupakan sarana yang dapat membantu umat untuk merasakan kedekatannya dengan “pribadi” yang dipatungkan. Ada semacam perasaan dan ingatan tentang Tuhan beserta segala kebaikan-Nya yang bisa muncul hanya dengan melihat patung Yesus misalnya; atau dengan melihat patung santo-santa tertentu kita dibantu untuk mencari tahu tentang riwayat hidup orang kudus tersebut untuk kemudian 
iman katolik meneladani cara hidup dan kesetiaannya kepada Tuhan. Dengan berdoa di depan patung Bunda Maria, seseorang akan terbantu untuk merasakan keberadaannya sebagai Bunda Allah, tapi juga bundanya sendiri. Ini tentu akan sangat membantu seseorang dalam mengungkapkan penghayatan hidup beriman.

Tentang ini St. Basilius Agung (330-379) menyatakan bahwa penghormatan yang kita berikan pada suatu gambar mengacu pada tokoh yang digambarkannya (St. Basilius, De Spiritu Sancto. 18,45). Pandangan ini menunjukkan dengan jelas fungsi patung sebagai alat bantu, sebagai sarana yang membantu umat untuk mengingat, menghormati dan memberikan pemujaan kepada sosok atau tokoh yang dipatungkan atau digambarkan. Dapat dikatakan bahwa yang mendapatkan penghormatan, dikenang, dan dipuja adalah tokoh yang dipatungkan. Jika seseorang berdoa di depan patung Bunda Maria misalnya, bukan patungnya yang dihormati, tapi pada saat itu sosok Bunda Maria-lah yang sedang mendapatkan penghormatan yang sepantasnya. Lagi pula, orang berdoa di depan patung Bunda Maria tentu tidak dengan pemahaman kosong dalam arti dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang patung itu. Pengalaman iman tentang Bunda Maria dalam kehidupan sehari-harilah yang biasanya mendorong orang untuk berdoa secara khusyuk dan penuh rasa hormat di depan patungnya. Gagasan ini ditegaskan oleh Konsili Nisea 11 yang menyatakan bahwa “siapa yang menghormati gambar (patung) dia menghormati pribadi yang digambarkan (dipatungkan) di dalamnya.”

Ini akan sama halnya dengan foto keluarga atau orang-orang dekat yang kita pasang di rumah. Ada kalanya saat
merindukan orang-orang tersebut kita akan memandanginya, sambil mengingat pengalaman yang sudah-sudah bersama orang-orang tersebut. Apa yang kita lakukan ini biasanya didasari oleh adanya kedekatan hubungan antara kita dengan mereka sehingga pengalaman bersama pribadi yang ada di foto itu begitu berkesan mendalam bagi hidup kita. Kalau kita boleh memajang, menyimpan foto orang-orang yang pernah dekat dengan kita, lalu mengapa kita tidak boleh memasang atau menempatkan gambar atau patung Tuhan Yesus, yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia, Bunda Maria dan orang-orang kudus, sebagai satu untuk mengingat, mengenang dan merenungkan pengalaman iman yang dialami bersama tokoh-tokoh tersebut dalam hidup sehari-hari.

Saat umat Katolik berdoa di depan patung, dia tidak sedang berdoa kepada benda mati, tetapi kepada pribadi yang digambarkan melalui patung tersebut. Patung hanyalah sarana yang digunakan untuk membantunya dalam proses penghayatan dalam hidup sehari-hari.

(Benediktus)

Dekorasi Panti Imam dalam Tinjauan Liturgi Ekaristi

Panti imam merupakan satu tempat paling penting di dalam gereja. Di dalamnya terdapat altar, mimbar dan tabernakel. Karena itu tidak sembarang orang diperbolehkan untuk masuk dalam ruangan ini selama Perayaan Ekaristi dilangsungkan. Hanya imam dan petugas liturgi yang boleh masuk di ruangan paling sakral di dalam gereja. Sedangkan yang menjadi bagian paling penting dan pusat perhatian selama misa adalah Yesus sendiri yang diimani hadir dalam perayaan tersebut. Panti imam pun biasanya ditempatkan pada bagian yang menonjol. Ini dapat berupa tempat yang lebih tinggi; lebih terang, dan lebih terlihat oleh umat dari pada berbagai tempat lainnya di gereja seperti panti koor dan bangku umat.

Dalam perayaan ekaristi meriah, biasanya panti imam khususnya altar akan dihiasi dengan bunga-bunga atau ornamen dekorasi lainnya. Keberadaan aneka bunga yang ditata dengan baik tentu akan dapat menyemarakkan suasana dan menambah keagungan perayaan Ekaristi saat itu. Adanya hiasan di altar juga dapat membantu umat dalam membangkitkan “semangat” untuk terlibat dalam perayaan suci tersebut. Bisa dibayangkan kalau kita
mengikuti perayaan meriah seperti Natal yang akan kita peringati pada bulan Desember ini, atau hanya sekedar peringatan atau pesta santo/santa tapi di altar tidak ada hiasan bunga apa pun, rasanya seperti ada yang kurang. Ada kalanya ini dapat mempengaruhi dan bahkan mengganggu situasi batin umat yang mengikuti perayaan Ekaristi. Karena itu, dalam perayaan-perayaan besar dan upacara pemberkatan pernikahan altar dan panti imam dihias secara meriah dengan tujuan untuk membantu menciptakan suasana yang sesuai dengan apa yang dirayakan saat itu. Tidak jarang sebuah paroki memiliki tim penghias altar. 

Meskipun dapat membantu umat dalam membangun situasi batin yang sesuai dengan kemeriahan yang terdapat di panti imam khususnya di seputar altar, namun ada beberapa hal yang tetap harus diperhatikan. Dalam perayaan apa pun yang tetap harus menjadi perhatian umat adalah Tuhan Yesus sendiri. Mimbar, salib dengan corpus (lih. SC 21, PUMR 308), altar dan tabernakel merupakan bagian yang paling penting dalam setiap perayaan Ekaristi. Di atas mimbar, sabda Tuhan sendiri diwartakan dan disampaikan kepada segenap umat yang hadir. Hanya pelayan sabda (lektor/lektris, pemazmur dan yang memberikan khotbah) yang diperkenankan untuk menjalankan tugasnya di mimbar. Karenanya, pada saat Perayaan Ekaristi memasuki liturgi sabda, mimbar (ambo) menjadi pusatnya (PUMR 309); sementara itu salib membawa ingatan akan segala pengurbanan Kristus dalam menebus dosa dan kesalahan kita agar buah-buah keselamatan yang dibawa-Nya ke dalam dunia selalu terasakan dalam hidup kita sehari-hari. Altar menjadi sesuatu yang penting dalam setiap perayaan Ekaristi karena di atas altarlah terjadi peristiwa transubstansial di mana roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus sendiri melalui imam dengan konsekrasi. Altar merupakan simbol dari Perjamuan Paskah, karenanya altar menjadi pusat perayaan Ekaristi (Ekaristi mengingatkan kita secara anamnesis – mengenangkan peristiwa perjamuan terakhir – dan pengorbanan Kristus di salib untuk menebus dosa umat-Nya). Sedangkan tabernakel kita tahu merupakan bagian dalam panti imam untuk menyimpan hosti dan anggur yang telah dikonsekrasikan.

Segala macam dekorasi yang dimaksudkan untuk menciptakan suasana semarak hendaknya menyesuaikan dengan altar, tabernakel, mimbar dan salib sehingga materi dekorasi – biasanya berupa bunga – tidak lantas menjadi lebih ‘menarik’ perhatian umat dan posisinya lebih tinggi dari pada altar, mimbar, tabernakel dan salib yang ada di panti imam. Harus disadari bahwa hiasan dekorasi bunga dan segala macam ornamen hanyalah sarana pendukung yang membantu umat agar lebih terbantu untuk berperan serta dalam memberikan perhatian penuh pada misteri Kristus yang dirayakan dalam Ekaristi. (Pada dasarnya liturgi adalah karya Allah sendiri di dalam Gereja-Nya). Dekorasi yang terlalu berlebihan dapat mengalihkan perhatian umat dari yang paling utama: Kristus yang hadir dalam perayaan Ekaristi mulai dari lagu pengantar perarakan masuk panti imam, hingga perarakan imam menuju sakristi. Sedangkan dekorasi yang ala kadarnya juga dapat memunculkan suasana yang kurang bersemangat selama mengikuti misa kudus.

Karena itu panti imam khususnya altar harus mendapatkan perhatian yang semestinya tanpa gangguan dari dekorasi yang ada kalanya malah mengganggu konsentrasi dan fokus umat untuk berpartisipasi aktif dalam perayaan liturgi yang pada dasarnya merupakan kegiatan Allah sendiri untuk membawa dan menghadirkan keselamatan dalam hidup mereka yang saat itu merayakannya di tempat tersebut (gereja). Karena pada dasarnya panti imam memiliki fungsi sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan perayaan kudus (misa suci) dalam suatu gereja, hendaknya seluruh proses kegiatan tersebut dapat terlihat dengan jelas dari berbagai posisi di dalam gereja. (bdk. PUMR 295, 299). Hiasan altar dan panti imam mestinya ikutmenonjolkan altar, mimbar, dan tabernakel yang ada di sana; bukannya menjadi ajang untuk menampilkan dekorasi yang berlebihan.

Catatan:
• SC = Dokumen Sacrosanctum Concilium
• PUMR = Pedoman Umum Misale Romanum
(Benediktus)

Kristus Selalu Menunggumu, Saudara!

Dalam Perjanjian Lama, dikisahkan tentang ramalan para nabi bangsa Israel akan kedatangan ( ל ֵא ּ ונ ָּ מ ִ עbaca: Imanuel), Sang Juru Selamat yang dijanjikan הוהי (baca: Adonai, TUHAN). Kita mengimani bahwa Imanuel adalah Tuhan Yesus Kristus. Adven terjadi dalam penantian bangsa Israel hingga kelahiran Kristus di Betlehem. Itulah awal mula ‘Adven historis’, yakni penantian kedatangan Kristus yang pertama kalinya ke dunia.

Kemudian, Gereja meneruskannya dan menempatkan tradisi luhur ini sebagai permulaan masa liturgi Katolik. Tujuannya, kita diajak untuk semakin bertekun dalam hidup rohani-spiritual mempersiapkan kedatangan Kristus yang kedua kalinya pada akhir zaman. Inilah yang disebut ‘Adven eskatologis’, yakni pengenangan kedatangan Yesus yang pertama di dunia sembari mengarahkannya pada penantian kedatangan Kristus yang kedua
kalinya di akhir zaman (eskaton). Mengapa demikian? Karena kesempurnaan Kerajaan Kasih Allah di dunia akan terpenuhi di akhir zaman (1 Ptr 1:5).

Masa Adven (Adventus: kedatangan) adalah suatu masa persiapan rohani-spiritual umat beriman Katolik yang menantikan kedatangan Kristus. Adven mengingatkan kita untuk selalu berjaga-jaga menyongsong kepenuhan Kerajaan Allah di akhir zaman. Semua orang Katolik semestinya tahu, meskipun mungkin belum
banyak yang memahaminya.

Suster Ilia Delio OSF, teolog fransiskan, berpendapat bahwa dalam masa Adven, Kristus juga selalu menunggu kita untuk mengosongkan diri. Mungkin selama ini kita banyak mengisi diri dengan berbagai kecemasan, ketakutan, kegalauan, kepura-puraan, dan keraguan yang sia-sia. Padahal, Kristus membutuhkan hati yang terbuka untuk dicintai tanpa syarat.

Kristus telah bersabda, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Maukah kita menjadi “tempat” bagi-Nya untuk sejenak meletakkan kepala-Nya? Atau, bersediakah kita bersihbersih diri agar layak menjadi “ruang bersalin” bagi-Nya? Saudari dan saudaraku yang baik, Tuhan selalu menunggumu.*)
(Daku Morin)

The Real Hero

Memperjuangkan Indonesia agar dapat terus bertahan sebagai salah satu negara besar dan berdaulat di dunia merupakan suatu hal besar dan penting. Ada sejumlah nama yang telah mengambil risiko demi mempertahankan negara kesatuan ini. Merekalah para pahlawan, para pembela dan pejuang dengan kisah masing-masing yang terus ditururkan sepanjang masa.

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia mengenang sekaligus menghormati para pahlawan; mereka yang melakukan hal-hal luar biasa, bahkan mengorbankan nyawa sendiri. Peringatan Hari Pahlawan dengan demikian menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen para pahalawan, mereka yang telah mengambil risiko dalam mempertahankan Indonesia.

Ada serangkaian kegiatan dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi para pahlawan yang telah gugur, juga mendoakan agar arwah mereka boleh menikmati hidup abadi bersama-Nya. Dalam semangat yang sama, sesuai kalender liturgi, Gereja Katolik juga memiliki dua perayaan di awal November.

Ada Hari Raya Semua Orang Kudus yang jatuh pada tanggal 1 November dan diperingati bagi mereka, baik yang telah dikanonisasikan atau diakui Gereja sebagai Santo atau Santa, maupun para orang kudus lainnya yang tidak atau belum dikenal. Lalu pada tanggal 2 November ada perayaan hari arwah semua orang beriman, yaitu hari yang ditetapkan untuk mengenang dan mempersembahkan doa-doa atas nama semua orang beriman yang telah wafat. Mengingat makna antara keduanya demikian dekat, maka tak heran Gereja Katolik merayakan dua hari tersebut berurutan. Setelah merayakan hari para orang kudus, kita mendoakan para saudara dan saudari kita yang telah mendahului kita, termasuk para pahlawan, dengan harapan agar mereka dapat bergabung dengan para orang kudus di surga.

Sebenarnya Hari Pahlawan bukan hanya sekadar mengenang dan menghormati orang yang pernah ada dan hidup dengan cara yang istimewa dan luar biasa pada era yang telah lampau, tetapi juga juga tentang cara hidup yang bukan pernah ada, tetapi terus ada dan dapat kita lakukan sekarang dalam berkegiatan sehari-hari. Kita tidak hanya mengenang para pendahulu yang telah berjasa bagi kehidupan kita saat ini, melainkan berkesempatan untuk melanjutkan semangat hidup mereka dengan kita gunakan pada kehidupan kita saat ini.
Ada beberapa cara untuk mengenang, menghargai, menghormati dan menjadi pahlawan, antara lain:
Turut mengheningkan cipta dan berdoa bagi para pahlawan pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November selama 60 detik tepat pada pukul 08.15 waktu setempat. Kita semua diajak untuk mengenang dan menghormati para pahlawan nasional. Ya kita semua, rakyat Indonesia, bukan hanya pegawai negeri dan aparatur negara, apa pun keyakinan kita. Mengheningkan cipta dilakukan di seluruh tempat, termasuk di bandara, pelabuhan, terminal, jalan raya, KRL hingga di lingkungan rumah.

Jika kita turut hadir dalam upacara, bersikaplah khidmat, termasuk waktu menyanyikan lagu kebangsaan dan mengheningkan cipta. Upacara tidak berlangsung lama, jadi seriuslah untuk beberapa saat, tahan diri agar tidak bicara satu sama lain, bercanda dan bahkan jangan tertawa cekikikan.
Mengenakan baju dengan bertemakan nasionalisme dan patriotisme. Tidak terbatas pada peringatan hari kemerdekaan saja, tapi saat hari pahlawan kita juga dapat memakai busana dengan warna merah-putih. Pilihan baju ini dapat menjadi salah cara untuk mununjukkan semangat heroik dengan cara yang sederhana dan mudah tapi cukup berdampak.

Membuat atau memakai aksesoris atau benda-benda bertemakan nasionalisme dan patriotisme. Mulai dari syal, anting, kaca-mata, sepatu, tas, gantungan kunci atau bahkan bolpen dapat disesuaikan dengan tema hari pahlawan.
Tunjukkan sikap kita dalam menghargai, menghormati para pahlawan di halaman atau akun media-sosial kita. Kita dapat mengutip kata-kata mutiara, sebaris doa atau memajang foto yang bertemakan patriotisme.
Kita dapat berperan sebagai pahlawan masa kini. Dalam skala yang besar, misalnya, kita dapat bergabung sebagai relawan di daerah yang terdampak bencana alam serius. Untuk ukuran yang lebih kecil, kita sesekali dapat bergabung dalam kegiatan dan pelayanan sosial atau pendampingan dalam lingkungan tempat tinggal atau di gereja/paroki. Lakukan semua tanpa pamrih dan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi kita bagi sesama yang bernafaskan heroik.

Last but not least, kejujuran, pantang korupsi, menyalurkan dan menularkan bakat dan prestasi bagi sesama juga merupakan tindakan heroik.

(chris)

Indra Keenam: Klenik & Doa

Teman saya adalah seorang Katolik. Dia dianugerahi Tuhan memiliki indra keenam (six sense). Kebetulan suaminya pun mempunyai kemampuan yang sama, malah lebih tajam dari dirinya. Awalnya teman saya ini mengolah kemampuannya dengan mendalami meditasi, prana, dan mulai berusaha membantu manerapi anak-anak penderita autis agar mereka lebih tenang dan terkontrol perilakunya, lebih mudah menjalani terapi. Namun makin banyak orang yang mengetahui talentanya, semakin memaksa dia menerima “order” untuk hal-hal seperti “pembersihan rumah” bahkan sampai dengan “pagar gaib”.

Mungkin awalnya ini hanya menjadi penyegaran, namun dengan adanya income yang lumayan akhirnya dia membentuk grup sesama “terapis” untuk menangani order-order mistis yang berkaitan dengan dunia gaib (pemindahan genderuwo, pemblokiran pengaruh dan lain-lain). Dalam grup itu kemampuan paranormal mereka berbeda-beda dan mereka berkolaborasi. Di jaman milenial ini masih banyak praktek klenik yang dilakukan demi membantu kelancaran usaha, untuk membuat pagar atau perlindungan, agar menang dalam persaingan tertentu, dan lain-lain. Praktek klenik lekat dengan hal-hal mistis.

Untuk menjalankan praktek ini biasanya dia menggunakan berbagai media yang dipercaya dapat menjadi sumber kekuatan gaib seperti kembang melati, kantil, dan mawar, kemenyan, dupa, tanah kuburan dan berbagai media lainnya. Untuk menjalankan order tersebut, dia akan mengadakan ritual pribadi selama beberapa hari tergantung seberapa besar tingkat perlindungan yang dibutuhkan atau tingginya kemampuan lawan dalam mengirim benda-benda gaib. Proses ritual itu dijalani dengan puasa dan melakukan apa yang sering disebutnya sebagai syarat.
Sebagai sesama penganut Katolik, saya sangat menyayangkan dia semakin terpuruk ke lumpur yang dalam. Baginya hal ini mungkin merupakan sebuah pencapaian atas kemampuan gift-nya yang berhasil dia kembangkan. Dia pun mengakui bahwa cara yang dia lakukannya ini bertentangan dengan janji babtis. Di satu sisi dia rajin melakukan praktek klenik, sementara itu di sisi lain dia juga masih datang mengikuti misa di gereja parokinya.

Yang cukup saya sesalkan adalah caranya dalam mengembangkan karunia six-sense nya itu. Menurut pandangan saya, hendaknya dia menggunakan kuasa doa dalam membantu orang lain. Jadi selain dia sendiri membantu dengan doanya, dia juga mengajak orang yang dibantu, mengatasi semuanya dengan berdoa dan berserah diri kepada perlindungan Tuhan. Di sini, dia akan dibawa dalam proses untuk membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan, sehingga karunia six-sense tersebut justru dapat digunakan untuk membangun daya spiritual karena menyadari kuasa Tuhan yang bekerja dalam dirinya dapat mengatasi seluruh kekuatan gaib yang ada di dalam dunia ini.

Karena merupakan karunia – pemberian Tuhan, maka ada satu sikap batin yang harus selalu dijaga yaitu kerendahan hati. Semakin tinggi karunia yang diterimanya, semakin menjadi rendah hati dan sebisa mungkin menjadi tersembunyi; dalam arti berusaha menahan diri untuk tidak mewartakan dirinya sendiri, bahwa dia punya karunia khusus. Selain itu, akan menjadi lebih baik kalau dia bisa mengajak ‘klien’ nya untuk menyadari pentingnya menata atau membangun hidup doa; pentingnya selalu berserah diri kepada Tuhan, juga selalu mengingatkan kuasa dan kebaikan-kebaikan Tuhan yang selalu menjaga dan melindungi kita. Ini dapat diartikan, dia melawan segala kuasa kegelapan atau kekuatan gaib dengan satu keyakinan ‘karena Tuhan mengasihi saya, maka Dia akan selalu menjaga saya dari berbagai bahaya yang akan mencelakakan hidup saya’. Dengan demikian, six-sense yang merupakan karunia Tuhan dapat digunakan sepenuhnya untuk memuliakan Tuhan dengan membawa orang kepada kasih Tuhan sendiri.

Saya percaya, jika teman saya menjalankan ini dengan baik, maka dia pun akan sampai pada titik bahwa setiap income dapat saja masuk dari berbagai sumber. Ini dilandasi dengan sikap untuk menolak setiap bayaran yang diberikan kepadanya dalam setiap order yang diterima. Bukan menolak rejeki, tapi lebih menyadari diri sebagai bambu atau pipanya Tuhan. Setiap keberhasilan untuk mengusir kuasa si jahat selalu dipandang sebagai karya Allah sendiri yang bekerja melalui dirinya. Allah yang bekerja, sementara dia hanya menjadi penyalurnya saja. Tentang hidupnya, akan memberikan income melalu jalur lain yang tidak ada kaitannya dengan dunia mistik atau alam gaib, melainkan dari setiap usaha dan pekerjaannya sehari-hari.

Dalam satu kesempatan, dia pernah bercerita bahwa dia mulai merasa lelah dan ada kalanya frustrasi manakala harus ‘bertarung’ dengan paranormal yang lain, atau kekuatan gaib lainnya. Saya menggunakan kesempatan ini untuk mengingatkan dia bahwa Tuhan itu pencipta, dan tidak akan pernah kalah melawan segala bentuk kuasa kegelapan yang pada dasarnya adalah mahkluk ciptaan belaka. Mendengar penuturan saya, dia hanya terdiam. Saya berharap semoga dia juga menyadari bahwa doa-doa Katolik itu dahsyat karena bukan kita sendiri yang bekerja, melainkan kuasa Allah Pencipta sendiri yang bekerja di dalam diri kita. Dengan demikian, dia pun mau dan berusaha mengembangkan karunia six-sense itu dengan doa sebagai sarana berserah diri, berpasrah dan memuliakan Tuhan. Semoga.
(Wied)