International Yoga Day

Untuk memperingati Hari Yoga Internasional, 21 Juni, Seksi Kesehatan dan grup Yoga Paroki Hati Kudus Kramat, Jakarta Pusat, mengadakan Workshop Yoga Therapy di Gedung Antonius lantai 3, Minggu, 23/6.

Kegiatan ini dipandu oleh instruktur yoga paroki, Ben Setiadi, dan diikuti oleh 131 peserta dari Paroki Kramat dan sejumlah paroki di Keuskupan Agung Jakarta, serta umat beragama lain. Dalam workshop tersebut, peserta dilatih untuk memeragakan gerak yoga mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Gerakan yang mereka lakukan didasarkan pada panduan yoga standard internasional yang dirilis oleh Kementrian Kesehatan India (Common Yoga Protocol). Workshop bertujuan agar peserta dapat melakukan yoga secara benar sehingga tidak menyebabkan cedera pada badan.

“Workshop ini memang dirancang khusus bagi yang sibuk dan tak sempat ikut kelas yoga. Karena dilakukan tanpa matras, sehingga bisa dilakukan kapan saja sambil duduk dan berdiri di rumah atau di kantor,” jelas Ben Setiadi.

Selain latihan yoga yang rutin diadakan tiap Jumat di Aula Antonius Lt 3 mulai jam 09.00-11.00, ada juga latihan aqua yoga setiap Selasa dan Sabtu pagi di kolam renang Hotel Acacia Kramat.

(Decky Ardianto)

Menyambut Novena Besar Santo Fransiskus Assisi (1 dari 3)

Fransiskus lahir sekitar tahun 1181 atau 1182 di Assisi, Italia. Awalnya, ia diberi nama Yohanes oleh sang Bunda, Donna Pika. Ayahnya, Pietro Bernardone adalah seorang saudagar kain. Ia sering pergi keluar Assisi untuk berdagang. Sewaktu ia lahir, Bernardone sedang berada di Perancis. Setelah kembali ke Assisi, Bernardone memberinya nama Fransiskus untuk mengingatkan kota Perancis yang sangat dikaguminya.

Fransiskus muda hidup dalam kekayaan, kemewahan dan pesta pora. Sebagai anak dari keluarga kelas pedagang, uang tentu bukan masalah bagi dirinya. Untuk masa sekarang, kita bisa menyebutkan sebagai kaum hedonis. Dalam sebuah biografi awal dikatakan atau digambarkan sebagai berikut, “Fransiskus dikagumi semua orang dan ia pun berusaha keras melebihi semua lainnya dalam hal suka pamer dan kemuliaan sia-sia, olok-olok, menarik perhatian, lelucon murahan dan omong kosong, nyanyian dan selalu berpakaian halus, karena dia amat kaya.”

Fransiskus ingin menjadi seorang ksatria. Tentu saja hal ini didukungan penuh oleh ayahnya. Ksatria merupakan simbol dan status terpandang dalam masyarakat yang diperoleh berkat kemenang- an di medan pertempuran. Maka ketika pecah perang antara Assisi dengan Perugia, Fransiskus bergabung ikut bertempur untuk membela kotanya. Tetapi ia ditangkap dan dipenjara di Perugia selama satu tahun. Dia ditebus oleh ayanya dan kembali ke Assisi dalam keadaan sakit dan patah semangat.

Keinginannya untuk menjadi seorang ksatria tidak pernah tercapai sebab ternyata Tuhan mempunyai rencana lain terhadapnya. Tuhan memang menginginkan-  nya menjadi ksatria, namun bukan ksatria duniawi, melainkan ksatria surgawi bagi kaum papa.

Hati Fransiskus gundah gulana dalam ketidakpastian hidup. Sebab itu, dia senang pergi menyepi di tempat-tempat sunyi. Salah satu tempat favoritnya adalah kapel kecil San Damiano di mana sebuah salib indah tergantung di atas altar. Suatu hari, ketika sedang berlutut berdoa di depan salib itu, Fransiskus mendengar suara yang keluar dari bibir Yesus yang Tersalib, “Fransiskus, pergi dan perbaikilah GerejaKu yang kau lihat hampir roboh ini.”

Awalnya, Fransiskus memahami Gereja sebagai bangunan fisik. Namun kemudian, ia sadar bahwa Gereja bukan pertama-tama bangunan fisik melainkan lembaga sekaligus persekutuan orang-orang yang beriman dalam Yesus Kristus. Maka mulailah Fransiskus membangun Gereja dengan menghayati Injil secara radikal dalam hidupnya.

Suatu hari ketika sedang menunggang kuda, Fransiskus berpapasan dengan seorang kusta. Biasanya ia sangat jijik dengan orang kusta bahkan jika mungkin dia akan berbalik menghindar. Tetapi hari itu, ia melakukan hal yang luar biasa. Daya kekuatan Ilahi telah menuntunnya. Ia mendekati orang kusta itu, kemudian ia turun dari kuda dan memeluk serta mencium si kusta.

Beberapa tahun kemudian, ketika dalam keadaan sekarat, Fransiskus mengingat kembali peristiwa yang sangat menentukan hidupnya ini. “Ketika aku dalam dosa, aku merasa amat muak melihat orang kusta. Akan tetapi Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah mereka dan aku me- rawat mereka penuh kasihan. Setelah aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa memuakkan berubah bagiku menjadi kemanisan jiwa dan badan;  dan sesudahnya aku sebentar menetap, lalu aku meninggalkan dunia” (Was 1-3).

Pada tahun 1209, Fransiskus bersama dengan kesebelas temannya berjalan kaki ke Roma untuk bertemu Paus Innocentius III. Di hadapan Paus, Fransiskus memaparkan Aturan Hidup bagi dirinya dan saudara-saudaranya. Aturan hidup itu terdiri dari beberapa kutipan Injil.

Paus ragu dengan radikalitas para pentobat dari Assisi ini. Karena itu, ia mengabaikan permohonan mereka. Malam harinya, Paus bermimpi bahwa Basilika Lateran, gereja induk kekristenan, miring di salah satu sisi dan hampir jatuh ke tanah. Tiba-tiba, ia melihat seorang pengemis kecil, hina dina berlari dari kegelapan dan menopang gereja itu dengan pundaknya. Pengemis itu tak lain adalah Fransiskus. Akhirnya, secara lisan Bapa Suci merestui Aturan Hidup Fransiskus dan para saudaranya.

Cara hidup Fransiskus ini memukau banyak orang. Dua tahun setelah pertobatannya, beberapa orang segera bergabung dengannya. Mereka adalah Sdr. Bernardus Quintavalle, Sdr. Petrus Catani, Sdr. Egidius dan kemudian disusul beberapa saudara yang lain, termasuk Sdr. Antonius Padua. Sepuluh tahun setelahnya, Ordo ini berkembang di seluruh Eropa dengan lebih dari 3.000 saudara.

sumber : www.ofm.or.id

Berdoalah agar Tuhan Selalu Hadir dalam Pelayanan Kita

Itulah pesan penting yang disampaikan Rm Laurens Tueng, OFM dalam kegiatan rekoleksi dan Misa Paskah 2018 wilayah 7 yang mencakup lingkungan Mikael, Gabriel dan Raphael. Dalam homilinya, Rm Laurens Tueng, OFM menyampaikan pesan Injil agar kita turut meneladan Maria Magdalena yang dengan hati terbuka sungguh-sungguh mencari Yesus tiga hari setelah penguburan-Nya. Ia juga menjadi orang yang pertama kali mencariYesus yang telah bangkit. Pengalaman akan Yesus sungguh-sungguh mengesan dalam hidupnya. Karenanya tidaklah mengherankan jika dengan pengalaman imannya itu, Maria Magdalena yang sebelumnya adalah seorang pendosa, dapat berubah menjadi seorang pribadi yang setia kepada ajaran-ajaran Tuhan. Pengalaman iman itu rupanya juga didapatkan Maria Magdalena ketika ‘kehilangan Yesus’ setelah peristiwa salib. Rasa kehilangan akan Yesus membawanya pada krisis batin dan krisis iman. Dalam situasi seperti ini, Tuhan sendiri berkenan datang untuk membawa peneguhan kepadanya.
 
Meskipun demikian, Maria Magdalena juga mengalami keraguan yang mendalam akan kehadiran Tuhan. Ia pun sungguh tidak menyadari bahwa orang yang mendatanginya di dekat makam itu Tuhanyang sungguh telah bangkit. Baru setelah Tuhan meyakinkan dirinya, ia percaya sepenuhnya dan bahkan ‘diangkat’ menjadi orang pertama yang menyampaikan kabar kebangkitan Tuhan kepada para rasul dan semua orang. Kabar akan kebangkitan Kristus yang dibawa Maria Magdalena mampu membangkitkan semangat para rasul sehingga mereka tidak lagi menjadi tawar hati.
 
Dalam menjalankan pelayanan sehari-hari dalam keluarga, tempat bekerja, gereja dan masyarakat, kita pun sering mengalami krisis iman seperti yang dirasakan para rasul setelah kematian Yesus. Untuk mengatasi krisis iman para murid-Nya, Tuhan Yesus memberikan teguran atas kekerasan hati mereka. Karena itu, berdoalah selalu meminta Tuhan agar berkenan hadir dalam setiap pelayanan yang sedang kita lakukan. Dengan demikian, saat menjalankan pelayanan, Tuhan sendiri yang kita bawa kepada orang-orang yang kita layani. Bahkan tidak jarang, Tuhan sendiri berkenan hadir dalam diri orang-orang yang kita layani. Karena itu dalam menjalankan pelayanan, hendaknya kita melakukannya dengan sepenuh hati dan ketulusan.
 
Harus disadari bahwa sebenarnya tugas pelayanan itu merupakan satu cara untuk mewartakan Injil Tuhan kepada semua orang. Jika orang-orang melihat kebaikan-kebaikan kita, mereka dapat juga menangkap dan merasakan kebaikan-kebaikan Tuhan dalam dirinya. Sering terjadi, ada orang-orang yang dalam situasi seperti ini justru mewartakan dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa pelayanan itu adalah pelayanannya. Maka dibutuhkan kerendahan hati dalam menjalankan setiap pelayanan. Kerendahan hati yang didasari oleh kesadaran bahwa Tuhanlah yang telah memampukan kita untuk melakukan perutusan dan pelayanan itu.
 
Karenanya, kita tidak boleh membeda-bedakan siapa yang kita layani. Entah itu orang yang percaya Yesus atau pun mereka yang belum mengenal Kristus, hendaknya mendapatkan porsi dan kesungguhan yang sama. Harus disadari bahwa Yesus mengutus kita untuk mewartakan Injil (kabar gembira) dalam segala bentuk pelayanan dan perbuatan kasih kita kepada keluarga dan sesama. Dengan demikian, melalui pelayanan itu nama Yesus semakin dipermuliakan dan dikenal semakin banyak orang.

 
Kegiatan rekoleksi dan Misa Paskah  2018 tersebut diadakan di Aula Lantai 3 STF Driyarkara Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 75 warga wilayah 7 dari semua kalangan. Rekoleksi tersebut mengambil tema “Menjalin Semangat Persatuan untuk Lebih Peduli dalam Pelayanan di Lingkungan, Wilayah, dan Paroki”. Kami percaya bahwa kegiatan tersebut akan membawa pencerahan bagi seluruh umat Wilayah 7 agar semuanya mau lebih peduli dan terlibat aktif dalam kegiatan pelayanan di Lingkungan, Wilayah dan Gereja Hati Kudus Paroki Kramat.
(Ben Setiadi)

Hijau di Kampung Bhinneka

Keuskupan Jakarta mencanangkan tahun 2018 sebagai Tahun Persatuan. Wanita Katolik RI Cabang Hati Kudus Kramat mewujudkannya dengan melakukan kegiatan bersama umat beragama lain yang ada di wilayah Paroki Kramat. Kegiatan menghijaukan lingkungan dipilih setelah tim Kampung Bhinneka WKRI melihat situasi di beberapa lokasi. Setelah melalu berbagai pembicaraan dan pertimbangan akhirnya diputuskan untuk memilih Jl. Kramat Pulo Gg. 9 Rt/Rw: 003/004, Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen Jakarta Pusat sebagai lokasi penghijauan. Wilayah tersebut dipilih karena kondisi awal yang terkesan agak kumuh dan kotor. Lokasi itu berupa gang sempit yang gelap, penuh sampah dan gersang.

Untuk merealisasikannya, Tim Kampung Bhinneka WKRI bekerja sama dengan Seksi Lingkungan Hidup Paroki Kramat. Langkah awal pun segera diambil. Bu Erna yang tinggal di wilayah itu segera membicarakan ini dengan ketua RT setempat, sementara itu ibu-ibu dari Seksi Lingkungan Hidup segera menentukan jenis tanaman yang akan ditanam di sana. Pada hari yang ditentukan, Bu Erna de Rosari sebagai ketua Ranting yang wilayah pelayanannya mencakup daerah tersebut.

Pendekatan dan pembicaraan dengan ketua RT setempat rupanya membuahkan hasil yang baik. Ajakan untuk menghijaukan kawasan tersebut disambut baik dan antusias. Bahkan ibu RT turut melibatkan ibu-ibu PKK untuk mendukung kegiatan tersebut. Yang menggembirakan adalah warga setempat pun terlibat aktif dalam menjadikan lingkungan tersebut menjadi lebih baik.Ada yang berinisiatif mengganti bola lampu yang telah mati di lorong gang sempit menuju tempat tinggal mereka, ada pula yang memasang rak tanaman pada tembok.

Menariknya, di kampung tersebut ada seorang seniman lukis yang atas inisiatifnya sendiri menuangkan karyanya di salah satu tempat yang menjadi area hijau. Dia melakukannya sejak jam 03.00 hingga 06.00 setiap harinya agar tidak terlalu sering mendapatkan gangguan dari orang yang lalu lalang melewati tempat itu. Lebih dari itu, dia juga mengakui pada jam segitu keluar ide-ide yang akan dituangkan dalam bentuk lukisan.

Beberapa orang paruh baya tampak duduk-duduk di depan gapura masuk sebuah gang sempit. Tak berapa lama kemudian, datanglah sebuah mobil bak terbuka penuh dengan berbagai tanaman di dalam pot. Ketika kendaraan tersebut berhenti tepat di mulut gang, orang-orang berdatangan untuk menurunkan berbagai tanaman yang ada di dalamnya. Beberapa ibu dengan kaos berkrah warna biru tampak mengamati proses tersebut bersama dengan ibu RT setempat. Mereka adalah ibu-ibu dari WKRI yang terlibat penuh dalam kegiatan di wilayah tersebut.

Rupanya kegiatan ini juga mendapatkan perhatian dari perangkat desa setempat. Kepala desa sangat mengapresiasi. “Saya sangat mendukung dengan kegiatan ini dan sebenarnya ini juga menjadi kesukaan saya untuk menghijaukan tempat-tempat seperti ini”, demikian kata kepala desa Kramat saat datang meninjau lokasi.

Kampung Bhinneka telah membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Semua itu dicapai dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Juga keberanian untuk membangun relasi dengan lingkungan yang sebagian besar warganya beragama lain.

Melalui kegiatan tersebut kita dapat merefleksikan bahwa dengan dialog yang terbuka, selalu ada kemungkinan untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik. Pembicaraan antara tim WKRI Hati Kudus Paroki Kramat dengan ibu RT yang seorang muslim berhasil mengubah lingkungan yang sebelumnya terlihat kusam, gelap, dan kotor menjadi wilayah yang cantik, indah dan bersih. Inilah wujud dari dialog iman yang sederhana, namun mampu mengubah lingkungan menjadi lebih baik. 

Hasil Undian Renovasi Gereja Hati Kudus

Berikut adalah daftar hasil undian Renovasi Gereja Hati Kudus.

 

No. Hadiah Nomor Undian Nama Pemenang
1. 1 Buah Unit Motor 12947 Pormina Silaen
2. 2 Buah Lemari Es 29929
16762 Maria Hanna
3. 2 Buah Sepeda 18602 Davide Tamara
27828 Liwa
4. 5 Buah Handphone 15955 Tauvinny S.
26806 Odilia R. T.
27874
10018 Geofrey Noah
09179 Muryati
5. 10 Buah Voucher 06435 Seger Sugianto
14675 Yunda
15213 Letty
19836
06492 Popo Swon
03057
15857 Novie
12084  
01459
02461 Lita H. Pranowo

Selamat kepada para pemenang !!

JOYFUL RUN for Asian Youth Day 2017

Pada tanggal 7 Mei 2017 yang lalu, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menyelenggarakan aacra Joyful Run 2017 dalam rangka menyambut Asian Youth Day yang akan diselenggarakan pada pertengahan Agustus tahun ini di Yogyakarta. Kegiatan Joyful Run 2017 ini, diikuti oleh lebih dari 5000 orang yang terdiri dari lansia, OMK, dan keluarga Katolik dari berbagai paroki yang ada di KAJ. Acara tersebut diadakan di Mall Alam Sutera mulai dari jam 05.00  sampai jam 11.00. Dalam acara ini, para peserta tak hanya berlari, tapi juga diajak untuk mengikuti berbagai lomba-lomba, bazar, penampilan artis ibu kota, dan penampilan dari sekolah-sekolah Katolik yang bernaung di bawah MPK KAJ.

Para peserta kegiatan lari sudah berkumpul di Mall Alam Sutera jam 05.00. Acara tersebut dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pemanasan dan doa bersama. Ada tiga kategori jarak tempuh dalam Joyful Run dibagi yaitu 2,5 K, 5 K, dan 10 K. Dalam kesempatan itu, ada beberapa peserta yang tampil unik dengan mengenakan kostum atau busana khas yang berasal dari berbagai negara seperti Korea, India, Timur Tengah, Indonesia, dan lain-lain. Salah satunya adalah Novita umat wilayah I, Paroki Kramat yang menggunakan kostum burung Garuda seberat 30 kg,  berhasil meraih Juara 1.

Setelah menyelesaikan jarak tempuh dengan berlari, para peserta langsung diarahkan menuju stand bazar dan Panggung Gembira. Untuk meereka juga disediakan beberapa makanan gratis yang oleh sponsor. Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti setiap acara yang diadakan panitia. Uskup Ketapang Mgr. Pius yang ikut serta dalam kegiatan tersebut pun juga mendapatkan kejutan berupa kue ulang tahun  berukuran  jumbo. Tanggal 5 Mei 2017, beliau merayakan ulang tahunnya yang ke-50. Dengan dipimpin oleh MC, para peserta menyanyikan lagu Happy Birthday dan Tiup Lilin. Acara Joyful Run 2017 ini ditutup dengan doa bersama dan berkat perutusan oleh Mgr Pius.     

D87F44C5-01BA-43CD-9314-D6CCF0DA45B3 BC0B3E90-6619-478F-8E68-DFF16436BDD1 814B82E7-8107-4EA8-A0D0-0CD8DA82A0ED C3F222A0-2573-48AE-B85E-8D5811EFB0A6 1C6E795C-9681-4E53-801C-FAECFA7C2882 (1) 87514F54-7FE0-4FDD-9E29-F6F60BB06A23 1C6E795C-9681-4E53-801C-FAECFA7C2882

Outdoor Yoga Kramat

Pada hari Jumat 19 Mei 2017 jam 07.30 – 09.00 pagi, Yoga group Kramat mengadakan Outdoor Yoga di Taman Proklamator, Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat. 

Diikuti oleh 29 peserta dari warga Kramat dan warga paroki lain. 

Bertujuan untuk: 

– Menambah kecintaan akan taman asri di Jakarta, 

– Meningkatkan kesehatan dan semangat dalam melayani keluarga dan sesama, serta 

– Mempererat tali silahturahmi antar peserta yoga group Kramat.

Ben Setiadi

IMG_6753 IMG_6754 IMG_20170519_110204 Photo from Ben Setiadi

Perayaan Hari Ulang Tahun KOMPAK  DISABILITAS  ke 3

Saudara/i Terkasih

Bersama ini kami mengundang untuk Perayaan Pentakosta sekaligus Perayaan Hari Ulang Tahun KOMPAK  DISABILITAS  ke 3  :

Minggu , 04 Juni 2017
Jam 09.00 WIB
Gereja Hati Kudus
Jl. Kramat Raya No. 134, Jakarta Pusat

Misa akan dipimpin : Romo Yustinus Agung Setiadi OFM – Pastor Kepala Paroki Kramat sebagai Moderator KOMPAK

Para Disabilitas  bersama Para Pembakti dan Relawan , yang berasal dari berbagai Paroki se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ)  akan melayani para umat.

Paroki Kramat adalah Rumah Kedua bagi Para Disabilitas Se- KAJ dimana mereka dapat beribadah, berkumpul, bersosialisasi, bergembira dan mendapatkan Pembinaan Iman secara rutin.

Besar harapan kita dapat berkumpul & memuji Tuhan bersama di hari Minggu 04 Juni.

Terimakasih

TUHAN  BERKATI


Salam ,
PANITIA KOMPAKWhatsApp Image 2017-06-03 at 1.52.58 PM

Coffee Morning Romo Obo, OFM

Mengawali karyanya di Paroki Kramat pada bulan Februari 2017, Romo Stephanus Suprobo, OFM disambut dengan sangat hangat oleh segenap umat Paroki dalam acara coffee morning pada hari Minggu, 26 Maret 2017 sesudah misa ke tiga. Acara yang sudah disiapkan oleh panitia selama 1 bulan dCoffee Morning Rm Obo 1an melibatkan semua Wilayah di Paroki Kramat ini menjadi terasa spesial karena dihadiri oleh umat yang selesai mengikuti misa maupun yang sengaja datang hanya untuk menyambut Romo Obo.

Setelah Romo Obo memberikan kata sambutan kepada umat mengenai rasa senangnya melihat antusias umat menghadiri acara ini, maka acara dilanjutkan dengan acara santai berupa ramah tamah serta pertunjukan ekspresi yang dilakukan oleh beberapa kelompok di paroki kita. Peserta pun merasa tak kalah senang dengan acara ini karena hadirnya santapan yang telah disediakan oleh masing-masing wilayah seperti lontong, singkong dan kacang rebus, pisang goreng serta minuman hangat yang tentunya adalah kopi dan teh. Setelah sambutan dan ramah tamah dilakukan, maka acara dilanjutkan dengan ekspresi dari anak-anak Bina Iman, kelompok kategorial dan KOMPAK Disabilitas.

Romo Obo terlihat sangat senang atas penyambutan ini sehingga ikut bernyanyi dan menari bersama Ibu-ibu WK dengan ikut bergoyang Gemu Famire dan Poco-Poco. Setelah itu, para anggota KOMPAK menyapa Romo Obo dCoffee Morning Rm Obo 2engan lagu berjudul Bahasa Cinta yang disiapkan sehari sebelumnya untuk menyambut secara khusus Romo Obo. Semoga dengan keceriaan umat dalam menyambut Romo yang baru ini dapat memberikan semangat bagi Romo Obo dalam berkarya dan menyelami kehidupan umat Paroki Kramat. Selain itu, dengan acara coffee morning yang dihadiri oleh banyak umat harapannya agar kita semakin dekat dan semakin mengenal sesama umat Paroki Kramat.

Terimakasih kepada semua yang telah terlibat dalam acara ini, sampai jumpa di coffee morning berikutnya. Tuhan memberkati. (Budi Santoso)

Pelatihan Couple Yoga Paroki Kramat 20 Januari 2017

Hari Jumat 20 Januari 2017 jam 8.00 – 10.00 pagi, diikuti 31 (2 group) warga paroki

Kramat mengadakan pelatihan Couple Yoga (yoga berpasangan), yang bertujuan untuk:

– Menyehatkan warga Kramat dan keluarga

– Meningkatkan kelenturan dan tubuh

– Mempererat tali persaudaraan sesama warga wilayah, lingkungan dan paroki – Memperkuat kerjasama tim dan harmonisasi keluarga

– Menambah semangat dalam pelayanan terhadap keluarga dan sesama

Pelatihan setiap hari Jumat di Gedung Antonius Lt. 3, Gereja Hati Kudus,

Jl. Kramat Raya 134, Jakarta Pusat

Moto:

Sehat, Bahagia dan Damai

Instruktur Couple Yoga:

Ben Setiadi

IMG_20170120_105522 IMG_20170120_082630498 IMG_20170120_082921425

081214599288

www.yogakramat.weebly.com