International Yoga Day

Untuk memperingati Hari Yoga Internasional, 21 Juni, Seksi Kesehatan dan grup Yoga Paroki Hati Kudus Kramat, Jakarta Pusat, mengadakan Workshop Yoga Therapy di Gedung Antonius lantai 3, Minggu, 23/6.

Kegiatan ini dipandu oleh instruktur yoga paroki, Ben Setiadi, dan diikuti oleh 131 peserta dari Paroki Kramat dan sejumlah paroki di Keuskupan Agung Jakarta, serta umat beragama lain. Dalam workshop tersebut, peserta dilatih untuk memeragakan gerak yoga mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Gerakan yang mereka lakukan didasarkan pada panduan yoga standard internasional yang dirilis oleh Kementrian Kesehatan India (Common Yoga Protocol). Workshop bertujuan agar peserta dapat melakukan yoga secara benar sehingga tidak menyebabkan cedera pada badan.

“Workshop ini memang dirancang khusus bagi yang sibuk dan tak sempat ikut kelas yoga. Karena dilakukan tanpa matras, sehingga bisa dilakukan kapan saja sambil duduk dan berdiri di rumah atau di kantor,” jelas Ben Setiadi.

Selain latihan yoga yang rutin diadakan tiap Jumat di Aula Antonius Lt 3 mulai jam 09.00-11.00, ada juga latihan aqua yoga setiap Selasa dan Sabtu pagi di kolam renang Hotel Acacia Kramat.

(Decky Ardianto)

Hijau di Kampung Bhinneka

Keuskupan Jakarta mencanangkan tahun 2018 sebagai Tahun Persatuan. Wanita Katolik RI Cabang Hati Kudus Kramat mewujudkannya dengan melakukan kegiatan bersama umat beragama lain yang ada di wilayah Paroki Kramat. Kegiatan menghijaukan lingkungan dipilih setelah tim Kampung Bhinneka WKRI melihat situasi di beberapa lokasi. Setelah melalu berbagai pembicaraan dan pertimbangan akhirnya diputuskan untuk memilih Jl. Kramat Pulo Gg. 9 Rt/Rw: 003/004, Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen Jakarta Pusat sebagai lokasi penghijauan. Wilayah tersebut dipilih karena kondisi awal yang terkesan agak kumuh dan kotor. Lokasi itu berupa gang sempit yang gelap, penuh sampah dan gersang.

Untuk merealisasikannya, Tim Kampung Bhinneka WKRI bekerja sama dengan Seksi Lingkungan Hidup Paroki Kramat. Langkah awal pun segera diambil. Bu Erna yang tinggal di wilayah itu segera membicarakan ini dengan ketua RT setempat, sementara itu ibu-ibu dari Seksi Lingkungan Hidup segera menentukan jenis tanaman yang akan ditanam di sana. Pada hari yang ditentukan, Bu Erna de Rosari sebagai ketua Ranting yang wilayah pelayanannya mencakup daerah tersebut.

Pendekatan dan pembicaraan dengan ketua RT setempat rupanya membuahkan hasil yang baik. Ajakan untuk menghijaukan kawasan tersebut disambut baik dan antusias. Bahkan ibu RT turut melibatkan ibu-ibu PKK untuk mendukung kegiatan tersebut. Yang menggembirakan adalah warga setempat pun terlibat aktif dalam menjadikan lingkungan tersebut menjadi lebih baik.Ada yang berinisiatif mengganti bola lampu yang telah mati di lorong gang sempit menuju tempat tinggal mereka, ada pula yang memasang rak tanaman pada tembok.

Menariknya, di kampung tersebut ada seorang seniman lukis yang atas inisiatifnya sendiri menuangkan karyanya di salah satu tempat yang menjadi area hijau. Dia melakukannya sejak jam 03.00 hingga 06.00 setiap harinya agar tidak terlalu sering mendapatkan gangguan dari orang yang lalu lalang melewati tempat itu. Lebih dari itu, dia juga mengakui pada jam segitu keluar ide-ide yang akan dituangkan dalam bentuk lukisan.

Beberapa orang paruh baya tampak duduk-duduk di depan gapura masuk sebuah gang sempit. Tak berapa lama kemudian, datanglah sebuah mobil bak terbuka penuh dengan berbagai tanaman di dalam pot. Ketika kendaraan tersebut berhenti tepat di mulut gang, orang-orang berdatangan untuk menurunkan berbagai tanaman yang ada di dalamnya. Beberapa ibu dengan kaos berkrah warna biru tampak mengamati proses tersebut bersama dengan ibu RT setempat. Mereka adalah ibu-ibu dari WKRI yang terlibat penuh dalam kegiatan di wilayah tersebut.

Rupanya kegiatan ini juga mendapatkan perhatian dari perangkat desa setempat. Kepala desa sangat mengapresiasi. “Saya sangat mendukung dengan kegiatan ini dan sebenarnya ini juga menjadi kesukaan saya untuk menghijaukan tempat-tempat seperti ini”, demikian kata kepala desa Kramat saat datang meninjau lokasi.

Kampung Bhinneka telah membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Semua itu dicapai dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Juga keberanian untuk membangun relasi dengan lingkungan yang sebagian besar warganya beragama lain.

Melalui kegiatan tersebut kita dapat merefleksikan bahwa dengan dialog yang terbuka, selalu ada kemungkinan untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik. Pembicaraan antara tim WKRI Hati Kudus Paroki Kramat dengan ibu RT yang seorang muslim berhasil mengubah lingkungan yang sebelumnya terlihat kusam, gelap, dan kotor menjadi wilayah yang cantik, indah dan bersih. Inilah wujud dari dialog iman yang sederhana, namun mampu mengubah lingkungan menjadi lebih baik. 

Apa yang Kerinduan Tuhan bagi Hidupku?

Legio Maria 1Kadang, kita sering sekali berdoa dan mengajukan berbagai macam permohonan ini dan itu yang sangat banyak dan memang kita merasa memerlukannya. Tetapi, kenapa doa saya belum dijawab-jawab ya? Padahal saya sudah rajin berdoa, rajin juga baca Alkitab, ikut kegiatan rohani, novena, dan lain-lain. Tapi seolah Tuhan diam saja.Dari dulu sampai sekarang ya aku tetep begini-begini saja. Tak ada perubahan signifikan atau jawaban doa yang benar-benar wah. Kadang pun saya merasakan kekeringan rohani. Ikut misa pun ya berlalu begitu saja. Tidak mendapat kekuatan baru atau merasa tersentuh dan dibaharui.

Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan sakramen pengakuan dosa sekalian konsultasi dengan romo tentang hal yang saya alami ini. Dari situ, saya mengetahui bahwa kekeringan rohani seperti itu tidak hanya saya yang mengalami. Hampir semua orang pun pernah merasakan kekeringan rohani. Hanya saja dalam tingkatan dan bentuk yang berbeda-beda. Siklus kehidupan juga berlaku dalam hal iman kita. Kadang ada kalanya kita benar-benar semangat untuk mencari Tuhan, melayani, aktif dalam berbagai kegiatan dan doa-doa lingkungan atau wilayah. Tapi ada kalanya pula turun, jadi malas ikut ini dan itu. Atau tetap rajin tapi hampa, tanpa arti. Hal itu wajar terjadi. Yang terpenting adalah kita tetap setia dengan apa yang kita yakini sebagai sumber dan tujuan hidup kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Yesus pun pernah mengalami kekeringan saat ia berseru kepada Bapa-Nya: Elloi, Elloi, Lama Sabachtani. Yesus pun bertanya kepada Bapa-Nya, “Bapa, Bapa, mengapa Engkau meninggalkan Daku?” Dalam penderitaan-Nya yang tak tertandingi Ia pun merasakan perasaan ditinggalkan. Namun Ia tetapsetia. Walau sebenarnya Ia bisa menghindar dari awal untuk tidak memikul salib. Tetapi semuanya Ia lakukan dengan rela dan tulus karena memang itu adalah kehendak Bapa di surga.

Belajar dari teladan Yesus Kristus yang begitu taat dan setia pada kehendak Bapa, kita pun harus senantiasa setia pada kehendak Bapa. Walau kadang Tuhan terasa sangat jauh dan tidak mendengarkan keluh kesah kita, tetapi yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah tertidur. Ia setia. Terhadap semua yang telah difirmankan-Nya dan semua yang telah Ia janjikan, Ia tidak akan pernah melalaikannya. Walau kita sering jatuh dalam dosa, meninggalkan Tuhan dan memilih jalan kita sendiri, namun Tuhan tetap sayang sama kita. Ia tetap setia dan ingin agar kita selalu berada dalam jalanNya, jalan yang menuju keselamatan,bukan kebinasaan. Terkadang Tuhan membiarkan kita menangis dalam duka, kekecewaan, penderitaan, bukan karena ia ingin mecelakai kita. Semua itu Ia ijinkan terjadi dengan maksud mulia untuk meningkatkan kekuatan iman kita dan kepercayaan kita pada kuasa-Nya. Pesan saya untu teman-teman yang sedang  bergumul dengan masalah apapun yang kini dialami, entah itu doa yang belum terjawab, masalah pekerjaan, jodoh, keluarga, atau apapun juga, tetaplah setia berdoa, rajinlah baca Kitab Suci, dan Ekaristi. Walau kadang kita tidak bisa secara instan merasakan kehadiran-Nya, tetapi yakinlah bahwa Tuhan selalu memberi kekuatan bagi anak-anakNya yang selalu mencari-Nya. Belajarlah juga untuk menyatukan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Lewat doa, kita pun diajar untuk mendengar apa sih kerinduan Tuhan bagi hidpu kita. Jangan lupa menambahkan kalimat magic ini di akhir setiap doa kita: Jadilah padaku menurut kehendak Tuhan. Karena kehendak dan rancangan-Nya selalu terbaik dan ajaib bagi hidup kita.

Jadilah padaku menurut kehendak Tuhan

Kalimat tersebut membuat saya selalu teringat akan Bunda Maria. Tak salah bila orang menyebutnya sebagai Bunda Penolong Abadi. Karena memang Bunda Maria selalu menolong saya dalam hal yang terkadang tidak saya sadari atau saya pikirkan. Setiap kali saya datang, berdoa melalui perantaraan Bunda Maria, saya selalu memperoleh kekuatan. Bukan berarti semua doa yang saya titipkan padanya selalu berhasil dan dikabulkan sesuai maunya saya. Seringkali justru doa saya tidak kunjung terkabul. Atau terkadang butuh waktu yang sangat lama baru akhirnya tercapai apa yang menjadi harapan dan kerinduan saya. Lalu, apa bedanya?? Mengapa saya tetap berdevosi kepada Bunda Maria?

Ada sebuah ilustrasi singkat yang dapat menggambarkannya. Yesus tentu terbiasa dan sangat menyukai masakan Bunda Maria. Doa yang kita sampaikan ibarat sayuran atau daging mentah yang kita persembahkan kepadaNya. Sedangkan bila kita berdoa melalui Bunda Maria, Ia akan mengolah dan mamasaknya menjadi sebuah hidangan yang lezat yang kemudian disajikannya di hadapan Yesus. Apakah Yesus pasti memakannya? Tentu saja jika ibunya sendiri yang menghidangkannya, pastilah Yesus melahapnya dengan mantap.

Mungkin hal itu hanyalah sebuah ilustrasi yang mempermudah kita mengerti tentang pentingnya peranan Bunda Maria. Yang saya alami sendiri ialah pertolongan Bunda Maria, bukan dalam hal besar dan luar biasa yang fantastis dan menakjubkan. Bunda Maria seolah selalu mendampingi setiap langkah hidup saya melalui hal-hal kecil yang saya alami. Misalnya saja, saya sedang melakukan aktivitas di kamar kecil, tiba-tiba saya teringat akan suatu hal penting yang belum saya lakukan, atau pernah juga saya tiba-tiba merasa mengerti mengapa hal ini dan bukan hal itu yang terjadi. Tuhan seolah membisikkan isi hatinya melalui Bunda Maria kepada saya. Suaranya lembut dan menyejukkan. Kadang saya pun seperti diingatkan akan dosa yang saya lakukan, tapi bukan dengan hentakan keras yang memekakkan telinga, tapi lewat suara lembut yang seolah menyadarkan dan membuka mata hati saya bahwa hal itu salah dan menyedihkan hati Yesus.

Ada pun waktunya dimana saya akhirnya merasa bahwa satu persatu doa saya dijawab seluruhnya tanpa terkecuali. Bahkan lebih dari apa yang saya harapkan. Semua begitu indah dan sulit diungkapkan melalui kata-kata. Penyerahan diri secara penuh kepada rancangan Tuha  selalu membahagiakan. Walau sulit. Kita seringkali sudah membawa perkara kita ke hadapan-Nya, tetapi kita masih hendak membawanya kemana-mana dan membiarkan diri kita dikuasai oleh kecemasan dan kekuatiran yang akhirnya hanya membuat lelah hati, pikiran, dan tubuh kita. Kita kurang berserah. Atau memaksakan kehendak kita kepada Tuhan, seolah kita yakin betul bahwa apa yang kita minta itu paling baik untuk diri kita. Hey! Kita lupa bahwa kita ini hanyalah sebutir debu di alas kaki-Nya. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari ataupun jam mendatang. Sedangkan Tuhan? Ia adalah Sang Pencipta. Ia yang menciptakan kita sejak awal mula. Ia yang menenun kita sejak dari kandungan ibu kita. Ia mengetahui setiap detail kehidupan kita, tanpa ada yang tersembunyi di hadapanNya.

Lalu, mengapa kita masih bangga dan yakin akan diri kita sendiri? Kita terus saja mengandalkan kekuatan diri dan membanggakan kemampuan dan keunggulan kita. Siapa yang memberikannya? Dia yang Maha Tahu, Maha Baik, dan Maha Setia tahu apa yang terbaik untuk setiap anak-anak-Nya. Bukan hanya tahu apa, tapi juga kapan setiap doa kita harus dikabulkan. Pengetahuan kita sangatlah terbatas. Otak kita terlalu kecil untuk mengetahui setiap misteri kehidupan. Sedangkan Bunda Maria telah dikaruniai kebijaksanaan Ilahi. Dan Yesus adalah Sang Kebijaksanaan Ilahi. Mengapa kita masih meragukan mereka??

Semoga rahmat-Nya memampukan kita membasmi setiap kesombongan diri dalam bentuk apapun dan membuka hati kita untuk siap sedia mengambil jalan-Nya menjadi jalan kita. Sehingga rancangan Tuhan pun menjadi rancangan kita. Percayalah, rahmatnya selalu cukup. Tuhan selalu memberi lebih, tidak pernah lebih sedikit. Ia selalu tahu takaran terbaik untuk setiap kesayangan-kesayangan-Nya. Apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk Tuhan tersayang? Apakah kita sudah menjadikan-Nya sebagai kesayangan kita?

Semoga Bunda Maria menolong setiap kita dengan segala pergumulan yang kita hadapi.

Ave Maria!

Pembukaan Bulan Maria: Ibuku yang Selalu Menolong

“Kristus bangkit, Kristus mulia, mari kita wartakan…” demikian lagu pembuka yang dinyanyikan dengan penuh semangat mengiringi perarakan patung Maria dalam misa Pembukaan Bulan Maria pada hari Senin, 1 Mei 2017 pukul 18.00 yang lalu. Enam bocah lucu dari Bina Iman Anak wilayah V berdiri di barisan depan perarakan. Mengikuti di belakangnya misdinar pembawa lilin, patung Ibu Maria yang ditandu oleh Legioner, misdinar, prodiakon dan Romo Agung OFM sebagai Imam yang mempersembahkan Ekaristi saat itu. Semua petugas liturgi dan anak-anak membawa sekuntum bunga yang kemudian dipersembahkan kepada Ibu Maria.

Umat yang hadir dipersilahkan untuk menuliskan harapan dan kerinduannya di atas kertas yang kemudian digantung pada pohon doa, sebagai tanda penyerahan diri kepada Ibu Maria. Bahwa kita percaya, dengan pertolongan doanya, Ibu Maria akan selalu menjadi perantara yang terbaik kepada Yesus Sang Putera. Segala harapan dan kerinduan yang tergantung di pohon doa itu kemudian didoakan secara umum dalam doa umat dan dibakar oleh Legioner setelah misa berakhir.

Dalam kotbahnya, Romo Agung menekankan pentingnya devosi kepada Ibu Maria sebagai salah satu sarana bagi kita, umat Katolik, untuk memperoleh keselamatan. Yesus sendiri yang menyerahkan Ibu-Nya untuk menjadi Ibu kita, artinya Yesus menghendaki kita semua datang kepada Ibu-Nya dan menerimanya sebagai Ibu. Dan selayaknya seorang Ibu yang selalu memperhatikan, melindungi dan menolong anak-anaknya, demikianlah Ibu Maria kepada kita.

Seringkali kita dengar atau membaca, banyak ucapan syukur atas terkabulnya permohonan melalui perantaraan Ibu Maria. Yang paling sering adalah dengan mendoakan Novena Tiga Salam Maria. Itu adalah bukti kekuatan doa Ibu Maria, yang kita yakini tidak akan ditolak oleh Yesus, karena cinta-Nya kepada Ibu-Nya. Seperti kesaksian seorang umat yang mengatakan bahwa ia selalu mendoakan Novena Tiga Salam Maria untuk segala kebutuhannya. Sejak duduk di bangku SD ia diperkenalkan doa Novena Tiga Salam Maria oleh orang tuanya, dan sampai saat ini doa itu tetap menjadi andalannya.

Sejak masih SD dan ingin melanjutkan sekolahnya ke SMP, selanjutnya dari SMP ke SMA, dan dari SMA ke perguruan tinggi, ia selalu mendapatkan sekolah atau kampus yang diinginkan. Setelah lulus kuliah, pekerjaan sangat mudah didapat. Bahkan ketika ia meminta pekerjaan dengan 4 kriteria: gaji cukup, kantor dekat dan tidak macet, lingkungan kerja yang “Katolik” dan hari Sabtu libur. Allah mengabulkannya. Itu hanya beberapa contoh di antara banyak sekali permohonan yang dikabulkan. Menurutnya, asal kita berdoa dengan penuh keyakinan dan melaksanakan nasihat Ibu Maria dalam pesta pernikahan di Kana, “Apa yang dikatakan(Nya) kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:5), Allah akan memberi apa yang kita butuhkan.

Pentingnya devosi kepada Maria inilah yang mendorong para Legioner untuk mengajak umat berdoa Novena Tiga Salam Maria setiap hari Senin, pukul 18.30 (setelah misa harian) di Gua Maria Gereja Hati Kudus. Tujuannya hanya satu, yaitu supaya umat datang kepada Ibu Maria dan mengizinkan Ibu Maria masuk dalam kehidupannya, menjadi penasihat, penolong dan perantara doanya. Sebab kerinduan terbesar Ibu Maria adalah membawa sebanyak mungkin jiwa kepada Puteranya untuk diselamatkan. AVE MARIA.

(Kontributor: Fransisca Happy)

IMG_0388 IMG_0389 IMG_0387 IMG_0386

HUT KMKS ke-5

Bersyukur atas hari ulang Tahun ke 5 

KMKS – Komunitas Meditasi Kitab Suci Kramat  Senin Malam , merayakan misa syukur yg dipimpin oleh Romo Probo OFM

Acara dihadiri oleh Romo Agung OFM selaku Kepala Paroki ,  anggota KMKS beserta Wakil Dewan Paroki Bp Anton,  dan kategorial PDKK, WKRI, Legio Maria, 

Semoga KMKS Kramat Malam menjadi sumber permenungan , inspirasi pewartaan dan karya nyata dari Firman Allah.

Semoga para anggotanya diberkati dan diurapi oleh Buah2 Roh , selalu rendah hati dan semakin mencintai Yesus Sumber Kehidupan.

Bagi umat yang tertarik untuk hadir dalam kegiatan Meditasi , bisa bergabung setiap Senin Malam, jam 19.30 sd selesai di Aula Asisi lt. 2 Paroki Kramat.

Info : 
Katharina Winda
WA 08119912338

WhatsApp Image 2017-04-18 at 9.06.33 PM

WhatsApp Image 2017-04-18 at 9.06.33 PM (1)

WhatsApp Image 2017-04-18 at 9.06.32 PM

Misa Acies – Legio Maria

Misa Acies – Legio Maria2

Kata ‘Acies’ berasal dari Bahasa Latin artinya pasukan yang selalu siap sedia bertempur. Dalam konteks para Legioner (anggota Legio Maria), Acies dipahami sebagai pertemuan rutin yang diadakan setiap 1 tahun sekali oleh para Legioner. Pertemuan ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu para Legioner karena mereka mendapatkan kesempatan kembali untuk berserah diri dan membaharui janji kepada Bunda Maria baik secara personal maupun bersama. Pada tahun ini, Pertemuan Acies Legioner se-dekenat Pusat diadakan di Gereja Hati Kudus, Paroki Kramat, pada tanggal 28 Maret 2017 dengan Misa Acies. Misa tersebut semakin terasa spesial karena bertepatan dengan hari ulang tahun Senatus Bejana Rohani yang ke-30.

Misa Acies tersebut dihadiri oleh para Legioner dari 16 presidium yang tersebar di 5 paroki dekenat pusat. Sebelum misa dimulai para Legioner bersama-sama melakukan Doa Tesera yang dilanjutkan misa kudus. Misa Acies ini dipimpin langsung oleh Bapak Uskup Mgr. Ignatius Suharyo dengan konselebran Rm. Agung, OFM, Rm. Probo, OFM, Rm. Anton, OFM, dan RD. Antonius Didit Soepartono. Dalam khotbahnya, Bapa Uskup menghubungkan antara tema Paskah 2017, yaitu Amalkan Pancasila Makin Adil Makin Beradab dengan tujuan diadakannya Pertemuan Acies. Beliau mengatakan bahwa keadilan tidak akan mungkin tercapai apabila kita tidak memiliki kemanusiaan atau kepribadian yang utuh. Untuk dapat menjadi pribadi yang utuh, kita dapat meneladani pengalaman iman Bunda Maria.

Ada 3 pengalaman yang dapat kita contoh dari Bunda Maria yaitu pertama adalah pengalaman ketidak berdayaan saat mendapat kabar gembira. Pada peristiwa tersebut. Maria berserah diri kepada rencana Allah. Kedua, pengalaman diteguhkan oleh persaudaraan, Maria membutuhkan teman untuk berbagi pengalaman iman-Nya dengan mengunjungi Elisabeth. Ketiga, adanya keyakinan bahwa dalam keadaan apa pun, Tuhan selalu menyertai kita.

Di akhir khotbahnya, Bapa Uskup menceritakan sebuah dongeng rohani tentang “Matahari dan Air” yang termuat dalam Kitab Nabi Yehezkiel. Ia berpesan kepada para Legioner untuk selalu mengikuti teladan Bunda Maria yang rela kehilangan jati diri supaya dapat berguna bagi kehidupan di dalam gereja, komunitas dan masyarakat sekitar kita serta menjadi gerakan bagi sesama serta hidup kita menjadi pujian kemuliaan Tuhan.

Ibu Maria Go salah seorang Legioner senior dari Paroki Katedral sudah menjadi Legioner selama 30 tahun, sejak masih remaja. Beliau menjelaskan bahwa Pertemuan Acies ini merupakan pertemuan penting dalam Legio Maria di mana dewan bertemu dengan presidium-presidium dan anggotanya. Selain itu pada pertemuan Acies ini, para Legioner membaharui penyerahan diri mereka kepada Bunda Maria agar mereka dipersenjatai dengan karunia yang diperlukan untuk melawan kejahatan-kejahatan terutama yang ada di dalam diri masing-masing legioner selama satu tahun. Di tahun berikutnya, janji dan penyerahan diri itu akan diperbaharui kembali. Ibu Maria Go berharap semoga setelah Pertemuan Acies ini para legioner bisa lebih mawas diri agar tidak berbuat dosa. Selain itu diharapkan bahwa para Legioner turut menyucikan lingkungan dimana mereka berada supaya selalu membawa Bunda Maria kepada semua orang. Faraneti Legioner muda dari gereja Katedral merasa sangat senang bisa ikut Pertemuan Acies hari itu karena dia bisa membaharui janjinya kepada Bunda Maria dan bersama para Legioner lainnya Ia berharap kaum muda lainnya pun bisa ikut bergabung di dalam Komunitas Legio Maria. (Zita)

Kunjungan Kasih ke Yayasan ABAS

Sejak tanggal 11 Juni sampai dengan 9 Juli 2016 Komunitas Kategorial Paroki Hati Kudus (WKRI, PDPKK, KMKS dan Legio Mariae) mengumpulkan bantuan untuk saudara-saudara yang tinggal di Yayasan ABAS (Awam Bina Amal Sejati) berupa beras, susu cair, detergen dan pembersih lantai. Selama kurang lebih satu bulan, terkumpul 380 kg beras, 176 kg dan 45 sachet detergen, 110 liter susu cair, 18 kaleng susu kental manis, 74 liter pembersih lantai, 46 liter karbol, 23 liter sabun pencuci piring, 10 kg sabun cream, 41 batang sabun mandi, 2 liter pewangi pakaian, 2 kg gula pasir, 5 liter minyak goreng, 2 kg oatmeal, 1 bungkus teh celup (isi 30), 1 bungkus energen (isi 5), 1 kaleng biscuit, 3 dus aneka snack, susu Anlene Gold, baju layak pakai, buku-buku bacaan dan uang tunai sebesar Rp 11.808.000,00 (sebelas juta delapan ratus delapan ribu rupiah).
Pada hari Minggu, 10 Juli 2016 pukul 07.30, 35 orang anggota komunitas ketegorial berangkat menuju Yayasan ABAS di Jalan Melati, Dusun Tonjong, Kecamatan Tajur Halang, Bogor. Yayasan yang didirikan pada 11 Maret 1994 oleh Sr. Rina Ruigrok BKK, Ibu Maria Rosa (pimpinan Yayasan ABAS saat ini) dan beberapa teman awam, kini merawat 12 balita, 34 anak usia sekolah (TK-SMA) dan 18 lansia (tunawisma). Sekitar pukul 09.30 rombongan tiba di Yayasan ABAS dan disambut dengan hangat oleh Ibu Rosa dan anak-anak.
Kunjungan kasih diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipersembahkan oleh Romo Andy Sainyakit dari Maluku yang sedang singgah di Wisma Unio. Setelah misa, bantuan di serahkan ke Yayasan ABAS dan dilanjutkan dengan acara kebersamaan. Ada games dan hadiah yang diberikan untuk setiap kelompok usia: TK, SD kelas 1-3, SD kelas 4-6, SMP dan SMA. Tak lupa oma-oma juga diberi kesempatan untuk bergembira bersama dengan gerak dan lagu. Acara diakhiri pada pukul 12.00 dengan berdoa dan makan bersama. Pukul 13.00 rombongan mengantar anak-anak tidur siang dan kembali ke Jakarta.
Setiap manusia berhak untuk dicintai dan mencintai. Setiap manusia juga dipanggil untuk menjadi saluran kasih bagi sesamanya. Dengan menjadi saluran kasih berarti manusia mencintai sesama dan Allah, karena mencintai sesama merupakan wujud mengasihi Allah. Komunitas Kategorial mengucapkan limpah terima kasih kepada umat Paroki Hati Kudus yang telah menjadi saluran kasih dalam kegiatan ini. Kegiatan telah selesai, tetapi bukan berarti kita berhenti menjadi saluran kasih bagi anak-anak dan lansia yang dirawat disana. Yayasan ABAS masih membutuhkan bantuan yang dapat disalurkan langsung atau ditransfer ke BCA KCP Raya Baru Bogor, nomor rekening 8720088500 a.n. Yayasan Awam Bina Amal Sejati (untuk perawatan gedung, pengobatan dan pemakaman) atau BCA KCU Bogor nomor rekening 0950665572 a.n. Monica Kanigara/Maria Rosa T (untuk operasional harian dan biaya pendidikan). Semoga berkat melimpah mengalir bagi setiap manusia yang mengasihi Allah dengan mencintai sesama.

 

foto_kunjungan_panti_abas