Menantikan Tuhan Dalam Suka Cita

Saudara saudari terkasih, kita memasuki Masa Adven yang merupakan masa menantikan kedatangan Tuhan pada Hari Raya Natal. Kata “Adven” berasal dari kata dalam bahasa Latin Adventus yang berarti “kedatangan dengan semarak”. Maka merayakan masa Adven berarti mengalami kerinduan dan harapan akan kedatangan Tuhan yang menggembirakan itu melalui sikap bertobat dan terlibat aktif untuk memperhatikan sesama yang memerlukan pertolongan.

Bacaan bacaan yang kita dengarkan pada masa Adven ini mengantar kita untuk berjumpa dengan tokoh tokoh yang menuntun kita untuk mempersiapkan diri berjumpa dengan Tuhan. Dalam pekan pertama nubuat Nabi Yeremia mengajak kita untuk memiliki pengharapan. Dalam pekan kedua kita berjumpa dengan Nabi Baruch dan Yohanes Pembaptis yang meminta agar kita memiliki iman yang nampak dalam sikap tobat. Dalam pekan ketiga nanti saat lilin merah muda di Korona Adven dinyalakan kita akan mengingat kembali ajakan Santo Yohanes Pembaptis untuk mulai melakukan apa yang baik dan berkenan kepada Allah, sebab dalam cara itulah orang beriman bersukacita. Sedangkan di pekan keempat kita akan berjumpa dengan Perawan Maria yang setelah berjumpa dengan Malaikat, dipenuhi oleh Roh Kudus, lalu mengunjungi saudarinya untuk mengulurkan tangan, berempati pada saudarinya yang pada saat itu sedang mengandung dan bersiap untuk melahirkan. Kita belajar dari Bunda Maria yang melaksanakan kehendak Allah dengan berbagai cara. Berita yang didengar dari Malaikat menggerakkan hatinya untuk semakin untuk melayani dan mengasihi.

Dengan demikian merayakan Adven berarti kita menyadari bahwa Tuhan selalu bersabda dan menyapa kita untuk mendengarkan dan mempersiapkan diri. Sebagaimana nubuat para membantu kita memiliki harapan dan iman maka membaca Kitab Suci selalu meneguhkan harapan dan iman akan hadirnya Tuhan di dalam hidup kita. Malaikat yang menjumpai Maria dan para gembala menuntun kita untuk yakin bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan umatnya, Ia hadir melalui Rob Kudus yang memberitahukan apa yang baik dan benar. Sedangkan Bunda Maria memberi teladan pada kita artinya menjadi orang beriman yang penuh Kasih, yaitu mendengarkan Sabda Tuhan, menyatakan kesanggupan dan segera melaksanaka-Nya melalui pelayanan dan Kasih yang nyata.

Semoga masa adven ini menjadi masa penantian yang penuh sukacita karena harapan dan iman yang teguh, kita wujudkan melalui perbuatan baik dan berkenan kepada Allah, keterlibatan dalam mengupayakan kesejahteraan dan damai bersama semua orang. Buah dari Iman, Harapan dan Kasih itu adalah perjumpaan dengan Tuhan. Selamat mempersiapakan Natal yang penuh sukacita.
(Yustinus A. Setiadi, OFM)

Makna Pembaptisan Bayi

Tradisi membaptiskan anak-anak di usia balita, atau sering disebut baptisan bayi merupakan pelayanan Gereja yang telah berlangsung, sejak awal tumbuhnya Gereja. Hingga saat ini Gereja Katolik terus melanjutkan tradisi ini. Bahkan kepada pasangan suami istri atau calon pengantin, Gereja memberikan himbauan agar mereka membawa anak-anak mereka untuk dibaptis di usia balita. Kadang kala ada pertanyaan apakah dasar atau alasan dari tradisi baptisan bayi tersebut?

Ada tiga alasan yang membuat Gereja Katolik membaptis para bayi, yaitu: (1) perintah Kristus, (2) baptisan diperlukan untuk keselamatan, (3) tanggung jawab orangtua untuk membawa anak-anaknya ke dalam Kerajaan Sorga.

Tuhan Yesus Kristus mengatakan bahwa tidak boleh ada seorangpun yang menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, karena mereka adalah empunya Kerajaan Sorga (lih. Mat 19:14; Mar 10:14; Luk 18:16). Kalau ada yang menghalangi atau menyesatkan anak-anak, maka akan memperoleh hukuman yang berat (lih. Mat 18:6). Dalam Kitab Suci ditemukan pernyataan bahwa barang siapa percaya dan dibaptis, maka dia akan diselamatkan (lih. Yoh 3:3-5; Mrk 16:16), karena mendapatkan pengampunan dosa -termasuk dosa asal- dan karunia Roh Kudus (lih. Kis 2:38). Dengan demikian melalui Pembaptisan , seseorang disatukan dengan kematian Kristus untuk dibangkitkan bersama dengan Kristus; sehingga ia dapat mati terhadap dosa dan hidup baru bagi Allah di dalam Kristus (lih. Rom 6:3-4,11).

Jika Kristus menginginkan agar anak-anak datang kepada-Nya dan tidak boleh ada yang menghalangi mereka, serta baptisan diperlukan untuk keselamatan, maka orang tua harus memberi bayi mereka dibaptis. Maka, dengan membawa anak-anak untuk dibaptis para orang tua melaksanakan amanat agung Kristus untuk pemuridan, pembaptisan dan pengajaran (lih. Mat 28:19-20), sehingga bayi/ anak- anak mereka dapat memperoleh keselamatan.

Pertanyaan lain yang muncul ada lah; Apakah dengan Baptisan bayi berarti orang tua merenggut kebebasan bayi mere ka? Tentu saja tidak. Dalam tatanan kod- rat, sudah selayaknya orang tua memberi obat kepada bayi yang sakit tanpa persetujuan bayi itu. Kalau hal ini dianggap benar, maka menjadi benar juga bahwa untuk keselamatan bayi yang mereka kasihi, mereka membaptis bayi mereka tanpa persetujuan bayi mereka. Di jaman para rasul, para murid juga membaptis keluarga (yang berarti bisa termasuk anak-anak dan bayi), seperti pada pembaptisan keluarga Lydia (Kis 16:15), kepala penjara di Filipi (Kis 16:33) dan Stefanus (1 Kor 1:16).

Atas dasar atau alasan tersebut, menjadi jelas bahwa pembaptisan bayi me- rupakan ungkapan Iman Gereja, jawaban setiap orang beriman untuk melaksanakan perintah Tuhan dan mewujudkan tang- gungjawab kita sebagai orang beriman. Semoga keluarga-keluarga senantiasa menjadi tempat Tuhan dikenal dan kehendakNya dilaksanakan.

(Yustinus A. Setiadi, OFM)

Merayakan 98 Tahun Paroki Kramat

Mengawali bulan Juli, kita bersukacita merayakan ulangtahun Paroki. Sembilan puluh delapan tahun usia Paroki. Paroki Kramat adalah salah satu paroki tertua di Jakarta. Suka cita perayaan ulangtahun nampak dalam rangkaian lomba dan berbagai acara yang diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah Tuhan yang menuntun Gereja bertumbuh dan berkembang. Puncak acara ulangtahun paroki ditandai dengan misa penerimaan sakramen penguatan dan coffe morning yang diadakan pada hari Minggu tanggal 1 Juli 2018. Sakramen penguatan dan perayaan ulangtahun  memberi arti bahwa seluruh umat paroki memperoleh tuntunan dari Roh Kudus untuk mewujudkan diri sebagai persekutuan dan gerakan umat Allah.

Melalui perayaan ini kita berharap semoga Paroki  Kramat sungguh sungguh  menjadi persekutuan umat beriman, baik komunitas teritorial maupun kategorial  dengan mengembangkan tata layanan pastoral yang bersifat melibatkan dan memberdayakan. Dalam komunitas itu umat awam, para religius, dan klerus saling mengakui dan menerima sebagai saudara-saudari serta sesuai dengan kharisma dan panggilan masing-masing,  berpartisipasi dalam tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus secara khas.  Karena itu perlu diupayakan agar paroki menjadi gerakan yang hidup dan terbuka serta memberikan ruang yang luas bagi kreativitas pastoral dan evangelisasi.  Semoga Paroki Kramat secara dinamis dan kreatif mewujudkan pelayanan di tengah pelbagai perubahan-perubahan masyarakat Kota Jakarta dan dunia.

Akhirnya  harus selalu dihayati bahwa Gereja Paroki Kramat sebagai persekutuan dan gerakan harus selalu terbuka dalam bimbingan Roh Kudus.  Sebab Persekutuan Gereja bukanlah buatan manusia tetapi karya Allah dalam Roh Kudus agar umat Allah selalu hidup dalam cinta kasih yang mampu memberi kesaksian efektif untuk masyarakat kita.

Yustinus Agung Setiadi OFM