Apa yang Kerinduan Tuhan bagi Hidupku?

Legio Maria 1Kadang, kita sering sekali berdoa dan mengajukan berbagai macam permohonan ini dan itu yang sangat banyak dan memang kita merasa memerlukannya. Tetapi, kenapa doa saya belum dijawab-jawab ya? Padahal saya sudah rajin berdoa, rajin juga baca Alkitab, ikut kegiatan rohani, novena, dan lain-lain. Tapi seolah Tuhan diam saja.Dari dulu sampai sekarang ya aku tetep begini-begini saja. Tak ada perubahan signifikan atau jawaban doa yang benar-benar wah. Kadang pun saya merasakan kekeringan rohani. Ikut misa pun ya berlalu begitu saja. Tidak mendapat kekuatan baru atau merasa tersentuh dan dibaharui.

Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan sakramen pengakuan dosa sekalian konsultasi dengan romo tentang hal yang saya alami ini. Dari situ, saya mengetahui bahwa kekeringan rohani seperti itu tidak hanya saya yang mengalami. Hampir semua orang pun pernah merasakan kekeringan rohani. Hanya saja dalam tingkatan dan bentuk yang berbeda-beda. Siklus kehidupan juga berlaku dalam hal iman kita. Kadang ada kalanya kita benar-benar semangat untuk mencari Tuhan, melayani, aktif dalam berbagai kegiatan dan doa-doa lingkungan atau wilayah. Tapi ada kalanya pula turun, jadi malas ikut ini dan itu. Atau tetap rajin tapi hampa, tanpa arti. Hal itu wajar terjadi. Yang terpenting adalah kita tetap setia dengan apa yang kita yakini sebagai sumber dan tujuan hidup kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Yesus pun pernah mengalami kekeringan saat ia berseru kepada Bapa-Nya: Elloi, Elloi, Lama Sabachtani. Yesus pun bertanya kepada Bapa-Nya, “Bapa, Bapa, mengapa Engkau meninggalkan Daku?” Dalam penderitaan-Nya yang tak tertandingi Ia pun merasakan perasaan ditinggalkan. Namun Ia tetapsetia. Walau sebenarnya Ia bisa menghindar dari awal untuk tidak memikul salib. Tetapi semuanya Ia lakukan dengan rela dan tulus karena memang itu adalah kehendak Bapa di surga.

Belajar dari teladan Yesus Kristus yang begitu taat dan setia pada kehendak Bapa, kita pun harus senantiasa setia pada kehendak Bapa. Walau kadang Tuhan terasa sangat jauh dan tidak mendengarkan keluh kesah kita, tetapi yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah tertidur. Ia setia. Terhadap semua yang telah difirmankan-Nya dan semua yang telah Ia janjikan, Ia tidak akan pernah melalaikannya. Walau kita sering jatuh dalam dosa, meninggalkan Tuhan dan memilih jalan kita sendiri, namun Tuhan tetap sayang sama kita. Ia tetap setia dan ingin agar kita selalu berada dalam jalanNya, jalan yang menuju keselamatan,bukan kebinasaan. Terkadang Tuhan membiarkan kita menangis dalam duka, kekecewaan, penderitaan, bukan karena ia ingin mecelakai kita. Semua itu Ia ijinkan terjadi dengan maksud mulia untuk meningkatkan kekuatan iman kita dan kepercayaan kita pada kuasa-Nya. Pesan saya untu teman-teman yang sedang  bergumul dengan masalah apapun yang kini dialami, entah itu doa yang belum terjawab, masalah pekerjaan, jodoh, keluarga, atau apapun juga, tetaplah setia berdoa, rajinlah baca Kitab Suci, dan Ekaristi. Walau kadang kita tidak bisa secara instan merasakan kehadiran-Nya, tetapi yakinlah bahwa Tuhan selalu memberi kekuatan bagi anak-anakNya yang selalu mencari-Nya. Belajarlah juga untuk menyatukan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Lewat doa, kita pun diajar untuk mendengar apa sih kerinduan Tuhan bagi hidpu kita. Jangan lupa menambahkan kalimat magic ini di akhir setiap doa kita: Jadilah padaku menurut kehendak Tuhan. Karena kehendak dan rancangan-Nya selalu terbaik dan ajaib bagi hidup kita.

Jadilah padaku menurut kehendak Tuhan

Kalimat tersebut membuat saya selalu teringat akan Bunda Maria. Tak salah bila orang menyebutnya sebagai Bunda Penolong Abadi. Karena memang Bunda Maria selalu menolong saya dalam hal yang terkadang tidak saya sadari atau saya pikirkan. Setiap kali saya datang, berdoa melalui perantaraan Bunda Maria, saya selalu memperoleh kekuatan. Bukan berarti semua doa yang saya titipkan padanya selalu berhasil dan dikabulkan sesuai maunya saya. Seringkali justru doa saya tidak kunjung terkabul. Atau terkadang butuh waktu yang sangat lama baru akhirnya tercapai apa yang menjadi harapan dan kerinduan saya. Lalu, apa bedanya?? Mengapa saya tetap berdevosi kepada Bunda Maria?

Ada sebuah ilustrasi singkat yang dapat menggambarkannya. Yesus tentu terbiasa dan sangat menyukai masakan Bunda Maria. Doa yang kita sampaikan ibarat sayuran atau daging mentah yang kita persembahkan kepadaNya. Sedangkan bila kita berdoa melalui Bunda Maria, Ia akan mengolah dan mamasaknya menjadi sebuah hidangan yang lezat yang kemudian disajikannya di hadapan Yesus. Apakah Yesus pasti memakannya? Tentu saja jika ibunya sendiri yang menghidangkannya, pastilah Yesus melahapnya dengan mantap.

Mungkin hal itu hanyalah sebuah ilustrasi yang mempermudah kita mengerti tentang pentingnya peranan Bunda Maria. Yang saya alami sendiri ialah pertolongan Bunda Maria, bukan dalam hal besar dan luar biasa yang fantastis dan menakjubkan. Bunda Maria seolah selalu mendampingi setiap langkah hidup saya melalui hal-hal kecil yang saya alami. Misalnya saja, saya sedang melakukan aktivitas di kamar kecil, tiba-tiba saya teringat akan suatu hal penting yang belum saya lakukan, atau pernah juga saya tiba-tiba merasa mengerti mengapa hal ini dan bukan hal itu yang terjadi. Tuhan seolah membisikkan isi hatinya melalui Bunda Maria kepada saya. Suaranya lembut dan menyejukkan. Kadang saya pun seperti diingatkan akan dosa yang saya lakukan, tapi bukan dengan hentakan keras yang memekakkan telinga, tapi lewat suara lembut yang seolah menyadarkan dan membuka mata hati saya bahwa hal itu salah dan menyedihkan hati Yesus.

Ada pun waktunya dimana saya akhirnya merasa bahwa satu persatu doa saya dijawab seluruhnya tanpa terkecuali. Bahkan lebih dari apa yang saya harapkan. Semua begitu indah dan sulit diungkapkan melalui kata-kata. Penyerahan diri secara penuh kepada rancangan Tuha  selalu membahagiakan. Walau sulit. Kita seringkali sudah membawa perkara kita ke hadapan-Nya, tetapi kita masih hendak membawanya kemana-mana dan membiarkan diri kita dikuasai oleh kecemasan dan kekuatiran yang akhirnya hanya membuat lelah hati, pikiran, dan tubuh kita. Kita kurang berserah. Atau memaksakan kehendak kita kepada Tuhan, seolah kita yakin betul bahwa apa yang kita minta itu paling baik untuk diri kita. Hey! Kita lupa bahwa kita ini hanyalah sebutir debu di alas kaki-Nya. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari ataupun jam mendatang. Sedangkan Tuhan? Ia adalah Sang Pencipta. Ia yang menciptakan kita sejak awal mula. Ia yang menenun kita sejak dari kandungan ibu kita. Ia mengetahui setiap detail kehidupan kita, tanpa ada yang tersembunyi di hadapanNya.

Lalu, mengapa kita masih bangga dan yakin akan diri kita sendiri? Kita terus saja mengandalkan kekuatan diri dan membanggakan kemampuan dan keunggulan kita. Siapa yang memberikannya? Dia yang Maha Tahu, Maha Baik, dan Maha Setia tahu apa yang terbaik untuk setiap anak-anak-Nya. Bukan hanya tahu apa, tapi juga kapan setiap doa kita harus dikabulkan. Pengetahuan kita sangatlah terbatas. Otak kita terlalu kecil untuk mengetahui setiap misteri kehidupan. Sedangkan Bunda Maria telah dikaruniai kebijaksanaan Ilahi. Dan Yesus adalah Sang Kebijaksanaan Ilahi. Mengapa kita masih meragukan mereka??

Semoga rahmat-Nya memampukan kita membasmi setiap kesombongan diri dalam bentuk apapun dan membuka hati kita untuk siap sedia mengambil jalan-Nya menjadi jalan kita. Sehingga rancangan Tuhan pun menjadi rancangan kita. Percayalah, rahmatnya selalu cukup. Tuhan selalu memberi lebih, tidak pernah lebih sedikit. Ia selalu tahu takaran terbaik untuk setiap kesayangan-kesayangan-Nya. Apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk Tuhan tersayang? Apakah kita sudah menjadikan-Nya sebagai kesayangan kita?

Semoga Bunda Maria menolong setiap kita dengan segala pergumulan yang kita hadapi.

Ave Maria!

Leave a Reply