Anti Hoax

Hoax bisa didefinisikan sebagai kabar bohong. Termasuk di dalamnya berita dan laporan palsu, informasi dan pengumuman sesat, serta upanya pengibulan lain, yang umumnya berbentuk pesan.

Berbagai informasi berseliweran melalui media sosial (medsos) dan aplikasi obrolan. Di antara kita kadang bertanya tentang kebenaran suatu informasi. melalui akun semacam twitter, facebook atau di grup seperti whatsapp biasanya kita menampilkan suatu foto, pesan pendek dengan tautan berita dan mengetik “Apa ini betul?” “Mohon konfirmasi…” atau bahkan “Tolong bantu sebarkan…” Tapi ternyata kita tidak tahu dengan pasti bahwa materi yang kita paparkan itu adalah informasi keliru, palsu, sesat atau bohong belaka.

Di era informasi dengan berbagai ponsel-pintar dan gawai canggih lainya, penyebaran informasi sesat atau pun berita bohong, yang dikenal dengan istilah hoax, memang tidak terhindarkan. Di Indonesia hal ini terjadi menjelang serta saat pemilihan presiden, juga kepala daerah.

Bahkan dalam hal keagamaan pun, Keuskupan Agung Jakarta sempat harus membuat bantahan dan klarifikasi saat beredar informasi palsu tentang warna pakaian umat dalam peringatan Pekan Suci yang lalu.

Rupanya penyesatan lewat kabar palsu ini menjadi perhatian Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia yang diperigati setiap tahun pada hari Minggu sebelum Pentakosta. Dalam perayaan ke-52 tahun ini, yang jatuh pada 13 Mei, tema yang dipilih adalah “Kebenaran akan Memerdekakanmu (Yoh 8:32): Berita Bohong dan Jurnalisme untuk Perdamaian.”

Saat meyampaikan pesannya pada tanggal 24 Januari (perayaan Santo Fransiskus de Sales, pelindung para jurnalis) Paus Fransiskus mengatakan bahwa penyebaran hoax adalah perbuatan setan. Ia mengimbau agar para jurnalis dan penggiat media sosial menghindari penyebaran berita bohong atau palsu yang dapat memicu perpecahan hanya demi kepenting an politik serta ekonomi pihak tertentu.

Paus membandingkan penyebaran informasi sesat itu dengan kisah manusia jatuh ke dalam dosa karena godaan iblis yang menyamar sebagai ular (Kej. 3:1-15). Menurutnya, tipuan tersebut adalah penyebaran berita bohong pertama di dunia. Taktik licik seperti itulah yang kemudian menyebabkan kisah tragis dosa manusia lainnya seperti pembunuhan pertama (Kej. 4) dan kemudian diikuti berbagai kejahatan lain melawan Tuhan, sesama manusia, masyarakat dan ciptaan lainnya.

Hoax bisa didefinisikan sebagai kabar bohong. Dalam artian yang lebih luas, hal ini termasuk berita dan laporan palsu, informasi dan pengumuman sesat, serta upanya pengibulan lain, umumnya berbentuk pesan. Motifnya bisa untuk mengeruk keuntungan dan kepentingan lain.

Sebenarnya penyesatan dalam bentuk hoax ini sudah lama muncul. Contohnya klasiknya adalah pesan berantai tentang cara menjadi manusia sakti, melipat-gandakan uang, undian berhadiah, pengobatan segala jenis penyakit dan ancaman bencana alam. Dengan bertambah  canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, hoax juga dimanfaatkan untuk hal-hal lain termasuk persaingan politik.

Salah satu keadaan yang sering membuat hoax cepat menyebar adalah ketidakmampuan sebagian pengguna media sosial dan anggota chat group (aplikasi obrolan kelompok) untuk membedakan apakah suatu informasi atau berita itu adalah benar atau bohong. Terlebih, ada yang menjadi lebih emosional dibanding rasional saat membaca pesan, kabar atau pun laporan yang menggugah perasaan atau keyakinan mereka.

Banyak di antara kita yang khawatir dan muak dengan makin seringnya hoax beredar. Apalagi Indonesia termasuk pengguna media sosial (khususnya facebook dan twitter) tertinggi di dunia, sekaligus salah satu negara dengan pasar dan jumlah pemakai ponsel terbesar sejagat. Hal ini, sayangnya, dimanfaatkan oleh “pihak yang bertaktik licik” dengan menampilkan kebohongan, juga hasutan, dan kebencian, yang berlawanan dengan fakta yang ada.

Keresahan makin bertambah karena hoax dirasakan sebagai upanya pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh suasana demi kepentingan mereka secara tidak bertanggung jawab. Fenomena penyesatan ini akan berdampak pada kerukunan hidup berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Modus para pembuat informasi palsu umumnya adalah mengambil berita atau foto dari media-media terkenal. Mereka meniru berita asli, mengubah judul, isi, mengedit gambar sehingga terlihatan  masuk akal; untuk kemudian disebarkan di medsos (facebook, twitter, instagram, path dan lainnya), atau aplikasi obrolan (whatsapp). Ada juga yang menyebar berita bohong dengan membuat website dengan meniru nama media resmi.

(Chris)

Leave a Reply