Dekorasi Panti Imam dalam Tinjauan Liturgi Ekaristi

Panti imam merupakan satu tempat paling penting di dalam gereja. Di dalamnya terdapat altar, mimbar dan tabernakel. Karena itu tidak sembarang orang diperbolehkan untuk masuk dalam ruangan ini selama Perayaan Ekaristi dilangsungkan. Hanya imam dan petugas liturgi yang boleh masuk di ruangan paling sakral di dalam gereja. Sedangkan yang menjadi bagian paling penting dan pusat perhatian selama misa adalah Yesus sendiri yang diimani hadir dalam perayaan tersebut. Panti imam pun biasanya ditempatkan pada bagian yang menonjol. Ini dapat berupa tempat yang lebih tinggi; lebih terang, dan lebih terlihat oleh umat dari pada berbagai tempat lainnya di gereja seperti panti koor dan bangku umat.

Dalam perayaan ekaristi meriah, biasanya panti imam khususnya altar akan dihiasi dengan bunga-bunga atau ornamen dekorasi lainnya. Keberadaan aneka bunga yang ditata dengan baik tentu akan dapat menyemarakkan suasana dan menambah keagungan perayaan Ekaristi saat itu. Adanya hiasan di altar juga dapat membantu umat dalam membangkitkan “semangat” untuk terlibat dalam perayaan suci tersebut. Bisa dibayangkan kalau kita
mengikuti perayaan meriah seperti Natal yang akan kita peringati pada bulan Desember ini, atau hanya sekedar peringatan atau pesta santo/santa tapi di altar tidak ada hiasan bunga apa pun, rasanya seperti ada yang kurang. Ada kalanya ini dapat mempengaruhi dan bahkan mengganggu situasi batin umat yang mengikuti perayaan Ekaristi. Karena itu, dalam perayaan-perayaan besar dan upacara pemberkatan pernikahan altar dan panti imam dihias secara meriah dengan tujuan untuk membantu menciptakan suasana yang sesuai dengan apa yang dirayakan saat itu. Tidak jarang sebuah paroki memiliki tim penghias altar. 

Meskipun dapat membantu umat dalam membangun situasi batin yang sesuai dengan kemeriahan yang terdapat di panti imam khususnya di seputar altar, namun ada beberapa hal yang tetap harus diperhatikan. Dalam perayaan apa pun yang tetap harus menjadi perhatian umat adalah Tuhan Yesus sendiri. Mimbar, salib dengan corpus (lih. SC 21, PUMR 308), altar dan tabernakel merupakan bagian yang paling penting dalam setiap perayaan Ekaristi. Di atas mimbar, sabda Tuhan sendiri diwartakan dan disampaikan kepada segenap umat yang hadir. Hanya pelayan sabda (lektor/lektris, pemazmur dan yang memberikan khotbah) yang diperkenankan untuk menjalankan tugasnya di mimbar. Karenanya, pada saat Perayaan Ekaristi memasuki liturgi sabda, mimbar (ambo) menjadi pusatnya (PUMR 309); sementara itu salib membawa ingatan akan segala pengurbanan Kristus dalam menebus dosa dan kesalahan kita agar buah-buah keselamatan yang dibawa-Nya ke dalam dunia selalu terasakan dalam hidup kita sehari-hari. Altar menjadi sesuatu yang penting dalam setiap perayaan Ekaristi karena di atas altarlah terjadi peristiwa transubstansial di mana roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus sendiri melalui imam dengan konsekrasi. Altar merupakan simbol dari Perjamuan Paskah, karenanya altar menjadi pusat perayaan Ekaristi (Ekaristi mengingatkan kita secara anamnesis – mengenangkan peristiwa perjamuan terakhir – dan pengorbanan Kristus di salib untuk menebus dosa umat-Nya). Sedangkan tabernakel kita tahu merupakan bagian dalam panti imam untuk menyimpan hosti dan anggur yang telah dikonsekrasikan.

Segala macam dekorasi yang dimaksudkan untuk menciptakan suasana semarak hendaknya menyesuaikan dengan altar, tabernakel, mimbar dan salib sehingga materi dekorasi – biasanya berupa bunga – tidak lantas menjadi lebih ‘menarik’ perhatian umat dan posisinya lebih tinggi dari pada altar, mimbar, tabernakel dan salib yang ada di panti imam. Harus disadari bahwa hiasan dekorasi bunga dan segala macam ornamen hanyalah sarana pendukung yang membantu umat agar lebih terbantu untuk berperan serta dalam memberikan perhatian penuh pada misteri Kristus yang dirayakan dalam Ekaristi. (Pada dasarnya liturgi adalah karya Allah sendiri di dalam Gereja-Nya). Dekorasi yang terlalu berlebihan dapat mengalihkan perhatian umat dari yang paling utama: Kristus yang hadir dalam perayaan Ekaristi mulai dari lagu pengantar perarakan masuk panti imam, hingga perarakan imam menuju sakristi. Sedangkan dekorasi yang ala kadarnya juga dapat memunculkan suasana yang kurang bersemangat selama mengikuti misa kudus.

Karena itu panti imam khususnya altar harus mendapatkan perhatian yang semestinya tanpa gangguan dari dekorasi yang ada kalanya malah mengganggu konsentrasi dan fokus umat untuk berpartisipasi aktif dalam perayaan liturgi yang pada dasarnya merupakan kegiatan Allah sendiri untuk membawa dan menghadirkan keselamatan dalam hidup mereka yang saat itu merayakannya di tempat tersebut (gereja). Karena pada dasarnya panti imam memiliki fungsi sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan perayaan kudus (misa suci) dalam suatu gereja, hendaknya seluruh proses kegiatan tersebut dapat terlihat dengan jelas dari berbagai posisi di dalam gereja. (bdk. PUMR 295, 299). Hiasan altar dan panti imam mestinya ikutmenonjolkan altar, mimbar, dan tabernakel yang ada di sana; bukannya menjadi ajang untuk menampilkan dekorasi yang berlebihan.

Catatan:
• SC = Dokumen Sacrosanctum Concilium
• PUMR = Pedoman Umum Misale Romanum
(Benediktus)

Comments are closed